13 October 2026

1. Pembukaan dan Pengantar Kajian

Allahumma sholli ‘alaa muhammad wa aali muhammad.
Pertemuan ini merupakan kajian ke-14 yang membahas rangkaian wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada putranya, Imam Hasan al-Mujtaba as.

Sebagai pengingat dari pembahasan pertemuan sebelumnya (pertemuan ke-13), Imam Ali berpesan bahwa apa pun yang sedikit dan sederhana namun datang langsung dari Allah SWT jauh lebih agung, mulia, dan penuh berkah dibandingkan pemberian yang banyak dari makhluk-Nya, meskipun pada hakikatnya rezeki dari makhluk pun bersumber dari Allah SWT.

2. Menimbang Diam dan Berbicara

Imam Ali as menyampaikan wasiat:

“Wa talafika ma faratha min shamtika aysaru min idrakika ma fata min manthiqik.”

Makna dan Penjelasan:

  • Kerugian atau hilangnya sesuatu akibat kita diam jauh lebih mudah untuk dipulihkan daripada kehilangan sesuatu akibat kita berbicara.
  • Pepatah mengingatkan bahwa “mulutmu adalah harimaumu”. Sering kali ucapan yang tidak terukur, tidak berdasar, dan tidak dipikirkan sebelumnya dapat melukai perasaan orang lain hingga memutus hubungan selamanya.
  • Kerugian akibat ucapan yang terlanjur keluar tidak dapat ditarik kembali dan bisa berujung pada bencana yang merugikan diri sendiri maupun menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
    Oleh karena itu, menahan diri dengan diam jauh lebih aman dan terukur.

3. Menjaga Milik Sendiri dan Tidak Silau pada Milik Orang Lain

Imam Ali as menasihati:

“Wa hifzhuka ma fi yadaika ahabbu ilayya min thalabi ma fi yadai ghairika.”

Makna dan Penjelasan:

  • Beliau mengibaratkan hal ini seperti menjaga air di dalam kantong kulit (qirbah) dengan menutup rapat mulutnya agar tidak tumpah.
  • Menjaga, mensyukuri, dan memanfaatkan apa yang telah berada di tangan sendiri jauh lebih dicintai oleh Imam Ali daripada menuntut atau silau terhadap apa yang ada di tangan orang lain.
  • Banyak manusia kerap terdistraksi dan memandang milik orang lain, hingga akhirnya tidak menyadari dan menyia-nyiakan begitu banyak potensi serta nikmat yang sudah dimilikinya sendiri.

4. Pahitnya Keputusasaan Dibandingkan Meminta-minta

Imam Ali as menegaskan:

“Wa mararatul ya’si khairun minat thalabi ilannas.”

Makna dan Penjelasan:

  • Menelan pahitnya keputusasaan setelah berikhtiar maksimal jauh lebih bermartabat daripada harus meminta-minta kepada orang lain.
  • Meminta-minta hakikatnya meruntuhkan harga diri dan kehormatan seorang mukmin.
  • Bagi seorang mukmin sejati, menahan lapar dan sakit lebih ia pilih daripada harus mengeluhkan keadaannya dan membebani saudaranya.
  • Pesan ini juga menjadi teguran keras bagi masyarakat: jika sampai ada saudara mukmin terpaksa meminta-minta karena terhimpit kebutuhan, maka orang-orang di sekitarnyalah yang bersalah karena kurang peka dan tidak segera mencukupi kebutuhannya sebelum ia meminta.

5. Pekerjaan Halal Menjaga Kehormatan vs. Kekayaan dari Maksiat

Imam Ali as menuturkan:

“Wal-hirfatu ma’al ‘iffati khairun minal ghina ma’al fujur.”

Makna dan Penjelasan:

  • Bekerja keras dengan keahlian (skill) atau profesi yang bersahaja demi menjaga kesucian dan kehormatan diri (‘iffah) jauh lebih baik daripada berlimpah harta tetapi diperoleh melalui jalan maksiat atau kefujuran (fujur).
  • Di era modern dan media sosial saat ini, banyak orang mudah meraih kekayaan instan melalui cara-cara maksiat atau mengumbar hal yang tidak pantas demi popularitas.
    Imam Ali mengingatkan agar tidak terperdaya oleh kekayaan semacam itu, karena tidak ada kebaikan sedikit pun di dalam kekayaan yang lahir dari kefujuran.

6. Kewajiban Menjaga Rahasia Diri

Imam Ali as bersabda:

“Wal mar’u ahfadhu lisirrihi.”

Makna dan Penjelasan:

  • Seseorang semestinya menjadi penjaga yang paling amanah dan ketat atas rahasia dirinya sendiri.
  • Merupakan suatu keanehan jika seseorang justru gemar mengumbar aib dan rahasia pribadinya kepada orang lain, lalu kemudian menyesal ketika semua orang telah mengetahuinya.

7. Waspada Banting Tulang untuk Hal yang Membahayakan

Imam Ali as mengingatkan:

“Wa rubba sa’in fima yadhurruh.”

Makna dan Penjelasan:

  • Bekerja keras dan berusaha adalah hal terpuji, namun tidak sedikit orang yang membanting tulang dan memeras keringat justru untuk mengejar sesuatu yang hakikatnya mencelakakan dan membahayakan dirinya sendiri.
  • Setiap orang harus memastikan bahwa setiap ikhtiar dan usahanya benar-benar mendatangkan manfaat nyata, bukan membawa kemudaratan.

8. Bahaya Banyak Bicara (Man Katsura Ahdzar)

Imam Ali as menyatakan:

“Man katsura ahdzar.”

Makna dan Penjelasan:

  • Orang yang terlalu banyak bicara niscaya akan semakin banyak melakukan kesalahan dan bicaranya menjadi ngawur.
  • Banyak bicara bukanlah tolok ukur kecerdasan.
  • Di era sekarang (misalnya dalam percakapan grup media sosial), fenomena ini marak terjadi ketika orang merasa harus mengomentari segala topik di luar kapasitasnya—seperti orang awam berbicara medis seolah dokter, mengomentari politik seolah pakar, atau mengkritik olahraga dan ekonomi tanpa dasar ilmu.
    Manusia dituntut mengukur kapasitas diri dan berhemat dalam berucap.

9. Kekuatan Tafakur Membuka Mata Hati (Bashirah)

Imam Ali as menyatakan:

“Wa man tafakkara abshar.”

Makna dan Penjelasan:

  • Manusia dianugerahi akal, namun sering kali lalai menggunakannya untuk bertafakur, bertadabbur, dan merenung secara mendalam terhadap persoalan hidup.
  • Barang siapa yang meluangkan waktu untuk berpikir dan merenung secara mendalam, maka ia akan memperoleh ketajaman mata batin (bashirah) untuk melihat berbagai hakikat yang sebelumnya tersembunyi.

10. Memilih Lingkungan Pergaulan

Imam Ali as menasihati:

“Qarin ahlal khairi takun minhum, wa bayin ahlasy syarri tabin ‘anhum.”

Makna dan Penjelasan:

  • Bergaul dan bertemanlah dengan orang-orang baik, niscaya engkau akan tertular kebaikannya dan menjadi bagian dari mereka.
  • Ambil jarak dan jangan jadikan pelaku kejahatan atau keburukan sebagai teman dekat, agar dirimu terhindar serta terpisah dari pengaruh keburukan mereka.

11. Makanan Terburuk dan Kezaliman Paling Keji

Imam Ali as menegaskan:

  • Makanan terburuk:
    “Bi’sath tha’am al-haram”—seburuk-buruk makanan adalah makanan yang haram, betapa pun lezat dan mewahnya makanan tersebut.
  • Kezaliman paling nista:
    “Wa zhulmud dha’ifi afhyatsuz zhulm”—senista-nistanya perbuatan zalim adalah menindas dan menganiaya orang yang lemah.

12. Menempatkan Kelembutan dan Ketegasan Secara Proporsional

Imam Ali as bersabda:

“Idza kanal khurqu rifqan kanal rifqu khurqan.”

Makna dan Penjelasan:

  • Jika perlakuan keras dianggap sebagai kelembutan, maka kelembutan justru merupakan kekerasan.
  • Ada kondisi yang menuntut pendekatan lembut, namun ada pula keadaan yang menuntut ketegasan keras. Misalnya dalam diplomasi sebelum perang; jika bahasa negosiasi yang damai tidak lagi diindahkan, maka tindakan tegas menjadi keharusan.
  • Demikian pula saat menghadapi orang yang sedang histeris dan kehilangan kendali; teguran keras atau tamparan terkadang diperlukan untuk menyadarkannya agar tidak membahayakan jiwanya sendiri.

13. Paradoks Obat dan Penyakit

Imam Ali as mengungkapkan:

“Rubbama kanad dawa’u da’an wad da’u dawa’an.”

Makna dan Penjelasan:

  • Adakalanya obat berubah menjadi penyakit, sebagaimana obat medis tertentu yang alih-alih menyembuhkan justru menimbulkan efek samping atau komplikasi yang lebih parah.
  • Sebaliknya, adakalanya penyakit justru menjadi obat, seperti ketika seseorang yang sombong, angkuh, dan congkak tersadarkan hatinya lalu sembuh dari penyakit batinnya setelah diuji dengan sakit jasmani oleh Allah SWT.

14. Kewaspadaan terhadap Nasihat Palsu dan Muslihat

Imam Ali as mengingatkan:

“Wa rubbama nashaha ghairun nashih, wa khana al-mustanshah.”

Makna dan Penjelasan:

  • Betapa banyak orang yang datang seolah-olah memberikan nasihat dan kepedulian, padahal ia bukan penasihat yang tulus dan justru menyimpan niat terselubung untuk menjatuhkan atau menipu.
  • Dalam sejarah pasca wafatnya Rasulullah SAW, banyak pihak yang berpura-pura menasihati Imam Ali as padahal bertujuan menggulingkannya.
  • Bersikap jujur adalah keharusan, namun kejujuran yang diiringi kepolosan atau keluguan yang berlebihan dapat mencelakakan diri.

15. Bahaya Bersandar pada Angan-Angan Kosong

Imam Ali as memperingatkan:

“Wa iyyaka wal-ittikala ‘alal muna, fainnaha badhai’ul hamqa.”

Makna dan Penjelasan:

  • Jangan sekali-kali menggantungkan hidup pada angan-angan kosong, lamunan, dan fantasi.
  • Angan-angan kosong adalah barang mainan orang-orang dungu; manusia harus berfokus pada kerja nyata yang konkret.

16. Hakikat Akal dan Manfaat Pengalaman

Imam Ali as bertutur:

“Wal ‘aqlu hifzhut tajarib, wa khairu ma jarrabta ma wa’azhak.”

Makna dan Penjelasan:

  • Fungsi akal adalah menjaga dan memelihara hikmah dari setiap pengalaman yang telah dilalui agar tidak terperosok berulang kali pada lubang yang sama.
  • Sebaik-baik pengalaman adalah pengalaman yang mampu memberi pelajaran berharga serta mengubah pribadi seseorang menjadi lebih baik; tanpa adanya perubahan, pengalaman hidup tersebut sia-sia.

17. Segera Memanfaatkan Kesempatan

Imam Ali as berpesan:

“Badiril furshata qabla an takuna ghushshah.”

Makna dan Penjelasan:

  • Segeralah menyambut dan memanfaatkan kesempatan yang ada sebelum kesempatan itu berlalu dan berubah menjadi penyesalan mendalam yang tidak bisa ditebus kembali.

18. Karakteristik Kehidupan Dunia

Imam Ali as menjelaskan hakikat dunia:

“Laisa kullu thalibin yushib, wa la kullu gha’ibin ya’ud.”

Makna dan Penjelasan:

  • Tidak setiap orang yang mencari atau menuntut sesuatu di dunia ini pasti akan memperoleh apa yang dicarinya.
  • Tidak setiap hal yang telah hilang akan kembali, seperti waktu, kesempatan, maupun orang-orang yang dicintai.
  • Memahami tabiat dunia ini menjadikan seseorang tidak berambisi secara buta, tidak mudah putus asa, serta tidak terjebak stres atau depresi saat menghadapi kegagalan hidup.

19. Menjaga Bekal Hari Kebangkitan

Imam Ali as mengingatkan:

“Wa minal fasadi idha’atuz zad, wa mafsadatul ma’ad. Wa li-kulli amrin ‘aqibah.”

Makna dan Penjelasan:

  • Kerusakan yang paling fatal adalah menyia-nyiakan bekal hidup dari dunia ini sehingga menghancurkan masa depan di hari kebangkitan (akhirat).
  • Seluruh nasihat praktis tentang kehidupan dunia pada hakikatnya bermuara pada kepastian kesiapan bekal di akhirat.
  • Setiap perbuatan manusia tunduk pada sunnatullah yang pasti memiliki konsekuensi atau akibat yang tak terelakkan.

20. Kepastian Rezeki dan Empat Prinsip Hidup Imam Ali

Imam Ali as menenangkan:

“Saufa ya’tika ma quddira laka.”

Makna dan Penjelasan:

  • Apa yang telah Allah tetapkan sebagai rezeki dan bagianmu pasti akan sampai ke tanganmu, sehingga manusia tidak perlu bersikap melampaui batas atau melanggar aturan Allah hanya demi mengejar harta.
  • Beliau mengilustrasikannya seperti seseorang yang mengalami musibah kecelakaan hingga hilang kesadaran; pertolongan, makanan, dan air minum tetap datang kepadanya melalui orang-orang yang digerakkan oleh Allah.

Dalam kesempatan lain, Imam Ali merangkum seluruh urusan hidupnya ke dalam empat prinsip utama:

  1. Amal perbuatan:
    Meyakini bahwa amalnya tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain, sehingga beliau bersungguh-sungguh beramal saleh.
  2. Pengawasan Allah:
    Meyakini bahwa Allah senantiasa mengawasinya di setiap waktu dan tempat, sehingga beliau malu bermaksiat dengan menggunakan nikmat-nikmat-Nya.
  3. Ketenangan rezeki:
    Meyakini bahwa rezekinya tidak mungkin dimakan oleh orang lain, sehingga beliau berikhtiar dengan hati yang tenang dan lapang.
  4. Kesiapan mati:
    Menyadari bahwa akhir dari perputaran dunia adalah kematian, sehingga beliau senantiasa mempersiapkan diri menyambutnya.

21. Mentalitas Perniagaan dan Keberkahan Harta Sederhana

Imam Ali as menutup wasiat pada bagian ini dengan dua prinsip penting:

  1. “Attajiru khatir”
    — Orang yang berniaga hakikatnya sedang mengarungi risiko dan bahaya; seorang pedagang harus memiliki ketahanan mental untuk siap menghadapi pasang surut, baik untung maupun rugi.
  2. “Wa rubba yasirin anma min katsir”
    — Betapa banyak harta yang sedikit dan dikelola secara sederhana justru lebih mudah berkembang, berkah, dan membawa ketenteraman jiwa dibandingkan modal besar yang sarat risiko kehilangan segalanya atau proyek megah yang semata-mata didorong oleh ambisi penumpukan harta pribadi.

Penutup Kajian

Semoga mutiara wasiat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as kepada Imam Hasan al-Mujtaba as ini dapat menjadi pedoman dan panduan praktis dalam menjalani kehidupan.

AB Wasiat Imam Ali14

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us