Makna Kekuatan yang Sejati
Berlokasi di Situ Panjalu, Ciamis, pembahasan kali ini mengangkat tema tentang olahraga dan kekuatan.
Dikisahkan suatu ketika Rasulullah SAW berjalan melewati sekelompok anak muda yang sedang melakukan adu ketangkasan atau gulat tradisional (as-surah).
Melihat hal tersebut, Rasulullah SAW memberikan pelurusan mengenai makna “orang kuat” yang sesungguhnya dengan bersabda: “Laisas-syadidu bis-sur’ah”โorang yang kuat atau perkasa itu bukanlah mereka yang menang dalam adu ketangkasan atau gulat.
Menurut Rasulullah SAW, orang yang benar-benar kuat adalah orang yang mampu menaklukkan dirinya sendiri dan mengendalikan hawa nafsunya.
Kekuatan bukan untuk dibandingkan dengan orang lain demi kesombongan, melainkan bagaimana kita bisa memecahkan rekor pribadi dalam kebaikan.
Hak Tubuh dan Tujuan Hidup
Dalam konteks olahraga, tujuannya bukan sekadar mengalahkan orang lain, tetapi untuk memberikan hak pada tubuh kita agar tetap sehat dan kuat.
Tubuh yang sehat adalah sarana agar kita dapat beribadah dan berkhidmat kepada Allah SWT dengan maksimal.
Meskipun kita harus berserah diri kepada takdir Allah, Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk selalu berharap akan kesembuhan saat sakit dan memohon panjang usia.
Alasannya, usia yang panjang adalah peluang untuk memperbanyak bekal amal saleh, serta memberikan waktu bagi mereka yang merasa banyak berdosa untuk bertaubat kepada Allah SWT.
Penderitaan sebagai Proses Penyempurnaan
Seringkali muncul pertanyaan mengapa berbuat buruk terasa lebih mudah daripada berbuat baik.
Hal ini karena berbuat baik memerlukan latihan dan perjuangan. Allah menciptakan manusia dalam keadaan “kabad” atau susah payah; bahkan untuk menemui Tuhan pun, manusia harus bekerja keras.
Kekuatan fisik maupun ruhani manusia seringkali baru terbentuk melalui tempaan penderitaan. Seperti otot yang menjadi kuat karena beban, roh manusia menjadi lebih sempurna melalui penderitaan. Allah menggunakan penderitaan sebagai bagian dari rencana-Nya untuk menyempurnakan penciptaan manusia (taswiyah).
Kesabaran: Sabru Billah
Tingkatan sabar yang pertama adalah Sabru Billah, yaitu sabar karena Allah atau sabar dalam menghadapi penderitaan.
Kita menerimanya sebagai bagian dari rencana Ilahi untuk memperbaiki diri kita. Rasulullah SAW bersabda bahwa manusia yang paling besar cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang mengikuti jejak mereka.
Menurut Imam Al-Ghazali, sabar adalah memilih untuk mengikuti jalan Allah dan meninggalkan dorongan hawa nafsu.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 15 : “Orang yang kuat menurut Rasulullah”
PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 5 Eps.15
Video source: JRTV

