Keutamaan Zikir dan Kalimat Syahadat
Program Kunuzul Hikmah kali ini membahas tentang kalimat-kalimat yang ringan diucapkan namun memiliki bobot yang sangat besar dalam timbangan amal di akhirat.
Secara umum, kalimat yang sering disebut adalah kalimat zikir Lailahaillallah atau syahadat Nabi Muhammad SAW.
Namun, ada satu kalimat harian yang sering kita anggap remeh padahal memiliki kedudukan luar biasa, yaitu Bismillahirrahmanirrahim.
Menghormati Nama Allah dalam Tulisan
Berdasarkan kitab Majmuโatul Waram, Rasulullah SAW bersabda bahwa siapa pun yang mengambil selembar kertas dari tanah yang di atasnya tertulis Bismillahirrahmanirrahim semata-mata untuk mengagungkan nama Allah agar tidak terinjak atau kotor, maka Allah akan mencatat orang tersebut sebagai golongan As-Siddiqin (orang-orang yang jujur/tulus).
Derajat Siddiqin ini sangat istimewa karena dalam Al-Qur’an disandingkan langsung dengan derajat para nabi, syuhada, dan orang-orang saleh.
Selain itu, tindakan sederhana menghormati lafaz Allah ini dapat meringankan beban dosa kedua orang tua kita, bahkan jika orang tua tersebut bukan termasuk orang yang beriman.
Oleh karena itu, kita diingatkan untuk lebih peduli jika melihat tulisan nama Allah di kertas atau undangan yang tergeletak agar tidak terbuang ke tempat sampah.
Tips Praktis untuk Mengatasi Kelupaan
Selain nilai pahalanya, ada tips praktis bagi mereka yang sering lupa meletakkan barang: biasakanlah mengucap Bismillahirrahmanirrahim saat hendak meletakkan barang tersebut.
Insyaallah, Allah akan membantu ingatan kita saat kita membutuhkannya kembali. Segala amalan pun akan lebih diterima jika diawali dengan kalimat ini.
Hakikat Sabar: Ketabahan dalam Kebenaran
Penting untuk memahami makna sabar yang sebenarnya. Sabar sering diartikan sebagai ketabahan menghadapi penderitaan.
Namun, dalam Islam, “sabar” yang sejati harus dibatasi pada ketabahan dalam membela atau menjalankan kebenaran.
Jika seseorang tabah dalam melakukan kejahatan (seperti pencuri yang tetap bungkam meski dicambuk), itu bukanlah sabar, melainkan bentuk kekafiran atau kebebalan hati.
Sayangnya, di dunia nyata, sering kali orang jauh lebih “sabar” dan berani dalam melakukan kemaksiatan atau hal sia-sia (seperti duduk berjam-jam bermain game) dibandingkan untuk berdiri melakukan salat malam atau menegakkan kebenaran.
Pendidikan Anak: Pendekatan Positif vs Negatif
Dalam hal mendisiplinkan anak, pembicara memberikan nasihat tentang penggunaan kalimat positif. Sering kali orang tua atau guru menggunakan ancaman (pendekatan negatif), seperti: “Kalau tidak mengerjakan tugas, akan dihukum” atau “Uang saku akan dicabut”.
Pendekatan ini sering kali memicu perlawanan atau ketabahan yang salah dari sang anak untuk menentang gurunya.
Sebaiknya, gunakanlah kalimat positif yang lebih menyejukkan hati, seperti: “Jika kamu pulang sebelum Magrib, Ayah akan tetap memberikan uang sakumu secara utuh”.
Meskipun tujuannya sama, pendekatan positif jauh lebih efektif dan lebih nyaman diterima oleh perasaan anak.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 12 : “kalimat yang ringan di lisan namun berat ditimbangan”
PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 2 Eps.12
Video source: JRTV

