13 October 2026

1. Menjaga Kehormatan Diri dan Tidak Berharap kepada Orang yang Tidak Membutuhkan Kita

Janganlah engkau berharap kepada orang yang menunjukkan bahwa dirinya tidak berharap apa-apa padamu. Sebagai seorang mukmin, manusia harus senantiasa menjaga kemuliaan dan harga dirinya.
Engkau boleh berharap kepada seseorang dalam hal di mana orang tersebut juga membutuhkanmu dalam hubungan yang timbal balik.
Jika engkau memaksakan diri berharap atau meminta bantuan kepada orang yang sombong dan merasa tidak membutuhkanmu, engkau akan dipandang rendah dan terkesan bergantung padanya.

2. Bersemangat dalam Menyambung Silaturahmi

Jangan sampai semangat saudaramu dalam memutus hubungan denganku lebih kuat daripada semangatmu dalam menyambung hubungan dengannya.
Dalam pergaulan dan silaturahmi, seorang mukmin dituntut memiliki kekuatan dan semangat yang lebih tinggi dalam menjaga kebaikan daripada orang-orang yang berusaha memutuskannya.

3. Unggul dalam Kebaikan atas Kejahatan

Jangan sampai orang lain lebih kuat atau lebih bersemangat dalam melakukan keburukan (al-isya’ah) daripada engkau dalam melakukan kebaikan (al-ihsan).
Ini merupakan prinsip pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Jika semangat pelaku kejahatan lebih dominan daripada pelaku kebaikan, maka kejahatan dan kerusakan akan merajalela.

4. Menyikapi Kezaliman dengan Adil dan Hakikat Orang Zalim

  • Jangan Membesar-besarkan Kezaliman:
    Tempatkan keburukan atau kesalahan orang lain pada takaran yang sesuai dan jangan membesar-besarkannya. Jika kita merespons kesalahan secara berlebihan (lebay), pada akhirnya kita sendiri yang berbuat zalim dan masalah tidak akan pernah selesai.
  • Hakikat Orang Zalim:
    Orang yang berbuat zalim padamu pada hakikatnya sedang merugikan dirinya sendiri dan memberikan manfaat kepadamu. Sebab, orang yang terzalimi (mazlum) mendapatkan pahala di sisi Allah, doanya makbul, serta mendapat pertolongan-Nya.
  • Jangan Membalas Kezaliman:
    Tidak sepantasnya engkau membalas kezaliman orang yang pada hakikatnya justru memberikan keuntungan pahala bagimu.

5. Memahami Dua Jenis Rezeki

Rezeki terbagi menjadi dua jenis:

  1. Rezeki yang engkau cari (rizqon tatlubuh):
    Rezeki yang didapatkan melalui ikhtiar, kerja keras, dan perniagaan.
  2. Rezeki yang mencarimu (rizqon yathlubuh):
    Rezeki yang akan tetap mendatangimu meskipun engkau tidak mencarinya.

Kesadaran ini mengajarkan agar manusia tidak sombong dan tidak menganggap bahwa seluruh harta atau pencapaian semata-mata adalah hasil kehebatan dan jerih payahnya sendiri.

6. Sifat Tunduk Saat Butuh dan Arogan Saat Berkecukupan

Alangkah buruknya karakter manusia yang tampak tunduk dan merunduk ketika sedang memiliki kebutuhan, namun berubah menjadi arogan, sombong, dan bersikap aniaya ketika seluruh kebutuhannya telah terpenuhi.

7. Hakikat Keuntungan Dunia dan Penggunaan Akal

  • Keuntungan Dunia yang Hakiki:
    Harta dan perjuangan di dunia yang benar-benar menjadi milikmu dan akan kembali padamu hanyalah apa yang engkau gunakan untuk memperbaiki tempat tinggal hakiki di akhirat.
  • Makna Akal Sejati:
    Akal yang sebenarnya adalah segala upaya yang engkau lakukan yang mengantarkanmu untuk menghamba kepada Allah dan memperoleh kebahagiaan abadi di surga.

8. Sikap Bijak Terhadap Apa yang Terlepas atau Hilang

Jika engkau mengeluh dan menderita atas apa yang terlepas dari tanganmu, maka seharusnya engkau juga mengeluh atas segala hal yang belum pernah engkau raih (yang jumlahnya jauh lebih banyak).
Oleh karena itu, janganlah berlarut-larut dalam kesedihan ketika kehilangan sesuatu di dunia.

9. Mengambil Pelajaran dari Peristiwa Masa Lalu

Ambillah pelajaran dari peristiwa yang telah terjadi untuk menghadapi apa yang akan datang, karena peristiwa dan pola kehidupan manusia memiliki banyak kemiripan satu sama lain.

10. Menerima Nasihat dengan Pelekatan Akal

Jangan menjadi manusia yang bebal atau keras hati hingga memerlukan usaha ekstrem dari orang lain agar engkau mau menerima nasihat. Orang yang berakal cukup diberi nasihat melalui isyarat, kesantunan, dan kepekaan rasa, sedangkan hanya hewan yang baru bergerak jika dipukul.

11. Menghadapi Kesedihan dengan Kesabaran dan Keyakinan

Tolak dan lawanlah berbagai musibah serta kesedihan yang datang silih berganti dalam hidup dengan kekuatan kesabaran dan prasangka baik (husnul yaqin) kepada Allah.
Yakinlah bahwa segala penderitaan yang dihadapi dengan sabar berada dalam pengawasan Allah dan bernilai pahala.

12. Hidup Seimbang dan Proporsional (Moderat)

Barang siapa yang meninggalkan sikap seimbang (moderat), maka ia akan menyimpang dari kebenaran.
Dalam segala hal—baik emosi, ucapan, maupun perbuatan—hendaknya dilakukan secara proporsional, tidak berlebihan dan tidak pula terlalu kurang.

13. Hakikat Teman dan Persahabatan Sejati

  • Kesamaan (Munasabah):
    Teman dekat sejati terasa seperti saudara sendiri. Persahabatan yang bertahan selalu diikat oleh adanya kesamaan (munasabah) di antara mereka.
  • Menjaga Kehormatan di Belakang:
    Teman yang sebenarnya (man shodaqohuba) adalah orang yang tetap menjaga pertemanan, kehormatan, dan hak-hakmu ketika engkau tidak berada di sampingnya.

14. Hawa Nafsu adalah Sekutu Kebutaan

Orang yang berjalan menuruti hawa nafsunya sama seperti orang yang berjalan dalam kebutaan.
Sebab, ketika hawa nafsu mendominasi, ia memadamkan cahaya akal sehingga manusia tidak lagi mampu membedakan mana yang baik dan mana yang merugikannya.

AB Wejangan Abadi Imam Ali A.S

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us