Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘aali muhammad
Ustadz Miftah F Rakhmat: Shalat sebagai Cahaya (Nurul Mukmin)
Dalam kajian ini, kita membahas hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan: “As-salatu Nurul Mukmin” — shalat adalah cahayanya orang yang beriman.
Jika sebelumnya kita mengenal shalat sebagai Mi’raj (perjalanan ruhani), hadis ini menekankan bahwa shalat berfungsi sebagai penerang.
Shalat sering digambarkan sebagai “penghibur” atau tempat peristirahatan bagi orang mukmin.
Sebagaimana tidur dapat menyegarkan tubuh yang lelah, shalat memberikan kesegaran jiwa dan pencerahan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Shalat adalah bimbingan di tengah kegelapan, membantu kita menemukan jalan keluar saat merasa tersesat.
Menurut sufi Al-Qadi al-Basti, agar shalat bisa menjadi cahaya, kuncinya terletak pada kejernihan kalbu.
Beliau menganalogikan kalbu seperti sebuah halaman:
- Jika halaman itu ditumbuhi “pohon” keinginan duniawi, maka ia akan menjadi tempat bersarangnya “burung-burung” kecemasan, kesedihan, dan beban pikiran.
- Untuk menjernihkan keadaan, seseorang harus memutus keterikatan pada keinginan dunia tersebut melalui shalat.
Senada dengan itu, Junaid al-Baghdadi mengajarkan bahwa meninggalkan keinginan dunia akan menjernihkan kehidupan, sementara meninggalkan keinginan (pamrih) terhadap akhirat akan menjernihkan kalbu.
Shalat yang dilakukan dengan penuh kepasrahan kepada Allah adalah sarana utama untuk mencapai keterputusan dari keinginan-keinginan tersebut, sehingga shalat benar-benar menjadi cahaya bagi mukmin.
Ustadz Jalaluddin Rakhmat: Hakikat dan Keajaiban Taubat
Ketika seseorang bertaubat, Allah menyambutnya dengan luar biasa. Allah tidak hanya mengampuni dosa-dosanya, tetapi juga mengganti akibat buruk dari dosa tersebut menjadi kebaikan.
Allah bertindak sebagai As-Sattar—Dia menutupi aib dan dosa hamba-Nya agar tidak diketahui makhluk lain karena kasih sayang-Nya yang luas.
Allah sangat murka kepada mereka yang justru membongkar cela atau dosa sesama manusia.
Kasih sayang Allah melampaui murka-Nya (Sari’ ur-Ridha). Begitu ada niat dalam hati untuk kembali, Allah menyambut hamba-Nya dengan ucapan “Salam” bahkan sebelum mereka bersujud di hadapan-Nya.
Allah telah menetapkan sifat kasih sayang (Rahmat) atas diri-Nya sendiri.
Terdapat perbedaan antara orang yang bertaubat satu kali (Ta’ib) dengan mereka yang terus-menerus kembali kepada Allah (Tawwab). Allah sangat mencintai kaum Al-Tawwabin—yaitu mereka yang meski berulang kali tergelincir, mereka selalu menyesal dan kembali bersuci kepada Allah.
Sebagaimana sabda Nabi SAW, orang yang bertaubat dari dosanya adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.

Bersama : KH Miftah F Rakhmat
KUNUZUL HIKMAH
Episode 23 : Shalat Nurul Mukmin
PERCIK HIKMAH
eps.23 : Allahyarham KH Jalaluddin Rakhmat: “Taubat part 3”
Video source: JRTV

