22 October 2026

Pembahasan majelis ketiga ini melanjutkan ayat sebelumnya (ayat 22) dan berfokus pada ayat ke-23 hingga ayat ke-41.

BAGIAN I: KISAH NABI NUH ‘ALAIHISSALAM (AYAT 23–30)

1. Pengutusan Nabi Nuh dan Inti Dakwah Para Nabi (Ayat 23)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu dia berkata: ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?'”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Allah mengutus Insan Ilahi pada setiap kaum untuk memberikan petunjuk.
    • Tiga pilar utama dakwah para nabi:
      1. Tauhid:
        Mengajak manusia menghamba hanya kepada Allah SWT yang Maha Esa.
      2. Kenabian (Nubuwwah):
        Meyakini bahwa Allah mengutus manusia-manusia pilihan sebagai utusan-Nya.
      3. Hari Akhir (Ma’ad):
        Menegaskan bahwa kehidupan dunia ini sementara dan manusia akan dihidupkan kembali setelah kematian dalam kehidupan abadi.
    • Manusia memerlukan utusan Ilahi sebagai jaminan petunjuk karena ucapan utusan Allah pasti benar, tidak mungkin salah, keliru, ataupun menyimpang.

2. Penolakan Pemuka Kaum (Al-Mala’) (Ayat 24–25)

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian yang ingin mengambil keutamaan/kedudukan di atas kalian. Sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia menurunkan malaikat. Kami tidak pernah mendengar (cerita) ini pada nenek moyang kami terdahulu.'”

إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّىٰ حِينٍ

“Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang merasuki jin (gila), maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu.”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Siapa itu Al-Mala’?
      Mereka adalah para pemuka atau tokoh kaum yang terpandang karena jabatan, kekayaan, atau pengaruhnya.
    • Tiga dalil penolakan pemuka kaum:
      1. Membenturkan kemanusiaan Nabi Nuh: Mereka menuduh Nabi Nuh hanyalah manusia biasa yang ingin mencari kedudukan tinggi dan memimpin di atas mereka.
      2. Menuntut utusan berbentuk Malaikat: Mereka beralasan bahwa jika Allah hendak mengutus, seharusnya yang diturunkan adalah malaikat, bukan manusia.
      3. Berpegang pada tradisi leluhur: Mereka menolak ajaran tersebut dengan dalih belum pernah mendengar hal itu dari nenek moyang mereka (ma sami’na bihadza fi aba’inal-awwalin).
    • Kritik atas Sikap Pemuka Kaum:
      • Lucunya sikap penentang: Mereka percaya adanya Tuhan, tetapi mereka berani ‘mengatur’ Tuhan tentang siapa yang layak diutus.
      • Mengapa Rasul harus Manusia? Agar menjadi teladan nyata (uswah). Malaikat tidak memiliki syahwat, rasa lapar, haus, sedih, atau cobaan hidup, sehingga malaikat tidak bisa menjadi contoh praktis bagi manusia dalam mengendalikan syahwat dan ujian hidup.
      • Bahaya Taqlid Nenek Moyang: Menolak kebenaran hanya karena ‘belum pernah diajarkan leluhur’ adalah sikap yang membutakan.
        Kebenaran harus diambil dari mana pun datangnya. Ustadz mencontohkan riwayat Imam Ja’far as-Sadiq AS yang menegur sahabatnya yang enggan memperbesar rumah yang sempit hanya demi ‘menjaga tradisi rumah peninggalan ayah’.
    • Setelah argumen mereka patah, mereka melontarkan tuduhan keji bahwa Nabi Nuh adalah orang gila atau kerasukan jin.

3. Doa Nabi Nuh dan Perintah Membuat Bahtera (Ayat 26–27)

قَالَ رَبِّ انصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

“Nuh berdoa: ‘Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.'”

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَاءَ أَمْرُنَا وَفَارَ التَّنُّورُ ۙ فَاسْلُكْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ الْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا ۖ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

“Lalu Kami wahyukan kepadanya: ‘Buatlah kapal di bawah pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Apabila perintah Kami datang dan tanur (tempat pembakaran roti) telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang-sepasang dari setiap jenis (hewan), dan keluargamu, kecuali orang yang telah ditetapkan (dibinasakan) di antara mereka. Dan janganlah engkau bicarakan dengan-Ku tentang orang-orang yang zalim itu, sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.'”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun (1000 kurang 50 tahun) dengan penuh kesabaran. Setelah kurun waktu yang sangat panjang dan pengikutnya tetap sedikit, beliau berdoa memohon pertolongan Allah.
    • Hubungan Doa dan Ikhtiar:
      Allah tidak langsung mendatangkan perahu secara gaib, melainkan memerintahkan Nabi Nuh membuat bahtera. Ini menunjukkan sunnatullah bahwa pertolongan Allah datang bersamaan dengan perjuangan dan kerja nyata manusia.
    • Tanda Bencana (Farat-Tannur):
      Tannur adalah tempat memasak roti yang membara. Muncurnya air dari tempat pembakaran api merupakan tanda Mahakuasanya Allah yang mampu memancarkan air dari tempat api berada.
    • Penyelamatan & Pengikut:
      • Pasangan hewan dimasukkan agar keberlanjutan spesies tidak terputus.
      • Dari keluarga Nabi Nuh, istri dan salah satu putranya menolak ikut dan akhirnya ditenggelamkan.
      • Jumlah pengikut Nabi Nuh selama 9,5 abad sangat sedikit (dalam sebagian riwayat tidak lebih dari 80 orang).
    • Pelajaran Penting:
      • Kebenaran (Al-Haq) sama sekali tidak diukur dari mayoritas atau minoritas pengikut.
      • Menyitir perkataan Imam Ali bin Abi Thalib AS: “Janganlah kamu risau berada di jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berjalan bersamamu.”

4. Doa Selamat & Hikmah Ujian Ilahi (Ayat 28–30)

فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Apabila engkau dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas kapal, maka katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari kaum yang zalim.'”

وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلًا مُّبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ

“Dan berdoalah: ‘Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkahi, dan Engkau adalah sebaik-baik Zat yang menempatkan.'”

إِنَّ فِي ذَٰلِك لَآيَاتٍ وَإِن كُنَّا لَمُبْتَلِينَ

“Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), dan sesungguhnya Kami benar-benar menguji (manusia).”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Doa ucapan syukur tidak sekadar selamat dari bencana air, tetapi selamat dari kaum yang zalim (menandakan bahwa keberadaan orang zalim lebih berbahaya daripada bencana).
    • Anjuran Rasulullah SAW:
      Rasulullah SAW berpesan kepada Ali bin Abi Thalib AS agar membaca doa Robbi anzilni munzalan mubarokan wa anta khairul munzilin setiap kali hendak turun atau singgah di suatu tempat/kendaraan agar mendapatkan keberkahan.
    • Hakikat Ujian Allah:
      Allah menguji manusia bukan untuk membuat Allah ‘tahu’ (karena Allah sudah Maha Tahu), melainkan agar perbuatan nyata manusia menjadi penentu tingkatan dan maqam mereka di akhirat (apakah Ahlul Jannah atau Ahlun Nar).
      Ustadz mencontohkan tukang kayu yang baru dibayar setelah mewujudkan karyanya.

BAGIAN II: GENERASI PASCA-KAUM NUH (AYAT 31–41)

1. Pengutusan Rasul kepada Generasi Baru (Ayat 31–32)

ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قَرْنًا آخَرِينَ

“Kemudian setelah mereka, Kami ciptakan generasi yang lain.”

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Lalu Kami utus kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa?'”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Membinasakan suatu kaum yang membangkang sama sekali tidak merugikan Allah. Allah dengan mudah menggantinya dengan generasi baru (qarnan akharin).
    • Inti pesan setiap rasul sepanjang zaman selalu konsisten: Mengajak menghamba hanya kepada Allah SWT.

2. Penolakan Kaum & Pandangan Hidup Materialisme (Ayat 33–38)

وَقَالَ الْمَلَأُ مِن قَوْمِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِلِقَاءِ الْآخِرَةِ وَأَتْرَفْنَاهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا مَا هَٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُونَ مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُونَ

“Dan berkatalah pemuka-pemuka dari kaumnya yang kafir, yang mendustakan pertemuan hari akhirat, dan yang telah Kami beri kemewahan dalam kehidupan dunia: ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, dia makan dari apa yang kalian makan dan minum dari apa yang kalian minum.'”

وَلَئِنْ أَطَعْتُم بَشَرًا مِّثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَّخَاسِرُونَ

“Dan sungguh, jika kamu mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

أَيَعِدُكُمْ أَنَّكُمْ إِذَا مِتُّمْ وَكُنتُمْ تُرَابًا وَعِظَامًا أَنَّكُم مُّخْرَجُونَ ۞ هَيْهَاتَ هَيْهَاتَ لِمَا تُوعَدُونَ

“Apakah dia menjanjikan kepada kalian bahwa apabila kalian telah mati dan menjadi tanah serta tulang-belulang, kalian benar-benar akan dikeluarkan (dihidupkan kembali)? Jauh! Sangat jauh apa yang dijanjikan kepada kalian itu!”

إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan dunia kita ini, kita mati dan kita hidup, dan kita tidak akan dibangkitkan lagi.”

إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا وَمَا نَحْنُ لَهُ بِمُؤْمِنِينَ

“Dia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang mengada-ada kedustaan terhadap Allah, dan kami tidak akan beriman kepadanya.”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Ciri-Ciri Penentang Dakwah:
      Pemuka kaum yang menolak umumnya adalah orang-orang yang dilimpahi kemewahan dunia (atrafnahum fil-hayatid-dunya).
      Kemewahan dan kedudukan tinggi sering kali melahirkan kesombongan hingga mereka menolak kebenaran.
    • Kritik atas Pandangan Hidup Materialisme:
      • Mereka membatasi hakikat kehidupan hanya pada urusan materi duniawi: makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dan tidur. Ustadz menegaskan jika hidup disempitkan hanya pada pandangan materialisme (sandang, pangan, papan), tidak ada bedanya nilai kehidupan manusia dengan binatang ternak.
      • Pandangan para nabi melampaui dunia fisik (transendental): Dunia hanyalah jembatan singkat (ad-dunya bermakna yang paling rendah) menuju kehidupan akhirat yang abadi dan mulia.
    • Keraguan atas Hari Kebangkitan:
      • Penentang menganggap mustahil tulang yang telah hancur menjadi tanah dapat dihidupkan kembali (haihata haihata).
      • Bantahan Al-Qur’an: Zat yang mampu menciptakan manusia pada kehidupan pertama tentu jauh lebih mampu untuk menghidupkannya kembali pada kali yang kedua.
    • Kontradiksi Pemuka Kaum:
      • Mereka mengaku percaya kepada Allah, tetapi menuduh utusan Allah berdusta atas nama Allah (iftara ‘alallahi kadziba).
      • Kehancuran umat manusia terjadi ketika mereka mengaku beriman kepada Tuhan, tetapi memutuskan koneksi dengan wakil/utusan resmi Tuhan.
        Tanpa membimbingkan diri pada utusan Ilahi, manusia akan menafsirkan dan membuat agamanya sendiri sesuai selera masing-masing.

3. Doa Nabi & Azab Suara Menggelegar (Ayat 39–41)

قَالَ رَبِّ انصُرْنِي بِمَا كَذَّبُونِ

“Nabi itu berdoa: ‘Ya Rabbku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku.'”

قَالَ عَمَّا قَلِيلٍ لَّيُصْبِحُنَّ نَادِمِينَ

“Allah berfirman: ‘Dalam waktu yang tidak lama lagi mereka pasti akan menyesal.'”

فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ بِالْحَقِّ فَجَعَلْنَاهُمْ غُثَاءً ۚ فَبُعْدًا لِّلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

“Maka mereka ditimpa suara menggelegar (as-shaichah) secara adil/benar, lalu Kami jadikan mereka seperti sampah/buih (yang terapung-apung). Maka binasalah kaum yang zalim itu.”

  • Penjelasan Ustadz Abdillah Baabud:
    • Setelah dakwah ditolak secara total, rasul tersebut memohon pertolongan Allah.
    • Allah membalas bahwa penyesalan mereka akan segera datang.
    • Bentuk Azab:
      Mereka dihantam oleh as-shaichah (suara dengan gelombang sangat tinggi dan menggelegar) yang seketika mematikan mereka.
    • Jasad mereka dihancurkan hingga menjadi seperti ghutsa’ (sampah atau buih yang terapung-apung tak berharga).

PENUTUP KAJIAN

Kajian majelis ketiga ini diakhiri setelah pembahasan tuntas hingga ayat ke-41 Surat Al-Mu’minun.
Ustadz Abdillah Baabud menyampaikan harapan agar jamaah senantiasa mendekatkan diri dengan ayat-ayat Ilahi untuk memperoleh penerangan dan cahaya dalam kehidupan sehari-hari, serta berencana melanjutkan ayat ke-42 pada majelis berikutnya. Kajian ditutup dengan doa dan salam.

AB Tafsir Surat Al Mu’minun 23

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINIYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us