3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘aali muhammad

Ustadz Miftah Rakhmat

Kita melanjutkan kembali kajian mengenai dua belas hadis tentang salat. Setelah sebelumnya kita membahas hadis ash-shalatu mi’rajul mukmin dan ash-shalatu nurul mukmin, kini kita masuk pada hadis ketiga.
Hadis ini diriwayatkan dalam kitab Nahjul Fasahah dari Baginda Nabi SAW, yaitu: Ash-shalatu Miftahul Jannah—Salat adalah pembuka pintu-pintu surga atau kunci surga.

Meskipun dalam banyak riwayat lain kalimat La ilaha illallah juga disebut sebagai kunci surga, dalam riwayat ini Nabi menekankan bahwa salatlah kuncinya.
Salat yang mampu menjadi kunci surga adalah salat yang membuat perhatian kita tidak teralihkan oleh apa pun kecuali kecintaan kepada Allah SWT.
Sering kali hal ini digambarkan melalui kisah cinta seperti Laila dan Majnun, di mana kecintaan yang besar membuat seseorang tidak menyadari gangguan di sekitarnya.

Namun, perlu dipahami bahwa khusyuk tidak berarti kehilangan kesadaran akan keadaan sekeliling.
Justru, kecintaan kepada Allah dalam salat seharusnya menjadikan kita makhluk yang paling sadar dan peduli terhadap sesama.
Contoh nyatanya adalah:

  • Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang tetap bersedekah bahkan saat sedang rukuk dalam salatnya.
  • Baginda Nabi SAW yang memendekkan salatnya ketika mendengar ada bayi yang menangis, atau justru memanjangkan sujud dan rukuknya karena kedua cucu tercinta, Sayyidina Hasan dan Husain, sedang berada di atas punggung beliau.

Oleh karena itu, khusyuk dalam salat tidak hanya diperoleh saat kita berdiri di atas sajadah, melainkan dipersiapkan melalui seluruh amal perbuatan kita sebelumnya.
Akhlak yang baik kepada orang tua, keluarga, guru, serta pelayanan kita di tengah masyarakat adalah pengantar menuju salat yang khusyuk. Salat yang menjadi kunci surga adalah salat yang terwujud dalam kehidupan, perilaku, lisan, serta apa yang kita lihat dan dengar sehari-hari.”

 

 

Percik Hikmah:

Dijelaskan bahwa jika kita bertaubat dan memohon ampun kepada Allah, maka Allah akan menurunkan anugerah-anugerah dari langit secara berlimpah.
Para ahli tafsir sufi mengartikan anugerah ini sebagai karunia Malakuti, yaitu kenikmatan, kebahagiaan, dan ketentraman batin bagi mereka yang bertaubat.

Selain itu, Allah akan menambah kekuatan (quwwah) kita. Hal ini berkaitan erat dengan konsep Jihadun Nafs atau perang melawan diri sendiri.
Dikisahkan suatu saat Rasulullah SAW melihat seorang anak muda yang baru pulang dari pertempuran besar dengan tubuh berdebu dan pedang bersimbah darah. Nabi bersabda bahwa ada peperangan yang lebih besar lagi, yaitu jihadun nafs—perang melawan hawa nafsu.

Dalam diri manusia, terjadi pertarungan terus-menerus antara dua unsur:

  1. Unsur Malakuti (Surgawi/Rabbani):
    Kepribadian yang datang dari langit yang terbentuk saat ruh ditiupkan ke dalam diri kita.
  2. Unsur Bahimiah (Kebinatangan/Nafsanis):
    Unsur yang berasal dari bumi atau tanah.

Jika hawa nafsu (unsur bumi) yang menang, maka manusia akan jatuh ke dalam dosa. Namun, jika unsur Malakuti yang menang, maka derajat manusia akan terangkat ke tempat yang lebih tinggi. Pertempuran batin ini berlangsung sepanjang hidup kita.

Nabi memberikan sebuah ilustrasi ketika melihat beberapa pemuda bertanding mengangkat batu besar.
Beliau memberikan semangat karena hal itu baik untuk kesehatan fisik sebagai latihan.
Namun, kemudian Nabi menekankan satu hal penting: Manusia yang paling perkasa adalah orang yang sanggup mengendalikan hawa nafsunya.
Jadi, orang yang kuat bukanlah dia yang mampu membanting atau menghempaskan orang lain ke bumi, melainkan orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri ketika sedang marah.”

Salat Kunci Kemenangan Batin

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 24 :bab 3 “ash shalatu miftahul jannah”

PERCIK HIKMAH
eps.24 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat: “Taubat part 4”

Video source: JRTV

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us