15 October 2026

Ketika Ali Menjadi Suara Terakhir di Antara Kemarahan Rakyat dan Kekuasaan

Madinah belum terbakar.
Namun panasnya telah terasa di mana-mana.
Keluhan datang dari berbagai penjuru wilayah Islam. Nama-nama pejabat disebut. Keputusan pemerintah dipersoalkan. Harta, jabatan, kedekatan keluarga, dan hak-hak masyarakat menjadi percakapan yang tidak lagi dapat ditahan di balik pintu rumah.
Kepercayaan telah retak.
Di satu sisi berdiri Utsman bin Affan, seorang khalifah yang telah lanjut usia. Di sekeliling pemerintahannya terdapat orang-orang dekat yang ikut memengaruhi keputusan—dan di antara mereka, nama Marwan bin al-Hakam menjadi nama yang paling sering terdengar.
Di sisi lain, masyarakat semakin marah.
Di antara keduanya berdiri Ali bin Abi Thalib.
Beliau berdiri sebagai seseorang yang masih berusaha mencegah sebuah kesalahan berubah menjadi lautan darah.
—

Utusan Orang-orang yang Marah

Orang-orang mendatangi Imam Ali.
Mereka mengadukan apa yang mereka lihat dan rasakan. Mereka meminta beliau berbicara kepada Utsman, menyampaikan tuntutan mereka, dan mendorongnya memulihkan keadilan sebelum kemarahan tidak lagi dapat dikendalikan.
Mereka memilih Ali karena mengetahui satu hal:
Jika Ali berbicara, beliau tidak akan menjual penderitaan rakyat untuk memperoleh jabatan. Namun, beliau juga tidak akan mengubah kemarahan menjadi senjata demi merebut pemerintahan.
Seandainya Ali menginginkan kekuasaan dengan cara apa pun, saat itulah kesempatan terbuka. Beliau cukup berdiam diri dan membiarkan api membesar. Kekuasaan yang sedang goyah mungkin akan jatuh dengan sendirinya.
Tetapi Ali tidak dibentuk oleh kerakusan semacam itu.
Beliau menerima tugas sebagai perantara.
Di belakangnya berdiri masyarakat yang menunggu jawaban. Di hadapannya berdiri seorang penguasa yang harus diingatkan. Di atas semuanya berdiri Allah, yang akan menanyakan setiap kata yang sengaja disembunyikan ketika kebenaran harus disampaikan.
Imam Ali pun menemui Utsman.
Beliau tidak membawa pedang.
Beliau membawa sesuatu yang jauh lebih tajam:
Kebenaran yang tidak dapat dibantah oleh orang yang pernah hidup bersama Rasulullah saw.
—
“Engkau Mengetahui Apa yang Kami Ketahui”
Imam Ali membuka pembicaraan dengan menjelaskan bahwa orang-orang berada di belakangnya dan telah menjadikannya perantara dengan Utsman.
Kemudian beliau menyampaikan teguran yang sangat halus sekaligus menghunjam.
Beliau tidak mengatakan bahwa Utsman tidak mengetahui agama. Justru sebaliknya: Utsman telah mengetahui apa yang diketahui para sahabat lainnya. Ia pernah melihat apa yang mereka lihat, mendengar apa yang mereka dengar, dan hidup bersama Rasulullah sebagaimana mereka pernah hidup bersama beliau.
Inilah salah satu teguran paling berat yang dapat disampaikan kepada seorang penguasa.
Masalahnya bukan karena engkau tidak tahu.
Masalahnya justru karena engkau tahu.
Orang yang tersandung dalam kegelapan mungkin dapat mengatakan bahwa ia tidak melihat lubang di hadapannya. Namun, bagaimana seseorang dapat mencari alasan ketika jalan terbentang di bawah cahaya dan tanda-tandanya telah tampak dengan jelas?
Imam Ali tidak sedang memuji masa lalu Utsman untuk menutupi keadaannya saat itu. Beliau sedang menjadikan masa lalu tersebut sebagai hujah.
Kedekatan dengan Rasulullah bukan perisai yang membebaskan seseorang dari pertanggungjawaban.
Semakin dekat seseorang kepada sumber petunjuk, semakin sedikit alasan baginya untuk menyimpang dari petunjuk itu.
—

Dua Macam Pemimpin

Kemudian Imam Ali meletakkan dua gambaran di hadapan Utsman.
Yang pertama adalah pemimpin yang adil.
Ia memperoleh petunjuk dan membimbing manusia. Ia menegakkan sunah yang telah dikenal serta mematikan penyimpangan yang tidak dikenal oleh agama. Kehadirannya membuat jalan menjadi terang karena kekuasaan berada di bawah kebenaran.
Yang kedua adalah pemimpin yang zalim.
Ia tersesat dan membuat manusia tersesat. Ia mematikan sunah yang seharusnya dijaga, lalu menghidupkan kembali penyimpangan yang seharusnya ditinggalkan.
Imam Ali kemudian menyampaikan peringatan yang beliau dengar dari Rasulullah saw.: pada Hari Kiamat, pemimpin zalim akan didatangkan tanpa penolong dan tanpa seorang pun yang dapat mengajukan alasan untuknya.
Di dunia, seorang penguasa mungkin dikelilingi penasihat, kerabat, penulis surat, pasukan, dan orang-orang yang selalu membenarkan keputusannya.
Namun, di hadapan Allah, ia berdiri sendirian.
Tidak ada penasihat yang dapat memikul dosanya.
Tidak ada kerabat yang dapat berkata, “Akulah yang menyuruhnya.”
Tidak ada bawahan yang dapat menghapus kenyataan bahwa keputusan terakhir tetap berada di tangan sang pemimpin.
Kekuasaan dapat dibagi dalam pelaksanaannya.
Tetapi tanggung jawab tidak dapat dilemparkan begitu saja.
—
Pintu Darah yang Hampir Terbuka
Suara Imam Ali menjadi semakin berat.
Beliau memohon dengan nama Allah agar Utsman tidak menjadi pemimpin umat yang terbunuh, sebab kematian seorang penguasa di tengah kekacauan dapat membuka pintu pembunuhan dan peperangan yang sulit ditutup kembali.
Jika darah telah tertumpah, kebenaran dan kebatilan akan bercampur di mata manusia. Setiap pihak akan membawa ceritanya sendiri. Fitnah akan bergerak seperti gelombang, menyeret orang-orang yang tidak lagi mampu membedakan siapa yang membela keadilan dan siapa yang hanya menunggangi kemarahan.
Ali sedang melihat lebih jauh daripada ruangan tempat mereka berbicara.
Beliau melihat sebuah umat yang dapat terbelah.
Beliau melihat pedang-pedang yang kelak terhunus di Jamal, Shiffin, dan Nahrawan.
Beliau melihat darah Utsman kelak dijadikan slogan politik oleh orang-orang yang bahkan tidak datang menyelamatkannya ketika bahaya mengepung Madinah.
Ali tidak sedang menakut-nakuti Utsman demi keuntungan dirinya.
Beliau sedang berusaha menyelamatkan Utsman—dan bersamanya, menyelamatkan umat dari akibat sebuah keputusan yang terus ditunda.
Lalu tibalah kalimat yang menjadi puncak nasihat itu.
—

“Jangan Menjadi Kendaraan Marwan”

Imam Ali berkata dengan terus terang:
«“Janganlah engkau menjadi kendaraan bagi Marwan, sehingga ia menggiringmu ke mana pun ia kehendaki.”»
Kalimat itu tidak lagi berputar-putar.
Marwan adalah kerabat dan sekretaris Utsman. Kedekatannya membuat ia berada sangat dekat dengan pusat keputusan. Namun, bagi Imam Ali, persoalannya bukan hanya siapa Marwan.
Persoalan yang lebih besar adalah apa yang terjadi ketika seorang pemimpin menyerahkan kemerdekaan nuraninya kepada orang-orang di sekelilingnya.
Seorang penasihat dapat memberi saran.
Seorang sekretaris dapat menulis perintah.
Seorang kerabat dapat membisikkan pertimbangan.
Namun, ketika seorang pemimpin membiarkan dirinya digiring, ia tidak lagi memimpin. Tubuhnya masih duduk di tempat kekuasaan, tetapi kehendaknya telah dikendarai orang lain.
Imam Ali menambahkan bahwa Utsman telah berusia lanjut dan menjalani kehidupan yang panjang.
Itu membuat teguran tersebut semakin menyakitkan.
Usia ternyata tidak selalu melahirkan kemerdekaan jiwa.
Seseorang dapat menjadi tua, memiliki pengalaman panjang, dan pernah menyaksikan masa-masa besar bersama Rasulullah—namun tetap menjadi kendaraan bagi orang yang lebih muda apabila ia menyerahkan tali keputusan kepadanya.
Marwan tidak membutuhkan pelana apabila seorang penguasa telah menyerahkan kendali atas kesadarannya sendiri.
—

Keadilan Tidak Membutuhkan Alasan untuk Menunda

Setelah mendengar nasihat itu, Utsman meminta Imam Ali berbicara kepada masyarakat agar mereka memberinya waktu. Ia mengatakan bahwa ia memerlukan kesempatan untuk memperbaiki berbagai pengaduan mereka.
Jawaban Ali menunjukkan ketegasan sekaligus kejernihan seorang pemimpin:
Untuk persoalan yang berada di Madinah, tidak ada alasan menunda. Perbaikan harus dilakukan saat itu juga. Adapun persoalan di wilayah-wilayah yang jauh, waktunya hanyalah selama yang diperlukan agar perintah sampai ke sana.
Ali tidak menolak kenyataan bahwa pemerintahan membutuhkan proses.
Surat harus ditulis. Utusan harus berangkat. Perintah harus menempuh jarak yang jauh.
Namun, proses administratif tidak boleh dijadikan tempat persembunyian bagi kemauan yang lemah.
Apa yang dapat diperbaiki hari ini harus diperbaiki hari ini.
Apa yang memerlukan perjalanan hanya boleh menunggu sepanjang perjalanan itu—bukan sepanjang kepentingan penguasa.
Keadilan mungkin membutuhkan waktu untuk mencapai tempat yang jauh.
Tetapi keputusan untuk menegakkan keadilan tidak membutuhkan penundaan.
—

Ali Tidak Berada di Pihak Kekuasaan atau Kemarahan

Di sinilah kebesaran sikap Imam Ali terlihat.
Beliau tidak membenarkan kesalahan pemerintah hanya karena Utsman pernah menjadi sahabat Nabi. Namun, beliau juga tidak menghalalkan pembunuhan Utsman hanya karena kebijakannya layak dikritik.
Ali berdiri di antara dua kesalahan:
Diam di hadapan penyimpangan penguasa dan membiarkan kemarahan rakyat berubah menjadi pembantaian.
Kepada Utsman, beliau menyampaikan teguran tanpa rasa takut.
Kepada masyarakat, beliau berusaha membuka jalan perbaikan tanpa pertumpahan darah.
Inilah keadilan yang sulit diterima oleh manusia yang telah terbelah menjadi kubu-kubu. Setiap kubu menghendaki Ali sepenuhnya berada di sisinya. Namun, Ali tidak pernah menjadi milik kebencian suatu kelompok.
Ali adalah milik kebenaran.
Menghormati Utsman tidak boleh digunakan untuk menghapus nasihat keras Imam Ali kepadanya. Sebaliknya, mengakui kesalahan pemerintahan Utsman tidak berarti merayakan kematiannya.
Kritik dan pembunuhan bukanlah hal yang sama.
Nasihat Ali adalah bukti bahwa masih ada jalan di antara kemunafikan yang membisu dan kekerasan yang membabi buta.
—

Ketika Pemimpin Menjadi Kendaraan

Kisah ini tidak berhenti pada nama Utsman dan Marwan.
Setiap zaman memiliki Marwan-Marwannya sendiri: orang dekat yang membangun dinding di sekitar pemimpin, menyaring suara rakyat, menghias laporan, menyembunyikan akibat keputusan, dan membuat kekuasaan hanya mendengar apa yang menyenangkan telinganya.
Namun, Imam Ali tidak membiarkan pemimpin sepenuhnya bersembunyi di balik penasihatnya.
Marwan dapat membisikkan.
Tetapi Utsmanlah yang harus memutuskan.
Karena itu, bahaya terbesar bukanlah adanya penasihat yang buruk. Bahaya terbesar adalah pemimpin yang rela menjadi kendaraannya.
Seorang penguasa kehilangan kepemimpinannya bukan hanya ketika singgasananya direbut. Ia telah kehilangan kepemimpinan sejak kehendaknya dikendalikan orang lain, sementara namanya tetap dipakai untuk menandatangani keputusan.
Di hadapan rakyat, orang lain mungkin memegang kendali.
Di hadapan Allah, nama pemimpinlah yang tetap dipanggil.
—

Mengapa Tidak Mengikuti Ali?

Mengikuti Ali berarti berani menasihati penguasa sebelum mengutuknya setelah jatuh.
Mengikuti Ali berarti membela hak masyarakat tanpa menunggangi penderitaan mereka untuk memperoleh kekuasaan.
Mengikuti Ali berarti tidak membiarkan kedekatan, kekerabatan, atau jasa masa lalu menjadi alasan untuk membungkam kebenaran hari ini.
Ali tidak datang kepada Utsman untuk mempermalukannya.
Beliau datang untuk menyelamatkannya.
Namun, penyelamatan terkadang hadir dalam bentuk kalimat yang menyakitkan, sebab kelembutan yang hanya membuat seseorang terus berjalan menuju jurang bukanlah kasih sayang.
Sebelum Madinah mendengar benturan senjata, kota itu telah mendengar peringatan Ali.
Sebelum darah tertumpah, kebenaran telah berdiri di hadapan kekuasaan dan berkata:
Jangan menjadi kendaraan Marwan.
Hari itu, Imam Ali telah melakukan tugasnya.
Di belakangnya, masyarakat menunggu.
Di hadapannya, seorang penguasa harus memilih antara suara nurani dan suara orang terdekatnya.
Tidak lama kemudian, sejarah memperlihatkan betapa mahal harga sebuah pilihan yang terlambat diambil.
Ustman bin Affan
Jangan menjadi
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan:
Tulang punggung kisah ini adalah Nahj al-Balaghah, Khutbah 164. Khutbah tersebut menyebut masyarakat meminta Imam Ali menjadi perantara dan menasihati Utsman. Di dalamnya terdapat perbandingan antara pemimpin adil dan pemimpin zalim, peringatan mengenai terbukanya pintu fitnah setelah terbunuhnya seorang pemimpin, teguran agar Utsman tidak menjadi sesuatu yang digiring Marwan, serta jawaban Imam Ali mengenai batas waktu untuk memperbaiki pengaduan. “Teks Arab dan terjemahan Khutbah 164” lihat pula “teks paralel” dengan Khutbah 164.
Edisi yang dirujuk mencantumkan sumber-sumber paralel, antara lain Ansab al-Asyraf karya al-Baladzuri, Tarikh al-Tabari dalam peristiwa tahun 34 H, al-‘Iqd al-Farid karya Ibn ‘Abd Rabbih, al-Jamal karya Syekh al-Mufid, dan Tajarib al-Umam karya Ibn Miskawayh.
Kata sayyiqah dalam ungkapan Arabnya menunjuk pada sesuatu—terutama hewan—yang digiring dari belakang. Judul “kendaraan Marwan” mempertahankan makna populer, sedangkan “hewan yang digiring Marwan” lebih dekat kepada citra literal teks.
Rincian menjelang terbunuhnya Utsman memiliki banyak versi yang saling diperdebatkan. Karena itu, kisah ini sengaja berpusat pada isi Khutbah 164. Gambaran suasana, gerak tokoh, dan renungan batin merupakan rekonstruksi sastra; kalimat-kalimat pokok Imam Ali disarikan dari teks khutbah tersebut.
—

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us