Melalui program Kunuzul Hikmah yang berlokasi di Situ Panjalu, topik kali ini membahas tentang kesehatan dan olahraga dalam pandangan Baginda Nabi SAW.
Kisahnya bermula saat Nabi SAW melewati sekelompok anak muda yang sedang melakukan adu ketangkasan.
Definisi Orang yang Kuat
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa orang yang perkasa atau kuat bukanlah mereka yang mampu mengalahkan orang lain dalam gulat (adu ketangkasan fisik).
Melainkan, orang yang benar-benar kuat adalah ia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri ketika sedang marah.
Pengendalian diri ini tidak hanya terbatas pada saat marah, tetapi juga dalam menaklukkan hawa nafsu secara umum.
Pentingnya Mengetahui Kadar Diri
Dalam berolahraga, kita sering kali ingin melewati batas tertentu, namun sangat penting untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut dan mengetahui kemampuan tubuh kita.
Imam Ridha AS menyampaikan bahwa seseorang tidak akan binasa jika ia mengetahui kadar atau kapasitas dirinya.
Sebagai contoh, jika jantung kita tidak mampu menanggung beban lari secepat 40 km/jam, maka jangan dipaksakan.
Mengetahui batas kemampuan adalah kunci agar tidak mencelakakan diri sendiri.
Definisi Orang yang Paling Lemah
Jika orang terkuat adalah yang mampu mengendalikan amarahnya, maka siapakah yang paling lemah?
Rasulullah SAW bersabda bahwa selemah-lemahnya manusia adalah orang yang tidak mampu untuk berdoa.
Mereka adalah orang-orang yang ketika kesulitan datang, tidak berpaling kepada Tuhan, bahkan untuk mengucapkan kalimat doa pun tidak mampu.
Doa adalah senjata bagi orang beriman; dengan berdoa, seseorang tidak akan menjadi lemah karena ada Allah Sang Maha Pencipta bersamanya.
Sedekah dan Perjuangan Melawan Nafsu
Terkadang muncul pertanyaan apakah memberi sesuatu kepada orang yang dicintai (seperti pasangan) termasuk sedekah.
Hal itu tetap bisa dihitung sebagai sedekah karena memberi lebih baik daripada tidak memberi.
Selain itu, ketika seseorang merasa berat hati saat diminta sumbangan namun tetap memberikannya, ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus: pahala bersedekah dan pahala bersabar.
Hal ini karena ia telah mematuhi perintah Allah untuk berbagi sekaligus melawan hawa nafsunya yang ingin menahan rezeki tersebut.
Tingkatan Sabar
Dalam perspektif tasawuf, terdapat tingkatan sabar yang perlu dipahami:
- Sabru Billah (Sabar karena Allah):
Sabar dalam mematuhi Allah dan melawan dorongan hawa nafsu. - Sabru Lillah (Sabar untuk Allah):
Sabar yang didasari oleh cinta dan kerinduan kepada Allah dalam perjalanan rohani menuju-Nya.
Dalam perjalanan ini, seorang pencinta Allah sering kali menanggung penderitaan karena kerinduan yang mendalam untuk segera bertemu dengan-Nya. - Sabru Maโallah (Sabar beserta Allah):
Kesabaran saat berada bersama Allah dalam setiap keadaan.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 16 : “Orang yang Lemah menurut Rasulullah SAW”
PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 6 Eps.16
Video source: JRTV

