21 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Ustadz Miftah mengajak para jemaah untuk melanjutkan pembahasan mengenai kisah perjalanan dua sosok agung dalam Al-Qur’an, yaitu Nabi Musa AS dan Nabi Khidr AS, yang tertuang dalam Surat Al-Kahfi ayat ke-75.

Kejadian Kedua: Pertemuan dengan Seorang Pemuda

Kisah ini berlanjut setelah peristiwa pertama di mana Nabi Khidr melubangi sampan yang mereka tumpangi.
Saat itu, Nabi Khidr sudah memperingatkan bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup bersabar bersamanya, namun Nabi Musa meminta kesempatan kedua dan berjanji tidak akan bertanya lagi.

Dalam perjalanan selanjutnya, mereka berdua bertemu dengan seorang anak muda. Secara mengejutkan, Nabi Khidr membunuh pemuda tersebut.
Melihat hal ini, Nabi Musa kembali tidak bisa menahan diri dan melayangkan protes keras.
Beliau mempertanyakan mengapa Nabi Khidr membunuh jiwa yang suci dan tak berdosa, serta menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang munkar atau sangat keliru.

Kesempatan Terakhir bagi Nabi Musa

Mendengar teguran tersebut, Nabi Khidr kembali mengingatkan komitmen awal mereka: “Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa kau tidak akan pernah mampu bersabar bersamaku?”.
Menyadari kekhilafannya, Nabi Musa memohon kesempatan ketiga dan terakhir. Beliau berkata bahwa jika setelah ini ia masih bertanya lagi tentang apa yang dilakukan Nabi Khidr, maka Nabi Khidr berhak meninggalkannya karena sudah memiliki alasan (uzur) yang kuat untuk mengakhiri kebersamaan mereka.

Kejadian Ketiga: Dinding yang Hampir Roboh

Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga tiba di sebuah pemukiman penduduk.
Di sana, mereka meminta jamuan sebagai tamu, namun penduduk negeri tersebut menolak untuk memberikan bantuan atau menjamu mereka dengan baik.

Di tengah penolakan tersebut, Nabi Khidr justru melakukan sesuatu yang tidak terduga: beliau memperbaiki sebuah tembok dinding rumah yang hampir roboh di desa tersebut.
Kali ini, reaksi Nabi Musa sedikit berbeda; beliau tidak menyalahkan tindakan tersebut sebagai kesalahan, melainkan memberikan saran.
Nabi Musa berpendapat bahwa karena penduduk desa itu tidak mau menjamu mereka, maka seharusnya Nabi Khidr meminta upah atas jasanya memperbaiki dinding tersebut agar mereka bisa mendapatkan makanan.

Titik Perpisahan dan Janji Penjelasan (Tawil)

Meskipun saran Nabi Musa terkesan mendukung, tindakan bertanya tersebut tetap dianggap sebagai ketidaksabaran.
Nabi Khidr kemudian berkata dengan tegas: “Inilah batas perpisahan antara aku denganmu”.
Beliau menyatakan bahwa kebersamaan mereka harus berakhir di titik tersebut. Namun, sebelum mereka benar-benar berpisah, Nabi Khidr berjanji akan menjelaskan tawil atau rahasia di balik semua perbuatannya yang selama ini membuat Nabi Musa tidak mampu bersabar.

Penutup

Video diakhiri dengan pesan agar jemaah tetap bersabar untuk menunggu kelanjutan kisah mengenai hikmah di balik tindakan Nabi Khidr pada pertemuan berikutnya. Ustadz Miftah juga menutup dengan doa dan ucapan salam di hari-hari terakhir bulan suci.

Kisah Kesabaran Musa dan Khidr

Judul video: Nabi Khidr AS. Membunuh Jiwa Tak Berdosa? Bersabarlah… | Ustadz Miftah | #25 The Prophetic Wisdom – Watch on Youtube

Yuk Subscribe NGOPI TV:
Subscribe Channel NGOPI TV

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us