Bagian 3
AYAT MUBAHALAH
Ketika Ali Diletakkan dalam Ungkapan “Diri Kami”
Setelah Ayat Wilayah memperlihatkan persoalan otoritas, dan Ayat Tathir memperkenalkan keluarga yang disucikan, sekarang Al-Qur’an membawa kita kepada sebuah peristiwa yang memperlihatkan siapa yang Rasulullah SAW pilih ketika kebenaran risalah harus dipertaruhkan di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman dalam QS Ali ‘Imran 3:61:
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
“Siapa yang membantahmu tentang hal itu setelah datang kepadamu ilmu, maka katakanlah: Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kalian, perempuan-perempuan kami dan perempuan-perempuan kalian, diri-diri kami dan diri-diri kalian; kemudian marilah kita bermubahalah dan kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang berdusta.”
Ayat ini tidak berbicara tentang sebuah pertemuan sosial.
Tidak pula tentang perdebatan biasa.
Ia berbicara tentang: MUBAHALAH.
Dua pihak yang telah sampai pada jalan buntu dalam perdebatan agama menyerahkan perkara kepada Allah, lalu memohon agar laknat-Nya menimpa pihak yang berdusta.
Tafsir klasik menjelaskan mubahalah sebagai doa timbal balik agar kemurkaan Allah jatuh kepada pihak yang berdusta setelah argumentasi tidak lagi menyelesaikan perselisihan. (Quran.com)
Maka manusia yang dibawa Rasulullah SAW dalam peristiwa semacam ini bukan sekadar rombongan kehormatan.
Mereka masuk ke dalam sebuah peristiwa ketika:
kebenaran dan kebohongan akan dipertaruhkan di hadapan Allah.
Dan justru di sinilah identitas orang-orang yang dibawa Rasul menjadi sangat menentukan.
⸻
KONTEKSNYA ADALAH PERDEBATAN TENTANG NABI ISA AS
Ayat Mubahalah tidak turun di ruang kosong.
Rangkaian QS Ali ‘Imran sebelumnya membahas Nabi Isa as dan membantah klaim ketuhanan terhadap beliau.
Allah memberikan perumpamaan yang sangat sederhana sekaligus kuat:
إِنَّ مَثَلَ عِيسَىٰ عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آدَمَ
“Sesungguhnya perumpamaan Isa di sisi Allah seperti Adam…”
Isa tidak mempunyai ayah.
Tetapi Adam bahkan tidak mempunyai ayah dan ibu.
Maka ketiadaan ayah bukan bukti ketuhanan.
Al-Mizan menjelaskan bahwa perintah mubahalah datang setelah argumentasi mengenai Isa telah disampaikan sebagai pengetahuan dan bukti yang jelas. (Al-Islam.org)
Ketika perdebatan dengan delegasi Kristen Najran tidak mencapai kesepakatan, Rasulullah SAW diperintahkan mengajak mereka melakukan mubahalah.
Tradisi tafsir Islam secara luas menghubungkan QS 3:61 dengan delegasi Kristen Najran dan perdebatan mengenai kedudukan Isa al-Masih. (Quran.com)
Tetapi yang paling menarik bagi kita bukan hanya siapa lawan debatnya.
Melainkan:
siapa yang Rasulullah bawa bersamanya.
⸻
AL-QUR’AN MENYEBUT TIGA KATEGORI
Allah memerintahkan Nabi membawa:
أَبْنَاءَنَا
“anak-anak kami.”
Kemudian:
نِسَاءَنَا
“perempuan-perempuan kami.”
Dan akhirnya:
أَنْفُسَنَا
“diri-diri kami.”
Tiga kategori.
- Anak.
- Perempuan.
- Diri.
Sekarang kita bertanya:
Ketika Rasulullah SAW menjalankan perintah ini, siapa yang beliau pilih?
Untuk menjawabnya kita tidak perlu memulai dari kitab Syiah.
Sahih Muslim memberikan jawaban yang sangat terang.
Sa‘d bin Abi Waqqash meriwayatkan bahwa ketika ayat:
فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ
turun, Rasulullah SAW memanggil:
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
Kemudian berkata:
اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي
“Ya Allah, mereka adalah keluargaku.” (Sunnah)
Itulah fakta yang harus diletakkan terlebih dahulu.
Tidak ada pembicaraan tentang mazhab.
Tidak ada spekulasi.
Ketika ayat Mubahalah turun:
Rasulullah membawa Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain.
⸻
PERHATIKAN: RASULULLAH TIDAK MEMBAWA MASSA
Ini salah satu bagian yang paling menggugah.
Bayangkan peristiwa tersebut.
Rasulullah sedang berhadapan dengan delegasi agama lain dalam sebuah perselisihan mengenai salah satu persoalan akidah yang sangat besar:
siapakah Isa?
Allah kemudian memerintahkan mubahalah.
Kalau tujuan Rasulullah sekadar memperlihatkan dukungan umat Islam, beliau mempunyai banyak pilihan.
Beliau dapat membawa tokoh-tokoh Muhajirin.
Tokoh Ansar.
Para pembesar kabilah.
Para sahabat senior.
Pasukan.
Atau sekelompok besar kaum muslimin.
Tetapi riwayat Sahih Muslim hanya menyebut empat orang yang beliau panggil:
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain. (Sunnah)
Itu bukan massa.
Itu adalah:
pilihan.
Dan semakin sedikit orang yang dipilih, semakin penting pertanyaan:
Mengapa mereka?
⸻
KELUARGA YANG SAMA MUNCUL LAGI
Kita baru saja selesai membahas Ayat Tathir.
Di sana Hadis Kisa memperlihatkan:
- Muhammad.
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
Sekarang kita masuk ke Mubahalah.
Siapa yang muncul?
- Muhammad.
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
Kelompok yang sama.
Dua ayat berbeda.
Dua konteks berbeda.
Tathir:
kesucian.
Mubahalah:
pertaruhan kebenaran risalah.
Dan Rasulullah membawa keluarga yang sama. Sahih Muslim secara eksplisit menghubungkan Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dengan pelaksanaan ayat Mubahalah, sementara tradisi tafsir juga mencatat keempat nama tersebut sebagai rombongan Nabi. (Sunnah)
Di sinilah pendekatan kita mulai berubah.
Kita tidak lagi membaca ayat sebagai potongan-potongan terpisah.
Kita mulai melihat:
pola.
⸻
HASAN DAN HUSAIN: “ANAK-ANAK KAMI”
Kategori pertama:
أَبْنَاءَنَا
“anak-anak kami.”
Siapa yang dibawa Rasul?
- Hasan.
- Husain.
Mereka secara biologis adalah cucu Rasulullah SAW melalui Sayidah Fatimah az-Zahra.
Namun dalam struktur Mubahalah, keduanya merealisasikan kategori:
- anak-anak Rasulullah.
Bahkan tafsir Sunni yang tidak menerima seluruh konsekuensi teologis Imamiyah tetap mengakui bahwa kata abna’ana dapat mencakup cucu, dan secara khusus menghubungkannya dengan Hasan dan Husain. (Quran.com)
Ini mempunyai konsekuensi yang sangat besar bagi pembacaan keluarga Nabi.
Hasan dan Husain bukan sekadar:
“cucu dari anak perempuan.”
Dalam bahasa wahyu yang diterapkan Rasul melalui Mubahalah, mereka adalah bagian dari:
أَبْنَاءَنَا
anak-anak kami.
⸻
INI SEKALIGUS MENJAWAB LOGIKA “KETURUNAN HANYA MELALUI LAKI-LAKI”
Kita telah membahas Surah al-Kautsar.
Rasulullah SAW pernah diejek abtar karena putra-putra beliau tidak hidup sampai dewasa.
Tetapi sejarah memperlihatkan bahwa keturunan beliau berlanjut melalui Fatimah.
Sekarang Ayat Mubahalah memberi kita bahasa yang sangat penting.
Hasan dan Husain—anak Fatimah—masuk sebagai:
أَبْنَاءَنَا
anak-anak Rasulullah.
Al-Mizan bahkan membawa riwayat argumentasi Imam Musa al-Kazhim yang menggunakan Ayat Mubahalah bersama ayat-ayat tentang keturunan para nabi untuk menegaskan bahwa keturunan melalui seorang perempuan tetap dapat dinisbatkan kepada kakeknya; dalam konteks itu Hasan dan Husain menjadi abna’ Rasulullah melalui Fatimah. (Al-Islam.org)
Dengan demikian, Surah al-Kautsar dan Ayat Mubahalah mulai berbicara satu sama lain.
Muhammad tidak terputus.
Fatimah menjadi pusat kesinambungan.
Dan Hasan-Husain disebut melalui bahasa:
anak-anak kami.
⸻
FATIMAH: SATU PEREMPUAN UNTUK “PEREMPUAN-PEREMPUAN KAMI”
Kategori berikutnya:
نِسَاءَنَا
“perempuan-perempuan kami.”
Bentuknya jamak.
Tetapi siapa yang dibawa Nabi?
Fatimah.
- Satu perempuan.
Tradisi tafsir tentang Mubahalah memang menggambarkan Rasulullah datang bersama putrinya Fatimah, dua cucunya Hasan dan Husain, serta Ali. (Quran.com)
Ini sangat penting.
Rasulullah SAW mempunyai istri.
Mempunyai kerabat perempuan.
Ada perempuan-perempuan muslim yang sangat mulia.
Tetapi ketika Allah memerintahkan:
نِسَاءَنَا
Rasul membawa:
- Fatimah.
Bukan karena perempuan lain tidak mempunyai kehormatan.
Tetapi dalam peristiwa ini, Nabi memilih satu perempuan untuk berdiri sebagai representasi keluarga risalah.
Itu adalah kedudukan yang sangat besar.
⸻
JANGAN TERLALU CEPAT MELEWATI FAKTA BAHWA HANYA FATIMAH YANG DIBAWA
Kadang Mubahalah dibahas begitu cepat sehingga nama Fatimah seperti hanya bagian dari daftar.
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
Selesai.
Padahal kita harus berhenti.
Ayat mengatakan:
“perempuan-perempuan kami.”
Rasulullah membawa:
satu perempuan.
Fatimah.
Ini berarti dalam peristiwa teologis sebesar Mubahalah, Fatimah sendiri cukup untuk merepresentasikan kategori:
نِسَاءَنَا
Perempuan-perempuan dari pihak Rasul.
Apakah ini sekadar kedudukan biologis sebagai putri?
Sulit melihatnya sesederhana itu.
Mubahalah adalah peristiwa ketika laknat Allah akan dimohonkan terhadap pihak yang berdusta.
Rasul tidak membawa seorang manusia hanya karena hubungan emosional kepadanya.
Manusia yang dibawa harus menjadi orang yang beliau percayai berada sepenuhnya dalam kebenaran risalah.
Dan Fatimah berada di sana.
⸻
FATIMAH TIDAK HANYA BERADA DI RUMAH WAHYU—IA BERDIRI MEMBAWA KEBENARAN WAHYU
Ayat Tathir memperlihatkan Fatimah sebagai bagian Ahlul Kisa.
Al-Kautsar memperlihatkan bagaimana beliau menjadi pusat kesinambungan keluarga Nabi dalam pembacaan historis kita.
Sekarang Mubahalah memperlihatkan beliau dalam posisi baru:
wakil perempuan dari rumah Muhammad ketika kebenaran risalah dipertaruhkan.
Ini membuat Sayidah Fatimah sangat sulit direduksi menjadi:
“putri Rasul yang salehah.”
Beliau adalah figur teologis.
Kehadirannya sendiri mempunyai makna dalam wahyu.
⸻
DAN SEKARANG KITA SAMPAI PADA KATA YANG PALING MENGGETARKAN
Kategori ketiga:
أَنْفُسَنَا
anfusanā.
“Diri-diri kami.”
Di sinilah Ayat Mubahalah menjadi salah satu ayat paling penting mengenai Imam Ali as.
Rasulullah tentu berada di dalam peristiwa itu sebagai orang yang diperintah Allah:
فَقُلْ
“katakanlah…”
Beliau adalah orang yang mengajak.
Lalu ketika kategori ayat direalisasikan:
Hasan dan Husain memenuhi kategori anak.
Fatimah memenuhi kategori perempuan.
Tersisa Ali.
Al-Mizan membaca struktur ini secara tegas: peserta pihak Islam adalah Nabi, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain; dengan demikian terdapat dua “diri”, dua anak, dan satu perempuan. Dalam tradisi Imamiyah, Ali adalah realisasi anfusanā—“diri kami.” (Al-Islam.org)
Di sinilah kita perlu sangat hati-hati.
Karena maknanya sangat besar.
⸻
APAKAH “ALI ADALAH DIRI NABI” BERARTI ALI = MUHAMMAD?
Tidak.
Tentu tidak.
Ali bukan Muhammad secara personal.
Ali tidak menjadi satu zat dengan Rasulullah SAW.
Ia bukan nabi.
Tidak menerima kenabian Muhammad.
Tidak mempunyai seluruh kekhususan Rasulullah.
Maka kata:
أَنْفُسَنَا
tidak boleh dibaca sebagai identitas ontologis.
Al-Qur’an memakai bahasa kedekatan, representasi, dan penyetaraan dalam sisi yang relevan dengan konteks—bukan penghapusan perbedaan individu.
Ali tetap Ali.
Muhammad tetap Muhammad.
Tetapi justru setelah batas itu jelas, pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih besar:
Kalau Ali bukan Nabi dan bukan pribadi Muhammad, mengapa Rasulullah membawanya sebagai manusia yang masuk ke dalam ungkapan “diri kami”?
Itulah keutamaannya.
⸻
KATA YANG DIPILIH BUKAN “SAHABAT KAMI”
Allah tidak berkata:
أَصْحَابَنَا
“sahabat-sahabat kami.”
Tidak:
“kerabat kami.”
Tidak:
“penolong kami.”
Tidak pula:
“laki-laki kami.”
Tetapi:
أَنْفُسَنَا
“diri-diri kami.”
Ini adalah bahasa kedekatan yang sangat kuat.
Dalam tradisi Imamiyah, kata ini dipahami sebagai salah satu dalil terbesar tentang kedudukan Imam Ali setelah Rasulullah SAW: bukan kesamaan dalam kenabian, melainkan kedekatan dan keserupaan paling tinggi dalam kualitas-kualitas yang dapat dimiliki selain kekhususan kenabian.
Al-Mizan secara eksplisit menguraikan argumentasi Imam ar-Ridha bahwa Hasan-Husain adalah “anak-anak kami”, Fatimah “perempuan kami”, dan Ali “diri kami”. (Al-Islam.org)
⸻
MENARIKNYA, SAHIH MUSLIM MENEMPATKAN MUBAHALAH BERSAMA DUA KEUTAMAAN ALI LAINNYA
Riwayat Sahih Muslim yang mencatat Mubahalah berasal dari Sa‘d bin Abi Waqqash.
Dalam riwayat yang sama, Sa‘d menyebut tiga hal tentang Imam Ali yang membuatnya enggan mencelanya.
Pertama, Rasulullah SAW pernah berkata kepada Ali bahwa kedudukannya terhadap Nabi seperti kedudukan Harun terhadap Musa, dengan pengecualian:
tidak ada kenabian setelah Muhammad.
Kedua, pada Khaibar Nabi berkata akan memberikan panji kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul serta dicintai Allah dan Rasul—lalu memanggil Ali.
Ketiga, ketika Ayat Mubahalah turun, Rasulullah memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain dan menyatakan mereka sebagai keluarganya. (Sunnah)
Ini menarik bukan karena otomatis membuktikan semua doktrin Imamiyah.
Tetapi karena satu riwayat sahih menempatkan tiga keutamaan besar Ali secara berdampingan:
Manzilah Harun.
Khaibar.
Mubahalah.
Dan pada Hadis Manzilah justru terdapat batas yang sangat jelas:
tidak ada kenabian setelah Muhammad.
Maka ketika kita mengatakan Ali berada dalam anfusanā, tidak ada alasan membuatnya nabi.
Rasul sendiri telah menetapkan batas.
⸻
“NAFS RASUL” DALAM SELURUH HAL KECUALI KENABIAN?
Di sini perlu kehati-hatian.
Sebagian argumentasi teologis Syiah menyatakan: jika Ali ditempatkan sebagai nafs Rasul, maka ia memiliki keutamaan yang sangat dekat dengan Rasul dalam semua kesempurnaan yang dapat dibagikan kepada selain Nabi, sementara sifat-sifat eksklusif kenabian tetap dikecualikan.
Secara argumentatif, ini masuk akal dalam kerangka Imamiyah.
Tetapi kita sebaiknya tidak mengatakan:
“Semua sifat Nabi otomatis identik pada Ali.”
Itu terlalu mutlak.
Nabi mempunyai kekhususan yang bukan hanya kenabian dalam arti sempit.
Yang aman dan lebih tepat adalah:
Ayat Mubahalah memberikan kepada Ali sebuah kedekatan dan kehormatan yang luar biasa dengan pribadi Rasulullah; konsekuensi tepat dari kedekatan itu kemudian harus dibaca bersama dalil lain.
Dan ketika dalil lain seperti Hadis Manzilah, Ghadir, Wilayah, Tsaqalain dan ilmu Ali diletakkan berdampingan, argumentasi Imamah menjadi semakin kuat.
Sekali lagi:
jaringan dalil.
Bukan satu ayat dipaksa menanggung seluruh teologi.
⸻
ADA TAFSIR YANG MENCOBA MEMASUKKAN ALI KE DALAM “ANAK-ANAK KAMI”
Kita juga harus menyebut keberatan yang ada.
Ma‘arif al-Qur’an, sebuah tafsir Sunni, menerima bahwa Hasan dan Husain adalah cucu yang masuk dalam kata abnā’anā, tetapi juga mencoba mengatakan bahwa Ali dapat dimasukkan dalam kategori “anak-anak kami” karena ia dibesarkan dalam asuhan Rasul dan diperlakukan seperti anak, lalu menolak argumentasi Syiah bahwa Ali adalah realisasi anfusanā. (Quran.com)
Kita perlu menghormati bahwa tafsir demikian memang ada.
Tetapi kita juga boleh mempertanyakannya.
Ali adalah:
sepupu Nabi.
Menantu Nabi.
Seorang laki-laki dewasa dalam peristiwa Mubahalah.
Hasan dan Husain sudah tersedia secara sangat alami sebagai realisasi:
أَبْنَاءَنَا
anak-anak kami.
Fatimah sebagai:
نِسَاءَنَا
perempuan kami.
Lalu mengapa Ali harus dipindahkan secara metaforis ke kategori “anak” sementara kategori:
أَنْفُسَنَا
masih memerlukan realisasi selain Rasul yang mengundangnya?
Pembacaan Imamiyah secara struktural terasa jauh lebih sederhana:
Hasan-Husain:
abnā’anā.
Fatimah:
nisā’anā.
Ali:
anfusanā.
Tidak perlu membuat Ali menjadi “anak” metaforis Rasul untuk menghindari konsekuensi kata anfusana.
⸻
JUSTRU SATU PEREMPUAN DAN SATU “NAFS” MENUNJUKKAN BAHWA BENTUK JAMAK TIDAK HARUS BERARTI BANYAK INDIVIDU
Ini penting pula dalam pembacaan bahasa.
Ayat memakai:
abnā’anā — bentuk jamak.
nisā’anā — bentuk jamak.
anfusanā — bentuk jamak.
Tetapi kenyataan pelaksanaan Nabi menurut riwayat adalah:
dua anak,
satu perempuan,
dan satu manusia selain Rasul yang masuk dalam kategori “diri”. Al-Mizan secara khusus menekankan bahwa bentuk jamak dalam ayat tidak menjadi masalah walaupun realisasinya pada peristiwa itu hanya satu perempuan dan satu “diri”; bahasa Al-Qur’an dapat memakai kategori plural untuk kelas yang realisasinya pada suatu peristiwa tertentu sedikit. (Al-Islam.org)
Ini penting bagi metodologi kita.
Kita tidak boleh memutuskan makna hanya dari jumlah gramatikal.
Kita harus melihat:
bagaimana Rasul melaksanakan ayat.
⸻
MUBAHALAH BUKAN ACARA UNTUK MEMAMERKAN KELUARGA
Ada pertanyaan yang harus kita ajukan:
Mengapa Rasulullah membawa keluarganya ke dalam sebuah doa yang mengundang laknat Allah terhadap pihak yang berdusta?
Kalau sekadar ingin memperlihatkan kebanggaan keluarga, tempatnya sangat tidak tepat.
Mubahalah mempunyai risiko spiritual yang sangat serius.
Al-Mizan menekankan bahwa membawa anak dan perempuan ke dalam mubahalah menunjukkan keyakinan penuh pihak yang mengajak terhadap kebenaran klaimnya: seseorang tidak akan membawa manusia yang paling dicintainya ke dalam doa semacam itu jika ia ragu terhadap kebenaran dirinya. (Al-Islam.org)
Jadi pilihan Rasul merupakan pernyataan dalam bentuk tindakan:
Aku begitu yakin terhadap kebenaran yang kubawa sehingga manusia-manusia paling dekat denganku berdiri bersamaku di hadapan Allah.
Dan manusia-manusia itu:
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
⸻
MEREKA BUKAN HANYA MENONTON NABI BERMUBAHALAH
Ini bagian yang sangat penting.
Ayat berakhir:
فَنَجْعَلْ لَعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
“Lalu kita jadikan laknat Allah atas orang-orang yang berdusta.”
Perhatikan:
الْكَاذِبِينَ
“orang-orang yang berdusta.”
Bentuk jamak.
Allamah Thabathaba’i mengembangkan argumentasi menarik dari sini: mereka yang dibawa Nabi tidak sekadar menjadi penonton, sebab ayat membawa seluruh pihak ke dalam struktur mubahalah dan berbicara tentang “para pendusta”; dengan demikian Ali, Fatimah, Hasan dan Husain berada bersama Rasul sebagai pihak yang berdiri atas kebenaran klaim Islam. (Al-Islam.org)
Kita tidak harus membawa argumentasi itu lebih jauh daripada yang diperlukan.
Tetapi setidaknya jelas:
Rasulullah tidak membawa empat orang untuk berdiri beberapa meter di belakang sebagai dekorasi keluarga.
Mereka adalah bagian dari:
peristiwa kebenaran.
⸻
BAYANGKAN TINGKAT KEPERCAYAAN RASULULLAH KEPADA MEREKA
Ini lebih mudah dipahami dengan analogi sederhana.
Jika seseorang harus bersumpah di hadapan Allah tentang sebuah kebenaran yang konsekuensinya sangat besar, manusia yang ia bawa untuk berdiri bersamanya bukan orang sembarangan.
Apalagi jika doanya:
laknat Allah atas pihak yang berdusta.
Rasulullah SAW membawa:
dua cucunya.
putrinya.
dan Ali.
Dengan kata lain, beliau tidak hanya mempercayai mereka secara sosial.
Beliau menempatkan mereka dalam ruang paling serius dari keyakinan risalah.
Ini adalah kepercayaan spiritual pada tingkat tertinggi.
⸻
MENGAPA TIDAK ADA ISTRI NABI DALAM MUBAHALAH?
Kita harus menyampaikan fakta tanpa mengubahnya menjadi penghinaan.
Ayat mengatakan:
نِسَاءَنَا
perempuan-perempuan kami.
Rasulullah mempunyai istri.
Tetapi menurut riwayat Sahih Muslim, perempuan yang beliau panggil bersama Ali, Hasan dan Husain adalah:
Fatimah. (Sunnah)
Apa maknanya?
Setidaknya:
Fatimah mempunyai kedudukan representatif yang sangat khusus.
Kita tidak perlu berkata:
“Karena istri-istri tidak dibawa, mereka tidak memiliki kehormatan.”
Itu tidak mengikuti secara otomatis.
Tetapi kita juga tidak boleh mengecilkan fakta bahwa ketika kategori perempuan dalam peristiwa mubahalah diwujudkan Rasul:
Fatimah yang dipilih.
Itu keutamaan yang tidak kecil.
⸻
MENGAPA TIDAK ADA SAHABAT LAIN?
Pertanyaan yang sama berlaku.
Tidak perlu merendahkan sahabat lain.
Sebagian sahabat mempunyai keutamaan besar.
Tetapi pada Mubahalah, riwayat sahih menyebut:
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain. (Sunnah)
Kita harus belajar satu etika ilmiah sederhana:
mengakui pilihan tidak sama dengan menghina yang tidak dipilih.
Kalau seorang guru memilih satu murid untuk tugas tertentu, kita dapat mengakui kekhususan murid itu tanpa mengatakan semua murid lain buruk.
Demikian pula Mubahalah.
Fokus kita bukan:
“Siapa yang tidak dibawa?”
Tetapi:
“Apa arti bahwa mereka inilah yang dibawa?”
⸻
MUBAHALAH MEMPERJELAS SIAPA “AHL” NABI
Menarik sekali bahwa riwayat Sahih Muslim ditutup dengan ucapan Rasulullah:
اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي
“Ya Allah, mereka adalah keluargaku.” (Sunnah)
Kita baru saja selesai membahas Ayat Tathir.
Di sana pertanyaan kita:
Siapa Ahlul Bait?
Sekarang dalam Mubahalah Rasul kembali membawa:
- Ali.
- Fatimah.
- Hasan.
- Husain.
Dan mengatakan:
mereka adalah ahliku.
Artinya, Tathir dan Mubahalah bukan dua dunia yang terpisah.
Mereka saling menerangkan.
⸻
AYAT TATHIR BERBICARA TENTANG KESUCIAN; MUBAHALAH MEMPERLIHATKAN KEPERCAYAAN
Susunannya menjadi sangat indah.
Ayat Wilayah:
otoritas.
Ayat Tathir:
kesucian.
Ayat Mubahalah:
kedekatan dan kepercayaan Rasul.
Satu pertanyaan mulai terbentuk:
Kalau Allah hendak memberikan umat seorang rujukan setelah Rasul, manusia seperti apa yang layak?
Manusia yang:
dekat kepada Nabi.
bersih.
berilmu.
teruji.
dan berada sepenuhnya dalam kebenaran.
Kita baru tiga bagian.
Tetapi profil itu mulai terlihat.
⸻
MUBAHALAH DAN KEUTAMAAN IMAM ALI
Bagi teologi Imamiyah, kata:
أَنْفُسَنَا
adalah inti terpenting.
Argumentasinya kira-kira demikian:
Ali ditempatkan sebagai nafs Rasul dalam Mubahalah.
Tentu ia bukan Nabi karena kenabian telah dikecualikan secara tegas dalam Sunnah.
Tetapi menempatkan seorang manusia sebagai “diri” Rasul memberikan kepadanya kedekatan dan keutamaan yang sangat tinggi atas manusia lain.
Kalau sesudah wafat Nabi umat membutuhkan orang yang paling dekat kepada beliau dalam ilmu, akhlak, dan petunjuk—siapa yang lebih layak daripada manusia yang Al-Qur’an letakkan dalam kategori:
anfusanā?
Ini bukan satu-satunya dalil Imamah.
Tetapi sulit menyebutnya dalil kecil.
⸻
KALAU ALI ADALAH “NAFS”, APAKAH IA LEBIH UTAMA DARIPADA PARA NABI?
Pertanyaan seperti ini perlu dijawab hati-hati.
Kita tidak harus membawa Ayat Mubahalah kepada kesimpulan yang tidak diperlukan oleh pembahasan.
Yang sedang dibandingkan di sini adalah Ali dengan manusia di sekitar Rasulullah dan kedudukannya dalam umat Muhammad.
Tidak perlu membuat setiap keutamaan menjadi kompetisi antarpara nabi.
Allah mengetahui derajat seluruh nabi dan wali-Nya.
Fokus kita:
Ayat Mubahalah memberi Ali kedudukan yang sangat dekat kepada Rasulullah SAW.
Dan dalam persoalan siapa yang paling layak menjadi penerus petunjuk Rasul dalam umat ini, kedudukan tersebut mempunyai konsekuensi besar.
Cukup.
Jangan merusak argumen kuat dengan klaim yang lebih luas daripada yang dibutuhkan.
⸻
DAN FATIMAH SEKALI LAGI BERDIRI SEBAGAI PUSAT
Jika kita melihat struktur keluarga Mubahalah:
Muhammad.
Ali.
Fatimah.
Hasan.
Husain.
Fatimah berada tepat di tengah hubungan semuanya.
Putri Muhammad.
Istri Ali.
Ibu Hasan.
Ibu Husain.
Tanpa Fatimah, struktur biologis keluarga Mubahalah tidak terbentuk.
Ini kembali mengingatkan kita kepada al-Kautsar.
Seorang perempuan yang dalam logika masyarakat patriarkal mungkin dianggap tidak meneruskan nasab justru menjadi:
simpul keluarga yang dibawa Rasul ketika kebenaran risalah dipertaruhkan.
Ini bukan posisi marginal.
Fatimah berada di pusat rumah kenabian.
⸻
HASAN DAN HUSAIN JUGA MEMPUNYAI KEDUDUKAN TEOLOGIS SEJAK KECIL
Mereka masih muda.
Tetapi Rasulullah membawa mereka ke Mubahalah.
Ini membantah anggapan bahwa nilai spiritual selalu bergantung pada usia.
Hasan dan Husain belum menjadi tokoh politik.
Belum mempunyai murid besar.
Belum menjalani fase sejarah yang kelak membuat mereka terkenal.
Tetapi Rasul sudah membawa mereka.
Artinya, keutamaan mereka tidak lahir hanya dari apa yang kelak dilakukan umat kepada mereka.
Kedudukan mereka sudah diakui dalam kehidupan Rasulullah SAW.
Ini sangat penting ketika nanti kita membaca sejarah Imam Hasan dan Imam Husain.
Jangan mulai dari politik setelah Nabi.
Mulailah dari:
bagaimana Rasul memperlakukan mereka.
⸻
MUBAHALAH JUGA MENJELASKAN SIAPA KELUARGA INTI RISALAH
Dalam masyarakat seseorang dapat mempunyai keluarga besar.
Paman.
Sepupu.
Istri.
Anak.
Cucu.
Kerabat.
Tetapi ketika sebuah peristiwa membutuhkan representasi paling inti, pilihan memperlihatkan hierarki kedekatan.
Mubahalah memperlihatkan lingkaran itu:
Muhammad.
Ali.
Fatimah.
Hasan.
Husain.
Itulah sebabnya ayat ini sangat penting bagi pembahasan Ahlul Bait.
Ia bukan hanya keutamaan individu.
Ia memperlihatkan:
SEBUAH KELUARGA.
Keluarga yang sebelumnya disucikan.
Dan kini bersama-sama berdiri atas kebenaran risalah.
⸻
APA YANG DILAKUKAN DELEGASI NAJRAN?
Tradisi tafsir menyatakan bahwa ketika delegasi Kristen melihat Rasulullah datang bersama Hasan, Husain, Fatimah dan Ali, mereka akhirnya tidak melanjutkan mubahalah dan memilih penyelesaian damai. Tafsir Tazkirul Qur’an mencatat bahwa kehadiran keluarga Nabi membuat mereka mengurungkan mubahalah karena mereka memandang kesediaan Nabi membawa keluarga terdekat sebagai tanda keyakinannya terhadap kebenaran klaimnya. (Quran.com)
Kita harus berhati-hati terhadap detail dramatis yang berbeda-beda dalam berbagai riwayat.
Tidak perlu menambahkan dialog spektakuler yang sanadnya belum diperiksa.
Fakta besar yang cukup bagi kita:
Mubahalah tidak dilaksanakan sampai laknat benar-benar dimohonkan antara kedua pihak; delegasi memilih tidak meneruskannya. (Quran.com)
Tetapi Rasulullah sudah datang.
Dan beliau sudah memperlihatkan siapa yang beliau bawa.
Itulah yang penting bagi pembahasan kita.
⸻
KADANG TINDAKAN NABI LEBIH TAJAM DARIPADA PIDATO
Rasulullah tidak perlu berdiri dan mengatakan:
“Wahai umat, ketahuilah bahwa empat manusia ini mempunyai kedudukan luar biasa.”
Beliau melakukan sesuatu yang lebih kuat.
Ketika Allah berkata:
bawa anak-anakmu,
perempuanmu,
dan dirimu,
Rasul keluar bersama:
Hasan.
Husain.
Fatimah.
Ali.
Itu adalah tafsir hidup terhadap ayat.
Kadang Sunnah bukan hanya ucapan.
Sunnah adalah:
siapa yang Rasul pilih ketika Allah memerintahkan.
⸻
MUBAHALAH ADALAH SALAH SATU TEMPAT AL-QUR’AN DAN SUNNAH BERTEMU SECARA SEMPURNA
Al-Qur’an memberikan kategori.
Sunnah menunjukkan manusia.
Al-Qur’an:
أَبْنَاءَنَا
Sunnah:
Hasan dan Husain.
Al-Qur’an:
نِسَاءَنَا
Sunnah:
Fatimah.
Al-Qur’an:
أَنْفُسَنَا
Dalam pembacaan Ahlul Bait:
Ali.
Di sinilah metode memahami Al-Qur’an menjadi sangat terang.
Kalau kita hanya membaca ayat tanpa melihat tindakan Rasul, identitas kategorinya dapat tetap abstrak.
Rasulullah menjadikannya konkret.
⸻
JANGAN PULA MENGHAPUS RASULULLAH DARI “ANFUSANA”
Ada satu kekeliruan yang harus kita hindari.
Kadang dalam semangat menegaskan kedudukan Ali, orang berkata:
“Anfusana berarti Ali.”
Lalu seolah-olah Nabi sendiri tidak termasuk dalam struktur “diri kami”.
Itu juga terlalu sederhana.
Rasulullah adalah pihak utama yang memanggil.
Tradisi Imamiyah membaca Ali sebagai nafs lain yang dimasukkan bersama Nabi ke dalam kategori anfusana, bukan mengganti Rasul dari kategorinya.
Karena itu Al-Mizan berbicara tentang peserta pihak Islam sebagai:
dua diri, dua anak, satu perempuan. (Al-Islam.org)
Ini formulasi yang lebih tepat.
Muhammad adalah diri pertama.
Ali ditempatkan sebagai diri yang menyertainya dalam representasi ayat.
Justru di situlah keistimewaannya.
⸻
MENGAPA “ANFUSANA” MENJADI DALIL KEPEMIMPINAN DALAM TRADISI AHLUL BAIT?
Karena setelah Nabi, pertanyaan umat adalah:
siapa manusia paling dekat kepadanya dalam kualitas petunjuk yang dapat diwarisi?
Kalau Ali disebut melalui bahasa:
diri Rasul,
dan dalil lain mengatakan:
ia wali,
ia mempunyai manzilah seperti Harun kecuali kenabian,
ia berada dalam Ahlul Bait yang disucikan,
maka argumentasinya menjadi kumulatif.
Tradisi Imamiyah tidak semestinya berkata:
“Mubahalah sendirian sudah selesai membuktikan seluruh Imamah.”
Lebih kuat bila kita berkata:
Mubahalah memberikan salah satu kepingan terbesar dari keseluruhan bangunan.
Di sana Ali diberi bahasa kedekatan yang hampir tidak dapat dibuat lebih kuat tanpa menjadikannya nabi—dan Nabi sendiri sudah menutup kemungkinan itu.
⸻
SATU RIWAYAT SAHIH YANG SANGAT MENARIK
Kita kembali sebentar kepada Sa‘d bin Abi Waqqash.
Ketika ia menyebut tiga keutamaan Ali, salah satunya Mubahalah, ia mengatakan bahwa seandainya ia memperoleh salah satu keutamaan tersebut, itu lebih ia cintai daripada unta merah—ungkapan Arab mengenai harta yang sangat bernilai. Sahih Muslim merekam tiga keutamaan tersebut: Manzilah Harun, panji Khaibar, dan Mubahalah. (Sunnah)
Ini menunjukkan bahwa bagi generasi awal sendiri, peristiwa Mubahalah bukan episode remeh.
Ia masuk dalam daftar keutamaan besar Ali.
Maka aneh jika berabad-abad kemudian kita membaca QS 3:61 seakan kehadiran Ali di dalamnya hampir tidak berarti apa-apa.
⸻
MUBAHALAH DAN KEMAKSUMAN
Apakah Mubahalah sendirian membuktikan ‘ishmah?
Sekali lagi:
tidak perlu membuat satu ayat menanggung seluruh doktrin.
Tetapi ia sangat serasi dengan Ayat Tathir.
Bayangkan Rasulullah membawa manusia ke hadapan Allah untuk berkata:
laknat Allah atas para pendusta.
Sulit membayangkan beliau memilih manusia yang dirinya sendiri tidak dipercaya sepenuhnya dalam kebenaran risalah.
Mubahalah dengan demikian memberi penguat moral dan epistemik terhadap kesucian yang telah kita baca pada Ayat Tathir.
Tathir memberikan deklarasi.
Mubahalah memperlihatkan kepercayaan praktis Nabi.
Keduanya bertemu pada orang-orang yang sama.
⸻
DARI KESUCIAN MENUJU REPRESENTASI RISALAH
Inilah kesinambungan Bagian 2 dan Bagian 3.
Pada Tathir:
Allah berkata mereka disucikan.
Pada Mubahalah:
Rasul membawa mereka bersamanya ketika harus berhadapan dengan kebohongan.
Kesucian ternyata tidak disimpan sebagai kehormatan keluarga.
Ia mempunyai fungsi.
Manusia yang bersih dapat menjadi:
representasi kebenaran.
Dan inilah tema yang akan terus muncul dalam ayat-ayat berikutnya.
Ahlul Bait bukan sekadar keluarga yang mendapat penghargaan.
Mereka membawa:
fungsi.
⸻
MUBAHALAH JUGA MENJELASKAN MAKNA MAWADDAH YANG AKAN KITA BAHAS BERIKUTNYA
Setelah melihat:
siapa yang disucikan,
siapa yang dibawa Rasul dalam Mubahalah,
pertanyaan berikutnya menjadi sangat alami:
Bagaimana seharusnya umat memperlakukan keluarga seperti ini?
Al-Qur’an menjawab dalam QS asy-Syura 42:23:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
“Katakanlah: Aku tidak meminta kepada kalian suatu upah atas risalah ini kecuali mawaddah kepada al-qurba.”
Sekarang kata:
الْقُرْبَىٰ
“kerabat dekat”
tidak lagi muncul sebagai konsep abstrak.
Kita sudah melihat sebuah keluarga konkret.
Ali.
Fatimah.
Hasan.
Husain.
Mereka disucikan.
Mereka dibawa dalam Mubahalah.
Dan berikutnya Al-Qur’an akan berbicara tentang:
mawaddah kepada al-qurba.
Pola itu semakin sulit dianggap kebetulan.
⸻
SEBELUM MENUTUP: APAKAH MUBAHALAH BERARTI KITA BOLEH MUDAH MENANTANG ORANG BERMUBAHALAH?
Tidak.
Ini penting secara moral.
QS 3:61 datang setelah argumentasi tentang Isa disampaikan dan perselisihan mencapai titik yang sangat serius.
Mubahalah bukan permainan debat.
Bukan cara untuk menakut-nakuti lawan media sosial.
Bukan kalimat:
“Kalau yakin, ayo mubahalah!”
yang diucapkan setiap kali ego kita terluka.
Tafsir menjelaskan mubahalah sebagai langkah luar biasa setelah argumentasi agama mencapai kebuntuan. (Quran.com)
Dan lihat siapa yang melakukannya:
Rasulullah SAW.
Manusia yang mengetahui kebenaran risalahnya berdasarkan wahyu.
Maka memakai mubahalah sebagai alat pertunjukan ego justru bertolak belakang dengan kesakralan peristiwa ini.
⸻
MUBAHALAH BUKAN TENTANG KEBENCIAN KEPADA NASRANI
Ini juga penting.
Konteksnya memang perdebatan dengan delegasi Kristen Najran mengenai Isa.
Tetapi tujuan kita mempelajari ayat bukan untuk membangun kebencian kepada umat Kristen hari ini.
Ayat adalah catatan tentang sebuah perselisihan teologis.
Islam mempunyai pandangan tertentu mengenai Isa.
Kristen mempunyai pandangan berbeda.
Kita boleh menjelaskan perbedaannya dengan tegas.
Tetapi menceritakan Mubahalah tidak memberikan izin untuk kehilangan akhlak terhadap manusia yang berbeda iman.
Justru keyakinan yang kuat tidak perlu dibela dengan kebencian.
Rasulullah berargumentasi.
Menjelaskan.
Lalu ketika mubahalah tidak diteruskan, tradisi menyebut adanya penyelesaian damai. (Quran.com)
Kebenaran teologis dan adab sosial dapat berjalan bersama.
⸻
APA YANG SEBENARNYA DIBUKTIKAN AYAT MUBAHALAH?
Kalau harus diringkas secara disiplin, paling tidak ada beberapa hal.
Pertama:
Rasulullah SAW membawa Ali, Fatimah, Hasan dan Husain ketika menjalankan perintah QS 3:61. Ini ditegaskan Sahih Muslim. (Sunnah)
Kedua:
Hasan dan Husain mempunyai kedudukan sebagai anak-anak Rasulullah dalam struktur Mubahalah.
Ketiga:
Fatimah seorang diri mewakili kategori nisā’anā, menunjukkan posisi representatif yang sangat istimewa.
Keempat:
dalam pembacaan Imamiyah yang didukung struktur kategorinya, Ali menjadi realisasi anfusanā bersama Rasul—sebuah bahasa kedekatan yang sangat kuat. (Al-Islam.org)
Kelima:
keempat orang ini adalah keluarga yang sama yang berulang kali muncul di pusat pembahasan Ahlul Bait.
Keenam:
ayat ini memberikan salah satu fondasi terbesar bagi keutamaan Ahlul Bait tanpa harus memaksa ayat sendirian membuktikan seluruh doktrin Imamah.
Itu sudah sangat besar.
⸻
JANGAN KECILKAN APA YANG SUDAH BESAR
Kita tidak perlu mengatakan Ali menjadi Nabi.
Tidak.
Tidak perlu mengatakan Fatimah adalah satu-satunya perempuan saleh dalam Islam.
Tidak.
Tidak perlu mengatakan Hasan-Husain adalah satu-satunya manusia yang dicintai Nabi.
Tidak.
Klaim-klaim semacam itu justru tidak diperlukan.
Cukup katakan apa yang terjadi:
Ketika Allah memerintahkan Rasulullah membawa:
anak-anak kami,
Rasul membawa Hasan dan Husain.
Ketika diperintahkan membawa:
perempuan-perempuan kami,
Rasul membawa Fatimah.
Ketika diperintahkan membawa:
diri-diri kami,
Rasul membawa Ali bersamanya.
Dan kemudian berkata:
اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي
“Ya Allah, mereka adalah keluargaku.” (Sunnah)
Kadang kita merusak dalil yang sangat kuat karena terlalu bersemangat menambahkan hal-hal yang tidak diperlukan.
Mubahalah sudah cukup mengguncang tanpa dilebih-lebihkan.
⸻
DARI MUBAHALAH MENUJU MAWADDAH
Sekarang perjalanan kita menjadi semakin terang.
Bagian 1 — Wilayah
Ali muncul dalam pembicaraan tentang wali.
Bagian 2 — Tathir
Ali, Fatimah, Hasan dan Husain berada dalam keluarga yang disucikan.
Bagian 3 — Mubahalah
keluarga yang sama dibawa Rasulullah dalam ujian kebenaran.
Dan sekarang pertanyaan berikutnya datang:
Kalau kedudukan keluarga ini sedemikian besar, apa kewajiban umat terhadap mereka?
Al-Qur’an tidak mengatakan:
“Cukuplah mengagumi mereka.”
Ia menggunakan kata:
الْمَوَدَّةَ
Mawaddah.
Bukan sekadar rasa suka.
Bukan hanya penghormatan historis.
Tetapi cinta yang hidup.
Allah berfirman:
قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِلَّا الْمَوَدَّةَ فِي الْقُرْبَىٰ
Dan di sanalah pertanyaan baru dimulai:
Mengapa setelah seluruh jerih payah risalah, al-qurba diletakkan dalam pembicaraan mengenai “upah” Rasulullah SAW?
Jika Nabi tidak membutuhkan apa pun dari umat untuk dirinya, siapa sebenarnya yang memperoleh keuntungan dari mawaddah itu?
Rasulullah?
Ahlul Bait?
Atau justru:
kita sendiri?
Bagian 4
AYAT MAWADDAH
Ketika Cinta kepada Keluarga Nabi Diletakkan dalam Hubungan dengan Upah Risalah

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1MrEFvH1PS/

