Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
QS. Maryam ayat 67-72 bercerita tentang sekelompok manusia yang digiring masuk ke neraka. Di antara kita ada yang merasa ia tidak termasuk di dalamnya. Bukankah kita umat yang dibimbing menuju keselamatan dengan sebaik-baiknya jalan? Lalu siapa yang Allah Ta’ala selamatkan kelak?
Pentingnya Mengkaji Al-Quran
Kajian ini dimulai dengan puji syukur kepada Allah SWT dan selawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya yang mulia.
Penekanan utama adalah bahwa Al-Quran merupakan kitab suci yang harus terus dipelajari maknanya agar dapat membimbing kita dalam mengarungi kehidupan.
Segala hal dalam Al-Quran terbuka untuk dikaji dan dipertanyakan kembali dengan bimbingan para guru agar kita senantiasa dekat dengan makna yang terkandung di dalamnya.
Kisah Iblis: Bahaya Sifat “Keakuan” (Ananiyah)
Sebelum masuk ke pembahasan utama Surah Maryam, dikisahkan kembali tentang iblis yang diusir dari surga.
Muncul pertanyaan apakah iblis adalah malaikat, karena ia dikecualikan dari perintah sujud kepada Nabi Adam yang ditujukan kepada malaikat.
Al-Quran menjelaskan bahwa iblis berasal dari golongan Jin, namun karena ibadahnya yang luar biasa selama ribuan tahun, ia diangkat derajatnya hingga setara dengan para malaikat.
Dosa utama iblis bukan sekadar penolakan untuk sujud, melainkan sifat takabur dan ucapan “aku” (ana) di hadapan Tuhan—merasa lebih baik karena diciptakan dari api sementara Adam dari tanah.
Sifat “keakuan” atau ananiyah inilah yang harus kita perangi; tidak boleh ada kata “aku” di hadapan Tuhan, yang ada hanyalah kepasrahan dan kepatuhan mutlak.
Analisis Surah Maryam Ayat 67-72: “Semua Kita Masuk Neraka”
Kajian utama berfokus pada Surah Maryam ayat 67-72. Seringkali saat membaca tentang neraka, kita merasa tidak termasuk di dalamnya karena merasa telah beribadah atau memiliki kelompok yang selamat.
Namun, kita harus waspada jangan-jangan dalam ibadah kita masih terselip sifat “keakuan” seperti iblis.
Berikut adalah poin-poin penting dari ayat tersebut:
- Ayat 67:
Manusia diingatkan bahwa mereka diciptakan dari ketiadaan. - Ayat 68:
Allah bersumpah demi Tuhanmu (merujuk pada kemuliaan Nabi Muhammad SAW) bahwa manusia akan dibangkitkan bersama setan-setan dan didatangkan ke sekeliling Jahanam dalam keadaan berlutut. - Ayat 71:
Terdapat kalimat yang menggetarkan: “Dan tidaklah seorang pun darimu melainkan akan mendatangi (memasuki) neraka itu.”.
Kata wariiduha bisa berarti mendatangi atau memasuki, dan hal ini adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan (hatman maqdhiya) oleh Allah. - Ayat 72:
Harapan muncul karena Allah akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalamnya.
Cinta kepada Ahlul Bayt sebagai Jalan Keselamatan
Bagaimana kita bisa berharap keselamatan jika setiap manusia pasti mendatangi neraka?. Jawabannya terletak pada cinta dan syafaat.
Sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS agar hati manusia terikat cinta pada keturunannya, hal ini bertujuan untuk keselamatan manusia itu sendiri.
Dikutip dari berbagai kitab hadis seperti Kanzul Ummal, pada hari kiamat akan ada seruan agar seluruh mahluk menundukkan pandangan karena Sayyidah Fatimah salamullah alaiha akan melintas.
Baginda Nabi SAW bersabda bahwa Allah SWT menjauhkan Fatimah, keturunannya, dan siapa saja yang mencintai mereka dari api neraka. Nama “Fatimah” sendiri berasal dari kata fathoma yang berarti “dijauhkan” (dari api neraka).
Kesimpulan
Kita mungkin tidak akan selamat dari api neraka hanya dengan mengandalkan amal kita yang penuh dengan “keakuan”, karena hak Allah atas diri kita sangatlah besar.
Harapan kita hanyalah pada sedikit cinta dan kerinduan yang kita pelihara kepada Rasulullah SAW dan keluarganya yang suci, dengan harapan cinta tersebut menjadi perantara keselamatan kita di hari kemudian.

Bersama KH Miftah F. Rakhmat
Judul video: Daqaiq Al-Quran (7): SEMUA KITA MASUK NERAKA – Watch on Youtube


