22 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Ada sejenis keimanan yang kokoh dan teguh pada diri seseorang, tak pernah hilang. Ada juga keimanan yang sekedar ‘dititipkan’ pada diri seseorang, sewaktu-waktu bisa pergi dan datang lagi. Mari menyimak Serial Kajian “Petunjuk Al-Qur’an dan Al-Itrah untuk Memperkuat Iman” bersama KH DR Jalaluddin Rakhmat

Kisah Abul Khoththob: Dari Kesetiaan Menuju Penyimpangan

Pada masa Imam Musa al-Kadzim, hiduplah seorang tokoh bernama Abul Khoththob. Awalnya, ia adalah pengikut Ahlul Bait yang sangat setia dan belajar langsung dari Imam Ja’far as-shodiq.
Ia menguasai ilmu Ahlul Bait dan memiliki jemaah sendiri. Namun, ambisi kekuasaan mendorongnya untuk menghimpun pengikut sebanyak-banyaknya demi kesetiaan kepada dirinya sendiri, bukan kepada Imam.

Abul Khoththob mulai mengajarkan ajaran yang menyimpang jauh, seperti menyatakan bahwa surga dan neraka hanya ada di dunia ini dalam bentuk kebahagiaan atau penderitaan, serta menganggap tidak perlu lagi melaksanakan salat atau ibadah.
Gerakan ini kemudian dikenal sebagai Khoththobiyyah. Karena penyimpangan ini, Imam kemudian mengeluarkan fatwa untuk menjauhi dan melaknatnya.

Konsep Iman Mustaqar dan Iman Mustawda’

Suatu hari, Isha bin Syaikh bertanya kepada Imam Musa al-Kadzim (yang saat itu masih muda) mengenai perubahan sikap ayahnya (Imam Ja’far) yang awalnya memerintahkan mereka bersahabat dengan Abul Khoththob, namun kemudian memerintahkan untuk menjauhinya.

Imam Musa al-Kadzim menjelaskan bahwa Allah menciptakan makhluk dengan berbagai kategori keimanan:

  1. Iman Mustaqar:
    Iman yang menetap, teguh, stabil, dan tidak pernah hilang dari diri seseorang.
  2. Iman Mustawda’ (atau Mu’ar):
    Iman yang bersifat pinjaman atau titipan sementara. Allah memberikan iman ini kepada seseorang, namun sewaktu-waktu bisa diambil kembali jika Allah menghendaki karena pengaruh hawa nafsu atau kecintaan pada dunia.

Abul Khoththob termasuk dalam kelompok yang hanya “dipinjami” iman.
Awalnya ia setia, namun ambisinya membuatnya meninggalkan kesetiaan kepada Imam.
Hal ini berkaitan dengan firman Allah dalam Surat Al-An’am ayat 98, yang menyebutkan adanya tempat menetap (mustaqar) dan tempat simpanan (mustawda’).

Ciri-Ciri Orang Beriman dan Pertumbuhannya

Iman yang sejati tidaklah statis, melainkan bisa bertambah, berkurang, bahkan menghilang.
Ciri orang beriman menurut Al-Qur’an (Surat Al-Anfal: 2) adalah hatinya bergetar saat nama Allah disebut, dan imannya bertambah kuat saat dibacakan ayat-ayat-Nya.

Sebaliknya, bagi orang yang dalam hatinya terdapat penyakit (fii qulubihim maradh), turunnya ayat-ayat Allah justru menambah dosa dan kekufuran mereka (Surat At-Taubah dan Al-Baqarah).
Orang yang imannya bertambah akan merasakan Halawatal Iman atau manisnya iman—sebuah ketenangan dan kedamaian hati.

Sepuluh Tingkatan Iman dan Etika Beragama

Iman memiliki sepuluh tingkatan seperti anak tangga. Imam Ja’far as-shodiq mencontohkan bahwa:

  • Salman al-Farisi berada di tingkat ke-10 (puncak).
  • Abu Dzar al-Ghifari berada di tingkat ke-9.
  • Miqdad berada di tingkat ke-8.

Penting bagi kita untuk tidak menghakimi atau merendahkan orang yang tingkat imannya berada di bawah kita.
Jika kita melihat orang yang pemahaman agamanya lebih rendah, tugas kita adalah mengangkat mereka dengan penuh cinta kasih dan kesantunan, bukan malah menjatuhkan atau menyesatkan mereka.
Memaksakan beban iman yang tidak sanggup dipikul seseorang justru dapat merusak keimanannya.

Iman Sebagai Proses Menjadi (Becoming)

Mengutip pandangan Imam Syafi’i, iman adalah sebuah perjalanan atau proses untuk terus menjadi lebih baik (we are becoming Mukmin).
Imam Ali bin Abi Thalib juga menegaskan bahwa hidup ini hanya layak dinikmati oleh dua jenis orang:

  1. Orang yang imannya terus bertambah setiap hari.
  2. Orang yang segera menyusul kesalahannya dengan pertaubatan.

Merasakan Manisnya Iman (Halawatal Iman)

Berdasarkan hadis Nabi SAW, seseorang tidak akan merasakan manisnya iman kecuali memenuhi tiga syarat:

  1. Mencintai sesamanya semata-mata karena Allah, bukan karena kepentingan duniawi.
  2. Sangat membenci kekufuran, hingga ia lebih memilih dilemparkan ke dalam api daripada harus kembali menjadi kafir.
  3. Menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada siapa pun di dunia ini.

Mengenal Iman Mustaqar dan Mustawda

 

Bersama KH DR Jalaluddin Rakhmat

Judul video: IMAN MUSTAQAR DAN MUSTAWDA’ Oleh KH DR Jalaluddin Rakhmat – Watch on Youtube

Yuk Subscribe Channel Majulah IJABI:
Subscribe Channel Majulah IJABI

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us