Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘aali muhammad
Bagian 1: Perbedaan Islam dan Iman
Berdasarkan penjelasan Syekh Saduq dalam kitab Al-Hidayah, perbedaan antara Islam dan Iman merujuk pada Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 14.
Ayat ini menceritakan saat orang-orang Arab Badui datang kepada Nabi Muhammad SAW dan mengaku telah beriman.
Namun, Allah memerintahkan Nabi untuk menjawab bahwa mereka belum beriman, melainkan baru sekadar “telah Islam” atau berserah diri (aslamna).
- Islam (Muslim):
Merupakan pengakuan secara lisan melalui syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Dengan pengakuan lisan ini, harta dan jiwa seseorang sudah terjaga dalam hukum Islam. - Iman (Mukmin):
Merupakan perwujudan dalam bentuk amal nyata. Seorang Mukmin adalah mereka yang hatinya bergetar saat mengingat Allah, keimanannya bertambah saat mendengar ayat-ayat-Nya, dan senantiasa bertawakal (seperti dijelaskan dalam Surah Al-Anfal). - Perumpamaan:
Syekh Saduq mengibaratkan Muslim dan Mukmin seperti Masjid dan Ka’bah.
Setiap Ka’bah pasti berada di dalam Masjid (tempat sujud), namun tidak semua Masjid adalah Ka’bah.
Tingkatan Iman:
- Iman Taqlidi: Iman yang hanya sekadar ikut-ikutan.
- Iman Istidlali: Iman yang didasarkan pada dalil, pencarian, dan keyakinan.
- Iman Haqiqi: Iman yang mampu mengubah hakikat diri seseorang melalui amal nyata.
Bagian 2: Kecerdasan Spiritual dan Makna Kematian
Seringkali kecemasan manusia, terutama menghadapi kematian, muncul karena ketidakmampuan memberikan makna pada peristiwa tersebut.
- Pemberian Makna:
Kematian bisa dianggap sebagai peristirahatan abadi dari persoalan dunia atau perpindahan ke alam lain untuk bertemu dengan para pemikir terdahulu, seperti yang diungkapkan oleh Socrates. - Kecerdasan Spiritual (SQ):
Berbeda dengan IQ (kecerdasan logika) atau EQ (kecerdasan emosional), SQ adalah kemampuan untuk memberikan makna pada hidup.
SQ membantu kita menjawab pertanyaan fundamental: “Mau ke mana kita?” (Fa-ayna tadzhabun). - Kualitas Hidup:
Nilai pekerjaan atau kehidupan seseorang bergantung pada kualitas makna yang ia berikan.
Misalnya, mencari nafkah sekadar untuk bersenang-senang memiliki kualitas spiritual yang lebih rendah dibandingkan mencari nafkah untuk membantu keluarga dan sesama.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 20 : Perbedaan Islam & Iman-Muslim & Mukmin
PERCIK HIKMAH
eps.20 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat; “Memaknai Kehidupan”
Video source: JRTV

