Malam turun di tepian Eufrat.
Pasukan bergerak menuju Shiffin. Ribuan kaki kuda menghantam tanah, menerbangkan debu yang menutupi cakrawala. Di kejauhan, di atas bukit batu yang sunyi, berdiri sebuah biara tua.
Di balik jendelanya, seorang rahib renta memandangi panji-panji yang mendekat.
Tangannya gemetar.
Bukan karena takut kepada pasukan.
Tetapi karena ia teringat pesan yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya.
Di ruang paling tersembunyi biara itu tersimpan sebuah peti tua. Di dalamnya terdapat kitab yang telah berpindah dari tangan ayah kepada anak—dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Konon kitab itu berasal dari zaman Nabi Isa.
Sebagian mengatakan ia ditulis oleh para hawari. Sebagian lainnya menyebut tulisan itu berasal dari tangan Syam‘un ash-Shafa—Simon Petrus—washi dan penjaga risalah Nabi Isa.
Di antara baris-barisnya tercantum sebuah kabar:
Akan datang seorang Nabi dari bangsa Arab.
Setelahnya akan tampil seorang lelaki saleh di tepian Eufrat. Ia memerintahkan kebaikan, mencegah kezaliman, dan memutuskan perkara dengan kebenaran.
Namun umatnya sendiri akan memeranginya.
Barang siapa hidup pada zamannya, hendaklah berdiri bersamanya.
Dan barang siapa gugur di sisinya, kematiannya adalah kesyahidan.
Rahib itu telah membaca kalimat tersebut berulang-ulang sepanjang hidupnya.
Ia hanya tidak pernah membayangkan bahwa hari yang dijanjikan itu akhirnya tiba.
Dari jendela biara, matanya menyusuri ribuan wajah.
Lalu pandangannya berhenti kepada seorang lelaki yang berjalan di tengah pasukan—sederhana pakaiannya, tenang langkahnya, tetapi seakan seluruh pasukan beredar mengelilingi dirinya.
Ali bin Abi Thalib.
Jantung sang rahib berguncang.
Ia berlari menuju ruang rahasia, membuka peti tua, lalu mengangkat kitab itu dengan kedua tangannya. Ia turun dari biara, menembus debu dan barisan prajurit.
Ketika sampai di hadapan Ali, napasnya tersengal.
Namun sebelum ia sempat menjelaskan apa yang dibawanya, Ali memandangnya dan berkata,
“Di manakah kitab Syam‘un ash-Shafa?”
Dunia sang rahib seakan berhenti.
Tak seorang pun mengetahui kitab itu.
Tak seorang pun pernah melihat tempat persembunyiannya.
Rahasia tersebut hanya diwariskan kepada orang-orang tertentu dalam keluarganya.
Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kitab itu.
Lembaran-lembaran tua dibuka.
Sang rahib mulai membaca kabar tentang Nabi terakhir—Muhammad, Rasul Allah—kemudian tentang seorang lelaki dari keluarganya yang akan berdiri di tepian Eufrat, menegakkan kebenaran ketika manusia telah terbelah oleh fitnah.
Semakin ia membaca, semakin deras air matanya mengalir.
Setiap sifat yang tertulis di dalam kitab itu berdiri hidup di hadapannya.
Ketika bacaan itu selesai, Ali menundukkan kepala.
Bukan karena terkejut.
Bukan pula karena membutuhkan sebuah kitab untuk meyakini kedudukannya.
Dengan mata yang basah, beliau berkata,
“Segala puji bagi Allah yang tidak melupakanku di dalam kitab orang-orang saleh.”
Rahib itu jatuh berlutut.
Selama hidupnya, ia menjaga kitab tersebut.
Namun pada malam itu ia menyadari—
sebenarnya kitab itulah yang telah menjaganya.
Menjaganya agar tidak tersesat ketika lelaki yang dijanjikan akhirnya datang.
Sang rahib menyatakan keimanannya.
Ia menutup pintu biaranya, meninggalkan kesunyian yang telah menemaninya puluhan tahun, lalu mengenakan pakaian perjalanan.
“Ke mana engkau akan pergi?” seseorang bertanya.
Ia memandang Ali yang sedang berjalan menuju Shiffin.
“Kitab ini memerintahkanku untuk menolongnya.”
Ia pun masuk ke dalam barisan.
Seorang lelaki tua tanpa nama besar.
Tanpa pasukan.
Tanpa ambisi dunia.
Hanya membawa keyakinan yang telah menyeberangi berabad-abad.
Ketika peperangan Shiffin berkobar, sang rahib berdiri di sisi Ali. Pedang-pedang beradu, anak-anak panah menghitamkan langit, dan bumi Eufrat memerah oleh darah.
Pada hari itu, tubuhnya ditemukan di antara mereka yang gugur.
Kitab yang dijaganya sepanjang hidup telah mengantarkannya kepada Ali.
Dan Ali telah mengantarkannya kepada kesyahidan.
Ia turun dari biaranya sebagai seorang rahib—
tetapi naik menuju Tuhannya sebagai seorang pembela Amirul Mukminin.
Berabad-abad lamanya keluarganya menunggu lelaki yang tertulis di dalam kitab itu.
Ketika akhirnya Ali datang…
sang rahib tidak hanya membacakan nubuat tersebut.
Ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk membuktikan bahwa ia mempercayainya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan:
Riwayat ini hadir dalam beberapa redaksi tradisi manaqib: ada yang menyebut rahib tersebut keturunan Syam‘un dan kitabnya bertuliskan tangan Syam‘un; ada pula yang menyebut kitab warisan para pengikut Nabi Isa.
Ringkasan riwayat Syam‘un dan biara, teks beberapa jalur riwayat.
Saya juga pernah menulis versi yang berbeda, pertemuan langsung Syam’un (Simon) dengan Imam Ali. Di Madinah. Tapi saya memilih versi ini karena kisahnya diceritakan dalam banyak maqtal yang berhubungan dengan Imam Ali.
Syam’un diyakini sebagai Washi Nabi Isa as, yang juga terdzalimi. Keturunan mereka akan bertemu kelak melahirkan Imam Zaman afs.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1FNuvD6Egn/

