3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali muhammad

Hikmah Kebaikan yang Berbalas

Alhamdulillah, saya ingin berbagi kisah tentang seorang Kiai yang datang dari Ujung Pandang ke Pulau Jawa.
Beliau mendirikan sebuah pesantren di daerah Bogor, tepat di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang kurang mampu.
Pesantren tersebut hanya menerima santri dari kalangan fakir miskin tanpa memungut biaya apa pun; bahkan, Pak Kiai sendiri yang menyediakan makanan untuk seluruh santrinya.

Anak dari Pak Kiai tersebut bercerita betapa ia merasa kasihan melihat ayahnya yang setiap akhir pekan harus bekerja ekstra keras ke sana kemari demi mencari biaya operasional pesantren.
Karena begitu besarnya perhatian Pak Kiai kepada anak-anak orang lain (para santrinya), terkadang pendidikan anaknya sendiri kurang terpantau secara langsung olehnya.
Namun, dengan pertolongan Allah SWT, anak ini justru mendapatkan kesempatan untuk belajar ke Mesir karena ada orang yang bersedia membantu membiayainya.

 

Selama menempuh pendidikan di Mesir, anak Pak Kiai ini dikenal sebagai sosok yang sering menjadi tempat bergantung bagi kawan-kawannya yang mengalami kesulitan.
Meskipun dia tidak kaya dan tidak menerima kiriman uang yang banyak dari orang tuanya, selalu saja ada jalan baginya untuk menolong.
Ia bercerita bahwa setiap kali ia sedang tidak memiliki uang, tiba-tiba ada orang asing, seperti orang Maroko yang tidak ia kenal sebelumnya, datang memberikan bantuan uang dalam jumlah yang cukup banyak.
Ia merasa bahwa setiap bulan ia selalu menerima “kiriman” dari Tuhan melalui tangan-tangan mulia yang tidak ia kenal, sebagai balasan atas kebaikan tulus ayahnya di masa lalu.
Inilah perwujudan dari ayat: Hal Jazaโ€™ul Ihsan Illal Ihsanโ€”apakah ada balasan kebaikan selain kebaikan pula?.

Sosok inspiratif lainnya adalah Ustaz Husein Alatas, seorang penghafal Al-Qur’an yang sangat rendah hati.
Beliau meyakini sepenuhnya dari pengalaman hidupnya bahwa Allah akan membalas setiap perbuatan baik melalui tangan-tangan yang tidak terduga.
Contohnya, saat terjadi banjir besar di daerah tempat tinggalnya di Jakarta, beliau memesan perahu karet bukan untuk menyelamatkan dirinya terlebih dahulu, melainkan untuk mengevakuasi tetangga-tetangganya.
Beliau menempatkan keluarganya di atas atap, sementara ia mendahulukan keselamatan tetangganya. Atas kehendak Allah, beliau kini memiliki rumah besar yang dibangunkan oleh orang lain sebagai hadiah, serta sering menerima berbagai hadiah lainnya seperti mobil tanpa harus membeli sendiri.
Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan kita, atau bahkan kebaikan orang tua kita terdahulu, akan membawa keberkahan di masa depan.

Konsep ini ditegaskan dalam Al-Qur’an melalui kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir dalam Surah Al-Kahfi.
Mereka memperbaiki dinding rumah yang hampir runtuh milik dua anak yatim karena orang tua anak-anak tersebut adalah orang yang saleh.
Allah ingin membalas kesalehan sang orang tua dengan menjaga harta warisan anak-anaknya.

Setiap hari adalah peluang bagi kita untuk berbuat baik. Saya membayangkan jemaah sekalian keluar dari masjid ini dengan semangat mencari peluang untuk menebar kebaikan, sehingga memancarkan cahaya kasih sayang ke seluruh alam semesta.
Nabi Muhammad SAW mengingatkan agar kita jangan pernah meremehkan perbuatan baik sekecil apa pun.
Memberikan senyuman dan wajah yang ramah kepada orang yang ditemui, membantu menuangkan air untuk kawan, menyingkirkan duri dari jalan, hingga membantu membawakan barang orang lain, semuanya dicatat sebagai pahala sedekah di sisi Allah SWT.

Hikmah Menebar Kebaikan dan Keberkahan

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 30 : Adab Shalat#part4 (Kesempurnaan Niat)

PERCIK HIKMAH
eps.30 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat
“Unlimited Love part 3”

 

Video source: JRTV

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us