15 October 2026

1. Pendahuluan & Mukadimah Kajian

Kajian diawali dengan puji syukur kepada Allah SWT serta pembacaan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.
Ustaz Abdillah Baabud menyampaikan bahwa kajian ini merupakan program rutin tafsir sederhana setiap dua minggu sekali pada Selasa malam, yang mana kali ini melanjutkan pembahasan tafsir Surah An-Nas setelah pekan sebelumnya membahas Surah Al-Falaq.

2. Klasifikasi & Keutamaan Surah An-Nas

  • Klasifikasi:
    Surah An-Nas mayoritas ulama berpendapat tergolong Surah Makkiyah dan terdiri atas 6 ayat.
  • Makna Kata Qul:
    Kata “Qul” (Katakanlah) terulang lebih dari 300 kali di dalam Al-Qur’an. Kata ini biasanya diikuti dengan perintah Allah atau jawaban atas pertanyaan umat.
    Pada Surah Al-Falaq dan An-Nas, perintah ini ditujukan kepada pribadi Rasulullah SAW sebagai uswah (teladan) bagi seluruh umat untuk senantiasa berlindung kepada Allah.
  • Asbabun Nuzul & Keutamaan:
    Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas (Al-Mu’awwidzatain) diriwayatkan turun secara bersamaan.
    Diriwayatkan saat Rasulullah SAW mengalami sakit keras, Malaikat Jibril berada di sisi kepala beliau membaca Surah Al-Falaq, sedangkan Malaikat Mikail berada di sisi kaki beliau membaca Surah An-Nas untuk memohon perlindungan.

3. Perbedaan Utama Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas

Terdapat perbedaan fundamental antara perlindungan (ta’awudz) dalam Surah Al-Falaq dan Surah An-Nas:

  1. Surah Al-Falaq:
    Berlindung dari keburukan yang bersifat eksternal (keburukan makhluk dari luar diri manusia).
  2. Surah An-Nas:
    Berlindung dari keburukan internal (was-was) yang sudah masuk dan bersumber dari dalam jiwa, hati, Nalar, logika, serta keimanan manusia.
  3. Penggunaan Sifat Allah:
    • Pada Surah Al-Falaq, perlindungan hanya menyebutkan 1 sifat Allah (Rabbil ‘Falaq).
    • Pada Surah An-Nas, perlindungan menggunakan 3 sifat Allah (Rabbinnas, Malikinnas, Ilahinnas).
    • Alasan: Keburukan internal berupa penyimpangan logika dan perusakan keimanan jauh lebih berbahaya daripada gangguan musuh eksternal (militer, ekonomi, dan fisik).

4. Terjemahan Ayat demi Ayat (Ayat 1–6)

  • Ayat 1 (Qul a’udzu birabbinnas):
    Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia” (Rabb yang memelihara, membimbing, dan mengarahkan).
  • Ayat 2 (Malikinnas):
    “Raja/Penguasa manusia” (Zat yang memiliki kepemilikan mutlak atas manusia).
  • Ayat 3 (Ilahinnas):
    “Tuhan/Sesembahan manusia”.
  • Ayat 4 (Min syarril waswasil khannas):
    “Dari keburukan pembisik (was-was) yang khannas (sembunyi-sembunyi / datang dan pergi)”.
  • Ayat 5 (Alladzi yuwaswisu fi sudurinnas):
    “Yang membisikkan (keburukan) ke dalam dada/hati manusia”.
  • Ayat 6 (Minal jinnati wannas):
    “Dari golongan jin dan manusia”.

5. Hakikat Was-was & Cara Kerja Setan

  • Objek Sasaran:
    Manusia sepanjang hidupnya menjadi sasaran bisikan was-was dari setan golongan jin maupun manusia.
  • Keputusan Tetap pada Manusia:
    Setan tidak memiliki kekuatan fisik untuk memaksa manusia berbuat jahat; mereka hanya menghembuskan bisikan.
    Keburukan baru terjadi ketika manusia menerima bisikan tersebut lalu memutuskan untuk melakukannya.
  • Incaran Golongan Alim/Ulama:
    Semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semakin besar godaan setan. Setan berusaha merusak para ulama karena jika seorang tokoh agama atau akademisi menyimpang, daya rusaknya sangat luas sebab memiliki banyak pengikut.

6. Alasan Berlindung & Konsekuensi Mengucapkan Ta’awudz

  • Allah Maha Mengetahui Niat Hati:
    Manusia diperintahkan berlindung kepada Allah karena Dia Maha Mengetahui (Ya’lamu khainatal a’yuni wa ma tukhfis sudur). Manusia kerap tertipu oleh penampilan luar yang ramah (diibaratkan pencuri yang bertamu dengan senyuman untuk mempelajari celah rumah), sedangkan Allah mengetahui niat busuk di baliknya.
  • Konsekuensi 3 Sifat Allah:
    • Rabbinnas:
      Menuntut manusia untuk bersedia hidup dalam pembinaan Ilahi (Tarbiyah Ilahiyah) dan tunduk pada aturan Allah.
    • Malikinnas:
      Menuntut manusia untuk tidak menjadi budak selain Allah (seperti budak hawa nafsu atau sesama manusia).
    • Ilahinnas:
      Menuntut manusia untuk memurnikan peribadahan dan tujuan hidup hanya kepada Allah semata.
  • Ta’awudz Lafzhi dan ‘Amali:
    Bertawaduz tidak boleh berhenti pada ucapan lisan (lafzhi), tetapi harus dibuktikan dengan perbuatan (‘amali).

    • Secara Lafzhi: Penting sebagai dzikir agar kita ingat Allah (Fazkuruni azkurkum – QS. Al-Baqarah: 152), sebab jika kita ingat Allah, perlindungan-Nya akan datang.
    • Secara ‘Amali: Manusia wajib menggunakan akal untuk menjauhi tempat dan pergaulan buruk.
      Ustaz mengibaratkan orang yang membangun rumah di bantaran sungai rawan banjir atau kawasan erupsi gunung lalu sekadar menulisi doa perlindungan tanpa mau pindah—hal itu adalah tindakan irasional yang menantang bahaya.

7. Modus Penyamaran Setan (Al-Khannas) & Pengelabuan

  • Sifat Al-Khannas:
    Setan selalu mengintai. Ketika manusia mengingat Allah (dzikrullah), setan akan mundur; namun saat manusia lengah, setan akan kembali membisikkan keburukan tanpa kenal lelah.
  • Metode Tazyin (Pengelabuan):
    Setan jarang mengajak pada kejahatan secara terang-terangan. Mereka mengemas (make up) kebatilan sehingga tampak seperti kebaikan, ibadah, atau pembelaan agama.
  • Contoh Kasus:
    Aksi terorisme dan pembunuhan yang didoktrinkan sebagai ibadah demi surga. Pelaku tertipu hingga menganggap perbuatan keji tersebut sebagai jalan kebenaran.

8. Lima Tingkatan Gangguan Setan terhadap Manusia

Ustaz Abdillah menjelaskan bahwa bentuk interaksi setan berbeda-beda tergantung tingkat keimanan manusia:

  1. Para Nabi & Rasul (Al-Auliya / Al-Maksumin):
    Setan hanya mampu membisikkan dari jarak jauh (al-qala) tanpa bisa menembus masuk.
  2. Orang Bertakwa (Al-Muttaqun):
    Setan dapat menyentuh/menjamah (mas), tetapi mereka segera teringat Allah (tadzakkaru) dan langsung sadar.
  3. Orang Awam:
    Setan dapat masuk ke dalam hati (yuwaswisu fi sudurinnas) karena ingatan mereka kepada Allah masih sedikit.
  4. Orang Fasik/Lalai (Al-Ghafilun / Al-Fujjar):
    Setan menjadi teman karibnya (fahuwa lahu qarin) yang merancang kejahatan bersama-sama.
  5. Manusia yang Menjadi Setan (Syayathinal Insi):
    Manusia yang tidak hanya jahat sendiri, tetapi aktif memprovokasi dan mengajak orang lain melakukan keburukan.

9. Keadilan Allah & Pentingnya Istiqamah

  • Niat Buruk yang Belum Dilakukan: Allah Maha Adil; niat atau rencana buruk yang bergejolak di dalam batin tidak akan diadzab selama tidak dilaksanakan atau diucapkan.
  • Bahaya Fitnah Lisan: Kejahatan lisan (fitnah, berita bohong, adu domba) sering kali lebih berat dampaknya daripada pembunuhan fisik (al-fitnatu asyaddu minal qatl).
  • Nabi Pun Diperintah Berlindung:
    Rasulullah SAW yang berada dalam zona aman sekalipun tetap diperintahkan untuk berta’awudz, menandakan bahwa manusia biasa jauh lebih membutuhkan perlindungan Allah setiap saat.
  • Jaminan Perlindungan Malaikat:
    Orang yang menyatakan “Rabbunallah” lalu istiqamah akan dijaga oleh para malaikat (QS. Fussilat: 30).

10. Kisah Iblis dan Kelompok Al-Waswasil Khannas

Ustaz mengutip riwayat dari Imam Ja’far as-Sadiq mengenai peristiwa saat turunnya ayat ampunan (QS. Ali ‘Imran: 135):

  • Ketika Allah menurunkan ayat bahwa dosa orang yang bertobat akan diampuni, Iblis naik ke atas gunung di Mekkah dan berteriak memanggil para ifrit.
  • Iblis gelisah karena khawatir kerja keras godaannya menjadi sia-sia jika manusia bertobat.
  • Pasukan Al-Waswasil Khannas maju dan menjamin tanggung jawab dengan strategi: merayu manusia dengan janji palsu hingga berbuat dosa, lalu membuat manusia lupa beristighfar.
    Mereka membuat manusia merasa sedang berbuat kebaikan sehingga tidak pernah merasa perlu bertobat.

11. Pesan Penutup & Doa Khatam Al-Qur’an

  • Nasihat Praktis:
    Manusia harus selektif dalam memilih teman bergaul, penceramah, buku bacaan, serta bijak menyikapi propaganda media sosial.
  • Doa Khatam Al-Qur’an:
    Di penghujung kajian, Ustaz membacakan doa khatam Al-Qur’an untuk memohon kelapangan dada, bimbingan raga, penerangan pandangan, serta kelancaran lisan bersama Al-Qur’an.
  • Penutup:
    Ustaz menyampaikan harapan agar kajian sederhana ini membawa keberkahan dan secercah cahaya petunjuk menuju keridhaan Allah SWT.

AB Tafsir Surah An Nas

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us