22 October 2026

Pendahuluan Kajian

Kajian ini diawali dengan pembacaan mukadimah dan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an Surat Al-Mu’minun ayat 42 hingga 54.
Pertemuan ini merupakan seri keempat dari rangkaian kajian tafsir sederhana Surat Al-Mu’minun.

1. Generasi Pasca-Nuh dan Sunnatullah Pergiliran Umat (Ayat 42–44)

  • Ayat 42:

ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُونًا آخَرِينَ

“Kemudian Kami ciptakan setelah mereka generasi-generasi yang lain.”

Setelah kisah Nabi Nuh AS dan kaumnya berakhir, Allah SWT menciptakan umat, peradaban, dan generasi baru beserta para nabi pengganti.

  • Ayat 43:

مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

“Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya dan tidak (pula) dapat menangguhkannya.”

Sebagaimana setiap individu memiliki batas usia (ajal), suatu masyarakat, kaum, atau peradaban juga memiliki masa hidup dan akhir keberadaannya di dunia.
Setiap umat diberi kesempatan untuk memilih: menerima kebenaran dan mengikuti nabi mereka, atau menolaknya. Namun, rekam jejak sejarah menunjukkan mayoritas umat justru menolak, melecehkan, dan memusuhi para nabi.

  • Ayat 44:

ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَا ۖ كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَّسُولُهَا كَذَّبُوهُ ۚ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُم بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ ۚ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

“Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami silih berganti. Setiap kali seorang rasul datang kepada umatnya, mereka mendustakannya, maka Kami iringkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain (dalam kehancuran), dan Kami jadikan mereka bahan pembicaraan. Maka kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman.”

Meskipun manusia kerap menolak, rahmat dan belas kasih Allah tidak pernah berhenti. Allah mengutus para rasul secara silih berganti (tatra).
Namun, karena kejahilan mereka, setiap umat yang menolak akhirnya dihancurkan secara beruntun dan nama mereka hanya tersisa sebagai bahan cerita/pembicaraan (ahadits) bagi generasi setelahnya—seperti kisah kaum ‘Ad, Tsamud, Tubba’, dan Bani Israil.

Catatan & Pelajaran Penting (Ayat 42–44):

  1. Prinsip Kepemimpinan Langit:
    Tidak ada satu kaum pun yang dibiarkan tanpa petunjuk/pemimpin. Sebagaimana dalam QS. Ar-Ra’d: 7 (وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ), setiap masa pasti ada sosok penyampai petunjuk.
  2. Keluasan Rahmat Allah:
    Mengutip doa Imam Ja’far As-Sadiq AS setelah Shalat Ja’far At-Thayyar: Walaupun penduduk bumi berpaling dari ketaatan (تَخَلَّقَ سُكَّانُ أَرْضِكَ عَنْ طَاعَتِكَ), Allah tidak pernah menghentikan anugerah dan belas kasih-Nya.
  3. Pembunuhan Para Nabi & Alasan Jahil Umat:
    Umat-umat terdahulu bukan hanya menolak, tetapi sebagian bahkan sampai membunuh para nabi tanpa alasan yang hak (QS. Ali ‘Imran: 21).
    Mereka selalu mencari-cari alasan yang irrelevan untuk menolak nabi yang suci dan maksum (misalnya: “Kenapa nabi itu manusia yang makan, minum, dan berjalan di pasar? Harusnya malaikat.”).

2. Kisah Nabi Musa AS & Nabi Harun AS Menghadapi Firaun (Ayat 45–49)

  • Ayat 45–46:

ثُمَّ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ وَأَخَاهُ هَارُونَ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُّبِينٍ ۝ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا عَالِينَ

“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami dan bukti yang nyata, kepada Firaun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang tinggi hati.”

Nabi Musa dan Nabi Harun diutus dengan bukti yang sangat jelas (sultanin mubin).
Mereka mendatangi Firaun dan para pemuka kekuasaannya terlebih dahulu karena Firaun adalah sumber masalah yang memperbudak Bani Israil dengan kekejaman.

  • Ayat 47:

فَقَالُوا أَنُؤْمِنُ لِبَشَرَيْنِ مِثْلِنَا وَقَوْمُهُمَا لَنَا عَابِدُونَ

“Maka mereka berkata: ‘Apakah kita akan beriman kepada dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghamba/menjadi budak bagi kita?'”

Firaun dan pengikutnya menolak logika serta kebenaran hujah yang dibawa Nabi Musa dengan mengalihkan pembicaraan pada status sosial dan jabatan. Alasan mereka:

    1. Musa dan Harun hanyalah manusia biasa seperti mereka.
    2. Kaum Musa dan Harun (Bani Israil) adalah budak-budak yang tunduk pada Firaun.
  • Ayat 48–49:

فَكَذَّبُوهُمَا فَكَانُوا مِنَ الْمُهْلَكِينَ ۝ وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ لَعَلَّهُمْ يَهْتَدُونَ

“Maka mereka mendustakan keduanya, sebab itu mereka termasuk orang-orang yang dibinasakan.
Dan sungguh, telah Kami anugerahkan kepada Musa Kitab (Taurat) agar mereka mendapat petunjuk.”

Catatan Sosiologis & Pelajaran Dakwah:

  • Penyebab Terhambatnya Keberhasilan Para Nabi:
    Banyak masyarakat silau oleh kekayaan, kemewahan, dan kekuasaan. Mereka lebih memilih mendekatkan diri kepada para penguasa ketimbang mengikuti pembawa kebenaran.
  • Sindiran Imam Ja’far As-Sadiq AS & Peristiwa Karbala:
    Imam Ja’far As-Sadiq AS pernah menyindir bahwa para pemimpin hak terpaksa termarjinalkan di rumah karena masyarakat lebih memilih tunduk pada penguasa (seperti Bani Abbas) demi materi.
    Contoh paling nyata adalah Tragedi Karbala, di mana pemuda penghulu ahli surga, Imam Al-Husain bin Ali AS, hanya didukung sedikit orang menghadapi ribuan tentara penguasa zalim (Yazid bin Mu’awiyah) yang diikuti masyarakat karena silau harta.

3. Nabi Isa AS dan Sayyidah Maryam AS sebagai Tanda Kebesaran (Ayat 50)

  • Ayat 50:

وَجَعَلْنَا ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ آيَةً وَآوَيْنَاهُمَا إِلَىٰ رَبْوَةٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَمَعِينٍ

“Dan telah Kami jadikan (Nabi Isa) putra Maryam bersama ibunya sebagai suatu tanda (kebesaran Kami), dan Kami lindungi mereka di sebuah dataran tinggi (rabwah) yang tenang, aman (dhati qarar), dan memiliki sumber air yang mengalir (ma’in).”

Nabi Isa AS diciptakan tanpa ayah, dan saat masih bayi dalam buaian beliau sudah dapat berbicara untuk membantah fitnah zina terhadap ibunya, Sayyidah Maryam AS. Ini merupakan mukjizat dan tanda kebesaran Allah yang sangat nyata.

Pelajaran Tempat Tinggal & Dataran Tinggi:

  • Tempat yang aman, tinggi, dan memiliki sumber air adalah karunia untuk memudahkan ibadah.
    Namun, Al-Qur’an mengkritik manusia yang membangun istana di dataran tinggi hanya untuk bermaksiat dan berpesta pora (QS. Asy-Syu’ara: 128: أَتَبْنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ آيَةً تَعْبَثُونَ).

4. Hakikat Makanan yang Thayyib, Halal, dan Amal Saleh (Ayat 51)

  • Ayat 51:

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (thayyibat), dan kerjakanlah kebajikan (‘amalu shalihan*). Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”*

Konsep Makanan dalam Al-Qur’an & Kehidupan:

  1. Energi Makanan untuk Amal Saleh:
    Makanan yang kita makan berubah menjadi energi. Energi tersebut harus digunakan untuk berbuat kebaikan, bukan untuk bermaksiat.
  2. Prinsip Pengelolaan Makanan:
    • كُلُوا وَاشْكُرُوا (Makanlah dan bersyukurlah).
    • كُلُوا وَلا تُسْرِفُوا (Makanlah dan jangan berlebihan) demi menjaga kesehatan.
    • كُلُوا وَأَطْعِمُوا (Makanlah dan bagikan makanan kepada orang lain).
  3. Makna Thayyib dan Syarat Halal:
    Makanan harus memenuhi syarat kualitas (sehat/bergizi) sekaligus kehalalan sumber dan cara mendapatkannya (halalan thayyiban).
  4. Bahaya Makanan Haram:
    • Hadis menegaskan: “Sesungguhnya Allah tidak menerima ibadah seseorang yang di dalam perutnya terdapat sesuap barang haram.”
    • Orang yang beribadah tetapi memakan harta haram diibaratkan seperti membangun rumah di atas air atau di atas pasir.
    • Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk benar-benar meneliti apa yang dimakannya: فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ (QS. ‘Abasa: 24).

5. Umat yang Satu, Bahaya Perpecahan, dan Puncak Siksaan (Ayat 52–54)

  • Ayat 52:

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Dan sungguh, (agama/umat) kamu ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.”

Persatuan umat hanya bisa terwujud jika berporos pada satu hal, yaitu Tauhid (Tuhan Yang Maha Esa).

  • Bagaimana Manusia Berporos pada Tuhan?
    Manusia membutuhkan Tali Allah (وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ). Tali Allah tersebut manifestasinya adalah wakil-wakil Ilahi di muka bumi (Nabi, Rasul, atau Hujjah-Hujjah/Pemimpin Ilahi).
    Tanpa berpegang pada Pemimpin Ilahi, manusia pasti akan terpecah berdasarkan suku, rasa rasionalitas, bahasa, maupun warna kulit.
  • Ayat 53:

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan agama mereka menjadi beberapa kelompok (zuburan). Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Akar Perpecahan & Larangan Sektarianisme:

  1. Memecah Belah Agama Adalah Perilaku Syirik:
    Dalam QS. Ar-Rum: 31–32 (وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ۝ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا), orang-orang yang memecah agama menjadi sektor-sektor/kelompok dinamakan musyrikin, karena Tuhan yang satu seharusnya melahirkan satu ajaran yang berporos pada-Nya.
  2. Penyebab Utama Perpecahan:
    Cinta diri/ego (hubbun nafs), kesombongan, fanatisme kelompok/etnis/bangsa/tanah air, serta fanatisme bahasa.
    Padahal, perbedaan bahasa dan warna kulit diciptakan Allah sebagai tanda kebesaran-Nya (ayatillah), bukan sarana untuk berpecah belah.
  • Ayat 54:

فَذَرَّهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّىٰ حِينٍ

“Maka biarkanlah mereka dalam kesesatan/kelalaian mereka sampai waktu tertentu.”

Puncak Ancaman dan Musibah Terbesar:

  • Kata فَذَرْهُمْ (Maka biarkanlah mereka) menunjukkan bentuk pengabaian Allah.
    Bentuk hukuman paling mengerikan dari Allah adalah ketika Allah membiarkan dan menyerahkan seorang hamba atau suatu umat kepada dirinya sendiri.
  • Oleh karena itu, dalam doa-doa Rasul dan Ahlulbait AS, kita diajarkan untuk selalu memohon:

لَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ أَبَدًا “Ya Allah, jangan pernah Engkau serahkan diriku kepada diriku sendiri walau sekejap mata pun.”

Penutup Kajian

Kajian pada pertemuan ke-4 ini mencakup pembahasan hingga ayat ke-54 dengan durasi sekitar satu jam.
Ustadz Abdillah Baabud menutup pertemuan ini dengan doa dan menyampaikan bahwa pembacaan tafsir akan dilanjutkan mulai ayat ke-55 pada pertemuan berikutnya. Kajian diakhiri dengan salam penutup.

AB Kajian Tafsir Surat Al Mu minun 42

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us