13 October 2026

Jika Tidak Mengetahui, kepada Siapa Umat Diperintahkan Bertanya?

Agama telah dinyatakan sempurna.

Tetapi kesempurnaan agama tidak membuat setiap manusia otomatis memahami seluruh isinya.

Al-Qur’an sempurna.

Namun tidak semua pembacanya memiliki kedalaman yang sama.

Satu orang membaca sebuah ayat dan menemukan petunjuk.

Orang lain membaca ayat yang sama lalu menjadikannya pembenaran bagi kepentingannya.

Satu orang mengetahui bahasa Arab.

Tetapi belum tentu mengetahui konteks, Sunnah, hubungan antarayat, dan maksud Rasulullah SAW.

Karena itu, setelah berbicara tentang:

wilayah,

kesucian,

mawaddah,

ketaatan,

tabligh,

dan kesempurnaan agama,

Al-Qur’an membawa kita kepada sebuah pertanyaan epistemologis:

KEPADA SIAPA KITA BERTANYA KETIKA TIDAK MENGETAHUI?

Allah SWT berfirman dalam QS an-Nahl 16:43:

«وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Kami tidak mengutus sebelum engkau selain laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada Ahl adz-Dzikr apabila kalian tidak mengetahui.”

Redaksi yang hampir sama muncul kembali dalam QS al-Anbiya 21:7:

«وَمَا أَرْسَلْنَا قَبْلَكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۖ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

Al-Qur’an mengulang perintah itu dua kali.

Tidak tahu?

Jangan menebak.

Jangan menjadikan perasaan sebagai dalil.

Jangan merasa harga diri jatuh karena harus bertanya.

Tetapi:

«فَاسْأَلُوا»

BERTANYALAH.

Namun pertanyaan berikutnya segera muncul:

Siapakah Ahl adz-Dzikr itu?

—

JANGAN HAPUS KONTEKS AWAL AYAT

Kita harus mulai dari tempat ayat berbicara.

Kaum musyrik mempertanyakan mengapa Allah mengutus seorang manusia sebagai Rasul.

Dalam pikiran mereka, utusan Tuhan seharusnya malaikat atau makhluk yang tidak hidup seperti manusia biasa.

Al-Qur’an menjawab:

Rasul-rasul sebelum Muhammad pun merupakan manusia.

Mereka makan.

Berjalan.

Hidup dalam masyarakat.

Namun Allah memberi mereka wahyu.

Jika kaum musyrik tidak mengetahui kenyataan sejarah itu, mereka dipersilakan bertanya kepada orang-orang yang mengetahui kitab-kitab terdahulu.

Al-Tabari menafsirkan Ahl adz-Dzikr pada QS an-Nahl 16:43 sebagai orang-orang yang telah membaca Taurat, Injil, dan kitab-kitab Allah sebelumnya. Pertanyaan yang diajukan kepada mereka sangat spesifik: apakah para rasul terdahulu manusia atau malaikat? Al-Qurthubi juga mencatat penafsiran kepada orang-orang berpengetahuan dari Ahlul Kitab, sekaligus menyebut pendapat bahwa Ahl adz-Dzikr berarti Ahlul Qur’an atau ahli ilmu.

Jadi kalau seseorang berkata:

“Dalam konteks awalnya, Ahl adz-Dzikr adalah orang yang mengetahui kitab-kitab terdahulu,”

kita tidak perlu marah.

Itu benar.

Ayat sedang membantah penolakan kaum musyrik terhadap kerasulan seorang manusia.

Tetapi konteks awal bukan selalu batas akhir seluruh prinsip yang dilahirkan ayat.

Sebab dari peristiwa khusus itu muncul sebuah kaidah yang sangat luas:

ORANG YANG TIDAK MENGETAHUI HARUS BERTANYA KEPADA ORANG YANG MEMILIKI PENGETAHUAN.

—

MEREKA TIDAK DIPERINTAHKAN BERTANYA TENTANG SELURUH AGAMA KEPADA AHLUL KITAB

Ini pembedaan yang sangat penting.

Kaum musyrik tidak diperintahkan:

“Pergilah kepada pendeta dan rahib, lalu terimalah seluruh akidah mereka.”

Tidak.

Mereka diperintahkan bertanya mengenai satu kenyataan yang memang diketahui pemilik kitab-kitab terdahulu:

Apakah para rasul sebelumnya manusia?

Dengan demikian, Ahlul Kitab menjadi rujukan dalam perkara sejarah kenabian yang terdapat dalam tradisi kitab mereka.

Bukan otoritas final untuk menjelaskan seluruh agama Muhammad SAW.

Ini membantu kita memahami riwayat Ahlul Bait yang kelak mengkritik anggapan bahwa orang Yahudi dan Nasrani menjadi Ahl adz-Dzikr dalam pengertian rujukan permanen umat Islam.

Tidak ada kontradiksi yang harus dipaksakan.

Kita dapat membedakan:

rujukan kontekstual untuk satu fakta tertentu,

dari:

otoritas normatif yang menjadi tempat umat Muhammad bertanya mengenai agama Muhammad.

Pada pertanyaan pertama, orang berpengetahuan dari Ahlul Kitab dapat menjadi saksi.

Pada pertanyaan kedua, umat Islam harus kembali kepada pemilik ilmu Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

—

AYAT INI MELAHIRKAN PRINSIP KEILMUAN YANG UNIVERSAL

Al-Qurthubi tidak berhenti pada konteks kaum musyrik dan Ahlul Kitab.

Ketika menafsirkan QS al-Anbiya 21:7, ia menyatakan bahwa para ulama tidak berselisih mengenai kewajiban orang awam merujuk kepada ulama dalam persoalan yang tidak diketahuinya; orang yang tidak mempunyai ilmu tidak boleh mengeluarkan fatwa dari ketidaktahuannya.

Ini sangat penting.

Al-Qur’an tidak mengajarkan bahwa semua manusia mempunyai otoritas pengetahuan yang sama.

Semua manusia sama dalam martabat kemanusiaan.

Tetapi mereka tidak sama dalam:

ilmu,

pengalaman,

ketelitian,

dan kedalaman pemahaman.

Seorang yang baru membaca satu terjemahan tidak otomatis mempunyai kedudukan yang sama dengan orang yang menghabiskan hidup mempelajari:

bahasa,

riwayat,

fikih,

sejarah,

dan tafsir.

Agama tidak menghapus keahlian.

Justru Al-Qur’an berkata:

«إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Jika kalian tidak mengetahui…”

Lalu:

«فَاسْأَلُوا»

“Bertanyalah.”

—

MASALAH TERBESAR MANUSIA SERING BUKAN TIDAK TAHU

Masalah terbesar manusia adalah:

tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Orang yang benar-benar tidak mengetahui tetapi menyadarinya masih mempunyai jalan menuju ilmu.

Ia akan bertanya.

Belajar.

Mendengarkan.

Memeriksa.

Tetapi orang yang tidak mengetahui lalu merasa telah mengetahui tidak lagi mencari jawaban.

Ia mencari pembenaran.

Ayat ini dengan demikian tidak hanya memerintahkan bertanya.

Ia mendidik:

KERENDAHAN HATI EPISTEMIK.

Sebelum berkata:

“Aku mempunyai pendapat,”

tanyakan:

Apakah aku mempunyai pengetahuan yang cukup untuk berpendapat?

Sebelum menafsirkan satu ayat:

Apakah kita memahami bahasanya?

Konteksnya?

Ayat lain yang berkaitan?

Penjelasan Rasulullah?

Sebelum menyalahkan sebuah mazhab:

Apakah kita pernah membaca sumber aslinya?

Atau hanya mendengar tuduhan dari orang yang juga tidak pernah membacanya?

Ayat ini seakan berkata:

Jangan jadikan ketidaktahuan sebagai keberanian.

—

AL-QUR’AN TIDAK BERKATA: “BERTANYALAH KEPADA SIAPA SAJA”

Perhatikan:

«أَهْلَ الذِّكْرِ»

Bukan:

«“Siapa saja yang bersedia menjawab.”»

Kata:

«أَهْل»

ahl

menunjukkan hubungan yang mendalam dan menetap.

Kita mengatakan:

Ahlul Bait—orang-orang rumah.

Ahlul ‘ilm—orang yang benar-benar hidup dalam ilmu.

Ahlul Qur’an—orang yang mempunyai kedekatan, pengetahuan, dan kehidupan bersama Al-Qur’an.

Maka Ahl adz-Dzikr bukan orang yang kebetulan mengetahui satu informasi.

Bukan orang yang pandai berbicara.

Bukan orang yang mempunyai banyak pengikut.

Bukan orang yang sering muncul di media.

Ia adalah:

orang yang mempunyai hubungan yang sah, dalam, dan terpercaya dengan adz-Dzikr.

Pertanyaannya sekarang:

APA ITU ADZ-DZIKR?

—

ADZ-DZIKR DALAM AL-QUR’AN

Kata:

«الذِّكْر»

mempunyai medan makna yang luas.

Ia dapat berarti:

ingatan,

peringatan,

pengajaran,

kemuliaan,

wahyu,

dan kitab yang membuat manusia kembali sadar kepada Allah.

Al-Qur’an sendiri disebut:

«الذِّكْر»

Allah berfirman:

«إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ»

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr dan Kamilah yang menjaganya.” QS al-Hijr 15:9.

Bahkan tepat setelah QS an-Nahl 16:43, Allah berfirman:

«وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ»

“Dan Kami menurunkan kepadamu adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” QS an-Nahl 16:44.

Perhatikan hubungan kedua ayat itu.

Ayat 43:

«فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ»

Bertanyalah kepada Ahl adz-Dzikr.

Ayat 44:

«وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ»

Kami menurunkan adz-Dzikr kepadamu.

Dalam makna yang sangat alami, jika adz-Dzikr adalah wahyu dan Al-Qur’an, maka Ahl adz-Dzikr dalam cakupan Islam adalah:

ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MEMILIKI ILMU TENTANG WAHYU.

Dan pertanyaan berikutnya tidak dapat dihindari:

Siapa yang paling mengetahui Al-Qur’an setelah Rasulullah SAW?

—

AL-TABARI MENCATAT: “KAMILAH AHL ADZ-DZIKR”

Ketika menafsirkan QS al-Anbiya 21:7, al-Tabari terlebih dahulu menjelaskan konteks Ahlul Taurat dan Injil.

Namun ia juga mencatat pendapat bahwa Ahl adz-Dzikr adalah:

«أَهْلُ الْقُرْآنِ»

Ahlul Qur’an.

Lalu ia meriwayatkan melalui Jabir al-Ju‘fi bahwa ketika ayat itu turun, Imam Ali as berkata:

«نَحْنُ أَهْلُ الذِّكْرِ»

“Kamilah Ahl adz-Dzikr.”

Al-Qurthubi juga mencatat riwayat yang sama:

«قَالَ عَلِيٌّ: نَحْنُ أَهْلُ الذِّكْرِ»

“Ali berkata: Kamilah Ahl adz-Dzikr.”

Menariknya, al-Qurthubi meletakkan riwayat tersebut sesudah menyebut penafsiran adz-Dzikr sebagai Al-Qur’an dan Ahl adz-Dzikr sebagai orang-orang berilmu dari kalangan Ahlul Qur’an.

Kita harus menempatkannya secara tepat.

Riwayat al-Tabari itu datang melalui Jabir al-Ju‘fi dan tidak menjadi penafsiran yang disepakati seluruh ahli tafsir.

Maka jangan berkata:

“Al-Tabari memastikan dengan sanad yang disepakati bahwa Ahl adz-Dzikr hanya Ali dan Ahlul Bait.”

Tidak.

Yang benar adalah:

penafsiran Ali sebagai bagian utama Ahl adz-Dzikr memang mempunyai jejak dalam tafsir Sunni klasik dan tidak dapat disebut sebagai gagasan yang baru diciptakan oleh Syiah berabad-abad kemudian.

Itu fakta historiografis yang sangat penting.

—

DALAM AL-KAFI, IDENTIFIKASINYA JAUH LEBIH TEGAS

Tradisi Imamiyah tidak memperlakukan hubungan ayat dengan Ahlul Bait sebagai satu riwayat pinggiran.

Al-Kafi bahkan mempunyai satu bab khusus berjudul:

«بَابُ أَنَّ أَهْلَ الذِّكْرِ الَّذِينَ أَمَرَ اللَّهُ الْخَلْقَ بِسُؤَالِهِمْ هُمُ الْأَئِمَّةُ»

“Bab bahwa Ahl adz-Dzikr yang Allah perintahkan makhluk bertanya kepada mereka adalah para Imam.”

Bab tersebut memuat sembilan riwayat—meskipun tentu tidak seluruh jalurnya mempunyai derajat yang sama.

Salah satu riwayat yang sangat penting datang dari Muhammad bin Muslim dari Imam Muhammad al-Baqir as.

Disebutkan bahwa sebagian orang menganggap Ahl adz-Dzikr adalah Yahudi dan Nasrani.

Imam al-Baqir menjawab secara retoris:

Kalau demikian, bukankah mereka akan mengajak kalian kepada agama mereka?

Kemudian beliau menunjuk kepada dirinya dan mengatakan:

«نَحْنُ أَهْلُ الذِّكْرِ وَنَحْنُ الْمَسْئُولُونَ»

“Kamilah Ahl adz-Dzikr dan kamilah pihak yang harus ditanya.”

Allamah Muhammad Baqir al-Majlisi menilai sanad riwayat ini sahih dalam Mir’āt al-‘Uqūl.

Riwayat lain dari Imam Ja‘far ash-Shadiq as mengatakan:

«فَرَسُولُ اللَّهِ الذِّكْرُ وَأَهْلُ بَيْتِهِ الْمَسْئُولُونَ وَهُمْ أَهْلُ الذِّكْرِ»

“Rasulullah adalah adz-Dzikr, dan Ahlul Baitnya adalah pihak yang ditanya; merekalah Ahl adz-Dzikr.”

Riwayat ini juga dinilai sahih oleh al-Majlisi.

Maka dalam kerangka riwayat Imamiyah:

adz-Dzikr dapat menunjuk kepada Rasulullah SAW atau wahyu yang beliau bawa,

dan:

Ahl adz-Dzikr adalah keluarga yang menjadi pemilik serta pewaris ilmu risalah beliau.

—

BAGAIMANA RASULULLAH SAW DAPAT DISEBUT ADZ-DZIKR?

Dalam sebuah dialog yang dinisbatkan kepada Imam Ali ar-Ridha as di hadapan al-Ma’mun, Imam ditanya mengenai penafsiran Ahl adz-Dzikr.

Ketika sebagian ulama menjawab bahwa mereka adalah Yahudi dan Nasrani, Imam ar-Ridha menolak menjadikan mereka rujukan agama umat Islam secara permanen.

Beliau kemudian menghubungkan adz-Dzikr dengan Rasulullah SAW melalui QS ath-Thalaq 65:10–11:

«قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا ۝ رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ»

“Allah telah menurunkan kepada kalian suatu Dzikr—seorang Rasul yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Allah.”

Dalam argumentasi Imam ar-Ridha, Rasulullah adalah adz-Dzikr, sedangkan Ahlul Bait adalah ahl-nya. Riwayat dialog ini terdapat dalam al-Amali karya Syekh ash-Shaduq.

Kita harus menyebutnya dengan hati-hati.

Tidak semua mufasir menafsirkan struktur QS ath-Thalaq tersebut dengan cara yang sama.

Al-Qurthubi, misalnya, mencatat beberapa kemungkinan gramatikal terhadap kata dzikran dan rasulan, meskipun mayoritas memahami rasul pada ayat itu sebagai Nabi Muhammad SAW.

Jadi pembacaan:

Rasul = Dzikr, Ahlul Bait = Ahl adz-Dzikr

merupakan argumentasi riwayat Ahlul Bait.

Bukan satu-satunya analisis gramatikal yang dikenal dalam tafsir.

Tetapi ia mempunyai koherensi spiritual yang sangat kuat:

Rasulullah adalah manusia yang menghadirkan Allah dalam kesadaran umat.

Al-Qur’an adalah Dzikr yang beliau bawa.

Dan Ahlul Bait adalah keluarga yang diwarisi ilmu mengenai Dzikr tersebut.

—

AHLUL KITAB DALAM KONTEKS; AHLUL BAIT DALAM OTORITAS ISLAM

Sekarang kita dapat merumuskan hubungan kedua pembacaan secara lebih adil.

Pada konteks awal:

Kaum musyrik bertanya kepada ahli kitab terdahulu apakah para rasul sebelum Muhammad merupakan manusia.

Pada prinsip umumnya:

Orang yang tidak tahu harus bertanya kepada orang yang benar-benar mengetahui.

Pada penerapan dalam umat Muhammad:

Pertanyaan mengenai makna agama Muhammad harus dikembalikan kepada manusia yang paling mengetahui Al-Qur’an dan Sunnah Muhammad.

Dalam tradisi Imamiyah:

mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah SAW.

Dengan demikian, kita tidak perlu menghapus konteks awal untuk menetapkan penerapan Ahlul Bait.

Dan kita tidak perlu menghapus Ahlul Bait hanya karena ayat pertama kali berbicara kepada kaum musyrik.

Konteks menjelaskan:

mengapa ayat turun.

Prinsip menjelaskan:

apa yang ayat ajarkan sepanjang zaman.

Riwayat menjelaskan:

siapa realisasi tertinggi prinsip tersebut dalam umat Muhammad.

Inilah metode yang lebih kuat.

—

KENAPA AHLUL BAIT LAYAK MENJADI AHL ADZ-DZIKR?

Jawabannya tidak boleh hanya:

“Karena mereka keluarga Nabi.”

Kedekatan darah saja tidak cukup menjadi otoritas ilmu.

Al-Qur’an sudah memperlihatkan bahwa dalam keluarga seorang nabi pun dapat lahir manusia yang memilih jalan berbeda.

Maka alasan Ahlul Bait menjadi rujukan bukan nasab biologis semata.

Kita telah membaca tujuh bagian sebelum ini.

Mereka mempunyai:

Tathir—deklarasi penyucian.

Mubahalah—kedekatan dan representasi keluarga risalah.

Mawaddah—cinta yang diperintahkan.

Wilayah—hubungan otoritas.

Ulil Amri—struktur ketaatan.

Tabligh dan Ikmal—kesinambungan petunjuk dalam agama yang sempurna.

Sekarang:

Ahl adz-Dzikr—otoritas pengetahuan.

Satu kualitas menjelaskan kualitas lainnya.

Ketaatan tanpa ilmu akan berbahaya.

Ilmu tanpa kesucian dapat diperdagangkan.

Kesucian tanpa fungsi petunjuk hanya menjadi keutamaan pribadi.

Tetapi jika:

kesucian, ilmu, dan otoritas

bertemu pada keluarga yang sama,

kita mulai memperoleh profil utuh:

IMAMAH.

—

HADIS TSAQALAIN MEMBERI KONTEKS YANG LEBIH BESAR

Sahih Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkhutbah di Khumm menjelang akhir hidupnya.

Beliau mengatakan bahwa dirinya akan segera memenuhi panggilan Tuhannya.

Kemudian beliau meninggalkan dua perkara berat:

pertama:

«كِتَابُ اللَّهِ»

Kitab Allah, yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.

Setelah mendorong umat berpegang kepada Kitab, beliau berkali-kali mengingatkan mereka mengenai:

«أَهْلُ بَيْتِي»

Ahlul Baitnya.

Riwayat versi Sahih Muslim itu tidak mengatakan secara literal:

“Setiap pertanyaan fikih harus langsung diajukan kepada Ahlul Bait.”

Kita tidak boleh membuat teks berkata lebih daripada yang dikatakannya.

Tetapi lihatlah strukturnya.

Menjelang wafat:

Rasul mengingatkan kepada Kitab.

Kemudian mengingatkan kepada keluarganya.

Dalam Ayat Ahl adz-Dzikr:

orang yang tidak tahu diperintahkan bertanya kepada pemilik ilmu Dzikr.

Dalam riwayat Imamiyah:

Rasul adalah Dzikr dan Ahlul Bait adalah keluarganya yang ditanya.

Semua itu membentuk satu pola:

Kitab tidak dipisahkan dari rumah ilmu Nabi.

—

AL-QUR’AN SEMPURNA, TETAPI MANUSIA TETAP MEMBUTUHKAN PENJELAS

Ayat berikut setelah perintah bertanya berkata:

«وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ»

“Kami menurunkan kepadamu adz-Dzikr agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka.” QS an-Nahl 16:44.

Ini sangat menentukan.

Al-Qur’an memang sempurna.

Tetapi Allah tetap memberikan kepada Rasulullah fungsi:

«لِتُبَيِّنَ»

agar engkau menjelaskan.

Jadi sejak awal Islam tidak pernah mengenal konsep:

“Teks saja tanpa penjelas.”

Al-Qur’an tidak berkata:

“Karena Kitab sudah turun, manusia tidak membutuhkan Rasul untuk menjelaskannya.”

Justru fungsi Rasul disebut langsung.

Setelah Rasulullah SAW wafat, kebutuhan kepada penjelasan tidak ikut wafat.

Pertanyaan agama terus muncul.

Perbedaan pemahaman berkembang.

Riwayat saling berhadapan.

Persoalan baru lahir.

Maka masalahnya bukan:

Apakah kita membutuhkan penjelasan?

Kita jelas membutuhkan.

Masalahnya:

SIAPA YANG MEWARISI PENJELASAN RASULULLAH DENGAN PALING UTUH?

Tradisi Ahlul Bait memberikan jawaban:

keluarganya yang disucikan dan diwarisi ilmu beliau.

—

MENGAPA TIDAK CUKUP BERTANYA KEPADA SETIAP SAHABAT?

Banyak sahabat mempunyai ilmu.

Kita tidak perlu meniadakan jasa mereka.

Sebagian menghafal ayat.

Meriwayatkan hadis.

Mengetahui hukum tertentu.

Mendampingi Rasul dalam peristiwa tertentu.

Tetapi tidak semua sahabat:

hidup bersama Rasul sejak awal,

dibesarkan dalam rumah beliau,

mengetahui sebab turun setiap ayat,

menerima pengajaran dalam kadar yang sama,

atau mempunyai kedudukan yang sama dalam ilmu.

Mengakui perbedaan tingkat pengetahuan tidak berarti menghina siapa pun.

Seorang sahabat dapat sangat mulia tetapi tetap tidak mengetahui suatu perkara yang diketahui sahabat lain.

Yang sedang kita cari bukan:

“Apakah selain Ahlul Bait tidak mempunyai ilmu?”

Tentu mempunyai.

Pertanyaannya lebih spesifik:

Siapa otoritas tertinggi ketika terjadi perbedaan mengenai agama Rasulullah SAW?

Dalam pembacaan Ahlul Bait:

Ali bukan hanya salah seorang yang mengetahui.

Ia adalah pintu utama kepada ilmu Rasul.

Kemudian ilmu itu berjalan melalui para Imam dari keluarganya.

—

JANGAN UBAH AHL ADZ-DZIKR MENJADI SEMUA ORANG YANG MEMAKAI GELAR AGAMA

Seorang manusia dapat dipanggil:

ustaz,

syekh,

habib,

kiai,

mufasir,

atau:

ayatullah.

Tetapi gelar tidak otomatis membuatnya menjadi Ahl adz-Dzikr dalam pengertian tertinggi.

Ukuran seorang ahli bukan pakaian.

Bukan popularitas.

Bukan jumlah pengikut.

Bukan kerasnya suara.

Tetapi:

ilmu,

amanah,

metodologi,

kejujuran,

dan kedekatan kepada sumber yang sah.

Dalam konteks umum, ulama yang benar memang termasuk Ahlul Ilm yang wajib ditanya sesuai keahliannya.

Namun dalam pengertian khusus Imamiyah:

para ulama bukan pengganti Imam maksum.

Mereka belajar dari:

Al-Qur’an,

Sunnah Rasul,

dan riwayat para Imam.

Otoritas mereka:

derivatif.

Bukan asli.

Mereka dapat berbeda.

Dapat salah.

Pendapatnya dapat diperiksa.

Itulah perbedaan antara:

Imam sebagai sumber petunjuk yang dijaga,

dan:

ulama sebagai pembaca serta penyampai warisan petunjuk.

—

PADA MASA GHAIBAH, KEPADA SIAPA KITA BERTANYA?

Pertanyaan ini penting.

Kalau Ahl adz-Dzikr adalah para Imam, sedangkan Imam al-Mahdi as berada dalam ghaibah, bagaimana umat bertanya?

Jawabannya bukan:

“Karena Imam ghaib, kita tidak memerlukan ilmu.”

Dan bukan pula:

“Setiap orang boleh menafsirkan agama sesuka hati.”

Umat merujuk kepada ulama yang:

menguasai Al-Qur’an,

memahami Sunnah,

meneliti riwayat Ahlul Bait,

mengetahui kaidah bahasa,

ushul fikih,

dan mempunyai integritas moral.

Tetapi ulama tersebut tidak berubah menjadi maksum.

Ia tetap mungkin salah.

Karena itu dalam tradisi fikih Ja‘fari terdapat:

ijtihad,

perbedaan fatwa,

kritik ilmiah,

dan perubahan pendapat.

Ini justru sehat.

Otoritas ulama pada masa ghaibah bukan klaim bahwa ia menjadi Imam ketiga belas.

Ia adalah:

upaya manusiawi yang disiplin untuk membawa pertanyaan umat kembali kepada sumber ilmu Ahlul Bait.

—

BERTANYA TIDAK BERARTI MEMATIKAN AKAL

Ada orang yang menganggap:

“Kalau harus bertanya kepada ahli, berarti kita dilarang berpikir.”

Itu keliru.

Seorang pasien bertanya kepada dokter bukan karena ia tidak mempunyai akal.

Justru karena akalnya membuatnya memahami batas keahliannya.

Seorang murid bertanya kepada guru bukan karena pikirannya harus mati.

Tetapi agar pikirannya bertumbuh.

Ayat Ahl adz-Dzikr tidak mengajarkan:

“Serahkan akalmu kepada siapa pun yang mengaku ahli.”

Ia mengajarkan:

gunakan akal untuk mengenali siapa yang layak ditanya, lalu jangan bersikap sombong di hadapan ilmu yang tidak engkau miliki.

Bahkan jawaban seorang ahli tetap harus dipahami.

Diperiksa sesuai kemampuan.

Diletakkan dalam sumber yang sah.

Yang dilarang bukan berpikir.

Yang dilarang adalah:

berpendapat tanpa ilmu.

—

ADA PERBEDAAN ANTARA BERTANYA DAN MENGUJI DENGAN KESOMBONGAN

Al-Qur’an berkata:

«إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Jika kalian tidak mengetahui.”

Artinya, pertanyaan lahir dari kebutuhan kepada pengetahuan.

Bukan selalu dari keinginan menjebak.

Ada orang bertanya karena ingin mengerti.

Ada pula yang bertanya hanya untuk mencari satu kalimat yang dapat dipelintir.

Yang kedua bukan pencari ilmu.

Ia sudah membawa kesimpulan dan hanya mencari bahan.

Ahlul Bait berhadapan dengan kedua jenis penanya.

Mereka menjawab manusia yang datang dengan kejujuran.

Tetapi tidak setiap pertanyaan harus dijawab apabila pertanyaannya hanya merupakan jalan menuju fitnah.

Itulah salah satu makna menarik dari beberapa riwayat al-Kafi: kewajiban umat adalah bertanya kepada sumber yang benar, sedangkan pihak yang memiliki ilmu mempunyai hikmah dalam menentukan bagaimana dan kapan jawaban diberikan. Riwayat-riwayat dalam bab Ahl adz-Dzikr memuat pembicaraan tersebut secara eksplisit.

—

MENGAPA IMAM TIDAK SELALU MENJAWAB DENGAN CARA YANG SAMA?

Situasi manusia berbeda.

Kemampuan memahami berbeda.

Bahaya politik berbeda.

Sebuah jawaban yang aman disampaikan kepada murid terpercaya mungkin tidak aman di hadapan penguasa yang sedang mencari alasan membunuh.

Sebuah pengetahuan yang tepat untuk seorang ahli belum tentu tepat diberikan kepada orang yang akan menyalahgunakannya.

Karena itu hikmah dalam menjawab bukan berarti menyembunyikan agama secara zalim.

Ia berarti:

menempatkan ilmu pada tempatnya.

Rasulullah SAW sendiri berbicara sesuai kadar kemampuan pendengar.

Ahlul Bait pun hidup dalam situasi:

pengawasan,

penindasan,

dan pertarungan politik yang berbeda-beda.

Maka variasi jawaban harus dibaca bersama konteksnya.

—

ORANG YANG MENGETAHUI BANYAK BELUM TENTU AMAN DITANYA

Ilmu mempunyai dua syarat untuk menjadi petunjuk:

ketepatan

dan:

amanah.

Seseorang dapat sangat cerdas tetapi menggunakan kecerdasannya untuk mendekati penguasa.

Mengubah fatwa.

Memilih riwayat yang menguntungkan kelompok.

Menyembunyikan kebenaran.

Karena itu Ayat Ahl adz-Dzikr harus dibaca bersama Ayat Tathir.

Umat tidak hanya membutuhkan orang yang tahu.

Umat membutuhkan orang yang:

ilmunya tidak dijual.

Di sinilah kesucian Ahlul Bait mempunyai fungsi epistemik.

Mereka tidak sekadar bersih untuk diri sendiri.

Kesucian mereka membuat ilmu agama aman berada pada mereka.

—

ULAMA DAPAT BANYAK; AHL ADZ-DZIKR TERTINGGI TIDAK BOLEH SALING BERTENTANGAN

Bayangkan sepuluh orang semuanya disebut rujukan mutlak.

Yang satu berkata:

A.

Yang kedua berkata:

bukan A.

Yang ketiga mengatakan:

keduanya sesat.

Kalau semuanya wajib diikuti secara mutlak, umat menghadapi kontradiksi.

Karena itu diperlukan hierarki.

Pada tingkat umum:

ulama berbeda sesuai ijtihad.

Pada tingkat tertinggi:

harus ada sumber yang menjadi ukuran.

Dalam teologi Imamiyah, para Imam tidak membawa agama berbeda-beda.

Mereka berada dalam satu jalur ilmu Muhammad SAW.

Perbedaan tindakan mereka lahir dari kondisi sejarah.

Bukan perbedaan sumber agama.

Hasan dapat berdamai.

Husain dapat bangkit.

Tetapi keduanya tidak mempunyai dua Islam.

Satu cahaya.

Dua keadaan.

—

AHLUL BAIT BUKAN PESAING AL-QUR’AN

Ini harus terus ditegaskan.

Menjadikan Ahlul Bait sebagai Ahl adz-Dzikr tidak berarti:

“Kalau ada Imam, tidak perlu Al-Qur’an.”

Justru tidak mungkin.

Apa yang membuat mereka menjadi Ahl adz-Dzikr?

Hubungan mereka dengan:

adz-Dzikr.

Kalau adz-Dzikr adalah Al-Qur’an, maka mereka adalah keluarga ilmu Al-Qur’an.

Kalau adz-Dzikr adalah Rasulullah SAW, mereka adalah Ahlul Bait Rasulullah.

Dalam kedua pembacaan:

mereka tidak berdiri terpisah dari wahyu.

Maka rumusnya bukan:

Al-Qur’an atau Ahlul Bait.

Tetapi:

AL-QUR’AN BERSAMA AHLUL BAIT.

Kitab menjadi ukuran.

Ahlul Bait menjelaskan cara Rasulullah memahami ukuran itu.

Dan setiap riwayat yang dinisbatkan kepada mereka harus dikaji dalam cahaya Kitab Allah.

—

JANGAN PULA JADIKAN “KEMBALI KEPADA AL-QUR’AN” SEBAGAI ALASAN MENINGGALKAN PENJELAS RASUL

Slogan:

“Cukup Al-Qur’an”

terdengar sangat suci.

Tetapi Al-Qur’an sendiri memerintahkan:

menaati Rasul,

mengikuti keputusannya,

dan mengakui fungsi beliau menjelaskan wahyu.

Kalau “cukup Al-Qur’an” berarti:

Al-Qur’an adalah sumber tertinggi yang tidak boleh ditinggalkan,

kita setuju.

Tetapi kalau berarti:

tidak perlu Sunnah, tidak perlu penjelasan, dan setiap orang bebas menentukan makna ayat sendiri,

maka slogan itu justru bertentangan dengan Al-Qur’an.

QS an-Nahl 16:44 mengatakan Rasul ditugaskan:

«لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ»

“agar menjelaskan kepada manusia.”

Ahlul Bait dalam tradisi Imamiyah tidak menggantikan fungsi kenabian.

Mereka mewarisi:

hasil penjelasan Nabi.

—

ADA SESUATU YANG ANEH DALAM SEJARAH UMAT

Hampir semua muslim berkata:

“Kami mencintai Ahlul Bait.”

Tetapi ketika agama dipelajari, berapa sering mereka benar-benar ditanya?

Kita mengenal ribuan riwayat melalui banyak nama.

Tetapi berapa banyak umat mengenal tafsir Imam Ali?

Berapa banyak yang membaca doa-doa Imam Zainal Abidin?

Berapa banyak yang mempelajari penjelasan Imam Muhammad al-Baqir?

Berapa banyak yang mengetahui perdebatan ilmiah Imam Ja‘far ash-Shadiq?

Nama mereka hadir dalam shalawat.

Tetapi ilmu mereka dapat absen dari kurikulum.

Mereka dicintai sebagai keluarga Muhammad.

Tetapi tidak didatangi sebagai:

KELUARGA ILMU MUHAMMAD.

Inilah salah satu paradoks terbesar.

Kita mengatakan:

“Ali adalah pintu ilmu.”

Tetapi jarang masuk melalui pintu tersebut.

Kita memuji ash-Shadiq.

Tetapi lebih sering mengutip orang yang hidup berabad-abad setelahnya tanpa pernah bertanya apa yang beliau ajarkan.

Ayat berkata:

«فَاسْأَلُوا»

“Bertanyalah.”

Bukan hanya:

“Pujilah.”

—

MAWADDAH TANPA BERTANYA DAPAT MENJADI CINTA TANPA ISI

Ayat Mawaddah memerintahkan cinta.

Ayat Ahl adz-Dzikr memerintahkan bertanya.

Dua ayat itu harus dibaca bersama.

Kalau kita mencintai Ahlul Bait tetapi tidak pernah ingin mengetahui pandangan mereka, cinta itu belum lengkap.

Sebaliknya, kalau kita mengambil ilmu mereka tetapi tidak mempunyai mawaddah, hubungan itu menjadi dingin.

Cinta membuka hati.

Ilmu memberi arah.

Inilah keindahan hubungan umat dengan Ahlul Bait:

bukan sekadar loyalitas intelektual.

Bukan sekadar emosi.

Tetapi:

mawaddah yang berilmu

dan:

ilmu yang dicintai.

—

KETAATAN TANPA BERTANYA JUGA BERBAHAYA

Ayat Ulil Amri memerintahkan ketaatan.

Tetapi bagaimana kita menaati jika tidak mengetahui apa yang mereka ajarkan?

Ketaatan tanpa ilmu mudah dimanipulasi.

Seseorang dapat mengatasnamakan Imam.

Mengarang ucapan.

Menyebarkan riwayat lemah.

Lalu berkata:

“Kalau mencintai Ahlul Bait, harus mengikuti ini.”

Tidak.

Cinta tidak membebaskan kita dari penelitian.

Justru karena nama Imam suci, kita harus lebih hati-hati menisbatkan sesuatu kepadanya.

Bertanyalah kepada:

Ahl adz-Dzikr,

bukan kepada:

orang yang menjual nama Ahl adz-Dzikr.

—

MEDIA SOSIAL MEMBUAT AYAT INI SEMAKIN PENTING

Hari ini setiap orang dapat berbicara.

Membuat video.

Menulis status.

Mengutip potongan hadis.

Memberikan hukum.

Sering kali orang yang paling yakin terdengar paling meyakinkan—meskipun ilmunya paling sedikit.

Algoritma tidak selalu memilih yang paling benar.

Ia memilih yang paling menarik perhatian.

Akibatnya:

kebisingan dapat mengalahkan kedalaman.

Ayat Ahl adz-Dzikr menjadi semakin relevan:

Jangan tentukan kebenaran dari:

berapa banyak yang membagikan,

berapa keras orang berbicara,

atau:

berapa besar pengikutnya.

Tanyakan:

Apakah ia benar-benar ahl-nya?

Apakah menguasai sumber?

Apakah amanah ketika mengutip?

Apakah menjelaskan perbedaan pendapat secara jujur?

Apakah berani mengatakan:

“Aku tidak tahu”?

Kadang tanda terbesar seorang ahli adalah kemampuannya mengakui batas pengetahuan.

—

IMAM BUKAN ENSIKLOPEDIA UNTUK MEMUASKAN KEINGINTAHUAN YANG TIDAK BERGUNA

Ayat mengatakan:

bertanyalah jika tidak mengetahui.

Tetapi tidak setiap hal yang tidak kita ketahui wajib ditanyakan.

Ada pertanyaan yang bermanfaat.

Ada yang hanya memuaskan rasa ingin tahu.

Ada yang merusak.

Ada yang menjadi jalan fitnah.

Tujuan bertanya adalah:

hidayah.

Bukan menumpuk informasi.

Ahlul Bait tidak diutus untuk menjawab setiap spekulasi yang tidak mempunyai manfaat bagi agama atau kehidupan manusia.

Ilmu yang mereka bawa mengarahkan kepada:

tauhid,

ibadah,

akhlak,

hukum,

dan keselamatan manusia.

Maka seorang pencari ilmu juga harus belajar:

apa yang layak ditanyakan.

—

AYAT INI MEMULIAKAN MANUSIA, BUKAN MENDIVINISASIKAN IMAM

Perhatikan awal ayat:

«وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ»

Allah mengutus manusia.

Bukan malaikat.

Ini penting pula dalam pembahasan Imamah.

Para Imam adalah:

manusia.

Mereka bukan Tuhan.

Bukan bagian dari zat Allah.

Tidak mempunyai ilmu independen dari Allah.

Kalau mengetahui sesuatu, Allah memberikannya melalui Rasul dan jalur yang Dia kehendaki.

Kalau membimbing, mereka membimbing dengan:

«بِأَمْرِنَا»

perintah Allah.

Maka menjadikan Ahlul Bait sebagai Ahl adz-Dzikr tidak berarti mengeluarkan mereka dari kemanusiaan.

Justru Al-Qur’an sejak awal mengajarkan:

petunjuk Ilahi dapat dibawa oleh manusia pilihan.

Kesalahan kaum musyrik adalah mengira manusia tidak mungkin menjadi pembawa petunjuk.

Jangan ulangi kesalahan itu dengan berkata:

“Karena Imam manusia, ia tidak mungkin mempunyai otoritas Ilahi.”

Nabi juga manusia.

Yang menentukan bukan spesies biologisnya.

Tetapi:

pilihan Allah.

—

APAKAH AYAT INI SENDIRIAN MEMBUKTIKAN DUA BELAS IMAM?

Tidak.

Kita harus konsisten.

QS an-Nahl 16:43 dan QS al-Anbiya 21:7 tidak menyebut:

Ali,

Hasan,

Husain,

atau dua belas nama secara literal.

Konteks langsungnya berkaitan dengan kerasulan manusia dan rujukan kepada orang yang mengetahui kitab-kitab terdahulu.

Maka ayat ini tidak boleh dipakai sendirian dengan berkata:

“Dua belas Imam sudah tertulis eksplisit di sini.”

Itu berlebihan.

Yang dapat dibuktikan ayat secara langsung adalah:

orang yang tidak tahu harus bertanya kepada pemilik pengetahuan yang sah.

Khazanah tafsir klasik kemudian mencatat:

Ahl adz-Dzikr dapat berarti Ahlul Kitab dalam konteks awal,

Ahlul Qur’an,

atau ahli ilmu secara umum.

Al-Tabari dan al-Qurthubi juga mencatat pernyataan Imam Ali:

«نَحْنُ أَهْلُ الذِّكْرِ»

“Kamilah Ahl adz-Dzikr.”

Tradisi Imamiyah kemudian memberikan identifikasi sistematis:

Ahl adz-Dzikr adalah para Imam Ahlul Bait sebagai pewaris ilmu Rasulullah SAW.

Jadi kekuatan ayat dalam bangunan Imamah berada pada:

OTORITAS EPISTEMIK.

Ia menjawab:

kepada siapa umat kembali untuk mengetahui agama?

Nama dan jumlah para Imam dijelaskan melalui dalil-dalil lain.

—

APA YANG SEBENARNYA DIBUKTIKAN AYAT AHL ADZ-DZIKR?

Setelah seluruh pembahasan, kita dapat merumuskannya secara disiplin.

Pertama, konteks awal QS an-Nahl 16:43 dan QS al-Anbiya 21:7 adalah bantahan terhadap orang yang menolak seorang Rasul karena ia manusia; mereka diminta bertanya kepada orang yang mengetahui kitab-kitab terdahulu apakah para rasul sebelumnya juga manusia.

Kedua, dari konteks itu lahir prinsip universal bahwa orang yang tidak mengetahui harus bertanya kepada orang yang mempunyai keahlian. Al-Qurthubi menjadikannya salah satu dasar kewajiban orang awam merujuk kepada ulama dalam persoalan agama.

Ketiga, Al-Qur’an sendiri menggunakan adz-Dzikr bagi wahyu dan Al-Qur’an, termasuk tepat pada ayat berikutnya dalam QS an-Nahl 16:44.

Keempat, khazanah tafsir Sunni klasik mencatat penafsiran Ahl adz-Dzikr sebagai Ahlul Qur’an dan juga mencatat ucapan Imam Ali:

«نَحْنُ أَهْلُ الذِّكْرِ»

“Kamilah Ahl adz-Dzikr.”

Kelima, tradisi Imamiyah mempunyai kumpulan riwayat khusus yang mengidentifikasi para Imam sebagai Ahl adz-Dzikr. Di antara riwayat tersebut terdapat jalur yang dinilai sahih oleh Allamah al-Majlisi dari Imam al-Baqir dan Imam ash-Shadiq.

Keenam, pembacaan Imamiyah tidak perlu menolak bahwa orang berpengetahuan dari Ahlul Kitab menjadi rujukan kontekstual untuk pertanyaan tentang para nabi terdahulu. Yang ditolak adalah menjadikan mereka otoritas final umat Islam dalam memahami agama Muhammad.

Ketujuh, dalam keseluruhan arsitektur ayat Ahlul Bait, Ahl adz-Dzikr menambahkan satu unsur yang mutlak diperlukan:

ilmu.

Kedelapan, ayat ini sendirian tidak merinci dua belas Imam, tetapi menguatkan bahwa agama tidak ditinggalkan kepada pendapat setiap individu; harus ada manusia yang mempunyai kedekatan sah kepada wahyu dan menjadi tempat bertanya.

Itu sudah sangat besar.

—

JANGAN HANYA BERTANYA: “SIAPA AHL ADZ-DZIKR?”

Tanyakan juga:

Apakah kita sungguh bersedia bertanya kepada mereka?

Karena mengenali otoritas ilmu tidak berarti apa-apa apabila ego tetap menjadi rujukan terakhir.

Seseorang dapat mengakui Ali paling berilmu.

Tetapi ketika pengetahuan Ali bertentangan dengan kepentingannya, ia memilih kepentingan.

Dapat mengakui Imam ash-Shadiq sebagai sumber ilmu.

Tetapi hanya menerima riwayat yang menguntungkan pendapatnya.

Dapat mengatakan:

“Aku mengikuti Ahlul Bait.”

Namun ketika Ahlul Bait mengajarkan akhlak, ia memilih kemarahan.

Ketika mengajarkan keadilan, ia memilih kelompok.

Ketika mengajarkan amanah, ia memilih keuntungan.

Bertanya berarti siap mendengar jawaban.

Dan mendengar jawaban berarti siap dikoreksi.

Itulah bagian tersulitnya.

—

AHL ADZ-DZIKR TIDAK MENGAJAK MANUSIA KEPADA DIRI MEREKA

Kalau Ahlul Bait benar-benar Ahl adz-Dzikr, ke mana mereka membawa manusia?

Kepada:

Allah.

Al-Qur’an.

Rasulullah SAW.

Bukan kepada kultus keluarga.

Imam Ali tidak berkata:

“Buanglah Muhammad dan ikuti aku.”

Ia hidup untuk Muhammad.

Fatimah tidak membangun agama Fatimah.

Hasan dan Husain tidak menciptakan risalah baru.

Para Imam tidak mempunyai kitab tandingan.

Mereka menjadi Ahl adz-Dzikr karena:

mereka paling dekat kepada Dzikr yang dibawa Rasulullah.

Maka semakin seseorang benar-benar mengikuti Ahlul Bait, seharusnya semakin kuat:

tauhidnya,

kecintaannya kepada Rasul,

kedekatannya kepada Al-Qur’an,

dan:

akhlaknya kepada manusia.

Kalau hasilnya sebaliknya, mungkin yang diikuti bukan Ahlul Bait.

Hanya nama mereka.

—

DARI “KEPADA SIAPA BERTANYA?” MENUJU “SEBERAPA DALAM ILMUNYA?”

Sekarang perjalanan kita tiba pada pertanyaan berikutnya.

Ayat Ahl adz-Dzikr mengatakan:

bertanyalah kepada mereka yang memiliki pengetahuan.

Tetapi apa sifat pengetahuan itu?

Apakah mereka hanya mengetahui sejumlah hadis?

Apakah pengetahuan mereka sama seperti ulama lain yang belajar sedikit demi sedikit?

Ataukah Al-Qur’an menunjukkan seorang manusia yang mempunyai kedudukan jauh lebih besar:

«عِلْمُ الْكِتَابِ»

“ilmu al-Kitab”?

Allah SWT berfirman dalam QS ar-Ra‘d 13:43:

«وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا ۚ قُلْ كَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ»

“Orang-orang kafir berkata: Engkau bukan seorang Rasul. Katakanlah: Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kalian, dan orang yang padanya terdapat ilmu al-Kitab.”

Perhatikan.

Bukan sekadar:

orang yang pernah membaca Kitab.

Bukan:

orang yang mengetahui sebagian hukum.

Tetapi:

«وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ»

“orang yang padanya terdapat ilmu al-Kitab.”

Siapakah manusia yang kesaksiannya ditempatkan setelah kesaksian Allah untuk membenarkan kerasulan Muhammad SAW?

Dan mengapa dalam tradisi Ahlul Bait nama Imam Ali as kembali muncul?

Setelah mengetahui kepada siapa harus bertanya, sekarang kita harus bertanya:

ILMU APA YANG BERADA PADANYA?

Bagian 9

AYAT ‘ILMU AL-KITAB

Siapakah Manusia yang Menjadi Saksi atas Kerasulan Muhammad SAW karena Memiliki Ilmu Kitab?

Ahlul bait dalam8

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BqDksYsiK/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us