Bismillâhirrahmânirrahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa Âli Sayyidina Muhammad
Kajian ini melanjutkan pembahasan mengenai Maqam Al-Insaniyyah dengan merujuk pada Surah Al-Qalam ayat 1-6. Allah SWT bersumpah demi “Nun” dan “Qalam” (pena) serta apa yang dituliskan, untuk menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bukanlah orang gila, melainkan sosok yang mendapatkan nikmat kenabian yang besar.
Beliau dijanjikan pahala yang tidak terputus dan ditegaskan memiliki budi pekerti yang agung (khuluqin ‘adzim). Ayat-ayat ini merupakan penghibur bagi Rasulullah yang saat itu dihina dan diejek oleh kaum kafir.
Hakikat Akhlak dan Standar Kenabian
Akhlak Nabi Muhammad SAW adalah Al-Quran itu sendiri; jika Al-Quran tidak memiliki kesalahan, maka pribadi Nabi pun demikian sebagai panduan bagi manusia.
Dalam ayat “Innaka la’ala khuluqin ‘adzim”, kata “’ala” (di atas) menunjukkan bahwa posisi Nabi berada di atas puncak keagungan akhlak itu sendiri.
Inilah perwujudan manusia sejati atau Maqam Al-Insaniyyah.
Secara istilah, akhlak adalah keadaan yang melekat pada jiwa yang membuat seseorang melakukan suatu perbuatan dengan mudah, berulang-ulang, dan tanpa beban.
Jika seseorang hanya melakukan kebaikan sesekali, itu belum bisa disebut sebagai akhlak.
Tiga Pilar Agama: Aqidah, Syariat, dan Akhlak Islam dibangun di atas tiga bagian utama:
- Aqidah: Berkaitan dengan keyakinan hati kepada Sang Khalik dan risalah-Nya.
- Syariat: Aplikasi dari keyakinan tersebut melalui ibadah seperti shalat, puasa, dan zakat.
- Akhlak: Nilai tambah atau “plus” dari sebuah amalan. Seseorang mungkin sudah menjalankan syariat (seperti shalat), namun akhlak dan adab memberikan nilai kemuliaan lebih di hadapan Allah, seperti menggunakan wangi-wangian saat hendak menghadap Tuhan.
Rasulullah bersabda bahwa beliau diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak yang sudah ada sejak zaman jahiliyah.
Bobot sebuah amalan di akhirat sangat ditentukan oleh akhlak; bahkan sebagian besar isi Al-Quran berbicara tentang nilai-nilai akhlak dan sosial.
Kedudukan di Akhirat dan Jihadul Akbar
Orang yang paling dekat kedudukannya dengan Nabi di hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya.
Sebaliknya, akhlak yang buruk akan menjauhkan seseorang dari beliau.
Akhlak yang baik juga disebut sebagai anugerah terbaik bagi manusia dan memiliki pahala setara dengan seorang mujahid di jalan Allah.
Nabi menyebut perjuangan memperbaiki karakter dan melawan hawa nafsu sebagai Jihadul Akbar (jihad terbesar), karena memerlukan latihan yang konsisten dan berulang kali.
Nabi Muhammad sebagai Uswatun Hasanah
Nabi adalah teladan mutlak (Uswatun Hasanah) bagi mereka yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir.
Mengenal hakikat Nabi secara totalitas akan mengarahkan pada keyakinan akan kemaksuman (kesucian) beliau.
Bahkan sebelum diangkat menjadi Rasul, beliau sudah dikenal dengan julukan Al-Amin (yang terpercaya) oleh kaum kafir Quraisy.
Sebagai penutup, Nabi Muhammad digambarkan sebagai Sayyidul Wujud (pemimpin segala wujud).
Dalam sebuah syair disebutkan bahwa meskipun Nabi tampak seperti manusia biasa, beliau laksana permata di antara batu-batu biasa.
Beliau adalah pemberi syafaat dan cahaya petunjuk bagi umat manusia.
Pengetahuan sejati tentang hakikat Nabi hanya diketahui oleh Allah dan mereka yang diberikan ilmu khusus, sebagaimana kedekatan spiritual antara Nabi dan Sayyidina Ali.

Bersama : Ustadz Ali Alaydrus
Kajian Risalah Nabawiyyah
Episode 7: Maqam Al-Insaniyyah (Bagian 2)
Senin, 13 Februari 2022, Premiere Mulai Jam 19.30 WIB
Semoga kita semua beroleh keberkahan yang diluaskan 🤲🙏
Kiranya berkenan subscribe, like, share. Terimakasih
Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:


