12 October 2026

1. Pembukaan & Poin Utama Wasiat

Kajian ini merupakan kelanjutan pembahasan Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib Alaihissalam kepada putranya, Imam Hasan Al-Mujtaba Alaihissalam, pada pertemuan yang ke-5.
Setelah sebelumnya membahas poin-poin seperti menghidupkan hati dengan nasihat (ahyi qalbaka bin-nashihah), mematikan hawa nafsu dengan kezuhudan (wa amithu biz-zuhd), menguatkan hati dengan keyakinan (wa qawwihi bil-yaqin), dan meneranginya dengan hikmah (wa nawwirhu bil-hikmah), kini masuk pada bagian berikutnya:

“Wa dzalilhu bi dzikril maut” (Hinakan/rendahkan dan sadarkan hatimu dengan mengingat kematian).

Keangkuhan, kesombongan, serta tindakan melampaui batas pada diri manusia terjadi karena ia lupa bahwa dirinya hanyalah calon mayat yang tak lama lagi akan menghadapi kematian.
Jika seseorang jarang mengingat kematian, pelbagai sifat buruk seperti keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan akan menguasai hatinya. Obat utama dari penyakit-penyakit hati tersebut adalah membiasakan diri merendahkan hati dengan mengingat kematian.

2. Keutamaan dan Manfaat Mengingat Kematian (Dzikrul Maut)

Dalam berbagai riwayat dari Rasulullah SAW dan Ahlulbait Alaihissalam, mengingat kematian merupakan hal yang sangat ditekankan. Ditegaskan dalam hadis bahwa “Afdhalul ‘ibadah dzikrul maut” (Sebaik-baik ibadah adalah mengingat kematian).

Kematian bukanlah peristiwa yang dapat direncanakan atau dijadwalkan; ia bisa datang secara tiba-tiba kapan saja. Mengingat kematian menjaga manusia agar selalu dalam keadaan siaga dan siap.

Pelajaran dari Riwayat-Riwayat Kematian:

  1. Menjaga Batas Kegembiraan:
    Rasulullah SAW pernah menegur suatu majelis yang dipenuhi tawa berlebihan untuk mengingat penghancur kelezatan (mushadimul ladzzat/muqaddhirul ladzzat), yaitu kematian, agar kegembiraan dan tawa tidak melampaui batas hingga menghabiskan waktu demi kesenangan duniawi belaka.
  2. Ciri Orang Mukmin Cerdas:
    Rasulullah SAW bersabda bahwa orang mukmin yang paling cerdas (akyasul mu’minin) adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling mempersiapkan diri menghadapinya.
    Puncak kehidupan adalah kematian (al-maut), dan kebahagiaan sejati baru dimulai pasca-kematian.
  3. Pembersih Dosa dan Keserakahan:
    Banyak mengingat kematian akan menghapuskan dosa-dosa dan membebaskan jiwa dari jeratan kerakusan harta duniawi.
  4. Penyeimbang Kondisi Jiwa:
    Saat dalam keadaan kaya raya, ingat mati mencegah seseorang dari sifat sombong dan membantunya memandang harta secara proporsional.
    Sebaliknya, saat dalam keadaan miskin, ingat mati mencegah seseorang dari rasa berkecil hati serta membimbingnya untuk ridha dan rela dengan rezeki yang ada.
  5. Kemudahan Sakaratul Maut & Hati yang Hidup:
    Allah SWT akan menghidupkan hati hamba yang banyak mengingat kematian dan mempermudah baginya proses sakaratul maut karena ia telah akrab dan bersiap melaluinya.
  6. Meringankan Ujian & Musibah Dunia:
    Dengan membayangkan (mendramatisasi) dalam benak suasana hari kebangkitan dan perhitungan Ilahi (hisab), pelbagai musibah duniawi akan terasa jauh lebih ringan.
  7. Meluaskan Rezeki & Meredakan Syahwat:
    Mengingat kematian menjadi dinding pemisah dari gejolak hawa nafsu (syahwat) serta membawa keberkahan berupa kelapangan rezeki dari Allah SWT.
  8. Mendorong Sikap Zuhud Sejati:
    Zuhud bukanlah bermalas-malasan, melainkan bekerja dan berproduksi secara maksimal, namun mengonsumsi untuk diri sendiri secara minimal serta membagikan sisanya untuk kemaslahatan orang lain.

3. Menyadari Kefanaan dan Petaka Dunia (Qarrirhu bil-Fana & Bhashshirhu bi Fajai’id-Dunya)

Lanjutan pesan Imam Ali as menekankan dua poin penting berikutnya:

  • “Qarrirhu bil-fana”
    (Sadarkan hatimu bahwa engkau akan fana): Ingatkan diri bahwa tubuh ini terus menua dan melemah menuju kematian, sehingga tidak sepatutnya mengisi hidup selain dengan kebaikan.
  • “Bhashshirhu bi fajai’id-dunya”
    (Sadarkan hatimu akan petaka dan musibah dunia): Dunia tidak pernah memberi jaminan keamanan mutlak—jiwa, harta, ketenangan, dan kesejahteraan selalu dibayangi ancaman bencana, wabah, perang, dan fitnah. Bahkan manusia-manusia mulia seperti para nabi dan imam pun menghadapi berbagai kejahatan duniawi.

Pelajaran dari Kisah Nabi Yusuf as:

Saat dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya sendiri, Nabi Yusuf as sempat tersenyum. Senyuman itu lahir dari kesadaran spiritual: tatkala ia sempat tidak bersandar penuh kepada Allah dan mengandalkan perlindungan saudaranya, justru dari sanalah ujian datang.
Hal ini mengajarkan bahwa dunia bukanlah tempat tinggal idaman yang abadi, melainkan sekadar tempat mengambil bekal.

4. Waspada Terhadap Kekuasaan Zaman & Melalaikan Kematian

Imam Ali as memperingatkan:

“Bagaimana engkau dapat melalaikan sesuatu (kematian) yang tidak pernah melalaikanmu?”

Kematian tidak pernah menunda waktu dan tidak dapat ditawar ketika saatnya tiba. Cukuplah menyaksikan prosesi jenazah orang-orang yang meninggal sebagai penasihat nyata bagi kita.

Selain itu, diingatkan pula “Wa haddzirhu shaulatas-zaman” (Waspadailah kejamnya pergantian zaman). Dalam sejarah, ada era-era yang begitu kelam di mana manusia paling mulia seperti Imam Husain Alaihissalam diposisikan terasing tanpa pendukung.

5. Mengambil Pelajaran (Ibrah) dari Sejarah Umat Terdahulu

Imam Ali as meminta putranya untuk mempelajari sejarah generasi terdahulu (wa dzakkirhu bima ashaba man kana qablaka) dan melakukan perjalanan melihat peninggalan-peninggalan mereka (wa sir fi diyarihim wa atsamarihim).

Renungan dari Peninggalan Sejarah:

Para penguasa masa lalu yang tinggal di istana-istana megah, dikelilingi ribuan pengawal dan penyanjung, pada akhirnya berpindah ke alam kubur—sebuah tempat keterasingan yang sunyi. Kita dipesankan:

“Engkau pun sebentar lagi akan berpindah sebagaimana mereka berpindah. Maka benahilah tempat tinggal sejatimu (akhirat), dan jangan sekali-kali menjual akhiratmu demi duniamu.”

Pelajaran dari Penguasa Masa Lalu:

  1. Raja Cina (Faghfur) dan Iskandar:
    Dalam sebuah pertemuan, Raja Cina menyajikan emas dan permata di meja makan. Ketika Iskandar heran karena emas tidak bisa dimakan, Raja Cina menjelaskan bahwa manusia sebenarnya hanya membutuhkan secuil makanan untuk bertahan hidup.
    Maka, sangat tidak masuk akal menumpahkan darah ribuan nyawa dalam peperangan hanya demi mengejar harta yang tak bisa dimakan.
  2. Piramida Firaun di Mesir:
    Pembangunan satu piramida memakan waktu 15 tahun dan mengorbankan puluhan ribu pekerja, hanya untuk dijadikan tempat pemakaman seorang raja yang angkuh.
    Ini memperlihatkan betapa berbahayanya keangkuhan manusia ketika tidak dikendalikan.

Oleh karena itu, perjalanan ke tempat bersejarah atau museum seyogianya dilakukan bukan sekadar hiburan (vacation), melainkan sebagai perjalanan spiritual untuk memetik hikmah dan pelajaran (ibrah) dari nasib generasi terdahulu.

6. Penutup

Kajian pertemuan ke-5 ini diakhiri dengan ajakan untuk senantiasa menyerap pelajaran dari perjalanan hidup dan penafsiran wasiat, sebelum nantinya melangkah ke poin berikutnya mengenai menjaga lisan dari hal-hal yang tidak dipahami.

AB Penawar Kesombongan Jiwa

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us