Bismillâhirrahmânirrahîm
Allâhumma shalli ‘alâ Sayyidina Muhammad wa Âli Sayyidina Muhammad
Kajian ini mengusung tema “Ar-Risalah An-Nabawiyyah”, yang berfokus pada pembahasan mengenai kenabian, khususnya menelusuri maqam atau kedudukan-kedudukan agung Baginda Rasulullah SAW.
Sebagai pengantar, sangat penting untuk memahami posisi pembahasan ini agar kita memiliki landasan yang kuat dalam mengkaji sosok manusia paling agung tersebut.
Hakikat Keimanan kepada Para Nabi
Salah satu hakikat mendasar yang wajib dimiliki setiap Muslim adalah mengimani seluruh nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan mereka dalam hal keimanan.
Meskipun kita tidak membeda-bedakan keimanan kepada mereka, Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap nabi memiliki maqam atau tingkat kedudukan yang berbeda-beda di sisi Allah SWT.
Beberapa poin penting mengenai hierarki kedudukan ini meliputi:
- Keunggulan sebagian nabi atas yang lain:
Allah menyatakan telah melebihkan sebagian nabi di atas sebagian lainnya. - Risalah di atas Nubuwwah:
Maqam seorang Rasul lebih tinggi daripada maqam seorang Nabi. - Maqam Imamah:
Maqam tertinggi bukanlah risalah, melainkan Imamah, sebagaimana yang diberikan kepada Nabi Ibrahim AS setelah beliau lulus dari berbagai ujian berat. - Ulul Azmi:
Di antara para rasul, terdapat kelompok khusus yang disebut Ulul Azmi (Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW) yang memiliki ketabahan dan kesabaran luar biasa.
Keutamaan Baginda Rasulullah SAW
Di antara seluruh nabi, rasul, bahkan kelompok Ulul Azmi sekalipun, Nabi Muhammad SAW adalah yang paling utama.
Hal ini dibuktikan melalui beberapa fakta dalam Al-Qur’an:
- Panggilan Penghormatan:
Allah memanggil nabi-nabi lain langsung dengan nama mereka (seperti “Ya Adam”, “Ya Nuh”, “Ya Musa”), namun Allah memanggil Nabi Muhammad dengan sebutan kehormatan seperti “Ya ayyuhan-Nabiy” atau “Ya ayyuhar-Rasul”. - Jangkauan Dakwah:
Jika nabi-nabi terdahulu diutus hanya untuk kaum tertentu, Nabi Muhammad SAW diutus untuk seluruh umat manusia (kaffatan linnas). - Beban Ujian:
Ujian yang dihadapi Rasulullah SAW adalah yang paling berat dibandingkan nabi-nabi lainnya.
Enam Kewajiban Umat terhadap Rasulullah SAW
Untuk membangun kedekatan dan cinta kepada beliau, kita harus memahami kewajiban-kewajiban kita, di antaranya:
- At-Ta’dzim (Mengagungkan):
Kita wajib mengagungkan beliau sebagaimana Allah dan para malaikat bershalawat kepadanya secara terus-menerus. - At-Ta’ah (Ketaatan):
Menaati segala perintah beliau dan menjauhi larangannya secara mutlak. - Istijabah (Menyambut Seruan):
Menyambut seruan nabi yang membawa pada “kehidupan” (kualitas batin), termasuk seruan untuk mencintai keluarganya (Al-Mawaddah fil Qurba) dengan bukti nyata. - Al-Iqtida (Meneladani Akhlak):
Menjadikan nabi sebagai Uswatun Hasanah (suri tauladan yang baik). Akhlak beliau adalah Al-Qur’an yang berjalan, menunjukkan kesucian (maksum) beliau yang mutlak. - Memberikan Hadiah/Syukur:
Mengungkapkan rasa terima kasih secara khusus kepada beliau, baik melalui shalawat maupun dengan berakhlak mulia sebagai kebanggaan bagi beliau. - Membela Nama Baik:
Membersihkan nama nabi dari riwayat atau hadis yang memojokkan atau tidak sesuai dengan kesucian akhlak beliau.
Melalui pemahaman mendalam tentang maqam dan kewajiban ini, diharapkan kita dapat lebih dekat, lebih mencintai, dan senantiasa menyertakan Rasulullah SAW dalam setiap detik kehidupan kita.

Bersama : Ustadz Ali Alaydrus
Kajian Risalah Nabawiyyah
Episode 1: Pengantar Kajian Ar-Risalah An-Nabawiyyah
“Maqamaturrasul (Kedudukan Rasul saw)”
Jum’at, 14 Januari 2022 – Mulai Jam 20.00 WIB
Semoga kita semua beroleh keberkahan yang diluaskan 🤲🙏
Kiranya berkenan subscribe, like, share. Terimakasih
Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:


