3 September 2026

Program Kunuzul Hikmah kali ini membahas tentang tawadhu (rendah hati). Kita sering mendengar dari para guru bahwa tawadhu adalah salah satu sifat utama dalam kemuliaan akhlak.
Berdasarkan hadis Nabi SAW, “Tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnya”.

Bagaimana kita memaknai tawadhu? Hal ini tercermin saat malaikat memberikan pilihan kepada Baginda Nabi SAW: apakah ingin menjadi seorang Nabi yang Raja atau Nabi yang Hamba?
Beliau menjawab, “Seorang hamba yang Nabi (Abdan nabiyan)”.
Nabi Isa AS juga pernah menyampaikan bahwa orang yang tawadhu di dunia akan duduk di mimbar-mimbar tinggi di hari kiamat, dan mereka yang berbuat kebajikan akan mewarisi Surga Firdaus.

Praktek Tawadhu dalam Kehidupan Nabi SAW

Baginda Nabi SAW menjelaskan tawadhu melalui tindakan nyata:

  • Kesederhanaan:
    Beliau makan beralaskan bumi dan mengenakan pakaian yang sangat sederhana, hingga seringkali orang luar tidak bisa membedakan mana sang junjungan dan mana sahabatnya.
  • Kemandirian:
    Beliau melakukan pekerjaan sendiri, seperti mengikat untanya, mencuci tangannya, dan melayani keperluan keluarga tanpa selalu minta dilayani orang lain.
  • Menghargai Sesama:
    Salah satu prinsip tawadhu adalah menjawab atau memenuhi undangan siapa pun, termasuk orang kecil atau hamba sahaya (mamluk).
    Jika kita hanya mau datang ke undangan orang besar, maka kita melanggar prinsip tawadhu ini.
    Beliau menegaskan bahwa semua perilaku ini adalah sunnahnya.

Analogi Penjual Permen: Pendekatan Positif vs Negatif

Terdapat sebuah cerita tentang dua gadis penjual permen kiloan. Salah satu toko sangat ramai, sementara yang lain sepi, padahal kualitas barang dan fisiknya sama.
Rahasianya terletak pada cara menimbang:

  1. Pendekatan Negatif:
    Penjual yang sepi mengambil permen dalam jumlah banyak sekaligus, lalu menguranginya sedikit demi sedikit agar pas 1 kg.
  2. Pendekatan Positif:
    Penjual yang ramai mengambil permen dalam jumlah sedikit, lalu menambahkannya terus-menerus hingga mencapai 1 kg.

Meskipun hasilnya sama-sama 1 kg, pembeli lebih menyukai perasaan “ditambah” daripada “dikurangi”.
Hal ini berlaku juga dalam komunikasi, seperti mengajak orang ke laboratorium dengan kalimat “tingkatkan kesehatan Anda” (positif) daripada “periksalah supaya tahu penyakit Anda” (negatif).

Hakikat Kesabaran dan Pengaduan

Sabar sering disalahpahami hanya sebagai upaya menghindari persoalan tanpa keberanian.
Definisi sabar yang sebenarnya adalah menerima musibah tanpa pengaduan (biduni syakwa) kepada makhluk.

Para ulama menjelaskan bahwa jika seseorang mengadukan penderitaannya hanya kepada Allah SWT, hal itu tidak menghapuskan kesabarannya.
Namun, jika ia terus-menerus mengeluh kepada sesama makhluk atau setiap orang yang ditemuinya, maka ia tidak tergolong sebagai orang yang sabar.

Memahami Makna Tawadhu dan Sabar

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 13 : “Tawadhu”

PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 3 Eps.13

Video source: JRTV

#tawadhu
#tawadhuolehyaimiftah
#sabar
#sabarolehallahyarham

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us