22 October 2026

Penceramah: Ustadz Abdillah Baabud
Sumber: Video Kajian Tafsir Al-Qur’an (Alqurba TV)

1. Pendahuluan & Keutamaan Surat Al-Mu’minun

  • Pengantar Kajian:
    Kajian ini merupakan kelanjutan majelis tafsir rutin setiap Selasa malam (dua minggu sekali) setelah sebelumnya menyelesaikan pembahasan Surat Yasin.
  • Karakteristik Surat:
    Surat Al-Mu’minun tergolong surat Makkiyah dengan total 118 ayat.
  • Keutamaan (Fadhilah) Surat Al-Mu’minun:
    1. Kabar Gembira di Hari Kiamat:
      Barangsiapa membaca dan menghayati surat ini, para malaikat di hari kiamat akan memberinya kabar gembira berupa kelapangan serta kebahagiaan, sehingga ia terhindar dari himpitan suasana kiamat yang mencekam.
    2. Ketenangan Saat Sakaratul Maut:
      Saat Malaikat Maut datang menjemput, orang yang membaca dan menghayati surat ini diberikan rasa tenang, bahagia, dan kerelaan tanpa rasa takut.
    3. Jaminan Surga bagi 10 Ayat Pertama:
      Rasulullah SAW bersabda bahwa telah turun 10 ayat pertama dari Surat Al-Mu’minun; barangsiapa yang mendirikan, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dijamin akan masuk surga (“Laqad unzila ilayya ‘asyru ayatin man aqamahunna dakhalal-jannah”).

2. Penjelasan Tafsir Ayat demi Ayat (Ayat 1–7)

Ayat 1: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ

(Sungguh beruntung orang-orang yang beriman)

  • Kepastian Keberuntungan:
    Penggunaan kata qad aflaha memberikan penegasan mutlak bahwa orang-orang beriman pasti beruntung dan tidak akan pernah mengalami kerugian.
  • Perbedaan Antara Muslim dan Mukmin:
    Seseorang yang berstatus Muslim belum tentu mencapai derajat Mukmin.
    Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Hujurat, ketika orang-orang Arab Badui mengaku beriman, Allah memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyampaikan bahwa mereka baru berpasrah diri (Islam) karena iman belum masuk ke dalam hati mereka.
    Bukti benarnya iman adalah ketaatan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya.
  • Empat Tingkatan Keagamaan (Riwayat Imam Ali bin Musa Al-Ridha a.s.):
    1. Islam:
      Tingkatan dasar berupa pengakuan verbal (syahadatain).
    2. Iman:
      Satu tingkat di atas Islam, yaitu keyakinan yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan dengan ketaatan.
    3. Taqwa:
      Satu tingkat di atas Iman. Menurut penjelasan Imam Ja’far as-Sadiq (a.s.), Taqwa adalah kondisi di mana Allah selalu menemukan hamba-Nya pada setiap perintah-Nya dan tidak pernah menemukannya pada hal yang dilarang-Nya.
    4. Yakin:
      Tingkatan puncak tertinggi yang merupakan anugerah paling berharga bagi seorang hamba.
  • Hubungan Mukmin dengan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Diri):
    Makna aflaha pada mukmin sejalan dengan ayat qad aflaha man tazakka (Surat Al-A’la) dan qad aflaha man zakkaha (Surat Asy-Syams).
    Seorang mukmin belum tentu suci mutlak dari dosa, namun ia memiliki kesadaran untuk menyesali kesalahannya dan senantiasa berusaha menyucikan serta meningkatkan kualitas dirinya dari hari ke hari.

Ayat 2: الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

(Yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya)

  • Ciri Utama Mukmin:
    Shalatnya memiliki nilai, ruh, dan rasa hubungan dengan Allah, bukan sekadar adegan formalitas atau gerakan tubuh yang kosong.
  • Hadits Khusyuk Anggota Tubuh:
    Rasulullah SAW pernah melihat seseorang shalat sambil memainkan jenggotnya, lalu beliau bersabda: “Seandainya hatinya khusyuk, niscaya anggota badannya pun akan ikut khusyuk dan tenang”.
  • Hakikat Khusyuk:
    Kesadaran penuh bahwa shalat adalah bentuk rasa syukur hamba kepada Sang Pencipta atas seluruh nikmat keberadaan (anggota tubuh, akal, oksigen, dan indera).
  • Kiat Shalat Khusyuk (Petunjuk Imam Khomeini):
    1. Alokasikan Waktu Khusus:
      Sediakan waktu khusus yang utuh (sekitar 5 menit untuk setiap shalat) dan niatkan murni hanya untuk shalat tanpa memikirkan urusan duniawi/pekerjaan.
    2. Kosongkan Tempat dan Pikiran dari Gangguan:
      Jauhkan hal-hal yang memecah konsentrasi (seperti suara ponsel, mengurus anak tanpa dititipkan, atau menahan hajat) agar durasi shalat tersebut benar-benar fokus kepada Allah.

Ayat 3: وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

(Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan/perkataan yang tidak berguna)

  • Makna Al-Laghwu:
    Mencakup segala perkataan dan perbuatan yang sia-sia/tidak berguna, kebatilan, maksiat, kedustaan, saling mengolok/mencaci, serta hal-hal yang melalaikan dari mengingat Allah.
  • Prinsip Hidup Mukmin:
    Orang mukmin hidup dengan tujuan yang jelas, yaitu meraih ridha Allah dan menjauhi murka-Nya. Oleh karena itu, ia pantang menghabiskan waktu atau ucapannya untuk hal-hal yang sia-sia.
  • Manusia Diciptakan Bertujuan:
    Manusia diciptakan oleh Allah dengan perencanaan dan tujuan yang agung, bukan tanpa arti (afahasibtum annama khalaqnakum ‘abatsa).

Ayat 4: وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ

(Dan orang-orang yang menunaikan zakat)

  • Empati dan Kepedulian Sosial:
    Zakat mencakup semangat berbagi, empati, dan kepedulian terhadap sesama.
  • Ciri Kedermawanan Mukmin:
    Orang mukmin tidak bisa menikmati kebahagiaan atau hartanya sendirian; ia senantiasa tergerak untuk menyisihkan harta, waktu, tenaga, dan perhatiannya untuk orang lain.

Ayat 5–7: وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ…

(Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya…)

  • Menjaga Kehormatan Diri:
    Orang mukmin menjaga kesucian dirinya dan menyalurkan kebutuhan biologis sesuai batasan dan aturan syariat.
  • Menjaga Fitrah Biologis secara Proporsional:
    Syahwat adalah fitrah dan anugerah ciptaan Allah. Islam melarang hubungan liar tanpa aturan (kumpul kebo), namun juga tidak membenarkan tindakan membunuh fitrah biologis secara ekstrem (seperti melarang pernikahan demi kesucian).
  • Penyaluran yang Sah:
    Penyaluran biologis yang sah dan tidak tercela hanya dilakukan kepada istri-istri yang sah atau hamba sahaya yang dimiliki.
  • Anjuran Mempermudah Pernikahan:
    Islam mengajarkan untuk tidak mempersulit pernikahan.
    Jangan membuat tradisi/adat buatan sendiri yang mempersulit pemuda-pemudi untuk menikah (seperti syarat berlebihan harus memiliki rumah/mobil pribadi terlebih dahulu atau larangan melangkahi kakak).
  • Melampaui Batas (Fa Ula’ika Humul ‘Adun):
    Barangsiapa yang mencari penyaluran kebutuhan biologis di luar ketentuan yang dihalalkan, maka mereka termasuk orang-orang yang melampaui batas.
  • Prinsip Pengendalian Syahwat (Kutipan Kitab Fathul Hadits Imam Khomeini & Nasihat Ust. Muhsin Qira’ati):
    • Syahwat tidak akan pernah terpuaskan hanya dengan berpindah-pindah pasangan jika tidak ada pengendalian diri dari dalam.
    • Nasihat untuk Laki-laki: Wajib menundukkan pandangan (gadhul bashar). Analogi puasa: menahan diri sejenak membuat setetes air putih dan makanan sederhana terasa sangat nikmat saat berbuka.
    • Nasihat untuk Perempuan: Dilarang bersolek/menampilkan diri secara berlebihan (tabarruj) di hadapan umum yang dapat mengganggu konsentrasi pasangan orang lain.

Ab Karakteristik Orang Beriman

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us