15 October 2026

1. Pembukaan Kajian

  • Pembahasan kali ini merupakan kelanjutan dari pertemuan pertama, yang berfokus mulai dari ayat kedua (Allahus-Samad), karena ayat pertama (Qul Huwallahu Ahad) telah dibahas sebelumnya.

2. Penjelasan Ayat Kedua: Allahus-Samad (اللَّهُ الصَّمَدُ)

a. Definisi Umum Makna As-Samad

  • Dari segi bahasa, kata As-Samad memiliki banyak arti. Namun, jika dirangkum dalam satu terjemahan yang mudah dipahami dan mencakup seluruh maknanya, As-Samad artinya Allah adalah Wujud/Keberadaan yang tidak bergantung pada apa pun, sementara segala sesuatu selain-Nya sepenuhnya bergantung pada-Nya.

b. Pendapat Ahli Bahasa dan Mufasir

  • Ar-Raghib Al-Isfahani (dalam Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an):
    1. Al-Sayyid alladzi yusmadu ilaihi: Tuan atau pemimpin yang menjadi rujukan dan tumpuan harapan dalam segala urusan.
    2. Al-mali’ sabiyya ajwaf: Wujud yang penuh tanpa ada kekosongan atau ruang hampa di dalam-Nya (sebagai simbol kesempurnaan mutlak Allah).

c. Lima Makna As-Samad menurut Imam Husain bin Ali (a.s.)

(Dikutip dari Tafsir Al-Amtsal):

  1. La jaufa nahu:
    Tidak ada kekosongan atau ruang hampa di dalam Dzat-Nya.
  2. Qad intaha su’duhu fi ghayatin-su’di:
    Berada di puncak keagungan dan kemuliaan (Maha Sempurna).
    Saking sempurnanya Allah, bahkan Dzat-Nya sendiri tidak dapat menambahkan manfaat/kesempurnaan pada Dzat-Nya, apalagi membutuhkan penambahan dari selain-Nya.
  3. Alladzi la ya’kulu wa la yasyrabu:
    Dzat yang tidak makan dan tidak minum (tidak butuh makanan/minuman).
  4. Alladzi la yanamu:
    Dzat yang tidak tidur dan tidak memerlukan istirahat.
  5. Alladzi lam yazal wa la yazal:
    Dzat yang tidak diawali oleh ketiadaan dan tidak diakhiri oleh ketiadaan.

d. Penafsiran Tambahan mengenai As-Samad

  • Al-muta’ali ‘anil kauni wal fasad:
    Dzat yang tidak berawal dari proses penciptaan dan tidak berakhir dengan kerusakan.
  • La syarika lahu:
    Tidak memiliki sekutu, tidak butuh bantuan apa pun, serta memiliki kemampuan penuh melakukan segala sesuatu.
  • Tidak ada sesuatu yang memberatkan Allah dan tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya.
  • Ketika hendak menciptakan sesuatu, cukup bersabda “Kun fa-yakun” (Jadilah, maka jadilah).

3. Surat Imam Husain (a.s.) kepada Penduduk Bashrah

Penduduk Bashrah pernah bersurat kepada Imam Husain bin Ali (a.s.) untuk menanyakan makna As-Samad akibat perdebatan di antara mereka.
Imam Husain membalas dengan memberikan panduan penting dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an:

  1. La takhudhu fil Qur’an:
    Jangan menyelami Al-Qur’an hanya dengan mengandalkan akal pikiran pribadi yang terbatas.
  2. La tujadilu fihi:
    Jangan berbantah-bantahan mengenai ayat Al-Qur’an, karena setiap orang berhujah atas dasar interpretasi yang belum tentu pasti benar.
  3. La tatakallamu fihi bighairi ‘ilmin:
    Jangan berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu.

Imam Husain meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:

“Barangsiapa berbicara tentang Al-Qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah ia bersiap mengambil tempatnya di neraka.”

Imam Husain menegaskan bahwa Allah sendiri telah menafsirkan arti As-Samad melalui ayat-ayat berikutnya (Lam yalid wa lam yulad wa lam yakun lahu kufuwan ahad).

4. Penjelasan Ayat Ketiga: Lam Yalid Wa Lam Yulad (لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ)

a. Pemaknaan Dzatiah

  • Lam yalid (Tidak Beranak):
    Allah tidak beranak, yang maknanya tidak ada bagian atau unsur dari Dzat Allah yang terlepas dari-Nya.

    • Tidak ada hal bersifat materi (hard) yang keluar dari-Nya (seperti melahirkan).
    • Tidak ada pula hal bersifat non-materi (soft) yang keluar dari Dzat-Nya, seperti rasa kantuk, kesedihan, duka, tawa, kecemasan, kebosanan, lapar, maupun kenyang.
    • Penglihatan Allah bukan berasal dari mata fisik, dan pendengaran Allah bukan berasal dari telinga fisik.
  • Lam yulad (Tidak Diperanakkan):
    Allah bukan merupakan wujud hasil lepasan atau pecahan dari wujud yang lain.
  • Kesimpulan umum:
    Keberadaan Allah tidak diambil dari sesuatu apa pun, dan tidak ada sesuatu pun yang diambil dari Dzat-Nya.

b. Sanggahan terhadap Keyakinan Kekeliruan Tauhid

Ayat ini menjadi penegasan dan penolakan tegas terhadap:

  1. Paham Trinitas kaum Nasrani yang menganggap Al-Masih (Nabi Isa a.s.) sebagai putra Allah.
  2. Keyakinan sebagian kaum Yahudi yang menganggap Uzair sebagai putra Allah.
  3. Kepercayaan musyrikin Arab yang menganggap para malaikat sebagai putri-putri Allah.
  4. Ditegaskan pula dalam QS. Al-Jin ayat 3 bahwa Allah tidak beristri dan tidak beranak.

5. Penafian Sifat-Sifat Makhluk dari Dzat Allah

Berdasarkan riwayat Ibnu Hanafiyyah dari Imam Ali bin Abi Thalib (a.s.), Dzat Allah Suci dari segala bentuk sifat materi/makhluk:

  • Allah bukan benda/materi (jism), tidak memiliki batas, tidak membutuhkan tempat, tidak ada kaifa (bagaimana bentuk-Nya), dan tidak ada aina (di mana lokasi-Nya).
  • Allah tidak terikat oleh ruang dan waktu; tidak dikatakan ‘berisi’ maupun ‘kosong’; tidak ada sifat berdiri, duduk, diam, maupun bergerak (karena diam dan bergerak hanya berlaku bagi wujud terbatas).
  • Tidak ada wujud rohani atau nafsani yang terbatas pada Allah; tidak ada tempat yang lepas dari-Nya, namun tidak ada tempat yang mampu menampung Dzat-Nya.
  • Tauhid pada hakikatnya adalah tajrid: memurnikan Allah dengan membersihkan Dzat-Nya dari seluruh sifat dan keterbatasan makhluk.

6. Penjelasan Ayat Keempat: Wa Lam Yakun Lahu Kufuwan Ahad (وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ)

  • Makna Ayat:
    Allah tidak ada tandingannya, tidak ada saingannya, dan tidak ada duanya dalam hal keagungan, kemuliaan, kekuasaan, maupun seluruh sifat kesempurnaan-Nya.
  • Perbedaan Sifat Allah dan Sifat Makhluk:
    • Sifat manusia (seperti ilmu dan kekuatan) terpisah dari dzatnya; manusia lahir tanpa ilmu/kekuatan, mendapatkannya, dan bisa kehilangannya kembali.
    • Sifat Allah adalah Dzat-Nya sendiri (Sifatullahi Dzatuhu); kesempurnaan Allah bersifat mutlak dan tidak pernah terpisah dari Dzat-Nya.
  • Hubungan Antarayat: Ayat pertama (Qul Huwallahu Ahad) merupakan pilar Tauhid Dzati, sedangkan ayat keempat (Wa lam yakun lahu kufuwan ahad) merupakan pilar Tauhid Sifati.

7. Konsekuensi Tauhid dan Tiga Pembagian Utama Tauhid

Pemahaman yang benar terhadap Surah Al-Ikhlas akan melahirkan keikhlasan total (al-ikhlas) dalam menyerahkan hati hanya kepada Dzat Yang Maha Segala-galanya. Secara prinsipil, tauhid terbagi menjadi:

  1. Tauhid Dzati:
    Meyakini bahwa Allah itu Satu dalam Dzat-Nya, tidak tersusun dan tidak ada duanya.
  2. Tauhid Sifati:
    Meyakini bahwa sifat-sifat kesempurnaan Allah tidak ada yang mampu menandingi-Nya.
  3. Tauhid Af’ali:
    Meyakini bahwa dalam setiap perbuatan-Nya, Allah tidak memerlukan bantuan selain-Nya (La mu’atstsira fil wujudi illallah — tidak ada yang memiliki pengaruh secara independen di alam semesta selain Allah).

8. Cabang-Cabang Tauhid Af’ali dalam Kehidupan Nyata

Sebagai konsekuensi logis dari keyakinan Tauhid Af’ali, kehidupan seorang mukmin harus mencerminkan nilai-nilai berikut:

  1. Tauhidul Khaliqiyyah (Keesaan Penciptaan):
    Meyakini bahwa satu-satunya Pencipta secara independen hanyalah Allah.
  2. Tauhidur Rububiyyah (Keesaan Pengaturan):
    Meyakini bahwa yang mengatur, mengendalikan, dan mengurus alam semesta secara mutlak hanyalah Allah.
  3. Tauhidut Taqnin wat Tasyri’ (Keesaan Hukum/Syariat):
    Meyakini bahwa satu-satunya Dzat yang berhak menentukan aturan, syariat, etika, dan hukum kehidupan adalah Allah (merujuk QS. Al-Ma’idah: 44).
  4. Tauhidul Malikiyyah (Keesaan Kepemilikan):
    Meyakini bahwa Pemilik sejati dari seluruh alam semesta—termasuk diri kita sendiri—hanyalah Allah (QS. Ali ‘Imran: 189).
  5. Tauhidul Hakimiyyah (Keesaan Pemerintahan/Kepemimpinan):
    Meyakini bahwa hak kepemimpinan sejati berada di tangan Allah, yang kemudian didelegasikan kepada insan-insan ilahi (para nabi dan imam/ulil amri yang ditunjuk Allah).
  6. Tauhiduth Tha’ah (Keesaan Ketaatan):
    Ketaatan mutlak hanya diperuntukkan kepada Allah, Rasul-Nya, dan Ulil Amri yang ditetapkan oleh-Nya.

9. Penutup Kajian

  • Ustadz Abdillah Baabud menutup kajian dengan doa agar kita dapat semakin menghayati dan mengamalkan makna tauhid dalam seluruh dimensi kehidupan.

AB Tafsir Surah Al Ikhlas

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us