3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘aali muhammad

Dalam seri kajian ini, kita akan membahas 12 hadis dari Baginda Nabi SAW terkait dengan shalat.
Hadis yang pertama dan sangat populer adalah: “As-shalatu Miโ€™rajul Mukmin” (Shalat adalah mikrajnya orang yang beriman).

Hadis ini sering dihubungkan dengan peristiwa Isra dan Mikraj, di mana “oleh-oleh” atau hadiah dari perjalanan tersebut adalah kewajiban shalat bagi kita semua.
Hadis ini diriwayatkan dalam kitab Kasyful Asrar (Juz 2, hal. 676) dan Sirus Salah (hal. 7).

Makna Shalat sebagai Mikraj

Apa sebenarnya maksud dari “Shalat adalah mikrajnya orang yang beriman”? Berdasarkan riwayat dari Imam Jafar Sadiq as., ketika seseorang bersujud kepada Allah (Pemilik Mikraj), maka tersingkaplah hijab kalbu yang suci.
Ruh orang tersebut akan diangkat menuju Sidratul Muntaha, cahaya kesucian menampakkan diri, dan pintu-pintu taman al-Haq akan terbuka baginya.

Shalat juga merupakan ibadah yang pertama kali dihisab (diperhitungkan) pada hari kiamat (awwalu ma yuhasabu bihil abdu yaumal qiamah as-shalah). Jika shalatnya baik, maka baik pula amal lainnya. Jika shalatnya diterima, amal lainnya ikut diterima. Namun, jika shalatnya buruk atau tertolak, maka buruk pulalah amal-amal lainnya.

Tiga Keadaan yang Membuat Allah “Takjub”

Dalam sebuah dialog ilahiah (Hadis Qudsi) antara Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW saat Mikraj, disebutkan bahwa Allah “takjub” (dalam konteks keagungan-Nya) terhadap tiga jenis hamba:

  1. Hamba yang bermalas-malasan atau sekadarnya saat shalat. Ia tidak menyadari di hadapan siapa ia sedang berdiri.
  2. Orang yang masih ambisius mencari dunia, padahal Allah telah mencukupi kebutuhan hariannya.
  3. Orang yang bisa tertawa terbahak-bahak, padahal ia tidak tahu apakah Allah sedang rida atau murka kepadanya.

Hal utama yang ditekankan adalah agar kita tidak berdiri melaksanakan shalat tanpa niat untuk melakukan “mikraj” atau perjalanan spiritual menuju Tuhan kita.

Tentang Taubat dan Dampak Dosa

Para ulama juga membahas apakah taubat menghapuskan “buntut” (zanab) atau dampak dari dosa.
Imam Khomeini dan Ayatullah Mazahiri berpendapat bahwa jika seseorang bertaubat dengan sungguh-sungguh, Allah bukan saja mengampuni dosanya, tetapi juga menghapuskan konsekuensi buruk atau musibah yang diakibatkan oleh dosa tersebut.

Sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Furqan, Allah akan mengganti keburukan orang-orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh menjadi kebaikan (hasanat).
Bahkan bagi pelaku dosa besar seperti pembunuh atau pezina, jika mereka bertaubat, Allah akan menutup akibat dosa tersebut dan menggantinya dengan kebaikan karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Perjalanan Ruhani dan Transformasi Diri

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 22 : Shalat Mi’rajul Mukmin

PERCIK HIKMAH
eps.22 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat; “Taubat part 2”

Video source: JRTV

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us