15 October 2026

Ketika Seorang Ulama Besar Boleh Berkata “Aku Tidak Tahu”, tetapi Hujjah Allah Tidak Dapat Dibiarkan Tanpa Jawaban

Ada sebuah kisah sangat indah tentang Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki dan salah seorang ulama terbesar dalam sejarah Islam.

Diriwayatkan suatu ketika beliau ditanya mengenai 48 persoalan.

Berapa yang dijawabnya?

Enam belas.

Terhadap 32 persoalan lainnya, Imam Malik dengan tenang mengatakan:

«لَا أَدْرِي»

“Aku tidak tahu.”

Riwayat ini dinukil antara lain dalam Syarh az-Zurqani ‘ala al-Muwaththa’. Tradisi keilmuan Islam justru memandang sikap seperti ini sebagai kemuliaan seorang alim: ia tidak berbicara tentang agama melebihi ilmu yang dimilikinya.

Bayangkan.

Beliau adalah:

  • Imam Dar al-Hijrah.
  • Ulama besar Madinah.
  • Guru para ulama.
  • Mazhabnya kemudian diikuti jutaan Muslim selama lebih dari seribu tahun.

Tetapi ketika tidak mengetahui:

«لَا أَدْرِي»

“Aku tidak tahu.”

Dan justru di situlah kebesarannya.

Ia tidak merasa kedudukan ilmiahnya jatuh hanya karena mengakui batas pengetahuannya.

Tidak menciptakan jawaban agar tetap terlihat pintar.

Tidak mengarang hadis.

Tidak berspekulasi lalu menjadikannya hukum Allah.

Ia mengetahui batas antara:

yang ia ketahui dan yang tidak ia ketahui.

Itulah amanah ilmu.

Dan kepada seorang ulama, sikap semacam ini bukan kekurangan.

Justru:

KEJUJURAN INTELEKTUAL.

Tetapi kisah Imam Malik sekaligus membantu kita memahami sesuatu yang jauh lebih mendasar tentang istilah:

IMAM.

Karena Imam Malik disebut: Imam.

Imam Syafi‘i disebut: Imam.

Imam Abu Hanifah.

Imam Ahmad bin Hanbal.

Semua disebut Imam.

Tetapi apakah kata Imam pada mereka sama dengan maqam yang Allah maksud ketika berfirman:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

“Dan Kami menjadikan mereka para Imam yang memberi petunjuk dengan perintah Kami”?

Tidak.

Di sinilah kita harus membedakan:

IMAM SEBAGAI GELAR KEILMUAN

dengan:

IMAM SEBAGAI HUJJAH ALLAH.

Imam Malik menjadi Imam karena keluasan ilmu, ketakwaan, ijtihad, dan pengakuan umat terhadap keilmuannya.

Ia seorang: mujtahid besar.

Tetapi ia tidak pernah mengklaim dirinya:

«عَهْدِ اللَّهِ»

pemegang ‘ahd Allah,

tidak mengklaim:

«جَعَلَنِيَ اللَّهُ إِمَامًا»

Allah telah menjadikanku Imam,

dan tidak mengklaim dirinya sebagai manusia yang wajib menjadi rujukan maksum seluruh umat.

Karena itu ketika tidak mengetahui:

ia mengatakan:

«لَا أَدْرِي»

Dan itu adalah kemuliaannya.

—

TETAPI BAGAIMANA JIKA SEORANG IMAM ADALAH HUJJAH ALLAH?

Sekarang persoalannya berubah.

Bayangkan Allah berkata kepada umat:

Ikutilah manusia ini.

Taatilah.

Jadikan ia pemberi petunjuk.

Kemudian ketika umat datang membawa persoalan yang menentukan agama mereka, Imam itu menjawab:

«“Aku tidak tahu.”»

Lalu kepada siapa umat harus pergi?

Kepada orang lain?

Kalau ada manusia lain yang mengetahui apa yang tidak diketahui Imam, bukankah dalam persoalan itu orang tersebut justru menjadi:

lebih layak menjadi rujukan?

Kalau Imam membutuhkan seseorang di atas dirinya untuk memperbaiki pemahamannya terhadap agama, bagaimana ia menjadi:

HUJJAH TERAKHIR BAGI UMAT?

Di sinilah perbedaan antara:

faqih dan Imam maksum menjadi sangat besar.

Seorang faqih boleh berkata:

“Aku tidak tahu.”

Seorang mujtahid dapat salah.

Marja‘ dapat mempunyai pendapat berbeda dengan marja‘ lainnya.

Pendapatnya dapat berubah ketika menemukan dalil baru.

Semua itu manusiawi.

Tetapi Imam yang Allah jadikan:

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

“memberi petunjuk dengan perintah Kami”

tidak mungkin mengalami kekosongan ilmu yang menyebabkan umat kehilangan hujjah.

Sebab kalau hujjah tidak mengetahui jawaban yang dibutuhkan bagi petunjuk:

fungsi hujjah menjadi terputus.

—

INILAH MENGAPA UCAPAN IMAM ALI SANGAT BERBEDA

Bandingkan dengan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Beliau tidak berkata:

“Tanyakan beberapa persoalan kepadaku; kalau aku tahu akan kujawab.”

Beliau berkata:

«سَلُونِي قَبْلَ أَنْ تَفْقِدُونِي»

“TANYALAH AKU SEBELUM KALIAN KEHILANGAN AKU.”

Dalam riwayat yang masyhur dari beliau, bahkan terdapat ungkapan:

«فَلَأَنَا بِطُرُقِ السَّمَاءِ أَعْلَمُ مِنِّي بِطُرُقِ الْأَرْضِ»

“Aku lebih mengetahui jalan-jalan langit daripada jalan-jalan bumi.”

Ucapan salūnī ini bukan hanya ekspresi kecerdasan.

Ia merupakan:

PERNYATAAN OTORITAS ILMU.

Tanyakan.

  • Tentang Kitab.
  • Tentang hukum.
  • Tentang masa lalu.
  • Tentang apa yang akan datang sebagaimana digambarkan sejumlah riwayat tentang keluasan ilmu beliau.

Ali tidak berkata:

“Aku mengetahui karena diriku sendiri.”

Tidak.

Seluruh ilmu itu kembali kepada Rasulullah SAW.

Dan seluruh ilmu Rasulullah kembali kepada:

Allah SWT.

Tetapi karena Ali adalah hujjah:

Allah tidak meninggalkan dirinya tanpa ilmu yang diperlukan untuk menjalankan hujjah tersebut.

—

MAKA JANGAN SAMAKAN “IMAM MALIK” DENGAN “IMAM ALI” HANYA KARENA SAMA-SAMA DISEBUT IMAM

Di sinilah bahasa dapat menipu kalau kategori tidak dibedakan.

Imam Malik adalah: Imam mazhab.

Imam Ali dalam teologi Ahlul Bait adalah: Imam yang ditetapkan Allah.

Yang pertama:

mencapai maqam keilmuan melalui belajar, ijtihad, dan perjuangan intelektual.

Yang kedua:

mewarisi ilmu kenabian dan menjadi hujjah dengan penunjukan Ilahi.

Yang pertama: dapat salah.

Karena itu bila tidak mengetahui:

«لَا أَدْرِي»

adalah jawaban yang sangat mulia.

Yang kedua:

dalam kapasitasnya sebagai hujjah, tidak boleh mengalami keterbatasan epistemik yang membuat umat kehilangan petunjuk.

Karena itu tradisi Ahlul Bait mengatakan:

«إِنَّ الْإِمَامَ إِذَا شَاءَ أَنْ يَعْلَمَ عُلِّمَ»

“Apabila Imam berkehendak mengetahui, ia diberi pengetahuan.”

Perbedaannya mendasar.

—

BUKAN BERARTI IMAM HARUS MENJAWAB SEMUA PERTANYAAN MANUSIA

Ini juga harus dibedakan.

Imam dapat: mengetahui tetapi tidak menjawab.

Mengapa?

  • Karena pertanyaannya tidak bermanfaat.
  • Karena orang yang bertanya tidak siap.
  • Karena ada maslahat.
  • Karena ada taqiyah.
  • Karena belum waktunya.
  • Karena pengetahuan tersebut dapat disalahgunakan.
  • Atau karena Allah menghendaki suatu ilmu tetap berada pada lingkaran tertentu.

Maka:

tidak menjawab tidak sama dengan: tidak mengetahui.

Begitu pula:

tidak pernah ditanyakan tidak sama dengan: tidak diketahui.

Perbedaan ini sangat penting.

—

IMAM MALIK MENGATAKAN “AKU TIDAK TAHU” KARENA IA JUJUR TERHADAP BATAS ILMUNYA

Dan kita menghormatinya justru karena itu.

Tetapi Imam Ali berkata:

«سَلُونِي»

karena maqam yang sedang dibicarakan berbeda.

Yang satu adalah:

ULAMA BESAR.

Yang lain:

HUJJAH ALLAH.

Tidak adil kepada Imam Malik bila kita menuntut beliau mempunyai ilmu seorang Imam maksum.

Dan tidak adil kepada Imam Ali bila kita menurunkan maqam ilmunya menjadi sekadar:

seorang ulama besar yang sewaktu-waktu kehilangan jawaban.

Dua-duanya harus ditempatkan pada maqamnya.

—

INILAH JEMBATAN MENUJU QS AL-ANBIYA 21:73

Sekarang kita dapat membaca ayat berikut dengan pengertian yang jauh lebih dalam:

«وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً»

“Kami menjadikan mereka para Imam…”

Ini bukan: gelar kehormatan yang manusia berikan.

Tetapi: penetapan Allah.

Kemudian:

«يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

“mereka memberi petunjuk dengan perintah Kami.”

Kalau Allah sendiri menjadikan seseorang sebagai pembimbing manusia:

maka Allah pula yang harus menjamin bahwa pembimbing itu mempunyai:

ilmu untuk membimbing.

Sebab seorang pemandu yang tidak mengetahui jalan bukan lagi pemandu.

Ia sendiri membutuhkan: pemandu lain.

Di situlah perbedaan mendasar antara:

Imam sebagai alim dan Imam sebagai hujjah.

Dan dari titik inilah seluruh pembahasan Bagian 14 mengenai:

«أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا»

harus dibaca.

ARS Dua Makna Istilah Imam

 

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CXExdMTC6/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us