Bismillâhirrahmânirrahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa Âli Sayyidina Muhammad
Kemaksuman Mutlak Nabi
Kajian ini melanjutkan pembahasan mengenai Maqam atau kedudukan Rasul, khususnya mengenai Maqam Al-Insaniyyah (kedudukan kemanusiaan) bagian ketiga.
Berdasarkan ayat dalam Surah Al-Qalam, ditegaskan bahwa Baginda Nabi Muhammad SAW memiliki akhlak yang sangat agung.
Hal ini menjadi bukti nyata atas kemaksuman nabi secara mutlak dalam segala kondisi, baik saat menyampaikan risalah (tabligh) maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Kita harus menghindari segala pemahaman yang merendahkan martabat nabi.
Memahami Ayat “Innama Ana Basharum Mithlukum”
Terdapat poin penting dalam Al-Qur’an saat Nabi diminta menyatakan, “Aku hanyalah manusia seperti kalian (basharum mithlukum)”.
Pemilihan kata dalam Al-Qur’an sangat unik dan merupakan bagian dari mukjizatnya. Al-Qur’an tidak asal-asalan memilih kata untuk menyebut “manusia”.
Setidaknya ada lima istilah berbeda yang memiliki makna dan penggunaan spesifik:
- Al-Ins (Jenis Makhluk):
Menunjukkan jenis atau golongan makhluk yang nampak, sebagai lawan dari Jin yang merupakan makhluk halus.
Keduanya diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada Allah. - Al-Insan (Potensi Intelektual dan Jiwa):
Digunakan untuk bentuk tunggal yang merujuk pada makhluk berakal dan berpikir.
Kata ini berkaitan dengan potensi luar biasa yang diberikan Allah.
Jika potensi ini dimanfaatkan, manusia menjadi sosok yang sempurna (ideal); namun jika diabaikan, manusia akan jatuh ke derajat yang paling rendah.
Istilah ini juga berkaitan dengan tanggung jawab dan amanah yang tidak sanggup dipikul oleh langit, bumi, dan gunung. - An-Nas (Makhluk Sosial):
Menunjukkan komunitas, masyarakat, atau kehidupan sosial dalam lingkup kecil maupun besar.
Ini merujuk pada keberagaman bangsa, suku, dan ras agar saling mengenal. - Bani Adam (Sejarah dan Keturunan):
Menunjukkan sisi historis manusia sebagai keturunan Nabi Adam.
Istilah ini sering digunakan saat membahas perjanjian primordial manusia dengan Allah sebelum diciptakan ke dunia, serta bagaimana Allah memuliakan keturunan Adam. - Bashar (Dimensi Fisik):
Menunjukkan sisi lahiriah, biologis, dan fisik manusia (kulit, makan, minum, tidur, reproduksi).
Keunikan Nabi: Bashar Secara Fisik, Insan Kamil Secara Ruhani
Persamaan Nabi dengan manusia lainnya hanya terletak pada dimensi Bashar (fisik), seperti makan, berjalan, dan berkeluarga.
Namun, yang membedakan adalah kalimat lanjutannya: “Yuha ilayya” (diwahyukan kepadaku).
Allah memilih Nabi karena kesempurnaan jiwanya (Insan Kamil), bukan sekadar fisiknya.
Beliau adalah manusia pilihan yang menjadi suri tauladan (Uswatun Hasanah).
Kritik Terhadap Riwayat yang Merendahkan Nabi
Siti Aisyah menyatakan bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.
Sebagaimana Al-Qur’an itu suci, memberi petunjuk, dan tidak disentuh kebatilan, demikian pula pribadi Nabi.
Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap riwayat-riwayat yang tampak merendahkan nabi, seperti:
- Riwayat yang menyebut Nabi lupa rakaat salat atau lupa mandi wajib.
- Riwayat Nabi menonton tarian secara berlebihan atau terkena sihir.
- Riwayat Nabi berbicara tanpa ilmu mengenai urusan dunia (masalah tanaman).
Segala bentuk ucapan Nabi adalah wahyu dan tidak ada yang sia-sia.
Keyakinan bahwa Nabi bisa berbuat salah atau lalai menunjukkan lemahnya pengagungan terhadap beliau.
Penutup: Larangan Menyakiti Rasulullah
Nabi Muhammad SAW adalah “Permata” di antara tumpukan batu biasa.
Menghina, merendahkan, atau menyakiti Nabi melalui ucapan, perbuatan, maupun tulisan merupakan perbuatan yang akan mendatangkan azab pedih dan laknat dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
Kita harus senantiasa memuji dan mengagungkan beliau sebagaimana Allah mengagungkannya dalam Al-Qur’an.

Kajian Risalah Nabawiyyah
Bersama: Ustadz Ali Alaydrus
Episode 8: Maqam Al-Insaniyyah (Bagian 3)
Senin, 20 Februari 2022, Premiere Mulai Jam 19.30 s/d 20.30 WIB
Semoga kita semua beroleh keberkahan yang diluaskan 🤲🙏
Kiranya berkenan subscribe, like, share. Terimakasih
Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:


