Tidak ada seorang pun yang sungguh mengenal agama Allah akan mengagumi Iblis, apalagi berdiri membelanya. Tidak ada.
Kalaupun ada manusia yang secara terbuka menganggap Satan sebagai wujud spiritual yang patut dipuja atau dimuliakan, mereka dikenal sebagai penganut Satanisme teistik. Jumlah mereka sangat kecil dan identitasnya terang.
Namun, ada golongan lain yang jauh lebih banyak dan jauh lebih berbahaya: manusia yang bersahabat dengan Iblis, tetapi tidak pernah mengakuinya.
Siapa mereka?
Boleh jadi saya.
Boleh jadi Anda.
Boleh jadi orang yang setiap hari mengutuk Iblis, tetapi diam-diam memelihara seluruh sifatnya.
Iblis sesungguhnya bukan makhluk yang tidak mengenal Allah. Ia mengenal-Nya, berbicara kepada-Nya, bahkan bersumpah dengan kemuliaan-Nya. Namun, pengetahuan itu tidak menyelamatkannya karena di dalam dirinya tumbuh kesombongan:
«“Aku lebih baik daripadanya.”
(QS Al-A‘raf: 12)»
Itulah kalimat pertama dari seluruh kesombongan manusia: aku lebih baik daripada dia.
- Aku lebih baik karena nasabku.
- Aku lebih suci karena kelompokku.
- Aku lebih benar karena mazhabku.
- Aku lebih mulia karena jabatan, ilmu, kekayaan, atau banyaknya pengikutku.
Seseorang mungkin tidak pernah bersujud kepada Iblis. Namun, ketika ia menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu datang dari orang yang dianggap lebih rendah, ia sedang mengulangi kesombongan Iblis.
Ia boleh memegang tasbih, tetapi hatinya memegang keangkuhan. Ia boleh membaca a‘ūdzu billāhi minasy-syaithānir-rajīm, tetapi setelah itu mengikuti bisikan kebencian, kedengkian, kebohongan, fitnah, dan kezaliman.
Al-Qur’an tidak hanya menyuruh kita menyebut setan sebagai musuh. Allah berfirman:
«“Sesungguhnya setan adalah musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh.” (QS Fathir: 6)»
Perhatikan: perlakukanlah ia sebagai musuh.
Permusuhan terhadap Iblis bukan dibuktikan oleh kerasnya teriakan, melainkan oleh keberanian menolak bisikannya. Bukan oleh banyaknya kutukan di hadapan manusia, melainkan oleh ketaatan kepada Allah ketika tidak seorang pun melihat kita.
Dalam sebuah hikmah yang dinisbatkan kepada Imam Ali disebutkan:
«لَا تَسُبَّنَّ إِبْلِيسَ فِي الْعَلَانِيَةِ وَأَنْتَ صَدِيقُهُ فِي السِّرِّ»
«“Janganlah engkau mencaci Iblis di muka umum, sementara engkau menjadi sahabatnya dalam kesendirian.”»
Betapa tajam kalimat itu.
Kesalehan di hadapan manusia dapat dipentaskan. Akan tetapi, kesendirian tidak mengenal panggung. Di sanalah terlihat siapa yang sungguh menjadi hamba Allah dan siapa yang hanya mengenakan pakaian agama.
Iblis tidak membutuhkan pembela yang berpidato atas namanya. Ia hanya membutuhkan manusia yang mewarisi kesombongannya, menjalankan bisikannya, lalu membungkus semuanya dengan bahasa agama.
Karena itu, pertanyaan terpenting bukanlah, “Siapa kelompok penyembah Iblis di luar sana?”
Pertanyaan yang jauh lebih menakutkan ialah:
Adakah sifat Iblis yang sedang saya pelihara di dalam diri saya?
Sebab kemenangan terbesar Iblis bukanlah ketika manusia berani memujinya secara terbuka. Kemenangan terbesarnya adalah ketika manusia mengutuk namanya dengan lantang—tetapi memeluk sifatnya dalam kesendirian.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Cn8M8wm9g/

