1. Pembukaan dan Konteks Kajian
Kajian ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pembahasan Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib Alaihissalam kepada putranya, Imam Hasan Al-Mujtaba Alaihissalam, pada pertemuan yang ke-6. Pembahasan diawali dengan merinjau pesan sebelumnya, yaitu imbauan untuk membenahi tempat tinggal abadi (akhirat) dan larangan keras menjual kehidupan akhirat demi kesenangan duniawi yang sementara.
2. Larangan Berbicara Tanpa Ilmu (Wadda’il Kaula Fima La Ta’rif)
Imam Ali as menyampaikan nasihat yang sangat krusial:
“Wadda’il kaula fima la ta’rif” (Tinggalkanlah perkataan tentang apa yang tidak engkau ketahui/kuasai).
- Solusi atas Perselisihan:
Seandainya setiap manusia hanya berbicara dalam lingkup keahlian dan pengetahuannya, mayoritas polemik, perselisihan, dan kerumitan dalam masyarakat akan teratasi dengan sendirinya. - Akar Munculnya Mazhab dan Sekte:
Kerumitan dalam bidang agama—termasuk lahirnya puluhan hingga ratusan mazhab dan versi penafsiran—terjadi karena orang-orang yang bukan ahli memberanikan diri menafsirkan, menyimpulkan hukum, dan memaksakan pendapat karena ego serta keangkuhan. - Pesan Surah Al-Isra’ Ayat 36:
Al-Qur’an secara tegas melarang manusia mengikuti atau menyikapi sesuatu tanpa dasar ilmu. Pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran seluruhnya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. - Kewajiban Bicara bagi yang Berilmu:
Sebaliknya, jika seseorang memiliki pengetahuan dan kehadirannya dibutuhkan untuk menyingkap kebenaran, ia wajib berbicara; berdiam diri atas kebenaran saat dibutuhkan juga akan dimintai pertanggungjawaban.
3. Larangan Mencampuri Hal yang Bukan Tanggung Jawab (Wal Khithaba Fima La Takallaf)
Lanjutan nasihat berikutnya adalah:
“Wal khithaba fima la takallaf” (Tinggalkan pula ucapan atau penyikapan atas hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawab/hakmu).
Meskipun seseorang memiliki pengetahuan tentang suatu hal, apabila hal tersebut berada di luar wewenang atau kapasitas tanggung jawabnya, ia hendaknya menahan diri untuk tidak ikut mengambil peran atau melontarkan pernyataan agar tidak menambah kerumitan masalah.
4. Berhenti Saat Ragu dan Khawatir Tersesat (Wa Amsik ‘an Thoriqin Idza Khifta Dholalatah)
Imam Ali as memberikan panduan ketika menghadapi ketidakpastian:
“Wa amsik ‘an thoriqin idza khifta dholalatah” (Berhentilah meniti suatu jalan jika engkau khawatir akan tersesat).
- Hindari Langkah Spekulatif:
Dalam mengambil keputusan hidup, seseorang tidak boleh asal menerobos atau berspekulasi tanpa pengetahuan yang matang. - Prinsip Utama:
Berdiam diri atau berhenti sejenak saat dilanda kebingungan jauh lebih baik daripada mengarungi rintangan dan bahaya yang tidak diketahui atau di luar batas kemampuan (Fainnal kaffa ‘indahaerotid dholal khoirun min rokubil ahwal).
5. Mengajak pada Ma’ruf dan Mencegah Kemungkaran (Wa’mur bil-Ma’ruf… Wa Ankiril-Munkar)
Imam Ali as menekankan dua pilar utama dalam ajaran Islam:
- “Wa’mur bil-ma’ruf takun min ahlih”
(Perintahkan/ajaklah kepada kebaikan, niscaya engkau akan menjadi bagian dari ahlinya). Membiasakan lisan menyeru kebaikan akan menciptakan beban psikologis positif dan dorongan internal yang mengikat diri agar malu jika melanggar kebaikan tersebut. - “Wa ankiril-munkara biyadaika wa lisanik”
(Tolak/cegahlah kemungkaran dengan tanganmu dan lisanmu). Mencegah kemungkaran dilakukan dengan tindakan nyata untuk menahan terjadinya kejahatan serta menunjukkan sikap penolakan secara lisan. - “Wa bayin man fa’alahu bijuhdik”
(Jauhi dan lawanlah pelaku kemungkaran dengan segenap usahamu). Termasuk bagian dari amar ma’ruf adalah membongkar dan menyuarakan kebenaran sejarah (seperti perjuangan dan pengorbanan Tragedi Karbala) agar kebenaran tidak dikaburkan oleh para penguasa zalim.
6. Enam Dampak Buruk Mengabaikan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Apabila kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Mungkar ditinggalkan oleh individu maupun masyarakat, akan timbul enam akibat yang sangat berat:
- Doa Tidak Dikabulkan:
Allah SWT tidak akan mengabulkan doa masyarakat tersebut, bahkan doa dari orang-orang saleh di antara mereka. - Dekadensi Moral & Pembalikan Nilai:
Terjadi kemerosotan moral secara meluas pada kaum wanita dan pemuda.
Nilai-nilai kehidupan menjadi terbalik: hal yang ma’ruf dianggap mungkar/kolot, sedangkan kemungkaran dianggap sebagai kebebasan atau kebaikan. - Hilangnya Sakralitas & Kehormatan Umat:
Masyarakat kehilangan kesucian jiwanya, ditandai dengan ketakutan orang-orang yang lemah untuk menuntut haknya dari orang zalim. - Berkuasanya Pemimpin yang Zalim:
Kepemimpinan akan jatuh ke tangan orang-orang jahat dan durjana yang tidak menghormati yang tua dan tidak mengasihi yang muda. - Tercabutnya Hakikat Agama:
Nilai-nilai agama hilang dari kehidupan pribadi dan keluarga; identitas keagamaan sekadar formalitas tanpa penerapan ajaran nyata. - Turunnya Azab Ilahi:
Allah menurunkan hukuman kepada orang bodoh karena kemaksiatannya dan kepada orang alim karena keterdiamannya.
Puncak azab adalah dicabutnya kehadiran Pemimpin Suci (Insan Ilahi) dari tengah masyarakat yang memicu perebutan kekuasaan, konflik, dan pertumpahan darah sepanjang sejarah.
7. Bersungguh-sungguh Berjuang di Jalan Allah (Wa Jahid Fillahi Haqqa Jihadih)
Imam Ali as berpesan agar setiap hamba memiliki komitmen penuh dalam pengabdian:
- “Wa jahid fillahi haqqa jihadih”
(Berjuanglah di jalan Allah dengan kesungguhan yang sebenar-benarnya). - “Wala ta’khudzka fillahi laumatu la’im”
(Jangan biarkan celaan, celaan, atau ancaman dari siapapun menghentikan langkahmu di jalan Allah). - “Wa khudhil qamara lil-haqqi haitsu kana” (Arungilah berbagai rintangan dan tantangan demi mempertahankan kebenaran).
8. Melatih Kesabaran dan Menguasai Agama (Wa Tafaqqah fid-Din…)
Sebagai penutup potongan wasiat pada kajian ke-6:
- “Wa tafaqqah fid-din” (Pahamkanlah dirimu dalam urusan agama). Berjalan menuju Allah harus dilandasi oleh ilmu dan pemahaman agama yang benar.
- “Wa ‘awwid nafsakas-shabra ‘alal makruh”
(Biasakan dirimu untuk bersabar menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan). Kehidupan dunia tidak akan pernah sepi dari ujian dan rintangan. - Sebaik-baik Akhlak:
Imam Ali as menegaskan bahwa “Wa ni’mal khuluqut-tashabburu fil-haqq” (Sebaik-baik perangai/akhlak adalah kesabaran dalam mempertahankan kebenaran). - Tiga Syarat Kesempurnaan Iman:
Menyitir hadis Imam Ja’far as-Sadiq as, iman seseorang belum sempurna sebelum memiliki tiga hal: pemahaman agama (at-tafaqquh fid-din), perencanaan hidup yang baik (husnut-taqdir fil-ma’isyah), dan kesabaran atas musibah/rintangan (as-shabru ‘alal-karizah). - Pelajaran Surah Al-‘Asr:
Kerugian manusia di dunia hanya dapat dihindari jika memenuhi empat pilar: keimanan, amal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

