3 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Tutup Mukamu Wahai Abu Dzar

Saudara-saudara, siapa yang tidak kenal dengan Abu Dzar al-Ghifari? Beliau adalah seorang penunggang kuda yang cekatan dan pemain pedang yang tak terkalahkan.
Dahulu, ia menghadang pedagang kaya di jalan, namun hasilnya ia bagikan kepada fakir miskin; ia mempersembahkan hidupnya untuk membela “wong cilik”.

Kisah keislamannya bermula saat saudaranya, Anis, melihat Nabi Muhammad SAW membagi-bagikan makanan kepada orang miskin. Anis melapor kepada Abu Dzar bahwa di Mekkah ada orang yang agamanya sama seperti dirinya.
Abu Dzar pun mendatangi Ka’bah, bertahan hidup berhari-hari hanya dengan meminum air zamzam, hingga akhirnya ia bertemu dengan Sang Nabi. Sejak saat itu, ia memegang teguh satu misi hidup yang diberikan Nabi: “Qulil haqqo wa inkaana murron“—katakanlah kebenaran walaupun itu pahit.

Komitmen ini ia pegang teguh hingga akhir hayat. Ketika sahabatnya, Abu Darda, membangun rumah besar setelah menjadi pegawai kerajaan,
Abu Dzar menegurnya dengan lembut bahwa ia telah membebankan bebatuan di atas pundak orang-orang kecil. Di depan pintu istana Mu’awiyah, ia berteriak lantang menyuarakan Surat At-Taubah ayat 34 tentang ancaman siksa pedih bagi mereka yang menumpuk emas dan perak namun tidak menafkahkannya di jalan Allah.
Akibatnya, ia ditangkap sebagai provokator, namun dengan bangga ia bertanya, “Sejak kapan aku dilarang membaca Al-Qur’an?”.

Keteguhan Abu Dzar tidak tergoyahkan. Ia pernah berkata bahwa sekiranya pedang diletakkan di lehernya agar ia berhenti menyampaikan kalimat dari Rasulullah, ia akan tetap menyampaikannya.
Nabi SAW sendiri telah mengabarkan kepadanya tentang kemelut politik yang akan terjadi sepeninggal beliau, di mana kekuasaan akan dipegang oleh penguasa zalim dan menyampaikan kebenaran akan dianggap sebagai dosa atau menista agama.

Suatu ketika, Abu Dzar bertanya dengan santun apakah ia boleh diberikan jabatan atau kekuasaan.
Nabi menepuk bahunya dan menjawab dengan lembut, “Wahai Abu Dzar, engkau lemah. Jabatan itu adalah amanah yang di hari kiamat akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi mereka yang mengambil dan melaksanakannya dengan hak”.

Nabi juga memberikan nasihat mengenai berbagai situasi sulit yang mungkin dihadapi Abu Dzar:

  • Jika terjadi kelaparan hebat:
    Nabi berpesan agar ia tetap menjaga kehormatan dirinya.
  • Jika terjadi wabah kematian:
    Nabi berpesan agar ia bersabar.
  • Jika terjadi perang saudara atau saling membunuh di tengah masyarakat:
    Nabi memerintahkan Abu Dzar untuk tinggal di rumah dan mengunci pintu.

Ketika Abu Dzar bertanya apakah ia perlu membawa senjata dalam kondisi konflik tersebut, Nabi melarangnya karena itu akan membuatnya sama dengan mereka yang bertikai. Jika ia takut melihat kilatan pedang, Nabi memberikan instruksi yang sangat menyentuh: “Tutupkan sorbanmu ke mukamu,” hingga orang yang membunuhmu itu menanggung dosanya sendiri.

Sikap ini merujuk pada kisah Habil saat akan dibunuh oleh Qabil, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 28-29, di mana Habil memilih untuk tidak menggerakkan tangan untuk membalas karena takut kepada Allah SWT.

Demikianlah prinsip hidup Abu Dzar yang setia pada kebenaran dan kedamaian hingga akhir hayatnya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Keteguhan Prinsip Abu Dzar Al Ghifari

Bersama KH DR Jalaluddin Rakhmat

Judul video: Tutup Mukamu Wahai Abu Dzar – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:
Subscribe Channel Majulah IJABI

 

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us