1. Konteks Wasiat dan Gambaran Kehidupan Dunia
Kajian ini merupakan kelanjutan bagian kedua dari pembahasan teks Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib AS kepada putra beliau, Imam Hasan AS.
Wasiat ini disampaikan oleh seorang ayah yang telah berusia lanjut di akhir masa kehidupannya, yang sangat memahami perputaran zaman serta keterbatasan umur manusia.
Kehidupan dunia dipenuhi oleh berbagai tantangan, rintangan, dan aturan duniawi di tempat tinggal yang sebelumnya juga dihuni oleh orang-orang yang kini telah berpulang.
Seseorang yang berusia muda kerap memiliki angan-angan yang sangat besar terhadap dunia, padahal dunia ini sangat terbatas dan penuh tipu daya.
Tubuh manusia rentan dihinggapi penyakit, menjadi sasaran berbagai musibah, dan sering kali terkapar kalah saat bertarung melawan godaan hawa nafsu serta syahwat.
Kematian digambarkan seperti penagih utang yang pasti datang pada waktunya, sementara manusia di dunia hanya menggantikan posisi orang-orang terdahulu yang telah pergi.
2. Urgensi Niat dan Metafora Al-Qur’an tentang Ikhlas vs. Riya
Setelah bagian mukadimah, Imam Ali menekankan pentingnya niat dalam setiap amalan karena amalan tanpa niat yang tulus karena Allah SWT akan menjadi sia-sia.
Niat yang benar mampu mengubah seluruh rutinitas harian, seperti bernapas, tidur, hingga makan, menjadi bernilai ibadah.
Dicontohkan kisah pembelajaran seorang ayah kepada anaknya saat makan, di mana setiap butir nasi yang masuk ke mulut diniatkan menjadi energi untuk berbuat kebaikan demi meraih rida Allah.
Urgensi niat ini juga terlihat pada kisah dua orang yang gugur bersama Rasulullah SAW dalam pertempuran yang sama, di mana salah satunya dipuji karena berjuang demi Allah (li wajhillah), sedangkan yang lainnya tidak bernilai di sisi Nabi karena hanya berniat mengejar harta rampasan perang (ghanimah).
Oleh karena itu, Imam Ali mendorong agar seluruh ucapan, perbuatan, dan perjuangan hidup diarahkan semata-mata untuk mencari rida Allah SWT.
Pentingnya niat yang tulus ini diperjelas dengan mengutip Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 264–265:
- Memelihara Pahala Sedekah:
Seseorang dilarang merusak atau membatalkan pahala sedekahnya dengan menyebut-nyebut bantuan (al-mann) atau menyakiti perasaan penerimanya (al-adza). - Bahaya Perbuatan Riya:
Perbuatan riya (mencari pujian dan penghormatan manusia) merupakan bentuk kelemahan iman terhadap hari akhir, karena seseorang rela menjual kebahagiaan abadi demi pujian fana yang tidak bertahan lama. - Perumpamaan Orang Riya:
Al-Qur’an menggambarkan amalan orang yang riya seperti batu licin (safwan) yang ditaburi debu, lalu disiram hujan lebat (wabil) sehingga batu tersebut menjadi bersih kembali tanpa menyisakan satu butir debu pun. - Perumpamaan Orang Ikhlas:
Sebaliknya, amalan yang dilakukan ikhlas karena Allah diibaratkan seperti kebun di dataran tinggi (jannah bi rabwah) yang disiram hujan lebat maupun gerimis, yang senantiasa tumbuh subur dan menghasilkan buah berlipat ganda.
3. Kesadaran Diri, Kematian, dan Alasan Berwasiat
Imam Ali menegaskan bahwa dunia secara perlahan akan meninggalkan manusia, sementara pintu gerbang akhirat semakin dekat dan terbuka lebar.
Kesadaran akan kepastian kematian dan pertanggungjawaban individu di hadapan Allah SWT membuat seseorang fokus memperbaiki urusan jiwanya sendiri secara sungguh-sungguh.
Kesungguhan memperbaiki diri tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan berlanjut kepada keluarga dan keturunan karena anak merupakan bagian utuh dari diri seorang ayah.
Membentuk keluarga yang baik adalah sumbangsih nyata bagi masyarakat untuk melahirkan generasi yang senantiasa menebar kebaikan dan jauh dari keburukan.
Wasiat ini ditulis sebagai panduan dan penerang agar Imam Hasan AS tidak terjerumus dalam jalan kesedihan dan penyesalan.
4. Inti Pesan Pertama: Wasiat Ketaqwaan dan 10 Dimensi Taqwa
Poin utama pertama dalam wasiat Imam Ali kepada Imam Hasan AS adalah perintah untuk bertaqwa kepada Allah SWT (Ushika bi taqwallah).
Merujuk pada penjelasan Ayatullah Nasir Makarim Syirazi, ketaqwaan kepada Sang Pencipta dapat dipahami melalui 10 dimensi utama:
- Kendali Diri yang Jinak:
Taqwa ibarat menunggangi hewan yang terlatih dan penurut, sehingga jiwa mudah diarahkan kepada kebaikan.
Sebaliknya, orang yang tidak bertaqwa ibarat menunggangi kuda liar yang tidak terkendali yang dapat melempar penunggangnya ke dalam jurang atau bahaya. - Penawar Racun Dosa:
Dosa dan kemaksiatan adalah racun bagi jiwa, sedangkan ketaqwaan hadir sebagai obat penawar yang menyembuhkan. - Benteng Pertahanan Kuat:
Taqwa merupakan benteng kokoh yang melindungi jiwa dari perusakan dan godaan pasukan setan. - Pelindung dan Imunitas Diri:
Taqwa berfungsi seperti baju zirah atau sistem kekebalan tubuh yang menolak timbulnya virus kejahatan dan kemaksiatan. - Obat Penyakit Batin:
Taqwa menjadi obat bagi berbagai jenis penyakit hati dan gangguan spiritual. - Kunci Istiqamah di Jalan Lurus:
Taqwa adalah penuntun utama agar seseorang tetap teguh di jalan yang lurus tanpa dapat digoyahkan oleh bujukan, suapan, atau tipu daya. - Syarat Diterimanya Amalan:
Sebagaimana kisah Habil dan Qabil (putra Nabi Adam AS), Allah SWT hanya menerima amalan dari hamba-hamba-Nya yang bertaqwa. - Sebaik-baik Bekal Akhirat:
Taqwa merupakan bekal paling utama dan bernilai paling tinggi untuk menghadapi kehidupan abadi setelah kematian. - Kemuliaan Sejati Hamba:
Kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT tidak diukur dari jabatan, kekayaan, atau ketampanan, melainkan dari tingkat ketaqwaannya. - Kesehatan Fisik dan Ketenteraman Jiwa:
Ketaqwaan batin memberikan ketenangan spiritual yang berdampak langsung pada kesehatan fisik dan daya tahan tubuh manusia.
5. Penutup Kajian
Ust. Abdillah Baabud menutup pembahasan pada bagian kedua ini dengan menekankan betapa pentingnya ketaqwaan sebagai dasar seluruh perjalanan hidup manusia. Penjelasan kelanjutan wasiat ini akan disambung pada sesi kajian berikutnya.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

