As-Salamu’alaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh
Allahumma Shalli ‘ala Muhammad wa Aali Muhammad
Ngaji Virtual hari ini melanjutkan Seri Pengajian Ilmu Islam Risalah Al-Walaayah, dengan topik “‘Ahdullah dan Walayah” bagian kedua.
Kajian ini membahas tafsir Al-Qur’an: QS 13:21-25, QS 2:27
Makna Ahdullah
Fokus utama pembahasan adalah mengenai Ahdullah (Perjanjian Allah) dan jalur Walayah.
Diperintahkan dalam Al-Qur’an bahwa “Wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat serta menunaikan zakat saat rukuk”.
Perjanjian agung ini merupakan syarat agar manusia dapat bereuni dengan Nabi SAW dan para leluhur yang saleh di akhirat kelak.
Imamah sebagai Perjanjian Tuhan
Menurut para peneliti tafsir, salah satu janji Tuhan yang terpenting adalah Imamah (Kepemimpinan Suci).
Hal ini merujuk pada kisah Nabi Ibrahim AS yang diangkat menjadi Imam bagi manusia setelah melewati berbagai ujian.
Namun, Allah menegaskan bahwa janji kepemimpinan-Nya tidak akan diberikan kepada orang-orang yang zalim.
Rahasia Angka Dua Belas
Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 12, disebutkan bahwa Allah mengambil perjanjian dari Bani Israil dan mengangkat 12 pemimpin di antara mereka.
Hal ini memiliki keterkaitan dengan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa pengganti beliau setelah wafat juga berjumlah 12 orang, yang semuanya berasal dari kaum Quraisy.
Meskipun beberapa sejarawan mencoba menghitung 12 pemimpin ini dari berbagai dinasti khilafah (seperti Bani Umayyah atau Abbasiyah) dan merasa bingung dengan jumlahnya, terdapat hadis yang lebih spesifik mengenai identitas mereka.
Identitas Dua Belas Imam
Berdasarkan hadis dari Jabir bin Abdullah Al-Anshori, ketika turun ayat mengenai perintah menaati Ulil Amri (Surah An-Nisa: 59),
Rasulullah menjelaskan bahwa mereka adalah pemimpin pengganti beliau yang diawali oleh:
- Ali bin Abi Thalib
- Hasan bin Ali
- Husain bin Ali
- Ali bin Husain
- Muhammad bin Ali (dikenal sebagai Al-Baqir)
- Ja’far bin Muhammad (As-Shadiq)
- Musa bin Ja’far
- Ali bin Musa
- Muhammad bin Ali
- Ali bin Muhammad
- Hasan bin Ali (Al-Askari)
- Al-Mahdi (Hujjah Allah yang akan memenuhi bumi dengan keadilan).
Menghubungkan yang Diperintahkan Allah (Silaturahmi)
Konsep “menyambungkan apa yang diperintahkan Allah untuk disambung” memiliki dimensi yang luas:
- Horizontal:
Menjalin hubungan baik dengan kerabat, orang tua, anak, dan sesama mukmin.
Hal ini mencakup empati sosial, seperti membantu tetangga yang lapar dan berbagi rasa. - Vertikal:
Menghubungkan ruh kita dengan para kekasih Allah, nabi, dan para imam, baik dalam shalat maupun amal sehari-hari.
Ini disebut sebagai Piramida Walayah, di mana jalur turun adalah rahmat Allah melalui Nabi dan Ahlul Bait ke alam semesta, dan jalur naik adalah ketaatan serta kecintaan kita kepada mereka untuk sampai kepada Allah.
Tingkatan Maqam Al-Muhibbin
Puncak dari pemenuhan janji kepada Allah adalah Maqam Al-Muhibbin (Tingkat Para Pecinta).
Pada tingkatan ini, seseorang beribadah bukan karena takut neraka atau mengharap surga, melainkan karena cinta yang murni.
Contoh tertinggi adalah Imam Husain AS di Karbala, yang tetap menunjukkan kasih sayang bahkan kepada musuh yang akan mengeksekusinya, demi menjalankan tugasnya sebagai rahmat bagi semesta alam.

Bersama DR Dimitri Mahayana
#AlwaysSayShalawat #NgajiVirtual
Judul video: Risalah Al-Walaayah: ‘Ahdullah dan Walayah [Bagian ke-2] – Watch on Youtube



Add comment