Apa yang Begitu Penting sehingga Jika Tidak Disampaikan, Risalah Seakan Belum Tuntas?
Ada ayat yang memerintahkan Rasulullah SAW menyampaikan wahyu.
Itu sendiri bukan sesuatu yang mengejutkan.
Memang tugas Rasul adalah menyampaikan.
Tetapi QS al-Ma’idah 5:67 tidak berbicara dengan bahasa perintah biasa.
Allah SWT berfirman:
«يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ ۖ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ»
“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau belum menyampaikan risalah-Nya. Dan Allah akan melindungimu dari manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”
Kalimat ini begitu kuat sehingga kita harus membacanya perlahan.
Allah tidak hanya mengatakan:
«بَلِّغْ»
“Sampaikanlah.”
Tetapi:
«وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ»
“Jika engkau tidak melakukannya, maka engkau belum menyampaikan risalah-Nya.”
Kemudian:
«وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ»
“Dan Allah akan melindungimu dari manusia.”
Ada: sesuatu yang harus disampaikan.
Ada: penegasan luar biasa mengenai pentingnya penyampaian itu.
Dan ada: manusia yang reaksinya sedemikian rupa sehingga Allah memberikan jaminan perlindungan kepada Rasul-Nya.
Pertanyaannya tidak mungkin dihindari:
APA YANG SEDANG DIBICARAKAN?
—
JANGAN LANGSUNG MENJAWAB: “ALI”
Saya harus mempertahankan disiplin yang telah menjadi prinsip buku ini.
Teks ayat tidak berkata:
«“Wahai Rasul, umumkanlah Ali sebagai pemimpin setelahmu.”»
Tidak.
Nama Ali tidak terdapat secara literal di dalam QS 5:67.
Karena itu, kalau kita sejak kalimat pertama berkata:
“Ayat ini secara eksplisit menyatakan kepemimpinan Ali,”
kita sudah mengatakan lebih daripada yang dinyatakan teks.
Mulailah dari apa yang benar-benar ada.
Ayat mengatakan:
«مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ»
“apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”
Secara literal frasa itu dapat dipahami secara umum:
sampaikan seluruh wahyu yang menjadi amanahmu.
Dan memang inilah salah satu pembacaan utama dalam tafsir Sunni.
Ibn Kathir, misalnya, memahami ayat sebagai perintah kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan seluruh yang Allah turunkan kepadanya.
Ia mengutip perkataan Aisyah bahwa siapa yang mengatakan Muhammad menyembunyikan sesuatu dari wahyu Allah berarti telah berdusta, karena Allah sendiri memerintahkan Rasul untuk menyampaikan semuanya.
Kita menerima prinsip itu sepenuhnya.
Rasulullah SAW:
tidak menyembunyikan wahyu.
Justru itulah salah satu fondasi pembahasan ini.
Kalau Allah memerintahkan sesuatu untuk disampaikan, Rasul pasti: menyampaikannya.
Persoalannya kemudian:
apakah ayat ini hanya merupakan perintah umum untuk seluruh risalah?
Ataukah pada saat turunnya terdapat satu perkara tertentu yang sedang diperintahkan untuk diumumkan secara terbuka?
Di sinilah riwayat dan konteks sejarah harus diperiksa.
—
PERHATIKAN PANGGILAN: “YA AYYUHA AL-RASUL”
Allah berkata:
«يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ»
“Wahai Rasul.”
Bukan sekadar:
“Wahai Muhammad.”
Dan pada ayat ini bahkan bukan:
«يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ»
“Wahai Nabi.”
Tetapi:
«يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ»
Wahai Rasul.
Pemilihan sebutan al-Rasul sangat sesuai dengan tema ayat:
«بَلِّغْ»
sampaikan.
Kata rasul sendiri berkaitan dengan: risalah.
Seakan-akan identitas beliau sebagai pembawa risalah dipanggil tepat ketika tugas penyampaian ditekankan.
Kemudian Allah berkata:
jika ini tidak dilakukan:
«فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ»
“engkau belum menyampaikan risalah-Nya.”
Bahasanya mengikat:
Rasul → tabligh → risalah.
Ini bukan percakapan pribadi.
Ini adalah pernyataan mengenai: AMANAH KENABIAN.
—
“JIKA TIDAK, ENGKAU BELUM MENYAMPAIKAN RISALAH-NYA”
Di sinilah ayat menjadi sangat menggetarkan.
Rasulullah SAW telah berdakwah bertahun-tahun.
Beliau telah menyampaikan tauhid.
- Salat.
- Puasa.
- Zakat.
- Haji.
- Hukum keluarga.
- Perdagangan.
- Akhlak.
- Jihad.
- Halal dan haram.
- Al-Qur’an telah dibacakan.
- Masyarakat Islam sudah terbentuk.
Maka ungkapan:
«فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ»
mempunyai bobot retoris yang sangat besar.
Ibn Kathir memahami bagian ini sebagai penegasan bahwa jika Rasul menyembunyikan bagian dari apa yang diturunkan kepadanya, maka beliau belum melaksanakan tugas penyampaian sebagaimana mestinya.
Pembacaan tersebut benar sebagai prinsip umum.
Tetapi dalam perspektif Ahlul Bait muncul pertanyaan berikutnya:
Mengapa sebuah perintah tabligh perlu dinyatakan dengan bahasa sekeras ini pada fase akhir risalah?
Ibn Kathir sendiri menilai ayat ini Madaniyah dan termasuk ayat-ayat yang turun pada periode akhir di Madinah.
Kalau demikian, pertanyaan semakin menarik.
Apa perkara pada fase akhir risalah yang begitu menentukan bagi masa depan agama setelah Rasulullah SAW, sehingga kegagalan menyampaikannya digambarkan dengan ungkapan seakan-akan risalah belum ditunaikan?
Dalam pembacaan Imamiyah:
jawabannya adalah:
wilayah dan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib as.
Dan tempat pengumumannya: GHADIR KHUM.
—
TETAPI APAKAH HUBUNGAN QS 5:67 DENGAN GHADIR HANYA ADA DALAM KITAB SYIAH?
Tidak.
Dan di sinilah kita harus sangat tepat.
Al-Wahidi, seorang mufasir Sunni yang terkenal dengan karya Asbab al-Nuzul, mencatat riwayat dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa QS 5:67 turun pada hari Ghadir Khum mengenai Ali bin Abi Thalib.
Ini fakta historiografis yang penting.
Tetapi langsung setelah mengatakan itu, kita juga harus mengatakan:
dicatatnya suatu riwayat oleh al-Wahidi tidak otomatis berarti sanadnya sahih menurut seluruh ahli hadis.
Jalur yang dicatat al-Wahidi melalui ‘Athiyyah dan Abu Sa‘id diperdebatkan oleh para ahli hadis.
Jadi jangan berkata:
“Al-Wahidi membuktikan dengan hadis sahih yang disepakati bahwa ayat ini turun di Ghadir.”
Itu terlalu jauh.
Yang dapat kita katakan dengan aman:
hubungan antara Ayat Tabligh, Ghadir Khum, dan Imam Ali telah tercatat di dalam tradisi tafsir Sunni klasik—meskipun kekuatan sanad riwayat spesifik tersebut diperselisihkan.
Itu sudah sangat penting.
—
BAHKAN SYARAH SAHIH BUKHARI MENCATATNYA
‘Umdat al-Qari, syarah terhadap Sahih al-Bukhari karya Badruddin al-‘Ayni, ketika membahas QS 5:67, merekam beberapa pendapat mengenai sebab atau objek ayat.
Di antara yang dicatatnya:
riwayat al-Wahidi dari Abu Sa‘id bahwa ayat turun pada hari Ghadir Khum mengenai Ali.
Ia juga menukil pendapat Abu Ja‘far Muhammad bin Ali bin Husain—Imam al-Baqir as—bahwa maksudnya adalah menyampaikan apa yang diturunkan mengenai keutamaan Ali bin Abi Thalib, lalu menghubungkannya dengan ucapan Rasulullah:
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
“Barang siapa aku adalah mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.”
Tetapi sumber yang sama juga mencatat berbagai penafsiran lain:
tentang Ahli Kitab,
jihad,
Zainab binti Jahsy,
hak-hak kaum muslimin,
dan penyampaian syariat secara umum.
Ini sangat baik bagi metodologi kita.
Kita tidak perlu menyembunyikan keragamannya.
Justru kita dapat mengatakan:
hubungan QS 5:67 dengan Ali bukan satu-satunya tafsir yang pernah ada, tetapi juga bukan tafsir yang dapat dibuang dengan tuduhan “ini baru karangan Syiah belakangan”.
Ia mempunyai jejak dalam khazanah tafsir Islam klasik.
—
MAKA BEDAKAN DUA PERTANYAAN
Ini sangat penting.
Ada dua pertanyaan yang sering dicampur.
Pertama:
Apakah Hadis Ghadir sendiri benar-benar terjadi?
Kedua:
Apakah QS 5:67 secara khusus turun sebagai perintah untuk deklarasi Ghadir?
Dua pertanyaan itu tidak mempunyai tingkat bukti yang sama.
Hadis Ghadir mempunyai jalur yang jauh lebih luas dan kuat.
Sedangkan riwayat spesifik bahwa QS 5:67 turun tepat untuk Ghadir mempunyai perdebatan sanad yang lebih besar.
Kalau kita mencampurkan keduanya, lawan cukup mengkritik sanad salah satu riwayat sebab turun lalu seolah-olah seluruh Ghadir runtuh.
Padahal:
Ghadir tidak bergantung kepada satu jalur sabab al-nuzul QS 5:67.
Ini harus menjadi salah satu penyempurnaan penting dalam buku kita.
—
GHADIR KHUM SENDIRI BUKAN PERISTIWA YANG DAPAT DIHAPUS
Jami‘ at-Tirmidzi meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
“Barang siapa aku adalah mawlanya, maka Ali adalah mawlanya.”
Musnad Ahmad memuat riwayat tentang Imam Ali as yang kemudian, di Rahbah, meminta orang-orang yang pernah mendengar Rasulullah SAW pada hari Ghadir Khum untuk bersaksi.
Sejumlah orang berdiri dan bersaksi bahwa mereka memang mendengar pernyataan Rasul mengenai Ali pada hari tersebut.
Dalam salah satu versi, kesaksian itu juga didahului dengan pertanyaan mengenai kedudukan Rasul terhadap kaum mukmin.
Jalur-jalur lain dalam Musnad Ahmad juga merekam sejumlah saksi terhadap ucapan Ghadir.
Dorar merangkum jalur dari Ali dengan penilaian al-Haitsami bahwa para perawinya terpercaya pada salah satu versi Hadis Ghadir.
Dengan demikian, perdebatan akademis yang paling serius bukan lagi:
“Apakah Rasul pernah mengatakan ‘man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyun mawlahu’?”
Ucapan itu mempunyai dasar hadis yang kuat dan luas.
Perdebatan justru bergeser kepada:
APA ARTI MAWLA DALAM KONTEKS GHADIR?
Dan:
apakah deklarasi itu merupakan penetapan kepemimpinan atau hanya penegasan cinta dan loyalitas kepada Ali?
Itulah medan perdebatan yang lebih jujur.
—
GHADIR BUKAN HANYA SATU KALIMAT YANG TERLEPAS DARI KONTEKS
Salah satu kesalahan paling besar adalah hanya mengambil:
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
lalu membukanya seperti kamus.
“Mawla bisa berarti teman.”
Selesai.
Tidak sesederhana itu.
Kita harus membaca apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.
Riwayat dari Ghadir yang dicatat dalam tradisi hadis menyertakan bentuk pertanyaan Rasul mengenai kedekatan atau prioritas beliau terhadap kaum mukmin, kemudian deklarasi mengenai Ali.
Musnad Ahmad, misalnya, merekam kesaksian di Rahbah bahwa pada Ghadir Rasul bertanya mengenai kedekatan-Nya terhadap kaum mukmin lalu menghubungkannya dengan status Ali sebagai mawla.
Dalam riwayat lain dari Zaid bin Arqam, rangkaian Ghadir menghubungkan:
Kitab Allah, Ahlul Bait, wilayah Allah, wilayah Rasul, lalu Ali.
Konteks seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar bertanya:
“Berapa arti kata mawla di dalam kamus?”
Kata mempunyai banyak arti.
Konteks memilih arti.
—
“ALASTU AWLA…” DAN “MAWLA”
Ini salah satu hubungan terpenting.
Al-Qur’an telah berkata:
«النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ»
“Nabi lebih berhak atas kaum mukmin daripada diri mereka sendiri.”
Pada tradisi Ghadir terdapat riwayat di mana Rasulullah SAW lebih dahulu membangun pengakuan terhadap kedudukan beliau atas kaum mukmin, kemudian menyatakan hubungan mawla Ali.
Kita harus tepat:
kata:
«أَوْلَى»
awla
dan:
«مَوْلَى»
mawla
bukan kata yang identik secara morfologis dan tidak boleh begitu saja disamakan dalam setiap konteks.
Tetapi ketika kedua konsep tersebut muncul dalam satu rangkaian pidato, hubungan konteksnya menjadi penting.
Rasul bukan bertanya:
“Apakah kalian menyukaiku?”
Lalu berkata:
“Kalau begitu sukailah Ali.”
Yang dibangun adalah persoalan:
kedudukan Rasul terhadap kaum mukmin.
Kemudian muncul:
Ali sebagai mawla.
Inilah salah satu alasan mengapa pembacaan Imamiyah melihat Ghadir sebagai:
deklarasi otoritas.
Bukan pengumuman pertemanan biasa.
—
KALAU HANYA “CINTAILAH ALI”, MENGAPA HARUS GHADIR?
Ini pertanyaan logis, bukan bukti tunggal.
Rasulullah SAW sudah berkali-kali memperlihatkan keutamaan Ali.
Umat sudah mengenal Ali sebagai:
sepupu Nabi,
menantu Nabi,
suami Fatimah,
ayah Hasan dan Husain,
pahlawan dalam berbagai peperangan,
dan salah satu manusia paling dekat dengan Rasulullah.
Kalau Ghadir hanya bermaksud:
“Jangan membenci Ali; ia teman kalian,”
maka pertanyaannya:
mengapa deklarasi itu diberikan dalam bentuk khusus dan kemudian dikenang oleh banyak saksi sebagai peristiwa penting?
Kita harus berhati-hati karena detail jumlah hadirin dalam berbagai literatur sangat bervariasi dan tidak semua angka mempunyai kualitas sumber yang sama.
Karena itu kita tidak perlu membangun argumen pada klaim:
“Seratus dua puluh ribu orang berdiri di sana,”
jika kita belum menguji sumber angkanya.
Yang cukup kuat adalah:
Ghadir Khum merupakan tempat Rasulullah SAW berkhutbah dalam perjalanan dan ucapan mengenai mawla Ali ditransmisikan melalui berbagai jalur.
Itu sudah memadai.
—
SAHIH MUSLIM MEMBUKTIKAN KHUM ADALAH TEMPAT PIDATO PENTING TENTANG AHLUL BAIT
Ada hal lain yang sering terlewat.
Sahih Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Arqam bahwa Rasulullah SAW berdiri berkhutbah di sebuah sumber air bernama Khum, yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Dalam khutbah tersebut Rasulullah mengingatkan umat kepada Kitab Allah dan kemudian berkali-kali mengingatkan mereka mengenai Ahlul Baitnya.
Versi Sahih Muslim tersebut tidak memuat kalimat:
«من كنت مولاه فعلي مولاه»
dalam redaksi yang tampil di sana.
Kita harus jujur mengatakan itu.
Tetapi ia membuktikan sesuatu yang sangat penting:
Khumm memang merupakan tempat Rasulullah menyampaikan khutbah serius tentang apa yang beliau tinggalkan dan tentang Ahlul Bait.
Kemudian jalur-jalur lain merekam deklarasi mawla Ali.
Maka sekali lagi:
bukan satu riwayat menanggung seluruh sejarah.
Kita melihat jaringan.
—
SATU RIWAYAT MENYATUKAN TSAQALAIN DAN WILAYAH ALI
Salah satu jalur dari Zaid bin Arqam yang dicatat dalam Sharh Mushkil al-Athar karya ath-Thahawi membawa rangkaian yang sangat menarik.
Dalam riwayat tersebut Rasulullah SAW, sepulang dari Haji Wada dan tiba di Ghadir Khum, berbicara mengenai dua peninggalan:
Kitab Allah
dan:
‘itrah, Ahlul Baitnya.
Kemudian dikatakan:
«إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مَوْلَايَ وَأَنَا وَلِيُّ كُلِّ مُؤْمِنٍ»
“Sesungguhnya Allah adalah mawlaku dan aku adalah wali setiap mukmin.”
Lalu Rasul memegang tangan Ali dan mengatakan bahwa siapa yang beliau menjadi walinya, Ali pun menjadi walinya, dilanjutkan dengan doa kepada Allah mengenai orang yang berwilayah kepadanya.
Perhatikan arsitekturnya.
Allah.
Rasul.
Kitab.
Ahlul Bait.
Ali.
Wilayah.
Bukankah kita pernah melihat struktur serupa?
QS 5:55:
Allah.
Rasul.
Mukmin yang mempunyai ciri tertentu.
Lalu:
wilayah.
Sekarang Ghadir membawa kembali bahasa yang sama.
Di sinilah ayat-ayat dan hadis mulai terhubung satu sama lain.
—
GHADIR TIDAK BERDIRI SENDIRIAN
Sekarang lihat perjalanan buku kita.
Bagian 1: Ayat Wilayah.
«إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ…»
Bagian 2: Ayat Tathir.
Keluarga disucikan.
Bagian 3: Mubahalah.
Ali berada dalam kategori:
«أَنْفُسَنَا»
Bagian 4: Mawaddah.
Hubungan umat kepada al-qurba.
Bagian 5: Ulil Amri.
Ada manusia yang diperintahkan untuk ditaati sesudah Rasul.
Sekarang Bagian 6: Tabligh.
Rasul diperintahkan menyampaikan sesuatu dengan penegasan luar biasa.
Lalu sejarah Ghadir membawa:
Ali.
Kalau masing-masing fakta berdiri sendirian, orang dapat berkata:
“Ini hanya keutamaan.”
Tetapi semakin banyak kepingan diletakkan bersama, semakin sulit mempertahankan anggapan bahwa semuanya tidak mempunyai hubungan satu sama lain.
—
TETAPI KITA HARUS MEMBEDAKAN TIGA LAPIS ARGUMENTASI
Untuk menjaga buku ini tetap kokoh, kita harus terus mengatakan kepada pembaca:
LAPIS PERTAMA: TEKS AL-QUR’AN
QS 5:67 secara eksplisit memerintahkan Rasulullah SAW menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya, menegaskan betapa pentingnya penyampaian tersebut, dan menjanjikan perlindungan Allah dari manusia.
Itu pasti.
LAPIS KEDUA: RIWAYAT SEBAB TURUN
Ada riwayat dalam tradisi tafsir Sunni maupun Syiah yang menghubungkan ayat dengan Ghadir dan Ali; al-Wahidi adalah salah satu sumber Sunni yang mencatatnya. Namun sanad jalur spesifik tersebut diperdebatkan.
Itu harus dikatakan apa adanya.
LAPIS KETIGA: PERISTIWA GHADIR
Terlepas dari perdebatan sabab al-nuzul QS 5:67, hadis:
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
mempunyai transmisi yang jauh lebih luas dan terdapat dalam Tirmidzi, Ahmad, serta berbagai jalur lain.
Kemudian:
LAPIS KEEMPAT: KONSEKUENSI TEOLOGIS
Tradisi Imamiyah membaca keseluruhannya sebagai:
deklarasi kepemimpinan dan wilayah Imam Ali as.
Sebagian besar tafsir Sunni menerima keutamaan Ali dalam Hadis Ghadir tetapi tidak menerima bahwa mawla di sana harus berarti penunjukan khalifah setelah Rasul.
Inilah titik perdebatan sebenarnya.
Dengan membedakan empat lapisan tersebut, kita tidak mencampur:
teks, riwayat, sejarah, dan kesimpulan.
Dan justru karena dipisahkan, hubungan di antaranya dapat diperiksa dengan lebih jujur.
—
“ALLAH AKAN MELINDUNGIMU DARI MANUSIA”
Sekarang kembali kepada ayat.
«وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ»
“Allah akan melindungimu dari manusia.”
Kata:
«يَعْصِمُكَ»
berasal dari akar yang membawa makna menjaga, menahan, dan melindungi.
Ibn Kathir memahami bagian ini sebagai jaminan Allah bahwa Rasul harus menyampaikan risalah dan Allah akan menjaga, menolong, serta melindungi beliau dari musuh-musuh yang hendak mencelakainya. Ia juga mengutip riwayat bahwa Rasul sebelumnya pernah mendapatkan penjagaan, kemudian setelah jaminan ini beliau menyatakan bahwa Allah telah melindunginya.
Al-Wahidi pun mencatat beberapa riwayat mengenai penjagaan terhadap Rasul sebelum turunnya jaminan perlindungan tersebut.
Jadi makna perlindungan Allah bukan karangan pembacaan Ghadir.
Ia benar-benar berada dalam struktur ayat.
Persoalannya:
mengapa jaminan perlindungan itu diletakkan tepat bersama perintah tabligh?
—
JANGAN KATAKAN RASULULLAH TAKUT MENYAMPAIKAN KEBENARAN KARENA PENGECUT
Ini harus kita luruskan.
Rasulullah SAW telah menghadapi Quraisy.
Dilempari.
Diboikot.
Diancam.
Diperangi.
Pergi ke medan perang.
Menghadapi Yahudi, munafik, dan berbagai musuh.
Maka pembacaan yang menggambarkan Nabi:
“takut menyampaikan Ali karena takut kepada orang”
dalam arti ketakutan pribadi seorang pengecut sangat tidak pantas.
Kalau ada kekhawatiran, ia harus dipahami sebagai kekhawatiran seorang Rasul terhadap dampak penolakan manusia terhadap risalah, bukan ketakutan egoistik terhadap keselamatan pribadinya.
Al-Wahidi mencatat riwayat bahwa Nabi mengetahui sebagian manusia akan mendustakannya dan menghadapi penolakan dari Quraisy, Yahudi, serta Nasrani, lalu Allah memberi peneguhan.
Seorang pemimpin dapat tidak takut mati tetapi tetap memikirkan:
apa akibat sebuah pengumuman terhadap umat?
Terutama kalau pengumuman itu menyangkut:
siapa yang memimpin setelah dirinya.
—
KALAU PERKARANYA KEPEMIMPINAN ALI, MENGAPA ADA PENOLAKAN?
Kita bahkan tidak perlu terlebih dahulu menuduh individu tertentu.
Secara sosial sudah mudah dipahami.
Ali adalah:
relatif muda dibanding beberapa tokoh senior,
anggota Bani Hasyim,
sepupu sekaligus menantu Rasulullah,
dan seorang pejuang yang dalam peperangan telah berhadapan dengan banyak orang dari berbagai kabilah.
Masyarakat Arab juga mempunyai struktur kabilah dan persaingan sosial yang kompleks.
Karena itu, secara inferensial, deklarasi otoritas Ali tentu berpotensi menimbulkan reaksi yang jauh lebih besar daripada sekadar pengumuman satu aturan ibadah. Ini adalah inferensi sejarah, bukan kalimat literal ayat. Riwayat tafsir sendiri menunjukkan bahwa ayat dipahami berkaitan dengan kemungkinan penolakan manusia terhadap penyampaian Nabi.
Tetapi justru Allah berkata:
«وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ»
Sampaikan.
Aku yang menjagamu.
—
MENGAPA MENUNJUK PEMIMPIN DAPAT SETARA PENTINGNYA DENGAN MENJAGA RISALAH?
Pertanyaan ini sangat penting.
Seseorang dapat berkata:
“Masa hanya karena pemimpin, kalau tidak diumumkan seolah seluruh risalah gagal?”
Kalau kepemimpinan hanya persoalan politik administratif:
keberatan itu masuk akal.
Tetapi dalam konsep Imamah, persoalannya bukan:
siapa yang duduk di kursi pemerintahan.
Persoalannya:
siapa yang menjaga tafsir agama?
Siapa rujukan ketika Nabi tidak lagi berada secara fisik?
Siapa yang menyelesaikan perselisihan umat?
Siapa yang menjaga agar Kitab tidak dipisahkan dari penjelasan Rasul?
Siapa yang membawa ilmu Nabi?
Kalau pertanyaan-pertanyaan itu dibiarkan kosong, seluruh risalah yang sudah disampaikan menghadapi risiko:
perebutan penafsiran.
Maka penunjukan penjaga risalah bukan lampiran kecil.
Ia berkaitan dengan:
MASA DEPAN RISALAH ITU SENDIRI.
Dalam logika inilah pembacaan Imamiyah terhadap:
«فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ»
menjadi masuk akal.
Bukan karena Ali lebih penting daripada tauhid.
Tidak.
Tetapi karena tanpa mekanisme penjagaan petunjuk setelah Nabi, umat dapat kehilangan cara yang otoritatif untuk memahami warisan tauhid tersebut.
—
IMAMAH BUKAN TAMBAHAN SETELAH ISLAM SELESAI
Ini juga perlu diluruskan.
Kadang orang membayangkan:
Islam sudah selesai.
Lalu Syiah menambahkan:
“Sekarang tambah satu doktrin lagi bernama Imamah.”
Dalam arsitektur yang sedang kita baca, Imamah bukan tambahan.
Ia adalah:
mekanisme kesinambungan.
Rasul membawa agama.
Imam tidak membawa agama baru.
Imam menjaga.
Kalau seseorang menyerahkan sebuah perpustakaan berharga tetapi tidak memberikan kunci kepada ruangnya, ia belum menyelesaikan urusan praktis pemeliharaannya.
Analogi tentu tidak sempurna.
Tetapi idenya jelas:
kesempurnaan isi dan keberadaan penjaga isi tidak saling bertentangan.
Yang kedua justru memastikan yang pertama tetap dapat diakses dengan benar.
—
APA HUBUNGAN AYAT TABLIGH DENGAN TSAQALAIN?
Sangat dekat dalam pembacaan Ahlul Bait.
Sahih Muslim memastikan bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di Khumm dan mengingatkan umat kepada:
Kitab Allah
dan:
Ahlul Baitnya.
Jalur lain dari Zaid bin Arqam menyatukan:
Kitab Allah,
‘itrah Ahlul Bait,
dan deklarasi wilayah Ali.
Maka dari perspektif Imamiyah:
Ghadir tidak sekadar berkata:
“Ali adalah pemimpin.”
Ia menjawab:
bagaimana umat harus berjalan sesudah Rasulullah SAW?
Kitab ada.
Ahlul Bait ada.
Dan di awal garis Ahlul Bait setelah Rasul:
Ali.
—
JANGAN JADIKAN GHADIR SEKADAR PESTA IDENTITAS
Ini penting bagi pengikut Ahlul Bait sendiri.
Kalau Ghadir hanya menjadi:
banner,
ucapan selamat,
perayaan,
makanan,
dan slogan:
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
tetapi kita tidak hidup menurut keadilan Ali,
maka kita mungkin merayakan kata dan meninggalkan maknanya.
Apa artinya mengatakan Ali wali tetapi:
kita menipu?
Berbuat zalim?
Menyalahgunakan kekuasaan?
Merampas hak?
Fanatik kepada kelompok?
Tidak tahan kritik?
Kalau wilayah Ali benar, maka deklarasi Ghadir seharusnya menjadi:
komitmen moral.
Ali bukan simbol untuk mengalahkan kelompok lain.
Ali adalah ukuran yang juga dapat:
mengalahkan keburukan dalam diri kita sendiri.
—
“MAWLA” BUKAN SEKADAR GELAR
Kita juga harus berhati-hati terhadap dua ekstrem.
Ekstrem pertama:
Mawla pasti selalu berarti kepala negara.
Tidak.
Kata itu mempunyai medan makna luas.
Ekstrem kedua:
Mawla hanya berarti teman.
Juga tidak.
Konteks menentukan.
Dalam Ghadir, kita harus membaca:
posisi Rasul,
pertanyaan mengenai hak/kedekatan beliau kepada kaum mukmin dalam sebagian jalur,
pengambilan tangan Ali dalam riwayat tertentu,
doa tentang orang yang berwilayah kepada Ali,
dan hubungan dengan Ahlul Bait serta Tsaqalain dalam jalur-jalur lain.
Baru setelah itu kita bertanya:
apakah “teman” cukup?
Pembacaan Imamiyah mengatakan:
tidak.
Yang dimaksud adalah:
wilayah.
—
KALAU HANYA MENJELASKAN BAHWA ALI HARUS DICINTAI, SEBENARNYA UMAT SUDAH TAHU
Ali bukan orang asing.
Rasulullah SAW telah menunjukkan keutamaan Ali dalam banyak kesempatan.
Maka tidak masuk akal—dalam pembacaan Imamiyah—bahwa Ghadir hanya merupakan pengumuman:
“Ali itu orang baik. Jangan membencinya.”
Ini terlalu kecil dibanding struktur yang mengelilinginya.
Apalagi Tirmidzi sendiri menempatkan hadis man kuntu mawlahu dalam bab keutamaan Ali.
Perbedaan kita bukan apakah Ali mempunyai keutamaan.
Itu terlalu mudah.
Pertanyaannya:
apa keutamaan khusus yang sedang dinyatakan melalui kata mawla?
Di sinilah kita harus melihat seluruh jaringan dalil.
—
GHADIR DAN AYAT WILAYAH SALING MENERANGI
QS 5:55 berkata:
«إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ…»
Allah.
Rasul.
Wali dari kaum beriman.
Ghadir dalam salah satu jalur berkata dalam struktur yang sangat dekat:
Allah adalah mawla Rasul.
Rasul adalah wali orang beriman.
Kemudian tangan Ali diambil dan status wali/mawla itu dihubungkan kepadanya.
Kalau kita hanya mempunyai QS 5:55, identitas dan konsekuensinya diperdebatkan.
Kalau kita hanya mempunyai Ghadir, makna mawla diperdebatkan.
Tetapi ketika keduanya dibaca bersama:
wilayah Allah → Rasul → Ali
muncul kembali.
Di sinilah kekuatan argumen kumulatif.
—
GHADIR DAN ULIL AMRI JUGA SALING MENERANGI
QS 4:59 mengatakan:
taati Allah,
taati Rasul,
dan ulil amri.
Tetapi nama ulil amri tidak disebut.
Ghadir membawa:
Ali.
Kalau Rasul benar-benar menetapkan Ali sebagai mawla umat setelah membangun otoritas beliau sendiri, maka Ghadir menjadi salah satu kandidat penjelasan Nabi terhadap identitas awal ulil amri.
Sekali lagi:
ini inferensi teologis Imamiyah, bukan bunyi literal QS 4:59.
Tetapi inferensi itu tidak berdiri tanpa dasar.
Ia lahir dari hubungan beberapa teks.
—
AYAT TABLIGH TIDAK BOLEH DIPAKSA BERDIRI SENDIRIAN
Salah satu kesalahan apologetika adalah berkata:
“QS 5:67 sudah jelas menunjuk Ali. Selesai.”
Tidak.
Kalau seseorang belum menerima riwayat sebab turun Ghadir, teks ayat sendiri masih dapat dibaca sebagai perintah umum menyampaikan seluruh wahyu—dan memang demikian pembacaan banyak mufasir Sunni. Ibn Kathir adalah contoh penting pembacaan tersebut.
Maka argumentasi yang lebih matang adalah:
QS 5:67 mempunyai redaksi luar biasa tentang penyampaian dan perlindungan.
Sebagian tradisi tafsir klasik menghubungkannya dengan Ali di Ghadir.
Ghadir sendiri mempunyai dasar hadis yang kuat secara independen.
Ayat-ayat sebelumnya telah membangun tema wilayah, kesucian, ketaatan, dan Ahlul Bait.
Maka pembacaan QS 5:67 sebagai perintah deklarasi wilayah Ali menjadi koheren dalam keseluruhan sistem tersebut.
Itu jauh lebih kuat daripada:
“Pokoknya ayat ini tentang Ali.”
—
JANGAN TAKUT MENGAKUI RIWAYAT SABAB NUZULNYA DIPERDEBATKAN
Ini justru kekuatan ilmiah.
Kalau satu sanad lemah:
katakan lemah.
Kalau satu mufasir menolak:
katakan menolak.
Kalau ada tafsir umum:
tampilkan.
Kemudian lihat:
apakah bangunan besar tetap berdiri?
Dalam kasus Ghadir:
ya.
Hadis man kuntu mawlahu tidak lenyap hanya karena sanad tertentu untuk sabab nuzul QS 5:67 dipersoalkan. Tirmidzi dan Musnad Ahmad tetap merekam inti deklarasi tersebut.
Ini pelajaran penting bagi seluruh buku.
Kebenaran tidak perlu ditolong dengan menyembunyikan kelemahan satu riwayat.
—
APAKAH RASULULLAH SAW BENAR-BENAR MENYAMPAIKAN?
Kalau kita menerima pembacaan Imamiyah terhadap ayat:
tentu.
Rasulullah tidak mungkin gagal melaksanakan perintah Allah.
Beliau menyampaikan.
Dan Ghadir adalah jawabannya.
«مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ»
Tirmidzi meriwayatkan inti pernyataan tersebut.
Musnad Ahmad menyimpan kesaksian mereka yang mengatakan telah mendengarnya di Ghadir Khum.
Maka persoalan sejarah kemudian bukan:
“Apakah Rasul menyampaikan?”
Tetapi:
“APA YANG UMAT PAHAMI—DAN APA YANG MEREKA LAKUKAN SETELAH RASUL WAFAT?”
Itu pertanyaan yang berbeda.
Dan jawabannya membawa kita memasuki sejarah yang jauh lebih rumit.
—
RASUL MENYAMPAIKAN; MANUSIA TETAP MEMPUNYAI PILIHAN
Hidayah tidak menghapus kebebasan.
Allah mengutus nabi.
Sebagian manusia menerima.
Sebagian menolak.
Musa menunjukkan mukjizat.
Fir‘aun tetap menolak.
Isa datang membawa tanda.
Sebagian tetap membantah.
Muhammad SAW membawa Al-Qur’an.
Tidak semua manusia beriman.
Maka kalau Rasul mengumumkan sesuatu di Ghadir, tidak berarti setelah itu secara otomatis seluruh manusia akan mempunyai interpretasi dan sikap yang sama.
Penyampaian adalah tugas Rasul.
Penerimaan adalah:
ujian manusia.
Karena itu keberadaan perselisihan setelah Nabi tidak otomatis membuktikan:
“Kalau memang ada penunjukan, pasti tidak mungkin umat berselisih.”
Al-Qur’an sendiri memperlihatkan manusia dapat berselisih setelah datangnya bukti.
—
“ALLAH TIDAK MEMBERI PETUNJUK KEPADA KAUM YANG KAFIR”
Ayat ditutup:
«إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ»
“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”
Kita harus hati-hati.
Jangan gunakan penutup ini secara liar untuk mengatakan:
“Siapa yang tidak menerima tafsir Syiah tentang Ghadir berarti kafir.”
Itu tidak dapat ditarik begitu saja dari ayat.
Kufr di sini berada dalam konteks penolakan terhadap risalah Allah.
Menentukan status teologis individu atau kelompok membutuhkan dalil lain dan tidak boleh dibangun dari polemik tafsir semata.
Lebih penting bagi kita adalah pesan moralnya:
ketika kebenaran datang dari Allah, jangan biarkan kepentingan manusia menjadi alasan menolaknya.
Ini berlaku kepada semua orang.
Termasuk:
kita sendiri.
—
JANGAN JADIKAN GHADIR ALAT UNTUK MEMBANGGAKAN IDENTITAS SYIAH
Ayat Tabligh bukan turun untuk memberi kita bahan memenangkan debat empat belas abad kemudian.
Kalau kita memang percaya Ghadir adalah penetapan wilayah Ali, pertanyaan paling penting bukan:
“Bagaimana mengalahkan Sunni dengan Ghadir?”
Tetapi:
“Apa yang berubah dalam diriku setelah menerima wilayah Ali?”
Kalau tidak ada yang berubah:
masalahnya serius.
Ali sangat keras kepada korupsi.
Apakah kita?
Ali sangat menjaga hak orang lemah.
Apakah kita?
Ali tidak menjual keadilan demi kekuasaan.
Apakah kita?
Ali mengutamakan kebenaran bahkan ketika menyulitkan pemerintahannya.
Apakah kita?
Kalau kita mengangkat tangan pada hari Ghadir tetapi tangan yang sama merampas hak orang lain, kita belum memahami wilayah.
—
ALI BUKAN HANYA PEMIMPIN YANG HARUS DIKLAIM—IA ADALAH STANDAR YANG HARUS DITAKUTI OLEH EGO
Kadang kita sangat mudah berkata:
“Ali adalah wali.”
Tetapi Ali adalah wali yang berbahaya bagi:
keserakahan,
nepotisme,
kesombongan,
kezaliman,
dan manipulasi agama.
Menerima Ali sebagai pemimpin berarti menerima kemungkinan bahwa:
Ali akan menghakimi cara kita hidup.
Mungkin itulah sebabnya wilayah lebih berat daripada cinta.
Mencintai Ali mudah.
Menaati standar Ali:
jauh lebih sulit.
—
APA YANG SEBENARNYA DIBUKTIKAN AYAT TABLIGH?
Mari kita rumuskan dengan disiplin.
Pertama, QS 5:67 secara eksplisit memberikan perintah yang sangat tegas kepada Rasulullah SAW untuk menyampaikan apa yang diturunkan kepadanya, sampai kegagalan melakukannya digambarkan sebagai tidak menyampaikan risalah, disertai jaminan perlindungan Allah.
Kedua, banyak mufasir Sunni memahami ayat secara umum sebagai kewajiban Rasul menyampaikan seluruh wahyu. Ibn Kathir mewakili pembacaan tersebut dan menegaskan bahwa Rasul benar-benar menunaikan seluruh amanah penyampaian.
Ketiga, terdapat pula tradisi tafsir Sunni klasik yang menghubungkan ayat ini dengan Ghadir Khum dan Ali bin Abi Thalib. Al-Wahidi mencatat riwayat Abu Sa‘id al-Khudri tentang hal itu; ‘Umdat al-Qari juga mencatat riwayat tersebut serta penafsiran yang dinisbatkan kepada Imam al-Baqir.
Keempat, sanad riwayat spesifik yang menghubungkan turunnya QS 5:67 dengan Ghadir diperselisihkan, sehingga kita tidak boleh menyebut hubungan tersebut sebagai fakta hadis yang disepakati seluruh ulama.
Kelima, peristiwa Ghadir dan sabda “man kuntu mawlahu fa ‘Aliyyun mawlahu” mempunyai dasar yang jauh lebih luas dan tidak bergantung kepada satu riwayat sabab nuzul QS 5:67; ia tercatat antara lain dalam Tirmidzi dan Musnad Ahmad.
Keenam, Sahih Muslim sendiri memastikan bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di Khumm dan dalam khutbah itu mengingatkan umat mengenai Kitab Allah dan Ahlul Baitnya.
Ketujuh, jalur hadis lain menghubungkan khutbah Khumm dengan Tsaqalain, wilayah Rasul, dan deklarasi mengenai Ali.
Kedelapan, berdasarkan keseluruhan jaringan tersebut, tradisi Imamiyah memahami QS 5:67 sebagai perintah Ilahi untuk menyampaikan wilayah Imam Ali as secara publik.
Kesembilan, ayat ini sendirian tidak cukup untuk memaksa kesimpulan tersebut kepada orang yang menolak riwayat sebab turunnya; kekuatan argumentasi Imamiyah berada pada kumulasi Ayat Wilayah, Tathir, Mubahalah, Mawaddah, Ulil Amri, Ghadir, Tsaqalain, dan dalil-dalil lain.
Inilah formulasi yang lebih kuat.
—
SATU PERTANYAAN YANG TETAP MENGGANTUNG
Setelah seluruh perdebatan sanad diletakkan dengan jujur, masih ada pertanyaan yang sulit dihilangkan.
Rasulullah SAW telah menyampaikan agama hampir dua puluh tiga tahun.
Lalu Al-Qur’an pada periode Madinah yang akhir mengatakan:
«بَلِّغْ»
Sampaikan.
Kemudian:
«وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ»
Kalau tidak engkau lakukan…
«فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ»
maka engkau belum menyampaikan risalah-Nya.
Kemudian:
«وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ»
Allah akan melindungimu dari manusia.
Pembacaan umum mengatakan:
ini penegasan agar seluruh wahyu tidak disembunyikan.
Benar.
Tetapi pembacaan Ahlul Bait bertanya satu langkah lebih jauh:
Apa perkara yang pada masa akhir risalah begitu sensitif, menentukan, dan menyangkut masa depan umat sehingga bahasa ini menjadi sangat tepat?
Lalu kita menemukan:
Ghadir.
Ali.
Wilayah.
Tsaqalain.
Dan seluruh ayat yang telah mendahuluinya.
Apakah semua itu benar-benar tidak berhubungan?
Pembaca boleh menimbang.
Tetapi setelah seluruh kepingan diletakkan di meja, pertanyaannya tidak boleh lagi dihindari.
—
RASULULLAH SAW TIDAK MENINGGALKAN KEKOSONGAN
Inilah kesimpulan teologis yang mulai muncul dari enam bagian pertama.
Rasulullah SAW tidak hanya membawa umat sampai pintu.
Kemudian wafat sambil berkata:
“Sesudahku terserah kalian hendak ke mana.”
Beliau meninggalkan:
Al-Qur’an.
Beliau mengingatkan:
Ahlul Bait.
Beliau berbicara mengenai:
mawla Ali.
Dan dalam tradisi Imamiyah, semua itu dibaca sebagai satu struktur:
risalah mempunyai kesinambungan petunjuk.
Bukan kenabian baru.
Bukan wahyu baru.
Bukan Al-Qur’an baru.
Tetapi:
penjaga jalan yang lama.
Jalan Muhammad SAW.
—
DAN SETELAH TABLIGH, APA YANG TERJADI?
Di sinilah perjalanan kita berikutnya menjadi sangat menarik.
Jika QS 5:67 dalam pembacaan Ahlul Bait adalah perintah:
sampaikan wilayah Ali,
dan Ghadir adalah pelaksanaannya,
maka pertanyaan berikutnya adalah:
Apakah setelah penyampaian itu Al-Qur’an berbicara mengenai kesempurnaan agama?
Allah SWT berfirman pada QS al-Ma’idah 5:3:
«الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا»
“Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian, telah Kusempurnakan atas kalian nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam menjadi agama bagi kalian.”
Ayat itu akan membuka perdebatan baru.
Tradisi Sunni yang sangat kuat menghubungkannya dengan:
Hari Arafah pada Haji Wada.
Tradisi Ahlul Bait menghubungkan kesempurnaan agama dengan:
wilayah di Ghadir.
Dan ada riwayat dalam khazanah Sunni yang juga mencoba menghubungkan Ayat Ikmal dengan Ghadir, tetapi sebagian ahli hadis mengkritik keras sanad tertentu dari riwayat tersebut.
Maka pada bagian berikutnya kita tidak boleh mengambil jalan mudah.
Kita harus membongkar semuanya.
Apa arti:
«أَكْمَلْتُ»
“Aku sempurnakan”?
Apa arti:
«أَتْمَمْتُ»
“Aku cukupkan/sempurnakan nikmat”?
Apakah agama sempurna karena seluruh hukum telah selesai?
Apakah kesempurnaan berarti Islam telah memperoleh kemenangan dan keamanan?
Ataukah agama menjadi sempurna ketika selain isi risalah, umat juga memperoleh mekanisme penjagaannya?
Dan mungkinkah beberapa konteks itu bertemu tanpa harus memalsukan riwayat?
Itulah pertanyaan kita selanjutnya.
Bagian 7
AYAT IKMAL
Ketika Allah Menyatakan: “Pada Hari Ini Telah Kusempurnakan Agama Kalian”

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EwsKaYhxp/

