Pertanyaan Muaz bin Jabal dan Kunci Utama Ibadah
Riwayat ini bermula dari pertanyaan sahabat Muaz bin Jabal RA kepada Rasulullah SAW mengenai amalan apa yang dapat memasukkan seseorang ke surga dan menjauhkannya dari api neraka.
Rasulullah SAW menjawab bahwa meskipun hal itu tampak besar, namun terasa mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT.
Kuncinya adalah menyembah Allah SWT dengan tulus dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.
Menjaga Lisan sebagai Tolak Ukur Ibadah
Ketika Muaz bin Jabal bertanya tentang tolak ukur dari ibadah tersebut, Rasulullah SAW memberikan isyarat pada lisan beliau dan berpesan untuk menjaganya.
Rasulullah menegaskan bahwa banyak orang terjerumus ke dalam api neraka justru karena hasil ucapan lidah mereka sendiri.
Oleh karena itu, menjaga lisan merupakan indikator utama apakah seseorang benar-benar beribadah kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya.
Hal ini bahkan lebih ditekankan dibandingkan sekadar banyaknya kuantitas shalat, puasa, atau ibadah haji.
Pengendalian Diri Melalui Zikir
Dalam tradisi di Pondok Pesantren Suryalaya, pengendalian lisan dan batin ini dilatih melalui dua jenis zikir: Zikir Jahar (dengan suara lantang) dan Zikir Khofi (dalam hati).
Kedua metode ini merupakan bentuk riadah atau latihan bagi manusia untuk membiasakan diri menyebut nama Allah dan mengendalikan apa yang diucapkan maupun apa yang tertanam di dalam batin, karena keduanya akan dimintai pertanggungjawaban.
Memahami Tingkatan Sabar dan Pembiasaan Diri
Sabar dalam bahasa Arab memiliki berbagai tingkatan, salah satunya adalah tasobbaro, yaitu upaya memaksakan diri untuk bersabar sebagai bentuk latihan.
Seringkali, akhlak yang mulia harus dimulai dengan “berpura-pura” atau melatih diri secara konsisten hingga sifat tersebut menyatu dengan kepribadian kita.
Sebagaimana ilmu diperoleh dengan mencari, sifat pemaaf dan sabar pun diperoleh dengan cara melatih diri seolah-olah sudah memiliki sifat tersebut sampai benar-benar menjadi karakter asli.
Teladan Kesabaran Imam Ahmad bin Hanbal
Pentingnya kesabaran dalam memegang kebenaran digambarkan melalui kisah Imam Ahmad bin Hanbal saat beliau dipenjara dan disiksa karena mempertahankan keyakinannya.
Saat akan memasuki ruang penyiksaan, beliau bertemu dengan seorang pencuri yang telah disiksa namun tetap bungkam demi menutupi kejahatannya.
Pencuri itu berbisik, “Jika saya bisa bersabar dalam kebatilan, mengapa Imam tidak bisa bersabar dalam kebenaran?”.
Nasihat ini begitu membekas bagi Imam Ahmad, sehingga beliau tetap teguh dan sabar menghadapi ratusan cambukan tanpa mencabut keyakinannya.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 11: “Amalan agar masuk surga”
PERCIK HIKMAH : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Sabar”part 1 Eps.11
Video source: JRTV

