22 October 2026

Al-Qur’an sebagai Sumber Cahaya

Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar dan wasiat pertama Rasulullah SAW bagi umatnya.
Al-Qur’an adalah sumber ilmu, pengetahuan, dan cahaya yang tidak akan pernah habis.
Melalui kitab suci ini, kita belajar bagaimana cara beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Namun, sering kali muncul anggapan bahwa kita bisa mengambil jalan langsung menuju Allah tanpa perantara.
Pembahasan ini menyoroti bagaimana Al-Qur’an justru mengistimewakan Baginda Nabi SAW sebagai jalan utama menuju Sang Pencipta.

Posisi Sentral Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menempati posisi sentral antara Allah (Khalik) dan kita (makhluk).
Kita diingatkan untuk tidak menjadi kelompok yang takabur, yang merasa tidak memerlukan kehadiran atau peran Baginda Nabi dalam doa dan munajat kita.
Karakteristik beliau digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai sosok yang berat hatinya melihat umatnya menderita, sangat ingin kita bahagia, serta teramat pengasih terhadap kaum mukminin.

1. Ibadah Haji: Datang Menemui Sang Nabi (Ya’tuka)

Dalam perintah haji, Al-Qur’an menggunakan seruan kepada seluruh manusia (lin-nasi), bukan hanya orang beriman.
Salah satu rahasia besar dalam Surah Al-Hajj ayat 27 adalah perintah Allah kepada Nabi Ibrahim AS (yang juga berlaku bagi Rasulullah SAW sebagai teladan suci) untuk menyeru manusia berhaji.

Al-Qur’an menyebutkan: “Niscaya mereka akan datang kepadamu” (ya’tuka). Kata “mu” di sini merujuk pada sang Nabi.
Hal ini menunjukkan bahwa secara hakiki, haji adalah perjalanan mendatangi Rasulullah SAW.
Kerinduan yang besar kepada Nabinya-lah yang membuat seseorang mampu melangkahkan kaki dari tempat yang jauh.
Tanpa ziarah dan kehadiran hati kepada Rasulullah, haji tersebut belum sepenuhnya menjawab seruan Allah dalam ayat ini.

2. Memohon Ampunan: Datang kepada Rasulullah (Jauka)

Berdasarkan Surah An-Nisa ayat 64, Allah menjelaskan prosedur bagi mereka yang menzalimi diri sendiri (berbuat dosa).
Al-Qur’an menyatakan bahwa jika mereka yang berdosa itu datang kepadamu (Rasulullah), lalu memohon ampun kepada Allah, dan kemudian Rasulullah pun memohonkan ampun untuk mereka, barulah mereka akan mendapati Allah Maha Penerima Taubat.

Ada tiga syarat agar taubat diterima dalam konteks ayat ini:

  1. Datang kepada Rasulullah (jauka).
  2. Beristighfar kepada Allah.
  3. Rasulullah memohonkan ampunan untuk orang tersebut.
    Prinsip ini tetap relevan bagi kita sekarang. Meski secara lahiriah Baginda Nabi telah wafat, ruh dan kedudukan beliau sebagai perantara ampunan bagi umat yang menzalimi dirinya tetap berlaku sepanjang zaman.

3. Doa dan Kedekatan: Bertanya kepadamu (Sa’alaka)

Dalam ayat tentang doa di bulan Ramadhan (Surah Al-Baqarah ayat 186), Allah menyebut kata “Aku” sebanyak tujuh kali untuk menunjukkan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya.
Namun, sebelum menyebutkan kedekatan tersebut, ayat ini diawali dengan: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (sa’alaka)…”.

Kata “kepadamu” kembali merujuk pada Rasulullah SAW. Ini menandakan bahwa bahkan dalam urusan doa yang paling personal sekalipun, keberadaan sang teladan suci sebagai perantara informasi dan kedekatan antara Tuhan dan hamba tetap ada.

Kesimpulan

Al-Qur’an mengajarkan bahwa dalam ibadah haji (ya’tuka), permohonan ampun (jauka), dan doa (sa’alaka), posisi Rasulullah SAW selalu hadir di antara kita dan Allah SWT. Jangan sampai ibadah kita kosong tanpa kehadiran spiritual Baginda Nabi di dalamnya.

Rasulullah Wasilah Utama Menuju Allah

Bersama KH Miftah Fauzi Rakhmat

Judul video: Daqaiq Al-Qur’an (5): Rasulullah saw sebagai Wasilah dalam Al-Qur’an – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:
Subscribe Channel Majulah IJABI

Add comment

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us