1. Pembukaan dan Doa
Pertemuan ini merupakan seri kajian ke-13 yang membahas kelanjutan wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada putranya, Imam Hasan al-Mujtaba as.
2. Kilas Balik: Bahaya Menunda Taubat (Taswif) Menjelang Kematian
- Peringatan tentang Kematian saat Bermaksiat:
Pembahasan mengulas kembali wasiat sebelumnya di mana Imam Ali mengingatkan agar berhati-hati jangan sampai kematian merenggut seseorang saat sedang berada dalam kubangan maksiat atau dosa. - Jebakan Menunda Taubat (Taswif):
Setiap mukmin pada dasarnya sadar akan kekurangannya dan berniat untuk kembali kepada Allah.
Namun, sering kali muncul kecenderungan menunda taubat seiring bertambahnya usia—dari usia 30, 40, hingga 50 tahun—meski melihat kawan sebaya meninggal satu per satu. - Kematian Memutus Rencana:
Jika taubat terus ditunda, kematian akan tiba terlebih dahulu dan memutus angan-angan tersebut. Pada saat itulah penyesalan datang karena seseorang menyadari dirinya telah membinasakan waktu dan kesempatan yang ada.
3. Mengingat Kematian dan Hakikat Kehidupan
- Akhirat sebagai Agenda Utama:
Dunia hanyalah ladang tempat beramal (mazra’atul akhirah), sedangkan masa menuai dan kehidupan yang sesungguhnya ada di akhirat.
Fokus utama seorang mukmin harus tertuju pada negeri akhirat tanpa melupakan bagian hidup di dunia secara wajar. - Anjuran Memperbanyak Mengingat Kematian:
Imam Ali berpesan, “Perbanyaklah mengingat kematian” (Aktsir min dzikril maut).
Kematian bukanlah hal sepele, melainkan kepastian yang nyata dan bisa datang sangat cepat. Hal ini dicontohkan melalui wafatnya guru dan rekan (almarhum Habib Mustofa) yang begitu mengejutkan. - Maut Lebih Dahulu dari Hayat:
Dalam Al-Qur’an disebutkan penciptaan mati sebelum hidup (alladzi khalaqal mauta wal hayah) karena kehidupan duniawi hanyalah pengantar (mukadimah) menuju kematian yang mengantarkan pada kehidupan abadi.
Kematian pada hakikatnya hanyalah perpisahan antara roh dan raga, bukan kepunahan eksistensi manusia. - Menyadari Perjalanan Pasca Kematian:
Imam Ali menekankan agar manusia tidak hanya memikirkan peristiwa kematian itu sendiri, melainkan juga mengingat apa yang akan dihadapi setelahnya (wadzakiri ma tahjumu ‘alaih) serta tempat tinggal yang akan dihuni, seperti alam barzakh (wa tubdha ba’dal mauti ilaih).
4. Kesiapsiagaan Menghadapi Kematian (Al-Hadzr)
- Selalu Berjaga Setiap Hari:
Imam Ali berpesan agar manusia selalu siap siaga menyongsong maut (hatta ya’tiyaka wa qad akhadzta minhu hidzrak).
Kesadaran ini hendaknya diperbarui setiap kali bangun tidur, dengan menyadari bahwa kematian bisa saja menjemput pada hari tersebut. - Jangan Sampai Terperangah (Baghtatan):
Jangan sampai maut datang secara tiba-tiba saat seseorang belum bersiap diri sehingga membuatnya lumpuh dan terperangah (wa la ya’tiyaka baghtatan fa yabharak), memohon tambahan waktu untuk bertaubat padahal kesempatan telah habis.
5. Tipu Daya dan Keburukan Dunia
- Jangan Tertipu oleh Pemburu Dunia:
Imam Ali mengingatkan agar tidak terperdaya melihat orang-orang yang begitu melekat dan giat membangun kemewahan duniawi (wa iyyaka an taghtarra bima tara min ikhladi ahlid dunya ilaiha). - Kisah Rumah Megah yang Tak Sempat Ditinggali:
Dicontohkan seorang profesor yang menghabiskan banyak biaya membangun istana megah untuk masa tuanya. Namun, tepat saat rumah selesai dibangun, ajalnya tiba sebelum sempat diadakan peresmian; yang dipotong bukan pita peresmian, melainkan kain kafan. - Menahan Diri dari Sirkuit Ambisi:
Kita tidak perlu tergiur ikut dalam perlombaan dan sirkuit ambisi para pemburu dunia. Bekerja dan bersikap produktif tetap diharuskan, namun tanpa disertai ambisi buta dan kerakusan. - Dunia Telah Menunjukkan Keburukannya:
Allah telah mengabarkan hakikat dunia, dan dunia pun secara nyata menampakkan cacat serta keburukannya (wa takasyafat laka ‘an masawiha).
Buktinya, para nabi, rasul, dan wali Allah justru dizalimi di dunia, bahkan Imam Husain as dibantai di Karbala.
Ini menunjukkan dunia sama sekali tidak bernilai di sisi Allah. Semakin banyak harta dunia yang dikejar, semakin bertambah pula kecemasan dan kegelisahan pemiliknya.
6. Perumpamaan Para Pengejar Dunia
- Laksana Anjing Menggonggong dan Hewan Buas:
Imam Ali mengibaratkan para pecinta dunia seperti anjing-anjing yang saling menggonggong memperebutkan makanan (kilabun ‘awiyah) serta binatang buas yang siap memangsa (sibaa’un dhariyah).
Demi dunia, hubungan persaudaraan dan keluarga bisa hancur, serta berlaku hukum rimba di mana yang kuat menindas yang lemah (ya’kulu ‘azizuha dzalilaha) dan yang besar menzalimi yang kecil (wayaqharu kabiruha shaghiraha). - Laksana Unta Terikat dan Unta Liar:
Ahli dunia diumpamakan seperti unta yang terikat (na’amun mu’aqqalah) sehingga hanya berputar terlilit talinya sendiri, atau unta liar tanpa gembala (wa ukhra muhmalah) yang berjalan tak tentu arah.
Demi mengejar duniawi, sebagian orang bahkan rela merendahkan diri melakukan pesugihan, memakan bangkai mayat, hingga mengorbankan keluarga. - Kebutaan Spiritual dan Mempertuhankan Dunia:
Dunia menggiring para pemujanya ke jalan kegelapan, membutakan mata batin dari cahaya petunjuk (wa akhadzat bi absharihim ‘an manaril huda).
Mereka tersesat dalam kebingungan, tenggelam dalam kenikmatan semu, hingga menjadikan uang dan dunia sebagai sesembahan (wattakhadzuha rabba). Akibatnya, dunia mempermainkan mereka dan mereka melupakan apa yang ada setelah kematian.
7. Waktu yang Terus Berjalan Menuju Ajal
- Fajar yang Menyingkap Kegelapan:
Imam Ali menasihati agar bersikap tenang (ruwaidan yusfiruz zhalam). Kegelapan dunia pada akhirnya akan tersingkap oleh terbitnya fajar kematian, di mana segala kepalsuan dunia akan terlihat jelas. - Siang dan Malam sebagai Kendaraan Abadi:
Manusia berada di atas kendaraan siang dan malam (man kanat mathiyyatuhul laila wan nahar).
Meskipun seseorang sedang duduk diam atau berhenti, kendaraannya terus melaju membawanya menempuh jarak menuju kematian tanpa bisa dihentikan atau dijeda (pause). - Batas Angan-Angan dan Kepastian Ajal:
Yakinlah bahwa manusia tidak akan pernah mampu menggapai seluruh angan-angannya (lan tablugha amalak), tidak akan bisa menambah batas ajalnya walau satu jam (wa lan ta’duwa ajalak), dan pasti menempuh jalan yang sama dengan generasi-generasi terdahulu yang telah tiada.
8. Ketenangan Mencari Rezeki (Ijmāl fith-Thalab) dan Hakikat Zuhud
- Mencari Dunia dengan Tenang:
Imam Ali menganjurkan untuk bersikap tenang dan proporsional dalam mencari dunia (fa akhfidh fit-thalab).
Mencapai tujuan hidup diibaratkan seperti bepergian; baik menaiki kendaraan sederhana (oplet) maupun mobil mewah (Lamborghini), tempat tujuan yang dicapai tetap sama. - Memperlakukan Harta dengan Baik (Ajmil fil-Muktasab):
Harta yang diperoleh hendaknya tidak ditimbun atau dinikmati sendiri secara serakah.
Hakikat zuhud adalah saat seseorang bekerja dan memperoleh harta, ia mengonsumsinya secara minimal untuk kebutuhan dirinya dan membagikannya secara maksimal kepada orang lain, termasuk menunaikan kewajiban zakat atau khumus. - Kerakusan Berujung Kehancuran:
Betapa banyak pencarian yang dilandasi ambisi serakah justru berakhir dengan kebangkrutan dan kehancuran modal yang ada (rubba thalabin qad jarra ila harab).
Ambisi yang meledak-ledak tidak menjamin rezeki datang, dan sikap tenang serta proporsional tidak akan membuat seseorang terhalang dari bagiannya.
9. Menjaga Kehormatan Diri dan Menjadi Manusia Merdeka
- Muliakan Jiwa dari Kehinaan:
Imam Ali berpesan agar menjaga kemuliaan diri dari segala kehinaan (wa akrim nafsaka ‘an kulli daniyyah), meskipun kehinaan tersebut menjanjikan keuntungan duniawi yang diinginkan.
Harga diri dan kehormatan yang telah digadaikan (misalnya melalui dusta, penipuan, atau menjilat) tidak akan pernah bisa ditebus atau digantikan kembali oleh materi apa pun. - Jangan Menjadi Budak Siapapun:
“Janganlah engkau menjadi budak bagi orang lain, padahal Allah telah menciptakanmu sebagai manusia merdeka” (wa la takun ‘abda ghairika wa qad ja’alakallahu hurra).
Seorang mukmin dilarang menghamba kepada orang lain maupun diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri. - Kebaikan Semu:
Sesuatu yang dianggap baik namun diraih melalui jalan keburukan hakikatnya bukanlah kebaikan (wa ma khairu khairin la yunalu illa bi syarr).
Demikian pula kesenangan yang diperoleh melalui penderitaan dan kehinaan bukanlah ketenteraman sejati.
10. Menjauhi Ketamakan dan Kemandirian di Hadapan Makhluk
- Bahaya Tunggangan Ketamakan:
Hindarilah menaiki kendaraan kerakusan dan ketamakan (iyyaka an tujifa bika mathayath-thama’), karena kendaraan tersebut hanya akan menjerumuskan penunggangnya ke jurang kehancuran. - Menjaga Kemandirian dari Utang Budi:
Sebisa mungkin jangan bergantung pada belas kasih atau budi makhluk lain untuk urusan duniawi.
Orang yang terjerat utang budi sering kali kehilangan kemerdekaan untuk bersikap kritis dan menegakkan kebenaran. - Rezeki Telah Ditetapkan:
Setiap manusia pasti akan sampai pada bagian rezeki yang telah ditentukan oleh Allah (fa innaka mudrikun qismataka wa akhidzun sahmak) tanpa perlu menjilat atau menipu. - Sedikit dari Allah Lebih Mulia:
Bagian rezeki yang sedikit tetapi murni diperoleh secara halal dari Allah jauh lebih agung dan mulia daripada pemberian berlimpah dari makhluk yang mengikat harga diri (wa innal yasira minallahi a’zhamu wa akramu minal katsiri min khalqihi).
11. Penutup Kajian
Kajian diakhiri dengan doa agar nasihat-nasihat Imam Ali as ini memberikan kesadaran mendalam mengenai hakikat dunia serta menumbuhkan kesiapan menyongsong kematian.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

