15 October 2026

1. Pendahuluan dan Asbabun Nuzul Surah Al-Ikhlas

Kajian ini merupakan penjelajahan tafsir sederhana atas Surah Al-Ikhlas (yang juga sering dinamakan Surah At-Tauhid atau Surah Qulhu) setelah sebelumnya menyelesaikan pembahasan Surah Al-‘Ankabut.
Surah Al-Ikhlas tergolong sebagai surah Makkiyah karena diturunkan di Kota Mekah.

Penggunaan kata perintah “Qul” (Katakanlah wahai Muhammad) menandakan bahwa surah ini diturunkan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah SAW.
Diriwayatkan dari Imam Ja’far as-Sadiq AS bahwa kaum Yahudi (serta orang-orang musyrik) pernah mendatangi Rasulullah SAW lalu meminta, “Hansiblana robbaka” (Tolong gambarkan atau deskripsikan kepada kami seperti apa Tuhanmu).
Atas pertanyaan tersebut, Rasulullah SAW tidak langsung menjawab selama tiga hari hingga Allah SWT menurunkan Surah Al-Ikhlas sebagai bentuk jawaban dan deskripsi resmi tentang Dzat-Nya.

2. Keutamaan dan Fadhilah Surah Al-Ikhlas

Meskipun surah ini tergolong singkat, fadhilah dan keutamaannya sangat agung:

  • Setara dengan Sepertiga Al-Qur’an:
    Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat apakah mereka sanggup membaca sepertiga Al-Qur’an dalam satu malam.
    Ketika para sahabat merasa tidak mampu, beliau menjelaskan bahwa membaca Surah Al-Ikhlas satu kali nilainya setara dengan membaca sepertiga Al-Qur’an.
  • Keutamaan Saat Shalat Jenazah Saad bin Mu’adh:
    Ketika Rasulullah SAW menshalati jenazah sahabat Saad bin Mu’adh, shalat tersebut diikuti oleh 70.000 malaikat termasuk Malaikat Jibril.
    Saat Rasulullah SAW menanyakan penyebab kemuliaan tersebut, Malaikat Jibril menjelaskan bahwa Saad bin Mu’adh senantiasa mendawamkan (membiasakan) membaca Surah Al-Ikhlas dalam setiap keadaannya—baik saat duduk, berdiri, berkendara, berjalan, maupun saat bepergian dan kembali ke rumah.
  • Anjuran Membaca dalam Shalat dan Sesudahnya:
    Imam Ja’far as-Sadiq AS menegaskan bahwa jika seseorang melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari namun tidak membaca Surah Al-Ikhlas di dalamnya, maka dikatakan kepadanya, “Wahai hamba Allah, engkau tidak termasuk orang yang shalat”.
    Selain itu, barangsiapa membacanya setelah shalat fardhu, Allah SWT akan mengumpulkan baginya seluruh kebaikan dunia dan akhirat, serta mengampuni dosanya, dosa kedua orang tuanya, dan dosa anak keturunannya.
    Membacanya ketika memasuki rumah juga dapat menambah kelapangan rezeki dan mencegah kefakiran.
  • Alasan Kesejajaran dengan Sepertiga Al-Qur’an:
    Kandungan Al-Qur’an secara garis besar terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu pembahasan tentang Al-Mabda’ (asal-usul penciptaan dan Tauhid), kehidupan dunia, serta Al-Ma’ad (kehidupan akhirat pasca kematian).
    Karena sepertiga Al-Qur’an khusus membahas tentang Tauhid dan Sang Pencipta, maka surah yang murni berisi Tauhid ini bernilai setara dengan sepertiga Al-Qur’an.
  • Rujukan Penjelajah Teologi Akhir Zaman:
    Imam Ali bin Husain (As-Sajjad) AS pernah menyatakan bahwa Allah SWT mengetahui di akhir zaman akan ada kelompok manusia yang ingin mendalami pemikiran teologi tentang Tuhan secara mendalam (muta’ammiqun).
    Karena itu, Allah menurunkan Surah Al-Ikhlas dan ayat-ayat awal Surah Al-Hadid hingga wahuwa ‘alimun bidzatis-sudur sebagai rujukan utama.

3. Tafsir Ayat Pertama: Qul Huwallahu Ahad

a. Makna Kata “Huwa” (Dia)

Kata “Huwa” (Dia) digunakan dalam tata bahasa untuk menunjuk sosok yang gaib. Hal ini mengisyaratkan bahwa Dzat Allah SWT adalah mubham (tidak dapat dijangkau, dilihat, atau diraba langsung oleh indra manusia).
Namun, meskipun Dzat-Nya gaib, Allah SWT bersifat zhahir (sangat nyata) melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya (ayat-Nya), baik yang ada pada alam semesta (ayat afaqiyyah) maupun yang ada di dalam diri manusia sendiri (ayat anfusiyyah).

Ketika kaum musyrikin meminta agar Tuhan diperlihatkan atau disentuh secara fisik, Allah menegaskan melalui huruf Ha dan Waw pada kata Huwa bahwa keberadaan-Nya mutlak ada, namun Dzat-Nya tidak dapat dijangkau oleh keterbatasan mata dan indra manusia.

b. Keagungan Nama “Allah” (Al-Ismul A’zam)

Nama “Allah” merupakan Al-Ismul A’zam (Nama Yang Maha Agung) yang merangkum seluruh sifat Jalaliyah (Keagungan) dan Jamaliyah (Keindahan) Allah SWT. Nama ini adalah nama khusus yang tidak bisa dan tidak boleh disematkan kepada selain-Nya.

  • Pengalaman Imam Ali AS:
    Menjelang Perang Badar, Imam Ali AS bermimpi bertemu Nabi Khidir AS dan meminta amalan untuk memperoleh pertolongan melawan musuh.
    Nabi Khidir AS mengajarkan kalimat: “Ya Huwa Ya Man La Huwa Illa Huwa”. Pagi harinya, Rasulullah SAW membenarkan mimpi tersebut dan menyatakan bahwa yang diajarkan adalah Al-Ismul A’zam.
    Imam Ali AS senantiasa membaca kalimat ini dalam berbagai kecamuk perang, termasuk pada Perang Siffin.
  • Etimologi Kata “Allah”:
    Para ulama tafsir menyebutkan bahwa kata “Allah” berakar dari kata walaha atau waliha yang bermakna “kebingungan” (bahayaro).
    Dinamakan demikian karena secerdas apa pun akal manusia, ia akan mengalami kebingungan dan tidak akan mampu merengkuh hakekat Dzat Allah yang tak terbatas.
    Pendapat lain menyatakan kata “Allah” berasal dari kata aliha (Dzat yang disembah).
  • Keutamaan Mengingat Nama Allah:
    Nama “Allah” yang disebutkan sekitar 1.000 kali di dalam Al-Qur’an memiliki daya spiritual untuk menerangi hati, memberikan ketenangan jiwa, serta melingkupi wujud manusia dengan kesucian dan cahaya.
c. Hakekat Kemahatunggalan “Ahad”

Kata “Ahad” berakar dari kata Wahidah. Kemahatunggalan Allah SWT dalam kata Ahad mengandung arti:

  • Tunggal dalam Sifat dan Kekuasaan:
    Allah SWT tidak memiliki tandingan, saingan, maupun kesamaan dalam hal ilmu, kekuasaan, kasih sayang, serta seluruh sifat-Sifat-Nya.
    Sifat hidup, mendengar, dan melihat pada makhluk tidak dapat dibandingkan dengan kualitas Sifat Hidup, Mendengar, dan Melihat milik Allah SWT.
  • Bukan Satu dalam Hitungan Angka:
    Makna Ahad atau Wahid bagi Allah bukanlah “satu” dalam konsep jumlah atau hitungan matematis, melainkan Al-Mutafarrid (Maha Tunggal yang tiada duanya dan tidak ada padanannya).
  • Prinsip Laisa Kamitslihi Syai’un:
    Keakursian Tauhid dicapai ketika manusia menyadari bahwa Allah SWT tidak serupa dengan apa pun (Laisa kamitslihi syai’un).
    Setiap bayangan, persepsi, atau prasangka manusia mengenai wujud Tuhan pasti tidak tepat, karena Allah melampaui segala bentuk gambaran yang mampu dipikirkan oleh indra dan akal makhluk.

4. Pembuktian Rasional Ketahesaan Allah (Kenapa Allah Harus Ahad)

Secara rasional dan filosofis, keesaan Allah SWT dapat dibuktikan melalui konsep Dzat Yang Tak Terbatas (ghairu mutanahiy):

  1. Dzat Allah Tak Terbatas:
    Allah SWT adalah Dzat yang tidak memiliki batas dari segi apa pun.
  2. Logika Keberadaan Yang Tak Terbatas:
    Secara prinsip dasar akal (musallamah), wujud yang tidak terbatas itu logisnya hanya ada SATU.
  3. Konsekuensi Jika Ada Dua:
    Apabila diandaikan ada dua wujud yang tak terbatas, maka wujud yang satu niscaya akan membatasi wujud yang lain.
    Akibatnya, kedua wujud tersebut sama-sama menjadi terbatas.
  4. Kesimpulan Rasional:
    Karena pembatasan itu mustahil bagi Tuhan, maka Dzat Yang Maha Tak Terbatas secara mutlak haruslah Maha Esa (Ahad).
    Meskipun akal manusia yang terbatas tidak mampu menggapai Dzat yang tak terbatas, keberadaan Dzat Yang Maha Tak Terbatas (Wajib al-Wujud) tersebut dapat diyakini dan dibuktikan secara logis dan rasional.

AB Keagungan Surah Al Ikhlas

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

—

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us