13 October 2026

Pengantar & Pengulangan Wasiat tentang Kesabaran

Mengulas kembali dua kalimat penutup dari kajian ke-6 sebagai pijakan:

  • “Wa ‘awwid nafsakas shabra ‘alal makruhi” (Biasakan dirimu untuk bersabar atas hal-hal yang tidak kamu sukai).
  • “Wa ni’mal khuluqu at-thaburu fil haqqi” (Sebaik-baik perangai/akhlak adalah bersabar dalam kebenaran).

Di dunia ini, manusia selalu berhadapan dengan hal-hal yang tidak disukainya (al-makruhat). Agar mampu bertahan di jalan kebenaran ketika diterpa gangguan, fitnah, cobaan, dan rasa ketidaknyamanan, manusia sangat memerlukan kesabaran.
Tanpa kesabaran, seseorang rentan meninggalkan kebenaran hanya karena tidak tahan menghadapi ujian.

1. Berlindung dan Bertawakal kepada Allah SWT

Imam Ali as melanjutkan wasiatnya:

“Wa alji’ nafsaka fi umurika kulliha ilahika, fa innaka tulji’uha ila kahfin hariisin wa mani’in ‘aziz.”
(Dan berlindunglah/pasrahkanlah dirimu dalam segala urusanmu kepada Tuhanmu. Karena sesungguhnya, ketika engkau berlindung kepada-Nya, engkau sedang menempatkan dirimu di tempat perlindungan yang sangat kuat dan benteng pencegah yang kokoh).

Dijelaskan bahwa menyerahkan seluruh urusan (fi umurika kulliha) dan bertawakal kepada Allah menjadi benteng kokoh yang mencegah manusia tergelincir atau terkapar ke dalam kebatilan saat menghadapi pergolakan dunia.

2. Empat Dasar / Rukun Tawakal (Arkanu Tawakkul)

Secara rasional dan berdasarkan ajaran Tauhid, terdapat 4 rukun/premis dasar mengapa manusia wajib bertawakal hanya kepada Allah SWT:

  1. Annal Haqqa Ta’ala ‘Alimun bi hajatil ‘ibad
    (Allah Maha Mengetahui kebutuhan/hajat hamba-Nya).
    Manusia memiliki keterbatasan ilmu tentang dirinya sendiri. Sering kali manusia mengira menyukai atau membutuhkan sesuatu, padahal hal itu tidak mendesak atau bahkan berbahaya bagi dirinya.
    Allah lebih mengetahui kebutuhan hakiki hamba-Nya dibandingkan hamba itu sendiri.
  2. Annahu Qadirun ‘ala talbiyati kulli hajah
    (Allah Mahakuasa penuh untuk memenuhi segala kebutuhan hamba-Nya).
    Manusia tidak memiliki kuasa penuh untuk mewujudkan kebutuhannya, sedangkan Allah memiliki kekuasaan mutlak.
  3. Annahu laisa fi dzatihi bukhlun (Karim, Jawad)
    (Allah Maha Pemurah dan Maha Dermawan).
    Dzat Allah Maha Kaya dan Maha Dermawan, sehingga tidak ada alasan bagi-Nya untuk kikir kepada hamba-Nya.
  4. Innahu Rahimun bil ‘ibadi wa Ra’ufun bihim
    (Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang).
    Allah melingkupi hamba-Nya dengan kasih sayang.

Dengan empat pijakan tauhid ini, tidak ada zat yang lebih layak dijadikan tempat bersandar dan berlindung selain Allah SWT.

3. Tingkatan Tawakal & Hadis Imam Musa bin Ja’far as

Perbedaan antara tawakal secara pengetahuan akal (martabatul ‘ilm) dan tawakal yang meresap ke dalam keimanan serta perilaku nyata (martabatul iman).
Tawakal sejati menuntut keyakinan Tauhid Rububiyah bahwa “Lama’fira fil wujudi illallah” (tidak ada yang berpengaruh secara independen di alam wujud selain Allah).

Merujuk pada hadis Imam Musa bin Ja’far Al-Kazhim as dalam menafsirkan ayat “Wa man yatawakkal ‘alallahi fahuwa hasbuh”:

  • Tawakal itu memiliki tingkatan/derajat (At-tawakkulu ‘alallahi darajat).
  • Tingkatannya meliputi pasrah dalam segala urusan (fi umurika kulliha).
  • Tanda kejujuran tawakal: “Fama fa’ala bika kunta ‘anhu radhiyan”
    (Apapun yang Allah perbuat atasmu, engkau meridhainya).
  • Keyakinan mendasar:
    Manusia harus yakin bahwa “La yakluuka khairan wa fadhlan” (Allah tidak menciptakan atau menetapkan sesuatu melainkan berujung pada kebaikan dan karunia yang sempurna).

Contoh keteladanan Imam Husain as yang menyatakan “Ridhan bi qadha’ik” saat menghadapi ujian terberat di Karbala, serta ucapan Sayyidah Zainab sa: “Ma ra’aitu illa jamila” (Tidaklah aku melihat kecuali keindahan) karena menyadari segala peristiwa berada dalam pantauan dan rububiyah Allah SWT.

4. Hakikat Penghambaan & Perintah Meminta dengan Keikhlasan

Secara hakikat, seorang hamba tidak memiliki apa-apa atas dirinya sendiri. Karena tidak memiliki kepemilikan mutlak, ia juga tidak memegang kendali mutlak.
Maka sudah sepatutnya hamba menyerahkan segala urusannya kepada Sang Pemilik dan Pengendali Sejati.

Imam Ali as melanjutkan wasiatnya:

“Wa akhlis fil mas’alati lirabbika, fa inna biyadihil ‘atha’a wal hirman.”
(Dan di dalam meminta/berdoa, mintalah dengan keikhlasan kepada Tuhanmu. Karena sesungguhnya di tangan-Nyalah kuasa penuh untuk memberi atau menolak).

Seseorang yang meminta dengan ikhlas tidak akan menyertakan sekutu selain Allah dan tidak lagi sibuk mencari pujian, tepuk tangan, atau penghargaan dari manusia.

5. Keutamaan Keikhlasan & Ciri Orang Mukhlis

Penceramah menyampaikan dua riwayat penting mengenai tingkatan ikhlas:

  1. Hadis Qudsi dari Imam Hasan Al-Askari as:
    Allah SWT berfirman:

“Seandainya Aku jadikan dunia dan isinya ini dalam bentuk satu suapan, lalu Aku suapkan kepada hamba yang beribadah/berbuat kebaikan kepada-Ku secara ikhlas, niscaya Aku merasa bahwa Aku masih kurang dalam memberikan balasan kepadanya.”

Hal ini menunjukkan betapa bernilainya satu amalan kecil yang dilakukan dengan penuh keikhlasan di sisi Allah.

  1. Pelajaran tentang Pentingnya Niat:
    Dikisahkan seorang ulama besar mengqadha shalatnya selama 30 tahun karena suatu hari terlambat dan terpaksa shalat di shaf belakang. Saat itu muncul rasa malu di hatinya, yang membuatnya sadar bahwa selama 30 tahun shalat di shaf depan, ada rasa nyaman yang terdorong oleh pandangan manusia.
  2. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang Hakikat Ikhlas:

“Seorang hamba tidak akan sampai pada hakikat keikhlasan hingga ia tidak ingin dipuji atas suatu amalan yang ia lakukan karena Allah.”

6. Perbanyak Istikharah & Maknanya

Imam Ali as berwasiat: “Wa aktsiril istikharata…” (Dan perbanyaklah beristikharah).

Penceramah menjelaskan tiga makna istikharah berdasarkan penjelasan para ulama (di antaranya Ayatullah Nasir Makarim Syirazi):

  1. Memohon petunjuk saat buntu/bimbang: Menggunakan Al-Qur’an atau sarana agama ketika menghadapi jalan buntu. Namun, istikharah bentuk ini tidak digunakan secara gegabah sebelum melakukan perencanaan rasional, riset, musyawarah, dan analisis ikhtiar.
  2. Talabul khair minallah (Memohon akhir yang baik): Berdoa memohon kebaikan dari Allah dalam setiap tindakan yang dijalani (Astaghirullaha bi rahmatihi).
  3. Mempertimbangkan dengan matang: Bertindak tidak tergesa-gesa, memikirkan matang-matang, dan mengambil keputusan atau pilihan yang paling utama.

Imam Ali as menegaskan: “Wa tafahham wasiyyati wa la tadhabanna ‘anka shafhan” (Pahamilah wasiatku ini dan jangan sampai ada satu pun yang terlewatkan darimu).

7. Ucapan yang Bermanfaat & Empat Pengetahuan Primer

Wasiat dilanjutkan dengan patokan dalam berbicara dan menuntut ilmu:

  • “Fa inna khairal qauli ma nafa’a” (Sebaik-baik ucapan adalah ucapan yang bermanfaat).
  • “Wa’lam annahu la khaira fi ‘ilmin la yanfa’u” (Ketahuilah bahwa tidak ada kebaikan pada ilmu yang tidak bermanfaat).
  • “Wa la yuntafa’u bi ‘ilmin la yahiqqu ta’allumuh” (Dan tidak dapat diambil manfaat dari ilmu yang tidak layak untuk dipelajari).

Merujuk pada hadis Imam Ja’far As-Sadiq as (atau Imam Maksum as), ilmu manusia yang paling utama dan bersifat primer (fundamental) terbagi menjadi 4 perkara:

  1. An ta’rifa Rabbaka (Engkau mengenal Tuhanmu / Makrifatullah).
  2. An ta’rifa ma shana’a bika (Engkau mengenal apa yang telah Tuhan perbuat atas dirimu).
  3. An ta’rifa ma arada minka (Engkau mengenal apa yang Tuhan inginkan dari dirimu / syariat & kewajiban).
  4. An ta’rifa ma yukhrijuka min dinika (Engkau mengenal hal-hal yang dapat mengeluarkan atau menjauhkanmu dari agama Allah).

Ilmu-ilmu lain (seperti teknologi atau keahlian duniawi) merupakan ilmu sekunder/aksesori penghias kehidupan. Seseorang boleh mempelajarinya setelah menguasai empat ilmu primer di atas. Adapun ilmu yang berbahaya atau mistis yang tidak jelas kemanfaatannya hendaknya dihindari agar tidak menyesatkan.

Penutup

Ceramah ditutup dengan doa agar pesan-pesan wasiat Agung Imam Ali bin Abi Thalib as ini memberikan pendalaman makna dalam kehidupan kita sehari-hari.

AB Wasiat Ke 7 Imam Ali

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us