Tema kali ini adalah “Rumput Tetangga Selalu Terlihat Lebih Hijau,” sebuah peribahasa yang menggambarkan kecenderungan manusia untuk selalu membandingkan karunia Allah pada dirinya dengan orang lain.
Seringkali, kita merasa hidup orang lain lebih bahagia atau rezekinya lebih banyak, padahal setiap manusia diberikan ujian yang sama sesuai dengan karunia yang mereka terima.
Orang kaya diuji dengan harta, sementara orang berilmu diuji dengan perbedaan pendapat yang mengguncang keyakinannya.
Kisah Khalifah Abdul Malik bin Marwan
Dikisahkan seorang penguasa dari Bani Umayyah, Marwan (Abdul Malik bin Marwan), sedang terbaring sakit parah di akhir hayatnya.
Meskipun ia hidup bergelimang kemewahan sebagai pemimpin negeri Islam, ia melihat seorang pelayan istana (tukang cuci pakaian) dari jendelanya dan merasa iri.
Marwan berkata bahwa ia berharap dirinya hanyalah seorang tukang cuci dan tidak pernah memikul beban kekhalifahan di lehernya.
Hal ini menunjukkan adanya pengadilan hati nurani; ia menyadari bahwa jabatan tersebut mungkin bukan haknya atau ia merasa tidak layak mengembannya.
Mendengar hal itu, si tukang cuci justru memuji Allah. Ia berdoa agar saat ajalnya tiba, ia tidak perlu merasa ingin menjadi orang lain dan tetap bersyukur dengan apa yang telah Allah karuniakan padanya.
Kisah ini menjadi hikmah agar kita memenuhi hati dengan syukur di detik-detik terakhir hidup kita, bukan penyesalan.
Tahapan Belajar Al-Qur’an
Belajar Al-Qur’an memiliki tahapan: dimulai dari tadarus (belajar membaca), kemudian mempelajari terjemahan (makna ayat), dan tingkat yang lebih tinggi adalah memahami tafsir serta makna mendalamnya.
Fokus pembahasan adalah Surah Al-Ahzab ayat 56-58.
Makna Selawat dalam Surah Al-Ahzab 56
Ayat 56 menyatakan bahwa Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi, dan orang mukmin diperintahkan untuk melakukan hal yang sama. Para ahli tafsir menjelaskan perbedaan jenis selawat:
- Selawat Allah:
Melimpahkan kesejahteraan, kemuliaan, dan kebahagiaan kepada Nabi. - Selawat Malaikat:
Menurunkan kesejahteraan dan keberkahan kepada Nabi. - Selawat Manusia:
Permohonan doa agar Allah melimpahkan kemuliaan tersebut kepada Nabi.
Selain Nabi, orang-orang beriman yang sabar saat ditimpa musibah juga dijanjikan akan memperoleh selawat dan kasih sayang dari Allah, yang berarti derajat mereka diangkat dan memperoleh ketenangan.
Larangan Selawat “Buntung” (Al-Batra)
Ketika sahabat bertanya bagaimana cara berselawat, Nabi Muhammad SAW melarang Selawat yang Buntung (Al-Batra).
Selawat buntung adalah selawat yang hanya berhenti pada Nabi saja (contoh: Allahumma shalli ‘ala Muhammad atau Sallallahu ‘alaihi wasallam) tanpa menyertakan keluarganya.
Nabi memerintahkan agar kita berselawat kepada beliau dan juga kepada keluarganya (wa ali Muhammad atau wa alihi).

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 10: Rumput Tetangga Lebih Hijau
PERCIK HIKMAH 10 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Shalawat Allah, Malaikat dan Manusia” (bagian 1)

