12 October 2026

Bagian 5: NIKMAT APA YANG AKAN DITANYAKAN?

Pertanyaan Abu Hanifah kali ini berangkat dari ayat terakhir Surah at-Takātsur:

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian pada hari itu, sungguh kalian akan ditanya tentang kenikmatan.”

—QS. at-Takātsur: 8

Abu Hanifah bertanya kepada Imam Ja‘far ash-Shadiq mengenai maksud ayat tersebut.

Namun Imam tidak segera menjawab. Beliau justru bertanya kembali:

“Apakah yang engkau maksud dengan kenikmatan itu, wahai Nu‘man?”

Abu Hanifah menjawab:

“Makanan yang mengenyangkan dan air yang sejuk.”

Jawaban itu terasa masuk akal.

Makanan adalah nikmat. Air yang dingin ketika haus juga merupakan nikmat. Manusia menikmati keduanya hampir setiap hari. Karena itu, mudah dipahami bila kelak manusia ditanya tentang apa yang telah dimakan dan diminumnya.

Tetapi Imam Ja‘far menjawab:

“Jika Allah menghentikanmu di hadapan-Nya pada Hari Kiamat untuk menanyakan setiap makanan yang engkau makan dan setiap minuman yang engkau teguk, niscaya sangat panjanglah berdirimu di hadapan-Nya.”

Abu Hanifah kemudian bertanya:

“Lalu apakah nikmat itu, semoga aku menjadi tebusanmu?”

Imam menjawab:

“Kamilah Ahlul Bait, nikmat yang dengan kami Allah memberikan karunia kepada para hamba. Dengan kami mereka dipersatukan setelah sebelumnya berselisih. Dengan kami Allah mempersatukan hati mereka dan menjadikan mereka bersaudara setelah sebelumnya bermusuhan. Dengan kami Allah memberi mereka petunjuk kepada Islam. Itulah nikmat yang tidak terputus. Allah akan bertanya kepada mereka tentang hak nikmat yang telah dikaruniakan-Nya kepada mereka, yaitu Nabi saw. dan keluarganya.”

Nikmat yang paling dekat sering menutupi nikmat terbesar

Abu Hanifah tidak memberikan jawaban yang sepenuhnya salah. Makanan dan air memang nikmat Allah.

Kesalahannya adalah berhenti pada nikmat yang paling mudah dirasakan tubuh.

Ketika mendengar kata “kenikmatan”, manusia segera membayangkan sesuatu yang dapat dimakan, diminum, dipakai, ditempati, atau dimiliki. Nikmat dipersempit menjadi kenyamanan jasmani dan kemudahan hidup.

Padahal tidak semua nikmat dapat disentuh oleh tangan.

Ada nikmat yang menyelamatkan tubuh. Ada pula nikmat yang menyelamatkan arah kehidupan. Makanan membuat manusia tetap hidup, tetapi petunjuk menentukan untuk apa ia hidup. Air menghilangkan dahaga, tetapi kebenaran menyelamatkan manusia dari kesesatan.

Apa gunanya tubuh yang kenyang jika jiwanya kehilangan jalan?

Apa artinya air yang sejuk jika seseorang tidak lagi dapat membedakan antara kebenaran dan kebatilan?

Karena itu Imam Ja‘far mengangkat pandangan Abu Hanifah dari meja makan menuju mata rantai petunjuk.

Allah tidak hanya memberi kehidupan

Melalui Rasulullah saw., Allah tidak sekadar mengajarkan manusia bagaimana hidup. Allah menunjukkan ke mana kehidupan harus diarahkan.

Namun Rasulullah saw. akan meninggalkan dunia. Umat akan menghadapi berbagai persoalan baru, perselisihan politik, pertentangan penafsiran, dan lahirnya banyak pendapat yang masing-masing mengaku mewakili agama.

Apakah Allah memberikan risalah, kemudian membiarkannya tanpa penjaga?

Apakah Rasulullah membawa cahaya, kemudian umat dipersilakan menentukan sendiri siapa yang paling berhak meneruskannya?

Imam Ja‘far menjawab pertanyaan itu melalui makna an-na‘īm: Nabi Muhammad saw. dan Ahlul Baitnya.

Mereka bukan tambahan di luar Islam. Mereka adalah nikmat penjagaan agar Islam tidak kehilangan arah setelah Rasulullah saw. wafat.

Al-Qur’an tetap satu, tetapi manusia berbeda dalam memahaminya. Hadis dibacakan, tetapi manusia berselisih dalam memilih dan menafsirkannya. Semua orang dapat membawa dalil, tetapi tidak semua orang memiliki kedalaman ilmu dan kesucian yang sama.

Karena itulah, nikmat tidak hanya berupa turunnya kitab. Nikmat juga berupa hadirnya manusia-manusia yang mengetahui makna kitab tersebut.

Nikmat yang akan ditanyakan haknya

Imam tidak hanya mengatakan bahwa Ahlul Bait adalah nikmat. Beliau menyatakan bahwa manusia akan ditanya tentang hak nikmat itu.

Ini berarti mengenal Ahlul Bait bukan sekadar mengetahui nama-nama mereka.

Seseorang mungkin mengenal Ali bin Abi Thalib, Fathimah az-Zahra, Hasan, Husain, dan keturunan suci mereka. Ia mungkin menyebut mereka dengan penuh penghormatan, tetapi tidak mengambil ilmu dan petunjuk dari mereka.

Ia mencintai nama mereka, tetapi mengikuti orang lain ketika terjadi perbedaan.

Ia bershalawat kepada mereka, tetapi membangun pemahaman agama tanpa melibatkan mereka.

Ia mengakui keutamaan mereka, tetapi tidak memberikan hak kepemimpinan ilmu kepada mereka.

Mengenal nikmat tidak sama dengan menunaikan hak nikmat.

Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa manusia hanya akan ditanya apakah ia pernah mendengar nama Ahlul Bait. Pertanyaannya lebih dalam: apa yang dilakukan manusia setelah Allah menunjukkan jalan kepada Nabi dan keluarganya?

Apakah mereka diikuti?

Apakah ilmu mereka dipelajari?

Apakah kedudukan mereka dijaga?

Ataukah mereka hanya dihormati dalam ucapan, kemudian disingkirkan dari bangunan agama?

Makanan habis, petunjuk tidak terputus

Imam Ja‘far menyebut Ahlul Bait sebagai nikmat yang tidak terputus.

Makanan selesai ketika ditelan. Air hilang setelah dahaga reda. Kekayaan berpindah tangan. Kesehatan berkurang. Kekuasaan berakhir. Bahkan umur manusia pun mempunyai batas.

Namun petunjuk tidak berhenti ketika seseorang meninggal dunia. Ia menentukan cara manusia hidup, cara ia mati, dan ke mana ia akan kembali.

Inilah perbedaan antara nikmat sementara dan nikmat yang menentukan keselamatan.

Karena itu, mensyukuri makanan adalah dengan menyebut nama Allah, memperolehnya secara halal, tidak berlebihan, dan membaginya kepada orang lain. Tetapi mensyukuri Nabi dan Ahlul Bait adalah dengan mengenal mereka, mencintai mereka, mengambil ilmu dari mereka, serta berjalan di atas petunjuk mereka.

Nikmat makanan dipelihara agar tubuh tidak rusak.

Nikmat Ahlul Bait diikuti agar agama tidak rusak.

Apakah manusia tidak ditanya tentang makanan?

Riwayat ini tidak berarti manusia bebas memperoleh makanan dengan cara haram, membuang-buang rezeki, atau menikmati kekayaan tanpa rasa syukur.

Al-Qur’an tetap melarang israf. Manusia tetap dimintai pertanggungjawaban tentang dari mana hartanya diperoleh dan untuk apa digunakan. Hak orang miskin juga tetap melekat dalam sebagian harta yang Allah titipkan.

Namun Imam Ja‘far sedang menunjukkan makna terdalam dari “kenikmatan” dalam ayat tersebut. Fokusnya bukan setiap butir makanan yang halal dan setiap teguk air yang Allah izinkan melewati tenggorokan manusia, melainkan nikmat besar yang menentukan arah seluruh kehidupan.

Dalam riwayat lain, ketika para sahabat Imam menikmati makanan yang sangat lezat, seseorang berkata bahwa mereka kelak akan ditanya mengenai kenikmatan itu. Imam Ja‘far menjawab:

“Sesungguhnya Allah lebih mulia daripada memberikan makanan kepada kalian, membiarkan kalian menikmatinya, kemudian menanyakannya kepada kalian. Namun Dia akan bertanya kepada kalian tentang nikmat yang dianugerahkan-Nya melalui Muhammad dan keluarga Muhammad.”

Allah bukan tuan rumah yang menghidangkan makanan kepada tamunya, lalu mempermalukan mereka karena telah menyantapnya.

Yang ditanyakan adalah apakah setelah diberikan petunjuk, manusia menjaganya atau meninggalkannya.

Ahlul Bait bukan hiasan

Di sinilah jawaban Imam Ja‘far menjadi sangat tajam.

Sebagian umat menjadikan Ahlul Bait sebagai hiasan spiritual. Nama mereka disebut dalam shalawat, kisah mereka dibacakan dalam ceramah, dan keutamaan mereka diakui dengan penuh haru.

Namun ketika berbicara tentang tafsir, fikih, kepemimpinan, dan sejarah, Ahlul Bait ditinggalkan.

Mereka dicintai, tetapi tidak diikuti.

Mereka dimuliakan, tetapi tidak dijadikan rujukan.

Mereka disebut keluarga Nabi, tetapi ilmu agama justru dicari melalui mata rantai yang menjauh dari rumah Nabi.

Jika Ahlul Bait hanya hiasan, mengapa Allah akan bertanya tentang hak mereka?

Sebuah hiasan cukup dikagumi. Namun sebuah petunjuk harus diikuti.

Ahlul Bait bukan sekadar nama-nama suci yang ditempatkan di pinggir sejarah Islam. Mereka adalah mata rantai yang menjaga ilmu Rasulullah agar tidak terputus.

Pertanyaan yang sesungguhnya

Abu Hanifah datang dengan pertanyaan tentang makanan dan air.

Imam Ja‘far mengarahkannya kepada pertanyaan yang jauh lebih besar:

Setelah Allah mengutus Muhammad, apakah umat mengikuti petunjuknya?

Setelah Rasulullah menunjukkan Ahlul Bait, apakah umat menjaga hak mereka?

Setelah manusia mengetahui adanya mata rantai ilmu yang bersambung kepada Nabi, mengapa ia masih memilih dugaan dan pendapat yang terputus?

Pada Hari Kiamat, mungkin persoalannya bukan berapa gelas air sejuk yang pernah kita minum.

Persoalannya adalah: setelah Allah memperkenalkan sumber mata air petunjuk, mengapa kita memilih minum dari tempat lain?

Makanan mengenyangkan manusia untuk beberapa saat.

Air menghilangkan dahaga untuk beberapa waktu.

Namun Muhammad dan keluarga Muhammad menunjukkan jalan menuju kehidupan yang tidak pernah berakhir.

Itulah nikmat yang tidak terputus.

Dan nikmat sebesar itu tidak mungkin diberikan tanpa kelak ditanyakan haknya.

Dialog hanafi5

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

⸻

Catatan sumber:

Dialog Abu Hanifah dengan Imam Ja‘far mengenai QS. at-Takātsur: 8 dinukil dari Tafsīr al-‘Ayyāsyī dan dimuat kembali, antara lain, dalam Majma‘ al-Bayān karya ath-Thabrisi serta Mir’āt al-‘Uqūl, jilid 11, halaman 378.
Lihat Mir’āt al-‘Uqūl, jilid 11, hlm. 378 dan Majma‘ al-Bayān, jilid 10, hlm. 813.

Makna tersebut juga dikuatkan oleh riwayat terpisah dalam al-Kāfī, jilid 6, halaman 280, dari Abu Hamzah, ketika Imam Ja‘far menjelaskan bahwa kenikmatan yang akan ditanyakan adalah karunia Allah melalui Muhammad dan keluarga Muhammad.
Lihat al-Kāfī, jilid 6, hlm. 280. Riwayat-riwayat tafsir lain menyebut kesehatan, keamanan, dan berbagai karunia sebagai bagian dari nikmat.
Karena itu, penafsiran Ahlul Bait tidak harus meniadakan seluruh lapisan makna tersebut; ia menunjukkan puncak nikmat dan tanggung jawab terbesar manusia, yaitu petunjuk melalui Nabi saw. dan keluarganya.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1E1RDLFGRq/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us