13 October 2026

1. Pembuka Kajian dan Pengantar Pertemuan ke-15

Kajian rutin dua mingguan ini melanjutkan pembahasan wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada putranya, Al-Imam Hasan al-Mujtaba as, yang telah memasuki bagian-bagian akhir dan diperkirakan selesai dalam satu hingga dua pertemuan mendatang.
Mengulas sejenak materi sebelumnya, diingatkan kembali pesan wa rubba yasirin: betapa banyak hal yang sedikit justru jauh lebih mudah berkembang dan lebih bermanfaat daripada sesuatu yang banyak.

2. Larangan Meminta Tolong kepada Orang Lemah/Hina dan Berteman dengan Orang yang Gemar Berburuk Sangka (Zhannin)

Imam Ali as berpesan bahwa sama sekali tidak ada kebaikan pada penolong yang mahin (lemah, hina, atau tidak berdaya).
Dari sudut pandang tauhid, manusia diajarkan hanya memohon pertolongan kepada Allah Swt. (Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in) karena hanya Dia yang memiliki kekuatan mutlak dan kekayaan hakiki, sementara selain-Nya tidak memiliki kekuasaan absolut.

Dalam kehidupan praktis, pesan ini menegaskan bahwa ketika memerlukan bantuan, pastikan orang yang dituju benar-benar memiliki kapasitas dan kemampuan.
Jangan sampai seseorang terlanjur merendahkan dirinya di hadapan orang lain, sementara orang tersebut ternyata tidak sanggup menolong.
Selain itu, hindari meminta tolong kepada orang yang tidak memiliki kemuliaan akhlak, sebab permohonan bantuan kita bisa saja suatu saat dijadikan senjata olehnya untuk merendahkan atau menjatuhkan harga diri kita.

Selanjutnya, Imam Ali as menegaskan bahwa tidak ada kebaikan pula pada teman yang zhannin.
Teman zhannin adalah tipe kawan yang selalu curiga, selalu berburuk sangka, berpikiran negatif, serta gemar melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar tanpa adanya rasa saling percaya (trust).
Karena esensi pertemanan adalah saling mendatangkan kemanfaatan dan kebaikan, tidak ada gunanya mempertahankan hubungan dengan kawan yang memiliki karakter demikian.

3. Memperlakukan Zaman Sesuai Karakternya dan Sikap di Tengah Masa Fitnah

Imam Ali as menasihatkan agar seseorang memperlakukan zaman sebagaimana zaman itu mudah untuk dijalani, tanpa memaksakan kehendak atau menentang realitas keadaan. Setiap masa memiliki wataknya tersendiri—ada masa mudah, masa sulit, krisis, paceklik, hingga masa fitnah.
Seseorang dituntut pandai menyesuaikan diri agar tidak terus-menerus merasa tertekan dan sedih (nelongso) akibat ketidakmampuannya membaca situasi.

Secara khusus di masa-masa fitnah, Imam Ali as menganalogikan sikap seorang mukmin seperti anak unta (ibnul labun): tidak memiliki punggung yang cukup kuat untuk ditunggangi dan tidak memiliki air susu yang cukup untuk diperas.
Maknanya, jangan sampai di tengah pusaran fitnah kita dimanfaatkan menjadi tunggangan kepentingan pihak lain atau dijadikan sapi perah oleh kelompok-kelompok berkepentingan.
Di era yang penuh kekacauan atau kesulitan, diperlukan kehati-hatian, kewaspadaan, dan pengendalian diri agar tidak asal berbicara.

4. Larangan Berspekulasi yang Membahayakan Kepemilikan

Nasihat universal berikutnya menekankan: jangan pernah mempertaruhkan sesuatu (la tukhatir) hanya demi mengejar keuntungan yang lebih banyak darinya.
Hal ini berbeda dengan berniaga secara wajar yang menggunakan modal, studi kelayakan, dan perencanaan matang.

Islam tidak melarang perniagaan yang memiliki risiko untung-rugi wajar, namun menentang tindakan spekulatif yang serampangan. Spekulasi membahayakan modal yang sudah ada di tangan, sehingga alih-alih memperoleh tambahan, seseorang justru berisiko kehilangan seluruh apa yang telah dimilikinya.

5. Metafora Memilih Tunggangan yang Jinak

Imam Ali as memberikan perumpamaan: jika hendak menunggangi sesuatu (kuda, unta, atau keledai), pilihlah tunggangan yang sudah jinak dan mudah dikendalikan.
Jangan menaiki tunggangan yang liar, karena alih-alih sampai ke tempat tujuan, penunggangnya justru bisa terpelanting di tengah jalan atau dihempaskan ke jurang.

Kiasan ini mencakup seluruh aspek kehidupan dan relasi: jangan pernah membangun kerja sama, hubungan, atau urusan dengan pihak-pihak liar yang tidak bisa diajak berkomunikasi, tidak bisa membuka dialog, serta tidak bisa diajak bekerja sama.
Berurusan dengan orang-orang seperti itu hanya akan berujung pada kerugian dan kegagalan mencapai tujuan.

6. Adab Bergaul: Menjawab Keburukan Sahabat dengan Kebaikan

Imam Ali as memerinci panduan luhur dalam merespons sikap buruk kawan atau saudara:

  • Jika seorang kawan berusaha memutus hubungan (qathi’ah), bersikaplah sebaliknya dengan berikhtiar mencari jalan untuk menyambungnya kembali (shilah). Jangan jadikan orang yang bersikap buruk sebagai teladan etika kita.
  • Jika seorang teman berusaha menjauh atau bersikap tidak santun (shudud), balaslah dengan kesantunan dan berusahalah untuk mendekatinya kembali.
  • Jika seorang teman bersikap kikir atau menahan pemberian, obati kekikirannya dengan menunjukkan kedermawanan, agar ia belajar keteladanan darimu sehingga hubungan yang membeku dapat mencair kembali.

Etika Islam tidak mengajarkan prinsip membalas kasar dengan kasar, sombong dengan sombong, atau pelit dengan pelit.
Hal ini dicontohkan dalam riwayat ketika seorang penduduk Syam yang termakan propaganda Muawiyah datang ke Madinah lalu mencaci maki Imam Ali Zainal Abidin as, ayahnya, dan kakeknya. Imam menahan para sahabatnya yang hendak membalas, mendengarkan cercaan itu hingga tuntas, lalu mendatangi orang tersebut dengan tutur kata yang sangat lembut.
Imam menyampaikan bahwa jika tuduhan itu benar semoga Allah mengampuninya dan keluarganya, namun jika keliru semoga Allah mengampuni orang Syam tersebut.
Kelembutan akhlak itu seketika meluluhkan hati si pencaci hingga ia menyadari kebenaran risalah Ahlulbait. Demikian pula jika seseorang berbuat kesalahan atau kejahatan (jarimah) terhadap kita lalu memohon maaf, hendaknya kita siap memaafkannya.

7. Perlakukan Sahabat Seakan Kamu Hambanya, Namun Jangan Salah Sasaran

Imam Ali as menyampaikan ungkapan yang sangat mendalam: perlakukanlah saudaramu seakan-akan kamu adalah budak/hambanya (‘abdun), dan bersikaplah seolah-olah ia memiliki jasa yang teramat besar kepadamu yang tak mampu kamu balas. Sikap ini mencerminkan tingginya toleransi seorang muslim dalam memaklumi kekhilafan saudaranya.

Kendati demikian, beliau memberi peringatan tegas (wa iyyaka): jangan sampai keliru menempatkan perlakuan mulia ini kepada orang yang tidak tepat. Sikap membalas keburukan dengan kebaikan hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang dinilai masih memiliki potensi dan harapan untuk sadar serta berubah menjadi baik. Jika seseorang pada dasarnya memang berwatak jahat, tidak berhak menerimanya, dan sama sekali tidak ada harapan untuk berubah, maka ia tidak perlu diperlakukan sedemikian rupa.

8. Menjaga Perasaan Sahabat dan Kewajiban Menyampaikan Nasihat yang Tulus

Imam Ali as melarang seseorang menjadikan musuh dari sahabatnya sebagai temannya sendiri, karena tindakan tersebut mencederai perasaan sahabat dan membuatnya merasa dimusuhi. Persahabatan sejati menuntut tenggang rasa untuk tidak melukai hati kawan karib.

Selain itu, jangan pernah berhenti memberikan nasihat kepada sahabat, baik nasihat yang bersifat normatif menyenangkan maupun nasihat yang pahit bernada peringatan (hasanatan kanat au qabihah).
Ketika seorang kawan melakukan kekeliruan yang dapat mencelakakannya, kita bertanggung jawab untuk mengingatkannya secara tegas demi menyelamatkannya dari jurang kehancuran.
Nasihat yang dilandasi niat tulus menyelamatkan seseorang memiliki nilai yang sangat berbeda dibandingkan upaya mencela, mempermalukan, atau memojokkan orang lain.

9. Keutamaan Menelan Amarah dan Membalas Kekasaran dengan Kelembutan

Imam Ali as menyatakan: tidak ada tegukan (tajjaru’) yang lebih manis akibatnya dan lebih baik kesudahannya daripada menelan amarah, kejengkelan, dan kekesalan.
Menuruti emosi sesaat sering kali berakibat fatal, seperti insiden perselisihan di jalan raya akibat senggolan kendaraan yang berujung pada penganiayaan atau hilangnya nyawa.
Menahan amarah juga dicontohkan dalam keputusan besar seperti saat Imam Khomeini menerima resolusi gencatan senjata demi kemaslahatan umat.

Beliau menasihatkan agar seseorang bersikap lembut kepada orang yang berbuat kasar, sebab perlakuan lembut berpeluang besar melunakkan watak keras orang tersebut.
Jika kekasaran dibalas kekasaran, maka kita telah membiarkan diri kita dikendalikan oleh watak buruk orang lain.

10. Mengalahkan Musuh dengan Sikap Kesatria

Dalam menghadapi musuh, terdapat dua jalan kemenangan: menundukkan dengan kekuatan (power) atau menaklukkan dengan sikap kesatria.
Imam Ali as menegaskan bahwa menaklukkan musuh dengan sikap kesatria adalah yang paling manis dari dua bentuk kemenangan, karena cara ini mampu mengubah musuh menjadi kawan.

Hal ini terbukti pada peristiwa Perang Shiffin, saat pasukan Muawiyah sempat menguasai sumber air dan mencegah pasukan Imam Ali untuk meminumnya.
Setelah pasukan Imam Ali berhasil merebut kembali sumber air tersebut melalui pertempuran, giliran pasukan Muawiyah yang kehausan. Ketika sebagian sahabat mengusulkan agar mereka diperlakukan serupa, Imam Ali menolak dan tetap mempersilakan pasukan lawan mengambil air. Sikap kesatria yang agung ini berhasil meluluhkan hati banyak orang.

11. Menyisakan Celah Saat Terpaksa Memutus Hubungan

Apabila situasi menuntut seseorang untuk memutuskan pertemanan dengan saudaranya karena perangai buruknya yang tak tertahankan, Imam Ali as berpesan: jangan menutup rapat seluruh pintu; sisakanlah satu celah agar ia memiliki jalan kembali jika suatu hari ia berubah dan menyadari kesalahannya.
Islam melarang sikap antipati mutlak yang menutup total peluang rekonsiliasi dan perbaikan.

12. Merespons Prasangka Baik Orang Lain

Jika ada orang yang menaruh prasangka baik kepadamu, terimalah dan percayailah prasangka baik tersebut.
Kendati secara pribadi kita menyadari kekurangan diri, prasangka baik itu patut disyukuri dan dijadikan energi serta motivasi untuk terus memperbaiki diri agar benar-benar pantas menyandang kebaikan tersebut.
Hal ini selaras dengan doa agar Allah Swt. menjadikan kita lebih baik dari apa yang disangkakan orang lain kepada kita.

13. Larangan Menghilangkan Hak Sahabat atas Dasar Kedekatan

Salah satu kekeliruan yang kerap terjadi dalam pertemanan adalah berani mengambil atau menyepelekan hak kawan hanya karena merasa sangat akrab dan menganggap kawan tersebut tidak akan marah.
Imam Ali as memperingatkan: jangan sekali-kali melenyapkan hak saudaramu hanya karena bersandar pada kedekatan hubunganmu dengannya, sebab bukanlah saudaramu orang yang haknya engkau hilangkan.
Mengizinkan diri sendiri melanggar hak sahabat adalah bukti bahwa seseorang belum menjadi kawan sejati bagi saudaranya.

14. Jangan Menjadi Sosok yang Paling Dibenci oleh Keluarga Sendiri

Nasihat terakhir pada pertemuan ini menegaskan: jangan sampai keluargamu sendiri menjadi orang yang paling murka dan membencimu.
Keluarga semestinya menjadi pihak yang paling memaklumi dan menyayangi saudaranya; jika justru keluarga sendiri memandang sinis dan tidak menyukai kita, hal itu mengindikasikan adanya keburukan serius pada diri kita yang harus segera dibenahi.
Sikap keluarga juga dapat menjadi barometer: jika seseorang dibenci oleh keluarganya sendiri, kita patut berhati-hati terhadap orang tersebut.

Pertemuan ke-15 ini ditutup tepat pada durasi satu jam, menyisakan sekitar dua pertemuan untuk merampungkan keseluruhan wasiat Imam Ali as.

AB Wasiat Ke 15 Imam Ali

Bersama Ustadz Abdillah Baabud

Video sumber: ALQURBA TV

LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :

https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us