Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Beliau menekankan pentingnya saling memaafkan sebagai kunci mendapatkan ampunan Allah SWT. “Bagaimana mungkin kita memohon ampunan Allah, jika kita sendiri menahan maaf dari sesama kita?”.
Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir: Benang Merah Hikmah
Setelah mengarungi kisah para Nabiโmulai dari Nabi Adam, Yusuf, Musa, Ibrahim, hingga Maryam dan Isaโkajian ini mencapai puncaknya pada pertemuan dua sosok agung: Nabi Musa dan Nabi Khidir.
Pertemuan mereka menjadi simbol interaksi antara dua dimensi yang berbeda.
Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berguru kepada Nabi Khidir. Meski Khidir telah memperingatkan bahwa Musa tidak akan mampu bersabar, Musa tetap bersikeras mengikutinya.
Terdapat tiga peristiwa penting dalam perjalanan mereka:
- Melubangi Perahu: Nabi Khidir melubangi perahu yang mereka tumpangi hingga tenggelam.
- Membunuh Pemuda: Nabi Khidir membunuh seorang anak muda tanpa alasan yang terlihat oleh mata.
- Memperbaiki Dinding: Di sebuah kota yang penduduknya tidak ramah, Nabi Khidir justru memperbaiki dinding rumah yang hampir roboh tanpa meminta imbalan.
Setiap tindakan ini dipertanyakan oleh Nabi Musa karena tampak tidak logis atau bahkan munkar secara lahiriah.
Konsep “Thereโs More Than Meets The Eye” (Takwil)
Inti dari kisah ini adalah bahwa selalu ada hal yang lebih banyak dari apa yang sekadar tampak oleh mata (more than meets the eye). Setiap peristiwa memiliki “takwil” atau makna di baliknya.
Kesabaran harus selalu beriringan dengan ilmu pengetahuan; kita dilarang tergesa-gesa menghakimi sesuatu sebelum mengetahui alasan di baliknya.
Ustadz Miftah menjelaskan makna (takwil) dari ketiga peristiwa tersebut:
- Perahu yang Dilubangi:
Perahu itu milik orang miskin. Nabi Khidir merusaknya sedikit untuk menyelamatkannya dari seorang raja yang akan merampas semua perahu yang masih bagus.
Terkadang, kita diberi ujian kecil atau kerugian materi untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih besar. - Pemuda yang Dibunuh:
Dalam menjelaskan ini, Nabi Khidir menggunakan kata “Kami” (bukan “Aku”), menunjukkan bahwa ini adalah perintah Allah (Grand Design), bukan kehendak pribadinya.
Anak tersebut ditakdirkan akan menjerumuskan orang tuanya yang beriman ke dalam kesesatan. Allah mengambilnya untuk menggantikannya dengan anak lain yang lebih suci dan penyayang. - Dinding yang Diperbaiki:
Di bawah dinding itu terdapat harta karun milik dua anak yatim. Ayah mereka adalah orang saleh.
Allah ingin menjaga harta tersebut tetap tersembunyi hingga anak-anak itu dewasa melalui tangan Nabi Khidir.
Pesan Penutup: Sabar, Syukur, dan Rencana Ilahi
Keadilan Allah melintasi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seringkali, Allah mengirimkan “tangan-tangan baik” atau orang-orang saleh untuk membantu menegakkan kembali bangunan kehidupan kita yang roboh karena kesabaran kita.
Di akhir kajian, Ustadz Miftah mengajak kita untuk selalu:
- Bersabar:
Menyadari bahwa selalu ada hikmah Rabbaniyah di balik setiap kejadian. - Bersyukur:
Menghargai setiap proses dan orang-orang di balik layar yang membantu kita. - Berterima kasih:
Menebarkan apresiasi kepada pasangan, orang tua, guru, dan anak-anak sebagai bentuk nyata dari rasa syukur kita kepada rencana Ilahi yang indah.
Video ditutup dengan doa agar semua amal ibadah diterima dan umat manusia dibimbing menuju kedamaian serta keadilan dengan hadirnya Kekasih Allah di tengah-tengah kita.

Bersama Ustadz Miftah F. Rakhmat
Judul video: There’s More Than Meets The Eye | Final Episode | Ustadz Miftah |#26 ThePropheticWisdomBulanRamadhan – Watch on Youtube


