Siapakah yang Mengetahui Ta’wil Al-Qur’an?
Pada bagian sebelumnya kita sampai kepada seorang manusia yang Al-Qur’an gambarkan sebagai:
وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ
“orang yang padanya terdapat ilmu Kitab.”
Dalam pembacaan Ahlul Bait, mishdaq tertingginya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as.
Sekarang pertanyaannya bergerak lebih dalam.
Memiliki ilmu Kitab bukan hanya berarti mengetahui lafaz.
Sebab Al-Qur’an sendiri mengatakan bahwa di dalam Kitab terdapat:
- ayat-ayat yang muhkam,
- ayat-ayat yang mutasyabih,
- makna yang terang,
- dan kedalaman yang tidak semua manusia mampu menjangkaunya.
Lalu siapakah manusia yang mengetahui kedalaman itu?
Allah SWT berfirman dalam QS Ali ‘Imran 3:7:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“Dialah yang menurunkan Kitab kepadamu. Di dalamnya terdapat ayat-ayat muhkam; itulah induk Kitab, dan yang lainnya mutasyabih. Adapun orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyimpangan, mereka mengikuti yang mutasyabih darinya untuk mencari fitnah dan mencari ta’wilnya. Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya kecuali Allah—dan orang-orang yang kokoh dalam ilmu berkata: Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami…”
Tetapi ayat ini mempunyai persoalan yang sangat menarik:
Di mana kita berhenti?
Apakah:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
“Tidak mengetahui ta’wilnya kecuali Allah.”
Berhenti.
Lalu:
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ…
“Dan orang-orang yang kokoh dalam ilmu berkata…”
Ataukah dibaca bersambung:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
“Tidak mengetahui ta’wilnya kecuali Allah dan orang-orang yang kokoh dalam ilmu…”
Perbedaan waqaf ini tidak kecil.
Sebab dari sanalah lahir pertanyaan:
APAKAH ADA MANUSIA YANG ALLAH BERIKAN PENGETAHUAN TENTANG TA’WIL AL-QUR’AN?
Tradisi Ahlul Bait menjawab dengan tegas:
Ada.
Rasulullah SAW.
Kemudian:
para Imam Ahlul Bait.
⸻
SEBELUM MEMBICARAKAN TA’WIL, PAHAMI TERLEBIH DAHULU MUHKAM DAN MUTASYABIH
Allah mengatakan:
مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ
“Di antara ayat-ayatnya terdapat ayat muhkam.”
Lalu memberikan kedudukan sangat penting:
هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ
“Mereka adalah induk Kitab.”
Artinya, ayat muhkam menjadi:
- rujukan,
- fondasi,
- dan:
- ukuran.
Sedangkan:
وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
ada ayat-ayat lain yang mutasyabih.
Tafsir klasik menjelaskan secara beragam apa batas persis antara keduanya, tetapi satu prinsip sangat jelas: mutasyabih tidak boleh dilepaskan dari muhkam.
Al-Qurthubi mencatat banyak definisi klasik mengenai kedua kategori tersebut. Sementara para mufasir menegaskan bahwa ayat yang kurang terang harus dikembalikan kepada ayat yang jelas agar satu bagian Al-Qur’an tidak dipakai untuk menentang bagian lainnya. (Quran KSU)
Dengan bahasa sederhana:
- Muhkam adalah pagar.
- Mutasyabih adalah ruang yang membutuhkan ilmu lebih dalam.
Maka orang tidak boleh mengambil satu ayat yang memungkinkan beberapa pengertian lalu membangun akidah yang bertabrakan dengan prinsip-prinsip Al-Qur’an yang telah jelas.
⸻
BUKAN MUTASYABIH YANG BERBAHAYA—TETAPI HATI YANG MENYIMPANG
Perhatikan kalimat:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
“Adapun mereka yang di dalam hatinya terdapat penyimpangan…”
Al-Qur’an tidak mengatakan:
“Orang-orang yang akalnya kurang.”
Tetapi:
فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
di dalam hati mereka ada penyimpangan.
Lalu apa yang mereka lakukan?
فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ
“Mereka mengikuti bagian yang mutasyabih.”
Untuk apa?
ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ
mencari fitnah.
Maka kesalahan tafsir tidak selalu terjadi karena seseorang bodoh.
Kadang ia:
cerdas,
pandai bahasa,
hafal banyak dalil,
tetapi hatinya sudah mempunyai tujuan.
Ia tidak datang kepada Al-Qur’an untuk bertanya:
“Apa yang Allah kehendaki dariku?”
Ia datang dengan pertanyaan:
“Ayat mana yang dapat kugunakan untuk membenarkan apa yang sudah kuinginkan?”
Itulah:
زَيْغ
penyimpangan.
⸻
AL-QUR’AN DAPAT BERADA DI TANGAN ORANG YANG MENYIMPANG
Ini harus menjadi peringatan besar.
Tidak setiap orang yang mengutip Al-Qur’an sedang membawa petunjuk.
Khawarij mengutip Al-Qur’an.
Kelompok ghuluw pun dapat mengutip Al-Qur’an.
Orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk dapat mengutip ayat mengenai “tangan” atau “wajah” tanpa mengembalikannya kepada:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.”
Sebaliknya, orang yang terlalu bebas menakwil dapat menghilangkan makna lahir ayat sampai hukum Al-Qur’an hampir tidak mempunyai arti.
Dua-duanya bermasalah.
Sebab:
mutasyabih telah dilepaskan dari Umm al-Kitab.
Inilah sebabnya umat membutuhkan:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
orang-orang yang benar-benar kokoh dalam ilmu.
⸻
APA ARTI RASIKH?
Kata:
رَاسِخ
membawa makna:
- tertanam,
- kokoh,
- mantap,
- tidak mudah bergeser.
Al-Qurthubi menjelaskan rusukh sebagai keteguhan dan kedalaman; sesuatu yang rasikh tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi menancap kuat. (Quran KSU)
Jadi:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
bukan sekadar:
orang yang mengetahui banyak.
Banyak orang mengetahui banyak hal.
Tetapi ilmunya tidak:
kokoh.
Satu tekanan politik mengubah fatwanya.
Satu kepentingan kelompok mengubah metodologinya.
Satu riwayat lemah yang menguntungkan kelompok langsung diterima, sementara riwayat kuat yang merugikannya ditolak.
Itu bukan rusukh.
Rasikh adalah manusia yang:
berdiri di dalam ilmu dengan keteguhan.
⸻
DUA CARA MEMBACA WAQAF
Inilah bagian yang paling sering diperdebatkan.
Al-Tabari memilih berhenti pada:
إِلَّا اللَّهُ
Menurutnya, hanya Allah yang mengetahui ta’wil tertentu yang dimaksud ayat, sedangkan ar-rāsikhūna fī al-‘ilm dipuji karena beriman kepada seluruh ayat tanpa memaksakan diri terhadap perkara yang Allah sembunyikan. Ia mencatat riwayat dari beberapa generasi awal dalam arah tersebut. (Quran KSU)
Tetapi tradisi tafsir klasik juga mencatat pendapat kedua.
Al-Baghawi menjelaskan adanya kelompok ulama yang membaca:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
dengan:
وَالرَّاسِخُونَ
sebagai sambungan kepada lafaz Allah.
Dalam pembacaan ini:
Allah dan para rasikhun mengetahui ta’wil.
Al-Baghawi menisbatkan pembacaan semacam ini kepada Mujahid dan ar-Rabi‘ serta lainnya. (Quran KSU)
Al-Qurthubi juga mencatat kedua jalur pembacaan dan argumen masing-masing. Bahkan dalam pembahasannya terdapat pandangan bahwa sebutan “rasikhun” justru menunjukkan mereka mempunyai kedalaman ilmu yang tidak dimiliki orang biasa. (Quran KSU)
Jadi kita tidak boleh menyederhanakan masalah:
“Semua Sunni berhenti pada Allah; hanya Syiah yang menyambung.”
Itu tidak akurat.
Perdebatan tersebut sudah hidup di dalam tafsir Islam klasik.
⸻
IBN KATHIR MEMBERIKAN PEMBEDAAN YANG PENTING
Ibn Kathir memberikan penjelasan yang sangat berguna.
Ia mengatakan kata:
تَأْوِيل
dapat digunakan dalam beberapa makna.
Kalau ta’wil berarti:
hakikat final suatu perkara—
misalnya realitas penuh dari perkara gaib—
maka waqaf setelah:
إِلَّا اللَّهُ
mempunyai alasan kuat.
Hakikat mutlak sesuatu hanya diketahui Allah.
Tetapi kalau ta’wil dimaksudkan sebagai:
tafsir, penjelasan, dan pengungkapan makna,
maka para rasikhun dapat mengetahuinya, sehingga bacaan dapat disambungkan kepada mereka. (Quran KSU)
Ini sangat membantu.
Karena ternyata persoalannya bukan hanya:
di mana koma diletakkan.
Persoalannya juga:
APA YANG KITA MAKSUD DENGAN TA’WIL?
⸻
TA’WIL LEBIH DALAM DARIPADA SEKADAR TERJEMAH
Ta’wil tidak boleh disederhanakan menjadi:
“arti lain dari sebuah kata.”
Dalam Al-Qur’an, kata ini dipakai untuk:
realisasi sebuah mimpi,
hakikat yang kemudian terwujud,
dan:
tujuan di balik suatu tindakan.
Maka ta’wil mempunyai hubungan dengan:
apa yang pada akhirnya menjadi realitas di balik suatu ungkapan atau peristiwa.
Karena itu mungkin ada:
makna zahir,
tafsir,
mishdaq,
dan:
kedalaman realitas yang jauh lebih besar.
Di sinilah pengetahuan ta’wil menjadi maqam yang sangat tinggi.
Tidak semua orang yang dapat menerjemahkan satu ayat menjadi:
ahli ta’wil.
⸻
APAKAH HANYA ALLAH MENGETAHUI TA’WIL?
Jawabannya harus presisi.
Kalau yang dimaksud:
Allah mengetahui ta’wil secara dzati, independen, dan tanpa menerima ilmu dari siapa pun,
maka:
YA.
Hanya Allah.
Tetapi apakah berarti Allah tidak dapat memberikan pengetahuan tentang ta’wil kepada makhluk pilihan-Nya?
Tidak.
Justru di sinilah perbedaannya.
Allah:
mengetahui dari diri-Nya sendiri.
Rasul dan para Imam:
mengetahui karena Allah mengajarkan kepada mereka.
Maka penyebutan bahwa ilmu ta’wil berada pada Allah tidak otomatis berarti:
Allah menahan seluruh pengetahuan itu dan tidak pernah mengajarkannya kepada seorang pun.
Ini sama seperti ilmu gaib.
Al-Qur’an menetapkan Allah sebagai pemilik ilmu gaib secara mutlak.
Tetapi Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Dia dapat memperlihatkan sebagian gaib kepada Rasul yang Dia ridai.
Jadi:
eksklusivitas sumber ilmu
berbeda dengan:
eksklusivitas pemberian ilmu.
Allah satu-satunya sumber.
Tetapi Dia dapat memberikan.
⸻
TRADISI AHLUL BAIT MENJAWAB DENGAN SANGAT TEGAS
Al-Kafi mempunyai bab khusus:
بَابُ أَنَّ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ هُمُ الْأَئِمَّةُ
“Bab bahwa orang-orang yang kokoh dalam ilmu adalah para Imam.”
Salah satu riwayat dari Imam ash-Shadiq as mengatakan:
نَحْنُ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ وَنَحْنُ نَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ
“Kamilah orang-orang yang kokoh dalam ilmu, dan kami mengetahui ta’wilnya.” (Thaqalayn)
Riwayat lain dalam bab yang sama mengatakan:
فَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ أَفْضَلُ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ
“Rasulullah SAW adalah yang paling utama di antara orang-orang yang kokoh dalam ilmu.”
Kemudian dilanjutkan:
قَدْ عَلَّمَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ جَمِيعَ مَا أَنْزَلَ عَلَيْهِ مِنَ التَّنْزِيلِ وَالتَّأْوِيلِ
Allah telah mengajarkan kepada Rasul seluruh apa yang Dia turunkan kepadanya berupa tanzil dan ta’wil.
Lalu riwayat mengatakan:
وَأَوْصِيَاؤُهُ مِنْ بَعْدِهِ يَعْلَمُونَهُ كُلَّهُ
para wasinya sesudah beliau mengetahui semuanya. (Thaqalayn)
Inilah pembacaan Ahlul Bait.
Bukan sekadar:
“Para Imam menerima ayat yang tidak mereka pahami lalu berkata kami beriman.”
Tidak.
Mereka adalah:
PEWARIS PENGETAHUAN TANZIL DAN TA’WIL RASULULLAH SAW.
⸻
URUTANNYA TETAP: ALLAH → RASUL → PARA WASI
Ini sangat penting.
Jangan mulai dengan:
“Imam mengetahui ta’wil.”
Mulailah:
Allah mengetahui.
Kemudian Allah mengajarkan kepada:
Rasulullah SAW.
Lalu Rasulullah mewariskan kepada:
para wasi.
Inilah cara konsep ilmu Ahlul Bait tetap berada sepenuhnya di dalam tauhid.
Imam tidak menemukan ta’wil melalui:
ilmu independen.
Tidak menciptakan makna Al-Qur’an.
Tidak mendapatkan wahyu kenabian baru.
Mereka mewarisi:
ilmu Rasul.
Jadi setiap kali kita mengatakan:
“Ali mengetahui ta’wil,”
kalimat berikutnya harus:
karena Muhammad SAW mengajarkannya dengan apa yang Allah ajarkan kepada beliau.
Dan ketika kita mengatakan:
“Muhammad mengetahui,”
kita kembali kepada:
Allah.
⸻
RASULULLAH SAW TIDAK MUNGKIN DIBERI AL-QUR’AN TANPA MENGETAHUI MAKSUDNYA
Riwayat al-Kafi tadi mempunyai argumentasi yang sangat indah:
Allah tidak mungkin menurunkan sesuatu kepada Rasul-Nya lalu sama sekali tidak mengajarkan ta’wilnya kepada beliau. (Thaqalayn)
Ini masuk akal.
Rasul bukan tukang pos yang menerima surat dalam bahasa yang tidak ia pahami.
Beliau adalah:
- penerima wahyu,
- penjelas,
- guru, dan
- pembawa risalah.
QS an-Nahl sendiri mengatakan Al-Qur’an diturunkan agar Rasul:
لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ
menjelaskan kepada manusia.
Bagaimana beliau menjelaskan apa yang sama sekali tidak diketahuinya?
Maka Rasulullah adalah:
RĀSIKH PERTAMA DAN TERUTAMA.
⸻
DAN PARA IMAM MEWARISI ILMU ITU, BUKAN KENABIAN
Ini batas kedua.
Ketika riwayat mengatakan para wasi mengetahui tanzil dan ta’wil, jangan disimpulkan:
“Berarti mereka Nabi.”
Tidak.
Kenabian selesai pada Muhammad SAW.
Yang diwariskan bukan:
jabatan menerima syariat baru.
Yang diwariskan:
ilmu syariat yang telah sempurna.
Imam bukan penerima Al-Qur’an baru.
Ia adalah:
penjaga kedalaman Al-Qur’an yang telah diturunkan.
Jadi:
Muhammad menerima. Imam mewarisi.
Muhammad membawa. Imam menjaga.
⸻
DI SINI KONSEP ILMU IMAM YANG LUAS MENJADI SANGAT PENTING
Pada Bagian 9 kita telah melihat bahwa ilmu Imam tidak dapat diukur dengan batas pengetahuan manusia biasa.
Riwayat Ahlul Bait mengajarkan bahwa ketika Imam berkehendak mengetahui suatu perkara, Allah memberitahukannya.
Maka tidak tepat membayangkan para Imam sebagai:
“orang saleh yang hanya mengetahui sejumlah hukum lalu terhadap perkara mendalam Al-Qur’an mereka sama-sama tidak tahu.”
Maqam mereka lebih besar.
Mereka adalah:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
orang-orang yang ilmunya telah ditanamkan dengan kokoh.
Dan ilmu itu:
bersumber dari Allah melalui Rasulullah SAW.
⸻
“TIDAK DISAMPAIKAN” BUKAN “TIDAK DIKETAHUI”
Prinsip yang kita bangun pada bagian sebelumnya sangat penting di sini.
Kalau seluruh ta’wil tidak sampai kepada kita melalui riwayat:
jangan langsung mengatakan:
“Berarti Imam tidak mengetahuinya.”
Yang sampai kepada kita hanya:
apa yang ditanyakan,
apa yang disampaikan,
apa yang dicatat,
apa yang diriwayatkan,
dan:
apa yang berhasil bertahan melewati sejarah.
Itu bukan:
keseluruhan pengetahuan Imam.
Seorang Imam dapat mengetahui satu ta’wil tetapi tidak menjelaskannya kepada semua manusia.
Ada:
hikmah,
kesiapan pendengar,
bahaya penyalahgunaan,
dan:
masa yang belum tepat.
Maka:
LUASNYA ILMU TIDAK IDENTIK DENGAN LUASNYA INFORMASI YANG DISEBARKAN.
⸻
TIDAK DITANYAKAN JUGA BUKAN BERARTI TIDAK DIKETAHUI
Ucapan Imam Ali:
سَلُونِي قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِي
“Tanyalah aku sebelum kalian kehilangan aku,”
mempunyai hubungan langsung dengan persoalan ini.
Ada ilmu yang belum keluar karena:
belum ditanyakan.
Karena itu warisan riwayat yang sampai kepada kita tidak boleh dijadikan:
batas ilmu Imam.
Ia hanya batas:
catatan yang kita miliki.
Perbedaannya sangat besar.
⸻
KALAU PARA IMAM MENGETAHUI TA’WIL, APAKAH SEMUA TA’WIL YANG DINISBATKAN KEPADA MEREKA OTOMATIS BENAR?
Tidak.
Ini sangat penting.
Klaim:
“Imam mengetahui ta’wil”
berbeda dengan klaim:
“Setiap cerita yang menisbatkan sebuah ta’wil kepada Imam pasti benar.”
Riwayat tetap harus:
diperiksa sanadnya,
dibaca matannya,
dibandingkan dengan Al-Qur’an,
dan:
diletakkan dalam keseluruhan tradisi.
Justru karena maqam ilmu Imam sangat besar, kita harus lebih takut menisbatkan kepadanya sesuatu yang tidak pernah beliau katakan.
Ahlul Bait tidak membutuhkan:
ta’wil palsu.
⸻
MUHKAM ADALAH PAGAR TERHADAP GHULUW
Ini salah satu prinsip paling penting.
Ada orang yang mengatakan:
“Ali adalah cahaya.”
Kemudian dari simbol cahaya dibuat kesimpulan:
“Ali adalah Tuhan.”
Itu bukan ta’wil.
Itu penghancuran muhkam.
Al-Qur’an mengatakan:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Allah Esa.
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.
Muhammad adalah Rasul.
Ali adalah hamba Allah dan wali-Nya.
Maka setiap ta’wil yang mengubah seorang Imam menjadi:
ilah
telah menghancurkan:
أُمُّ الْكِتَابِ
induk Kitab.
Dan karena itu:
bukan ta’wil Ahlul Bait.
⸻
ILMU IMAM YANG LUAS TIDAK MEMBERI IZIN MENYAMAKANNYA DENGAN ALLAH
Kita harus mengulangnya karena inilah batas antara:
wilayah
dan:
ghuluw.
Allah memiliki ilmu:
dzati.
Imam memiliki ilmu:
i‘thai—pemberian.
Allah tidak belajar.
Imam diberi ilmu.
Allah tidak membutuhkan perantara.
Imam mewarisi dari Rasul dan menerima apa yang Allah kehendaki.
Allah tidak bertambah pengetahuan-Nya.
Imam dapat menerima tambahan pengetahuan.
Maka walaupun cakupan ilmu Imam begitu luas sehingga tidak dapat diukur dengan batas manusia biasa:
tetap ada garis ontologis yang tidak mungkin dilintasi.
Allah adalah:
Khaliq.
Imam:
makhluk.
Allah:
Rabb.
Imam:
‘abd.
Justru maqam tertinggi Imam adalah:
kesempurnaan penghambaan.
⸻
“KAMI BERIMAN KEPADANYA”—APAKAH BERARTI MEREKA TIDAK TAHU?
Tidak harus.
Sebagian menggunakan:
يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ
“Mereka berkata: Kami beriman kepadanya”
sebagai argumen:
“Kalau mereka tahu, mengapa hanya berkata beriman?”
Tetapi pengetahuan dan iman bukan lawan.
Rasulullah SAW mengetahui wahyu.
Apakah beliau tidak beriman kepadanya?
Justru beliau adalah:
orang pertama yang beriman.
Maka seorang rasikh dapat:
mengetahui,
dan:
tetap berkata:
آمَنَّا بِهِ
Kami beriman.
Bahkan semakin dalam ilmu, semakin dalam:
ketundukan.
⸻
KALIMAT BERIKUTNYA JUSTRU MEMPERLIHATKAN KESEMPURNAAN ILMU MEREKA
كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“Semua berasal dari sisi Tuhan kami.”
Orang yang dangkal dapat melihat ayat muhkam dan mutasyabih seperti bertentangan.
Rasikh mengetahui:
tidak ada kontradiksi hakiki dalam wahyu Allah.
Yang tampak bertentangan harus:
dipahami,
dikembalikan kepada muhkam,
dan:
diletakkan pada tempatnya.
Karena itulah mereka berkata:
كُلٌّ
semuanya
dari Tuhan kami.
Bukan:
“Yang kami pahami dari Allah, yang tidak kami pahami mungkin bukan.”
Tidak.
Mereka mempunyai keyakinan dan ilmu bahwa seluruh struktur wahyu satu.
⸻
INILAH ILMU YANG TIDAK TERPECAH
Al-Kafi mempunyai bab lain mengenai para Imam sebagai orang yang menerima ilmu dan ilmu itu kokoh di dalam dada mereka. Riwayat-riwayatnya menghubungkan QS al-‘Ankabut 29:49—ayat-ayat yang nyata di dada orang-orang yang diberi ilmu—dengan para Imam. (Thaqalayn)
Ini sangat selaras dengan konsep:
رَاسِخُونَ
Ilmu mereka bukan kumpulan fragmen.
Bukan:
sedikit dari satu guru,
sedikit dari buku lain,
lalu banyak bagian yang saling bertentangan.
Ia merupakan:
warisan yang berakar kepada Rasulullah SAW.
⸻
INILAH PERBEDAAN ANTARA ULAMA DAN IMAM
Seorang ulama dapat:
salah.
Lupa.
Mengubah pendapat.
Menemukan dalil baru.
Berbeda dengan ulama lain.
Itu manusiawi.
Tidak mengurangi kehormatannya.
Tetapi Imam sebagai:
hujjah Ilahi
mempunyai fungsi berbeda.
Kalau umat diwajibkan menjadikannya rujukan final, ia tidak boleh membawa umat kepada:
kesalahan agama.
Karena itu Imam membutuhkan:
kesucian
dan:
ilmu yang dijaga.
Inilah hubungan:
Tathir
dengan:
Rasikhun fi al-‘Ilm.
Satu menjaga:
jiwa dari penyimpangan.
Yang lain menunjukkan:
kedalaman ilmu.
⸻
‘ISHMAH DAN ILMU BERTEMU DI SINI
Kita tidak perlu berkata:
“Karena maksum, secara logis Imam harus mengetahui setiap detail alam secara dzati.”
Tidak.
Tetapi ‘ishmah menuntut:
Imam tidak mungkin jahil dalam perkara yang diperlukan untuk membawa petunjuk.
Sedangkan riwayat-riwayat Ahlul Bait memperluas gambaran tersebut:
Allah memberikan kepada mereka pengetahuan yang jauh melampaui kebutuhan minimal itu.
Jadi:
akal menetapkan kebutuhan kepada ilmu sempurna untuk fungsi hujjah.
Riwayat menjelaskan luasnya ilmu yang benar-benar Allah anugerahkan.
Keduanya tidak bertentangan.
⸻
TAFSIR TIDAK SAMA DENGAN TA’WIL
Ini juga harus dipahami.
Tafsir menjawab:
Apa makna ayat dalam bahasa dan konteksnya?
Ta’wil dapat bergerak lebih dalam:
kepada hakikat yang menjadi tujuan atau realisasi dari ayat tersebut.
Karena itu seseorang dapat mengetahui tafsir tekstual sebuah ayat tetapi belum mengetahui seluruh ta’wilnya.
Dan di sinilah maqam Rasulullah dan Ahlul Bait menjadi sangat besar.
Mereka tidak hanya mengetahui:
bunyi.
Mereka mengetahui:
kedalaman.
⸻
MISHDAQ, JARY, DAN TA’WIL JANGAN DICAMPUR
Nanti buku kita akan berhadapan dengan banyak riwayat seperti:
“Ayat ini adalah Ali.”
“Ayat ini adalah Fatimah.”
“Ayat ini adalah para Imam.”
Kalimat seperti itu harus diperiksa:
Apakah maksudnya:
tafsir literal?
sebab turun?
mishdaq tertinggi?
jary—penerapan prinsip?
Atau:
ta’wil?
Kalau semua langsung disebut:
“arti ayatnya hanya Ali,”
kita dapat membuat Al-Qur’an menjadi jauh lebih sempit daripada yang Allah turunkan.
Sebaliknya, kalau setiap riwayat khusus dianggap tidak mempunyai arti karena ayat juga umum, kita kehilangan penjelasan Ahlul Bait.
Maka dibutuhkan:
KETELITIAN KATEGORI.
Ini salah satu tugas para:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
⸻
SEBUAH AYAT DAPAT UNIVERSAL DAN TETAP MEMPUNYAI MISDAQ TERTINGGI
Misalnya:
ayat tentang orang benar berlaku umum.
Tetapi Rasul dapat menunjuk satu manusia sebagai contoh puncaknya.
Ayat tentang cahaya mempunyai makna universal.
Tetapi riwayat dapat memberikan penerapan spiritual kepada Ahlul Bait.
Ayat tentang orang-orang yang diberi ilmu dapat mencakup ulama.
Tetapi para Imam dapat menjadi:
puncak mishdaqnya.
Universalitas dan kekhususan tidak selalu harus saling membatalkan.
Ini salah satu kunci memahami riwayat tafsir Ahlul Bait.
⸻
RASIKHUN TIDAK MEMBUAT TA’WIL UNTUK MEMENANGKAN MAZHAB
Kalau Imam mengetahui ta’wil, apa ciri ta’wilnya?
Ia harus:
membawa kepada Allah,
selaras dengan muhkam,
menjaga kesucian Rasul,
tidak membatalkan syariat,
dan:
tidak bertentangan dengan tauhid.
Karena itu setiap ta’wil yang menghasilkan:
kebencian buta,
ghuluw,
pengabaian salat,
penghalalan kezaliman,
atau:
kultus manusia,
harus dicurigai.
Ahlul Bait tidak datang untuk menghancurkan zahir Islam atas nama batin.
Mereka memperlihatkan:
kedalaman di dalam ketaatan.
⸻
ILMU BATIN TIDAK MEMBATALKAN SYARIAT ZAHIR
Ini salah satu perbedaan terbesar antara Irfan yang sehat dan esoterisme liar.
Semakin tinggi seorang Imam:
semakin sempurna salatnya.
Semakin dalam pengetahuannya:
semakin besar penghambaan.
Husain tidak berkata:
“Karena aku mengetahui hakikat salat, aku tidak perlu salat.”
Ali tidak berkata:
“Karena aku mengetahui ta’wil, halal-haram tidak berlaku kepadaku.”
Justru mereka menjadi:
contoh tertinggi pengamalan.
Maka ta’wil yang membatalkan syariat:
bukan ta’wil Ahlul Bait.
⸻
DOA SETELAH AYAT INI SANGAT MENGGETARKAN
Allah kemudian mengajarkan:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, jangan palingkan hati kami setelah Engkau memberi kami petunjuk.”
Setelah berbicara tentang ilmu:
Al-Qur’an kembali kepada:
HATI.
Seakan mengatakan:
ilmu tanpa kebersihan hati belum aman.
Bahkan orang yang mengetahui banyak dapat jatuh jika:
- ego,
- ambisi, atau:
- fanatisme
- mengambil alih.
Maka siapa pun yang belajar tafsir harus mempunyai doa ini.
Termasuk kita.
⸻
JANGAN MERASA AMAN HANYA KARENA MENGIKUTI AHLUL BAIT
Seseorang dapat berkata:
“Aku pengikut para rasikhun.”
Tetapi dirinya sendiri masih dapat:
memilih riwayat sesuka hati,
menolak fakta,
menghina orang,
atau:
mengubah agama menjadi pembenaran kelompok.
Mengikuti Ahlul Bait bukan vaksin otomatis dari penyimpangan epistemik.
Justru semakin besar klaim kita mengikuti mereka:
semakin tinggi standar kejujuran yang harus kita pegang.
Kalau mereka:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
maka pengikut mereka harus mencintai:
ilmu.
⸻
JANGAN MEMBELA AHLUL BAIT DENGAN CARA YANG BERTENTANGAN DENGAN AHLUL BAIT
Kalau satu riwayat lemah:
katakan.
Kalau satu sanad bermasalah:
akui.
Kalau mufasir Sunni mempunyai argumen:
jelaskan secara adil.
Kalau mufasir Syiah mempunyai perbedaan:
jangan sembunyikan.
Kita tidak sedang menulis propaganda.
Kita sedang membicarakan:
keluarga ilmu.
Maka kejujuran adalah bentuk:
mawaddah.
Ketelitian adalah bentuk:
wilayah.
Dan rasa takut menisbatkan kebohongan kepada Imam adalah bentuk:
adab.
⸻
AL-QUR’AN TIDAK MEMINTA KITA MEMILIH ANTARA AKAL DAN AHLUL BAIT
Mengikuti Ahlul Bait tidak berarti:
mematikan pikiran.
Justru para Imam mengajarkan:
berpikir,
berargumentasi,
menimbang,
dan:
mengenali kontradiksi.
Mereka menjadi rujukan bukan karena manusia dilarang berpikir.
Tetapi karena berpikir dengan benar juga membutuhkan:
sumber ilmu yang terpercaya.
Kita menggunakan akal untuk mengenali hujjah.
Kemudian hujjah membimbing akal agar tidak tersesat di dalam hal yang tidak mampu dijangkaunya sendirian.
⸻
ALLAMAH THABATHABA’I MEMBERIKAN PELAJARAN METODOLOGI YANG SANGAT PENTING
Dalam al-Mizan, pembahasan QS 3:7 tidak disederhanakan menjadi:
“Kalau ingin membuktikan ilmu para Imam, kita wajib menyambung waqaf.”
Pendekatan beliau lebih hati-hati.
Ia membedakan antara:
apa yang ayat ini sendiri nyatakan secara langsung
dan:
apa yang dapat ditetapkan melalui dalil lain mengenai ilmu Rasul serta Ahlul Bait.
Artinya:
kita tidak harus menaruh seluruh doktrin ilmu Imam pada:
satu tanda waqaf.
Kita mempunyai jaringan riwayat Ahlul Bait yang secara eksplisit menyebut Rasul sebagai rasikh tertinggi dan para wasi mengetahui tanzil serta ta’wil. (Thaqalayn)
Ini membuat argumentasi jauh lebih kokoh.
⸻
SEKALIPUN KITA BERHENTI PADA “ILLA ALLAH”, ILMU AHLUL BAIT TIDAK RUNTUH
Ini kesimpulan penting.
Misalkan seorang pembaca berkata:
“Saya memilih waqaf setelah:
إِلَّا اللَّهُ
karena menurut saya itu lebih kuat.”
Baik.
Lalu kita bertanya:
Apakah ayat mengatakan Allah tidak pernah mengajarkan ta’wil kepada Rasul?
Tidak.
Apakah mengatakan Allah tidak pernah memberitahukan kepada para wasi?
Tidak.
Maka perdebatan belum selesai.
Kita dapat mengatakan:
Allah adalah satu-satunya pemilik ilmu ta’wil secara independen.
Kemudian:
Dia mengajarkan apa yang Dia kehendaki kepada Rasul dan hujjah-Nya.
Dengan demikian:
tauhid terjaga,
ilmu Imam terjaga,
dan:
ayat tidak dipaksa.
⸻
DAN JIKA KITA MENYAMBUNG WAQAF, MAKNA ITU MENJADI LEBIH LANGSUNG
Sebaliknya, jika dibaca:
إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
maka Al-Qur’an sendiri secara sintaksis mengikutkan para rasikhun dalam pengetahuan ta’wil.
Tradisi tafsir klasik memang mencatat pembacaan demikian dari sejumlah ulama terdahulu. (Quran KSU)
Bagi tradisi Ahlul Bait, bacaan ini sangat serasi dengan riwayat:
نَحْنُ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ وَنَحْنُ نَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ
“Kamilah orang-orang yang kokoh dalam ilmu, dan kami mengetahui ta’wilnya.” (Thaqalayn)
Maka dua jalur argumentasi dapat bertemu tanpa perlu saling menghancurkan.
⸻
APA YANG SEBENARNYA DIBUKTIKAN AYAT AR-RĀSIKHŪNA FĪ AL-‘ILM?
Sekarang kita simpulkan secara disiplin.
Pertama, QS Ali ‘Imran 3:7 menegaskan bahwa Al-Qur’an mempunyai ayat muhkam dan mutasyabih, dan ayat muhkam menjadi:
أُمُّ الْكِتَابِ
induk Kitab.
Kedua, bahaya penafsiran tidak hanya berasal dari kurangnya kecerdasan, tetapi dari:
زَيْغُ الْقُلُوبِ
penyimpangan hati.
Ketiga, terdapat perbedaan klasik tentang waqaf setelah:
إِلَّا اللَّهُ
Sebagian besar tradisi yang dicatat al-Tabari memilih berhenti di sana, sedangkan sejumlah ulama klasik yang dicatat al-Baghawi dan al-Qurthubi memungkinkan penyambungan kepada ar-rāsikhūna fī al-‘ilm. (Quran KSU)
Keempat, perbedaan tersebut juga berkaitan dengan arti ta’wil. Ibn Kathir membedakan ta’wil sebagai hakikat final suatu perkara dari ta’wil sebagai tafsir atau penjelasan makna. (Quran KSU)
Kelima, dalam tradisi Ahlul Bait, Rasulullah SAW adalah:
أَفْضَلُ الرَّاسِخِينَ فِي الْعِلْمِ
orang paling utama di antara para rasikhun.
Keenam, Allah mengajarkan kepada Rasulullah tanzil dan ta’wil, dan para wasinya sesudah beliau mewarisi ilmu tersebut. (Thaqalayn)
Ketujuh, al-Kafi secara eksplisit mengidentifikasi para Imam sebagai:
الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
dan memuat ucapan:
نَحْنُ الرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ وَنَحْنُ نَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ
“Kamilah orang-orang yang kokoh dalam ilmu dan kami mengetahui ta’wilnya.” (Thaqalayn)
Kedelapan, pengetahuan Imam terhadap ta’wil bukan ilmu dzati. Allah adalah sumber ilmu secara independen; Rasul dan Imam mengetahui karena Allah memberikannya.
Kesembilan, luasnya ilmu Imam tidak dapat diukur hanya dari apa yang tercatat dalam riwayat yang sampai kepada kita. Tidak disampaikan bukan berarti tidak diketahui; tidak ditanyakan bukan berarti tidak diketahui.
Kesepuluh, ta’wil yang benar tidak pernah menghancurkan muhkam. Karena itu setiap klaim ta’wil yang menabrak tauhid, syariat, atau prinsip Qur’ani yang jelas tidak dapat dinisbatkan begitu saja kepada Ahlul Bait.
Kesebelas, QS 3:7 sendirian tidak menyebut nama dua belas Imam, tetapi riwayat Ahlul Bait memberikan identifikasi eksplisit terhadap mereka sebagai rasikhun fi al-‘ilm.
Dan akhirnya, ayat ini menambahkan satu unsur besar dalam arsitektur Imamah:
PARA IMAM BUKAN HANYA PEMILIK ILMU KITAB—MEREKA ADALAH MANUSIA YANG KOKOH DALAM KEDALAMAN ILMUNYA.
⸻
DARI ILMU YANG KOKOH MENUJU KITAB YANG DIWARISKAN
Sekarang pertanyaan berikutnya menjadi sangat alami.
Kalau Rasulullah SAW mempunyai ilmu tanzil dan ta’wil,
dan kalau para wasi sesudahnya mewarisi ilmu tersebut,
apakah Al-Qur’an sendiri berbicara tentang:
PEWARISAN KITAB?
Allah SWT berfirman dalam QS Fatir 35:32:
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
“Kemudian Kami wariskan Kitab kepada orang-orang yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami. Di antara mereka ada yang menzalimi dirinya, ada yang pertengahan, dan ada yang mendahului dalam kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar.”
Perhatikan dua kata yang sangat menentukan:
أَوْرَثْنَا
“Kami wariskan.”
Dan:
اصْطَفَيْنَا
“Kami pilih.”
Kitab tidak sekadar:
dibaca.
Ia:
diwariskan.
Dan pewarisnya tidak sekadar muncul karena mengaku.
Mereka:
اصْطَفَيْنَا
dipilih oleh Allah.
Maka pertanyaan selanjutnya:
Siapakah pewaris Kitab itu?
Apakah seluruh umat mempunyai maqam yang sama?
Siapa:
السَّابِقُ بِالْخَيْرَاتِ
yang mendahului dalam seluruh kebaikan?
Dan mengapa tradisi Ahlul Bait membaca para Imam sebagai puncak pewaris pilihan tersebut?
Itulah perjalanan kita berikutnya.
Bagian 11
AYAT PEWARIS KITAB
Siapakah Hamba-Hamba yang Allah Pilih untuk Mewarisi Al-Qur’an?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BmcCrRWyU/

