15 October 2026

Pagi itu di Kufah, matahari belum tinggi ketika Soweda bin Ghafla melangkah masuk ke Dar al-Imarah. Ia datang bukan sebagai pejabat, bukan pula sebagai utusan politik, melainkan sebagai seorang sahabat tua yang ingin menjumpai pemimpinnya. Ia mengira akan menemukan suasana istana—atau setidaknya tanda-tanda kekuasaan. Namun yang ia temukan justru jauh berbeda dari bayangannya.

Di hadapannya duduk Ali bin Abi Thalib, Amirul Mukminin, dengan pakaian sederhana dan hidangan yang nyaris membuat Soweda tercekat: semangkuk kecil susu dan sepotong roti gandum yang kering, keras, bahkan tampak sudah lama. Roti itu tidak berkilat oleh minyak, tidak lembut oleh ayakan tepung, dan masih menyimpan dedak serta sekam.

Soweda memperhatikan—dengan rasa pilu—bagaimana Ali harus menekan roti itu dengan tenaga, kadang dengan lututnya, agar bisa dipatahkan dan dimakan. Tidak ada keluhan. Tidak ada dramatisasi. Seolah-olah kerasnya roti itu adalah bagian dari ritual “kenikmatan” atau keasyikan tersendiri.

Naluri kemanusiaan Soweda tersentuh. Ia menoleh kepada Fidhdhah, pelayan setia di rumah Ali, dan bertanya dengan suara lirih:

“Mengapa engkau tidak melembutkan roti ini? Atau menambahkan sedikit minyak?”

Jawaban Fidhdhah membuka tabir “etika kepemimpinan” yang jarang disaksikan sejarah:

Ali melarang keras. Ali secara tegas memerintahkan untuk tidak menambahkan apa-apa untuk rotinya. Memerintahkan agar tepungnya tidak diayak, dan tas yang menyimpan roti itu disegel.

Ketika Soweda bertanya mengapa sampai harus disegel, Ali menjawab:

Saya khawatir Hasan dan Husain akan diam-diam menambahkan minyak atau samin agar makanannya lebih layak.

Di titik inilah kepemimpinan Ali menampakkan wajahnya yang paling menyentuh. Ia tidak hanya melawan kemewahan, tetapi mengantisipasi rasa iba. Ia tahu bahwa kekuasaan sering kali runtuh bukan karena kerakusan, tetapi karena pembenaran kecil yang terasa manusiawi.

Ali menolak menjadi pemimpin yang kenyang sementara di Hijaz dan Yaman masih ada orang yang bahkan tidak tahu bagaimana rasanya kenyang. Bagi Ali, keadilan bukan slogan, melainkan standar hidup pribadi. Jika ia tidak sanggup menahan lidahnya dari rasa lezat, bagaimana ia bisa menahan tangannya dari kas umat?

Roti gandum keras itu bukan simbol kemiskinan, melainkan perlawanan sunyi terhadap korupsi jiwa. Di tangan Ali, askese bukan pelarian spiritual, tetapi metode politik moral. Ia ingin memastikan satu hal: bahwa tidak ada jarak rasa antara penguasa dan rakyatnya.

Dan Soweda bin Ghafla pulang hari itu membawa sesuatu yang jauh lebih berat daripada kesaksian sejarah:

ia membawa ukuran baru tentang apa arti memimpin.

Roti yang1

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BMDmC9Ujp/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us