1. Etika Universal: Menjadikan Diri sebagai Ukuran dan Cermin
- Pembahasan ini merupakan bagian ke-11 dari seri wasiat Imam Ali bin Abi Thalib AS kepada putranya, Imam Hasan Al-Mustafa AS.
- Imam Ali AS mengenalkan etika universal dalam berhubungan dengan sesama, yaitu meminta manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai neraca, ukuran, atau barometer.
- Prinsip dasarnya adalah menyukai bagi orang lain apa yang kita sukai untuk diri sendiri, seperti keinginan untuk dihormati, disapa dengan santun, dan ditolong.
- Sebaliknya, kita juga harus membenci bagi orang lain apa yang kita benci untuk diri sendiri, seperti tidak suka diperlakukan secara kasar atau dirampas haknya.
- Seseorang hendaknya menjadikan dirinya sebagai cermin dalam memahami orang lain agar tidak ada pihak yang tersakiti.
- Islam menjunjung tinggi prinsip kesetaraan (equality); prinsip utamanya adalah tidak berbuat zalim dan tidak mau dizalimi.
- Kita diminta berbuat baik sebagaimana kita ingin orang lain berbuat baik kepada kita, serta rela memberikan kerelaan sebagaimana kita menuntut kerelaan dari orang lain.
- Jangan pernah bersikap ingin menang sendiri, menuntut dimuliakan tanpa mau memuliakan, atau mengganggu orang lain dalam kehidupan sosial.
2. Menjaga Pembicaraan, Batas Pengetahuan, dan Kejujuran Diri
- Imam Ali AS mengingatkan agar seseorang tidak berbicara tentang hal-hal yang tidak diketahuinya, serta tidak memaksakan diri berbicara hanya demi mendapat apresiasi.
- Jika pengetahuan yang dimiliki terbatas, hendaknya seseorang sedikit berbicara sesuai kadar pengetahuannya.
- Apabila seseorang memiliki dorongan untuk banyak berbicara, dorongan tersebut harus seiring dengan semangat menuntut ilmu dan banyak membaca.
- Berbicara tanpa dasar ilmu akan membawa lebih banyak kerusakan (ifsad) daripada perbaikan (islah), diibaratkan seperti orang yang tidak paham mesin tetapi memaksakan diri membongkarnya sehingga kerusakan semakin parah.
- Seseorang dilarang berbicara kepada orang lain dengan cara atau gaya yang tidak ia sukai jika diterapkan pada dirinya, seperti gaya meremehkan, mencibir, atau angkuh.
- Kejujuran pada diri sendiri akan menghindarkan manusia dari banyak kerusakan; perpecahan dan kegaduhan dalam urusan agama sering kali terjadi karena orang yang bukan ahlinya ikut berbicara tanpa ilmu.
3. Bahaya Sifat Ujub (Takjub pada Diri Sendiri)
- Imam Ali AS memperingatkan tentang penyakit jiwa berupa sifat ujub (kekaguman berlebihan pada diri sendiri akibat egoisme dan narsisme).
- Sifat ujub merupakan lawan dari kebenaran (diddus shawab).
- Orang yang terjangkit ujub akan merasa dirinya lebih unggul dari orang lain, enggan tunduk pada kebenaran, tidak mau mendengarkan ulama/pakar, serta mudah menyalahkan orang lain.
- Sifat ujub tumpul merusak akal sehat dan menjadi virus berbahaya bagi agama.
4. Bekerja Maksimal dan Larangan Menimbun Harta
- Manusia diminta untuk memaksimalkan usaha dalam segala hal, baik dalam ibadah, bekerja mencari rezeki, maupun menuntut ilmu.
- Meskipun dianjurkan mencari rezeki secara maksimal, manusia dilarang menjadi penimbun atau pengumpul harta bagi orang lain.
- Kebutuhan konsumsi fisik manusia dalam hidup sangat terbatas, misalnya kapasitas makan yang umumnya hanya berkisar 2–3 porsi sehari.
- Jika dikaruniai kemudahan rezeki, gunakan secukupnya dan bagikan sisanya untuk aktivitas sosial serta membantu sesama.
- Menimbun harta tanpa menginfakkannya hanya akan menjadikan seseorang pengumpul harta bagi ahli warisnya, tanpa memberi manfaat bagi dirinya sendiri di akhirat.
5. Perjalanan Abadi Menuju Allah, Bekal Perjalanan, dan Beban Dosa
- Manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya; karena itu, hendaknya manusia menjadi hamba yang khusyuk, tunduk, dan bersungguh-sungguh meraih keridhaan Allah.
- Keridhaan Allah harus menjadi perhatian utama dan dominan dalam seluruh dimensi kehidupan, seperti dalam rumah tangga, berniaga, sosial, hingga politik.
- Kehidupan dunia hanyalah stasiun persinggahan terpendek dari seluruh rangkaian episode kehidupan abadi manusia.
- Manusia diciptakan dengan potensi tak terbatas (akal dan hati) untuk mengarungi perjalanan panjang menuju keabadian.
- Perjalanan pascakematian (alam barzakh dan akhirat) sangat jauh dan penuh rintangan, sehingga manusia harus memastikan dirinya berada di jalan yang benar.
- Dalam perjalanan tersebut, manusia sangat memerlukan bekal yang cukup (amal kebaikan) dan beban yang ringan.
- Beban yang dimaksud adalah dosa-dosa, keangkuhan, kesombongan, iri hati, dan kedengkian yang dapat memberatkan serta membinasakan manusia di alam barzakh.
6. Mengubah Harta Menjadi Bekal Akhirat Melalui Orang yang Membutuhkan
- Orang-orang miskin dan fakir yang membutuhkan bantuan di dunia pada hakikatnya adalah pihak yang membawa bekal kita menuju hari kiamat.
- Menyalurkan kelebihan harta kepada orang yang membutuhkan merupakan kesempatan berharga untuk menitipkan bekal, yang akan dikembalikan saat kita sangat membutuhkannya di akhirat.
- Kesempatan berbagi ini tidak datang setiap saat, sehingga tidak boleh dilewatkan atau ditunda sebelum kematian tiba.
- Memberikan pinjaman uang kepada orang yang mengalami kesulitan tanpa terlalu sibuk menagihnya di dunia juga merupakan investasi berharga, karena pembayarannya akan diterima pada hari-hari sulit pascakematian.
- Orang yang memiliki beban dosa yang ringan akan lebih mudah dan cepat melewati berbagai rintangan di alam barzakh.
7. Muara Akhir (Surga atau Neraka) dan Hakikat Kematian
- Tujuan akhir perjalanan manusia yang tidak dapat dihindari hanya ada dua, yaitu surga atau neraka.
- Manusia diingatkan untuk membayangkan dirinya seolah-olah sudah mati (matilah sebelum kematian datang) agar lebih realistis dalam bersikap dan bersiap diri.
- Setelah kematian tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk memohon ampunan atau kembali beramal.
- Allah telah membekali manusia dengan perangkat dan fasilitas pemikiran yang utuh untuk membedakan hak dan batil, sehingga manusia layak dimintai pertanggungjawaban.
- Mengutip Al-Qur’an (QS. Al-Mu’minun), saat kematian tiba, orang-orang yang lalai akan memohon dikembalikan ke dunia (Robbirji’un) untuk berbuat kebaikan, tetapi permohonan tersebut ditolak.
- Pada hari kebangkitan, tidak ada lagi hubungan kekerabatan atau pertolongan antarmanusia (fala ansaba bainahum); setiap orang sibuk dengan urusannya masing-masing, dan keberuntungan ditentukan oleh beratnya timbangan amal kebaikan.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

