16 October 2026

Kekuasaan yang Tidak Dikejar, tetapi Dipikul demi Mereka yang Lapar

Madinah sedang kehilangan ketenangannya.
Utsman bin Affan telah terbunuh. Darah seorang khalifah tertumpah, sementara pertanyaan tentang siapa yang akan memegang pemerintahan berikutnya menggantung di atas kota seperti awan hitam.
Orang-orang gelisah.
Jalan-jalan yang dahulu dilalui Rasulullah saw. kini dipenuhi bisikan, tuduhan, ketakutan, dan tuntutan.
Tidak semua orang menginginkan hal yang sama. Sebagian mendambakan ketertiban. Sebagian menuntut keadilan.
Sebagian membawa kemarahan. Sebagian lainnya mungkin berharap kekuasaan baru tetap menjaga kepentingan lama.
Namun, banyak langkah dan niat itu akhirnya menuju kepada satu orang:
Ali bin Abi Thalib.
—

“Carilah Orang Lain”

Mereka mendatangi Imam Ali dari berbagai arah.
Nama beliau diteriakkan. Orang-orang meminta beliau mengulurkan tangan agar mereka dapat membaiatnya. Mereka menghendaki lelaki yang tumbuh di rumah Rasulullah, orang pertama yang membenarkan beliau, pembela Islam di medan-medan paling genting, dan pemilik ilmu yang tak pernah diragukan.
Tetapi Ali tidak menyambut mereka seperti seseorang yang baru menemukan kesempatan yang telah lama ditunggu.
Tidak ada kegembiraan seorang pemburu singgasana.
Tidak ada senyum kemenangan.
Yang tampak justru keberatan seorang manusia yang mengetahui betapa beratnya amanah di hadapannya.
Imam Ali berkata kepada mereka:
«“Tinggalkanlah aku dan carilah orang lain.”»
Bukan karena beliau meragukan kebenaran yang dibawanya. Bukan pula karena beliau tidak mampu memimpin.
Ali sedang memperingatkan mereka.
Urusan yang akan mereka hadapi memiliki banyak wajah dan warna. Hati mudah goyah menghadapinya, sementara pikiran dapat kehilangan arah. Luka-luka politik telah menumpuk, kekayaan telah beredar secara tidak adil, dan kepentingan telah tumbuh kuat di sekitar pemerintahan.
Mereka mungkin menginginkan Ali sebagai nama.
Namun, apakah mereka sanggup menerima Ali sebagai keadilan?
Imam Ali menegaskan bahwa jika beliau menerima pemerintahan, beliau akan memimpin menurut apa yang diketahuinya sebagai kebenaran. Beliau tidak akan mengubah keputusan hanya karena suara manusia meninggi.
Beliau tidak akan mundur karena cercaan ataupun teguran orang-orang yang kehilangan keistimewaan.
Dengan kata lain:
“Jika kalian menginginkan Ali, kalian harus bersedia menerima keadilan Ali.”
—
Gelombang Manusia
Peringatan itu tidak membuat mereka pergi.
Jumlah manusia justru semakin banyak.
Mereka mengalir dari setiap sisi dan mendesak mendekati beliau. Tubuh-tubuh berhimpitan. Suara saling bertindihan. Setiap orang ingin menjadi yang pertama mengulurkan tangan.
Bertahun-tahun kemudian, dalam Khutbah asy-Syiqsyiqiyyah, Imam Ali menggambarkan kerumunan itu datang begitu rapat seperti bulu pada tengkuk seekor dubuk.
Desakan semakin kuat.
Hasan dan Husain—dua putra beliau yang telah dewasa—berada di dekat ayah mereka. Keduanya ikut terimpit oleh gelombang manusia.
Orang-orang terus merangsek.
Sampai kain di kedua sisi bahu Imam Ali terkoyak.
Inilah pemandangan ketika pemerintahan datang kepada Ali:
Bukan hamparan permadani.
Bukan barisan pengawal.
Bukan mahkota yang diletakkan dengan tenang.
Melainkan kerumunan yang nyaris menghimpit keluarganya dan pakaian yang robek di bahunya.
Kekuasaan tidak sedang dikejar oleh Ali.
Kekuasaanlah yang mengejar dan mendesaknya.
—
Harga Sebuah Persetujuan
Di tengah desakan itu, Imam Ali melihat sesuatu yang lebih besar daripada kerumunan manusia.
Beliau melihat tegaknya hujah.
Orang-orang telah datang. Dukungan telah dinyatakan. Kemampuan untuk bertindak telah tersedia. Setelah itu, berpaling bukan lagi sekadar meninggalkan sebuah jabatan—melainkan membiarkan kezaliman terus berlangsung ketika jalan untuk melawannya telah terbuka.
Dalam Khutbah asy-Syiqsyiqiyyah, Imam Ali menjelaskan alasan beliau akhirnya menerima pemerintahan.
Beliau bersumpah bahwa seandainya manusia tidak datang memberikan dukungan, dan seandainya Allah tidak mengambil perjanjian dari orang-orang berilmu agar mereka tidak berdiam diri melihat kekenyangan orang zalim serta kelaparan orang tertindas, beliau akan melepaskan tali kekuasaan itu begitu saja.
Di situlah letak perbedaannya.
Ali tidak menerima pemerintahan karena dunia tampak indah di matanya.
Beliau menerimanya karena ada orang-orang lapar.
Karena ada hak yang dirampas.
Karena ada orang kuat yang harus dihentikan sebelum menelan bagian milik orang lemah.
Bagi Ali, kekuasaan tidak bernilai apabila ia hanya memberi seseorang gelar, istana, penjaga, dan penghormatan.
Kekuasaan baru memiliki nilai ketika dengannya seorang zalim dapat ditahan dan seorang tertindas memperoleh kembali haknya.
Tanpa tujuan itu, seluruh dunia tidak lebih berharga di mata beliau daripada bersin seekor kambing.
—

Tangan yang Akhirnya Terulur

Setelah hujah tegak, tangan Imam Ali akhirnya terulur.
Tangan itu pernah menggenggam panji Rasulullah.
Tangan itu pernah mengangkat pedang ketika Islam berada di ambang kehancuran.
Tangan itu pula yang pernah menambal sandal dan bekerja dengan kesederhanaan seorang hamba Allah.
Kini manusia menyentuhnya satu demi satu untuk menyatakan baiat.
Namun, baiat tersebut tidak menciptakan kedudukan ruhani Imam Ali. Dalam pemahaman Imamah Ahlulbait, manusia tidak sedang memilih siapa Ali di sisi Allah. Kedudukannya sebagai Imam tidak lahir dari banyaknya tangan yang menjabat tangannya.
Baiat itu mengembalikan pemerintahan lahiriah kepada seseorang yang selama ini telah memiliki kelayakan dan penunjukan untuk membimbing umat.
Manusia dapat menyerahkan pemerintahan.
Namun, manusia tidak dapat menciptakan Imamah.
Mereka juga tidak sedang memberi kemuliaan kepada Ali. Kemuliaan itu telah dimilikinya sejak Rasulullah merangkulnya, mendidiknya, mempersaudarakannya, dan menyampaikan kedudukannya kepada umat.
Hari itu, justru Ali yang menerima beban mereka.
—
Mereka Menghendaki Ali—Tetapi Belum Tentu Keadilannya
Kerumunan itu mungkin mengira persoalan telah selesai setelah baiat diberikan.
Padahal, ujian sebenarnya baru dimulai.
Imam Ali tidak akan memerintah berdasarkan selera kelompok yang paling keras berteriak. Beliau tidak akan mengistimewakan bangsawan di atas rakyat biasa. Beliau tidak akan membeli kesetiaan dengan harta milik kaum Muslimin.
Orang-orang yang meminta keadilan akan segera mengetahui bahwa keadilan tidak hanya menghukum musuh mereka.
Keadilan juga akan memeriksa harta mereka.
Menguji ambisi mereka.
Menyentuh hak istimewa mereka.
Dan menuntut mereka tunduk kepada ukuran yang sama dengan orang lain.
Tidak lama kemudian, sebagian orang yang telah memberikan baiat akan mematahkannya. Sebagian lainnya akan memerangi pemerintahan Ali. Ada pula kelompok yang berlebihan dalam agama, lalu keluar dan mengangkat senjata terhadap beliau.
Imam Ali telah mengetahui bahwa jalan itu tidak akan mudah.
Itulah sebabnya beliau lebih dahulu memperingatkan:
Jika aku menerima urusan kalian, aku akan membawa kalian menempuh jalan yang aku ketahui. Aku tidak akan tunduk kepada tuntutan manusia yang menyimpang dari kebenaran.
Namun, manusia sering mencintai nama keadilan sebelum keadilan itu mengetuk pintu rumah mereka sendiri.
—
Jubah yang Robek
Pada hari pertama pemerintahannya, kain di bahu Imam Ali telah robek.
Seolah sejarah hendak memperlihatkan perbedaan antara Ali dan para pemburu kekuasaan.
Seorang pemburu kekuasaan merobek barisan manusia agar dapat mencapai singgasana.
Sedangkan pakaian Ali robek karena manusia berdesakan menyerahkan kekuasaan kepadanya.
Seorang pemburu kekuasaan menutupi keserakahannya dengan pakaian yang megah.
Ali berdiri dengan pakaian terkoyak dan hati yang tidak terpaut kepada dunia.
Beliau tidak melihat pemerintahan sebagai hadiah atas seluruh pengorbanannya. Beliau melihatnya sebagai pertanggungjawaban yang kelak akan ditanyakan Allah.
Apakah orang lapar telah diberi makan?
Apakah harta umat telah dibagikan secara adil?
Apakah orang lemah dapat menuntut haknya tanpa takut?
Apakah tangan penguasa menahan orang zalim—atau justru menjadi tangan yang membantu kezaliman?
Itulah pertanyaan-pertanyaan yang membuat kekuasaan terasa berat bagi Ali.
—
Mengapa Tidak Mengikuti Ali?
Banyak orang sanggup meneriakkan nama Ali ketika nama itu memberi mereka harapan.
Namun, mengikuti Ali berarti menerima keadilannya ketika keadilan itu merugikan kepentingan kita sendiri.
Mengikuti Ali berarti tidak menjadikan agama sebagai kendaraan menuju kekuasaan.
Mengikuti Ali berarti memahami bahwa diamnya orang berilmu di hadapan kerakusan penguasa dan kelaparan rakyat merupakan pengkhianatan terhadap perjanjian Allah.
Ali tidak mengajarkan bahwa ramainya pendukung selalu menjadi bukti kebenaran. Kerumunan yang sama-sama mendesak dapat membawa niat yang berbeda-beda.
Yang menentukan nilai sebuah pemerintahan bukanlah seberapa banyak tangan yang membaiatnya, melainkan untuk apa kekuasaan itu digunakan.
Hari itu, jubah Imam Ali robek.
Namun, ukuran tentang kekuasaan dijahit kembali:
Pemimpin bukanlah orang yang paling bernafsu untuk dilayani.
Pemimpin adalah orang yang bersedia memikul beban ketika kebenaran memanggilnya untuk melayani.
Di tengah desakan manusia, Imam Ali tidak menemukan sebuah kehormatan untuk dinikmati.
Beliau menemukan orang zalim yang harus dihentikan.
Beliau menemukan orang lapar yang harus dibela.
Dan demi mereka, tangan yang semula enggan itu akhirnya menerima baiat.
Jubahnya terkoyak.
Tetapi keadilannya tetap utuh.
—
Catatan:
Landasan utama kisah ini adalah Nahj al-Balaghah, Khutbah 3—Khutbah asy-Syiqsyiqiyyah.
Di sana Imam Ali menceritakan secara retrospektif kedatangan manusia dari segala arah, terimpitnya Hasan dan Husain, terkoyaknya kain di kedua bahunya, serta alasan beliau menerima pemerintahan: tidak membiarkan kerakusan orang zalim dan kelaparan orang tertindas. Teks yang dirujuk juga mencantumkan sejumlah sumber alternatif bagi khutbah tersebut. “Baca Khutbah 3”.
Ucapan “tinggalkanlah aku dan carilah orang lain” terdapat dalam khutbah yang penomorannya berbeda antare edisi—sering disebut Khutbah 92, 91, atau 90. Di dalamnya Imam Ali memperingatkan bahwa jika menerima pemerintahan, beliau akan memimpin menurut pengetahuan dan prinsipnya, bukan menurut tekanan manusia.
Khutbah asy-Syiqsyiqiyyah disampaikan kemudian di ar-Rahbah, Kufah. Karena itu, suasana Madinah dan alur batin dalam kisah di atas merupakan rekonstruksi sastra berdasarkan penuturan retrospektif Imam Ali.
Jubah yang

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

 

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1Hp5nVhGz2/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us