10 October 2026

MAULID: KETIKA CINTA MENOLAK MENJADI DINGIN

Oleh Ustadz Hadi al-Hadi

Bayangkan kita sedang duduk di ruang tunggu sebuah rumah sakit.

Di samping kita ada seorang lelaki yang tidak dikenal. Ia berjalan mondar-mandir dengan wajah tegang. Berkali-kali ia memandang pintu ruang bersalin. Beberapa saat kemudian seorang perawat keluar dan berkata:

“Selamat, anak Bapak telah lahir dengan sehat.”

Wajah lelaki itu seketika berubah. Ia tersenyum, mungkin menangis. Kita yang tidak mengenal dirinya, istrinya, ataupun bayi itu ikut tersenyum dan mengucapkan selamat.

Tidak seorang pun bertanya:

“Apa dalil saya harus merasa gembira?”

Fitrah manusia mengetahui bahwa kelahiran adalah kabar bahagia.

Lalu datang kabar tentang kelahiran Rasulullah SAW.

Manusia yang melalui lisannya Al-Qur’an sampai kepada kita.

Manusia yang mengajarkan nama-nama Allah.

Manusia yang memperlihatkan bagaimana seorang hamba berdiri di hadapan Tuhannya.

Manusia yang oleh Allah dinyatakan sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Tiba-tiba sebagian orang bertanya:

“Mengapa harus bergembira? Mana dalilnya?”

Pertanyaan itu terdengar ilmiah. Namun kadang-kadang ia justru memperlihatkan sesuatu yang sakit di dalam cara kita menilai.

Mengapa kelahiran anak seorang manusia yang tidak kita kenal mampu membuat kita tersenyum, sedangkan kelahiran Rasulullah SAW harus lebih dahulu melewati ruang pemeriksaan yang dipenuhi kecurigaan?

Mengapa kegembiraan kepada teman dianggap wajar, tetapi kegembiraan kepada Kekasih Allah dicurigai sebagai ancaman terhadap tauhid?

Pada bagian pertama kita telah membicarakan bahwa kufur, pada akar maknanya, adalah menutup.

Nikmatnya ada, tetapi nilainya tidak terlihat.

Cahayanya terang, tetapi hati memilih menutup mata.

Maulid berdiri di antara syukur dan kufur itu.

Ia adalah ikhtiar agar nikmat terbesar tidak ditutupi oleh kelupaan.

Al-Qur’an tidak mendidik orang beriman agar menjadi dingin di hadapan karunia Allah. Allah justru berfirman:

«“Katakanlah: dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

(QS Yunus [10]: 58)»

Ayat ini tidak menentukan satu bentuk perayaan tertentu. Ia tidak sedang menjelaskan susunan acara, tanggal, tempat, ataupun syair yang harus dibaca.

Namun ayat ini menghancurkan anggapan bahwa bergembira atas rahmat Allah merupakan sesuatu yang tercela.

Allah memerintahkan kegembiraan atas karunia dan rahmat-Nya.

Pada ayat lain, Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:

«“Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”

(QS al-Anbiya [21]: 107)»

Rasulullah SAW adalah rahmat.

Orang beriman diperintahkan bergembira atas rahmat Allah.

Maka kegembiraan atas kedatangan Rasulullah SAW bukan perasaan asing yang diselundupkan ke dalam agama. Ia tumbuh dari pertemuan yang sangat wajar antara dua kesadaran Qurani: bergembira atas rahmat dan mengenali Rasulullah SAW sebagai rahmat.

Kegembiraan itu bukan kewajiban untuk mengikuti satu bentuk acara tertentu. Namun tidak seorang pun berhak mematikan kegembiraan orang lain hanya karena ekspresinya tidak dikenal dalam lingkungan atau kebiasaan kelompoknya.

Maulid bukan penciptaan nabi baru.

Maulid bukan penambahan rukun Islam.

Maulid bukan salat keenam dan bukan hari raya wajib baru.

Maulid adalah nama bagi cara umat mengingat, mensyukuri, mempelajari, dan memuliakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Bentuknya dapat berbeda-beda.

Ada yang membaca Al-Qur’an.

Ada yang mempelajari sirah.

Ada yang bersalawat.

Ada yang bersedekah dan memberi makan.

Ada yang membaca puisi pujian.

Ada yang mengadakan ceramah.

Ada yang berkumpul sederhana bersama keluarga dan menceritakan akhlak Rasulullah SAW kepada anak-anaknya.

Apakah membaca Al-Qur’an haram?

Apakah bersalawat dilarang?

Apakah mempelajari sirah merupakan kesesatan?

Apakah memberi makan orang lain bertentangan dengan agama?

Apakah memuji Rasulullah SAW dianggap dosa?

Jika semua unsur itu dibenarkan oleh syariat, mengumpulkannya dalam satu waktu untuk menyatakan rasa syukur tidak otomatis mengubahnya menjadi agama baru.

Tentu apabila dalam sebuah majelis terdapat perbuatan haram, maka yang haram harus dihentikan.

Jika ada pemborosan, hentikan pemborosannya.

Jika ada percampuran yang melanggar batas, perbaiki pelaksanaannya.

Jika pujian melampaui batas tauhid, luruskan kalimatnya.

Namun kesalahan dalam satu pelaksanaan tidak membatalkan seluruh makna.

Orang dapat melakukan kemaksiatan dalam sebuah pesta pernikahan, tetapi kita tidak mengharamkan pernikahan.

Orang dapat berlebihan dalam jamuan, tetapi kita tidak menyebut setiap jamuan sebagai kesesatan.

Orang dapat membaca Al-Qur’an untuk pamer, tetapi kita tidak melarang pembacaan Al-Qur’an.

Dosa yang terjadi dalam Maulid tetaplah dosa. Namun dosa itu bukan Maulid.

Yang harus dibersihkan adalah kesalahannya, bukan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Sering kali kata bid‘ah digunakan seperti palu yang memukul semua hal yang tidak dikenal pelakunya.

Padahal tidak setiap susunan baru merupakan penambahan akidah atau penciptaan ibadah wajib.

Mikrofon tidak ada pada zaman Rasulullah SAW. Namun azan melalui mikrofon tetaplah azan.

Mushaf cetak tidak ada pada masa beliau. Namun mencetak Al-Qur’an tidak menjadi bid‘ah tercela.

Tanda baca, nomor ayat, aplikasi Al-Qur’an, sekolah formal, universitas Islam, siaran langsung ceramah, dan berbagai sarana dakwah juga tidak hadir dalam bentuk yang kita kenal hari ini.

Kita tidak menolaknya hanya karena bentuk persisnya tidak ditemukan pada abad pertama.

Mengapa?

Karena kita mampu membedakan antara agama dan sarana untuk menjalankan agama.

Pertanyaan yang jernih bukan hanya:

“Apakah bentuk persis ini pernah dilakukan pada zaman Rasulullah SAW?”

Pertanyaan yang lebih lengkap adalah:

“Apakah isinya bertentangan dengan Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah? Apakah ia diklaim sebagai kewajiban yang tidak Allah wajibkan? Apakah ia mengantarkan manusia kepada cinta dan ketaatan, atau justru menjauhkannya dari keduanya?”

Jika Maulid berisi Al-Qur’an, salawat, sirah, sedekah, nasihat, dan pengenalan kepada Rasulullah SAW, bagian manakah yang sedang dituduhkan sebagai kesesatan?

Al-Qur’an sendiri memerintahkan:

«“Adapun terhadap nikmat Tuhanmu, ceritakanlah.”

(QS al-Dhuha [93]: 11)»

Apakah ada nikmat yang lebih layak diceritakan daripada diutusnya manusia yang membawa kita mengenal jalan menuju Allah?

Menceritakan kelahiran, perjuangan, akhlak, penderitaan, dan kasih Rasulullah SAW adalah bagian dari menyebut nikmat Allah.

Bukan karena Allah membutuhkan cerita kita.

Kitalah yang membutuhkan ingatan itu.

Al-Qur’an juga menyebut empat tanggung jawab umat kepada Rasulullah SAW:

«“Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS al-A‘raf [7]: 157)»

  • Beriman kepadanya.
  • Memuliakannya.
  • Menolongnya.
  • Mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya.

Maulid dapat menjadi ruang untuk menjalankan keempat tanggung jawab tersebut.

Kita memperbarui iman dengan mendengar kembali siapa Nabi kita.

Kita memuliakannya dengan salawat dan pujian.

Kita menolong risalahnya dengan membersihkan namanya dari cerita-cerita yang merendahkan martabat kenabian.

Kita mengikuti cahaya yang dibawanya dengan membuka Al-Qur’an dan mempelajari akhlaknya.

Namun Maulid dapat pula gagal.

Ia gagal apabila selesai sebagai keramaian.

Lampu menyala, tetapi hati tetap gelap.

Suara salawat menggelegar, tetapi pedagang di luar majelis tetap kita tipu.

Kita berdiri ketika nama Rasulullah SAW disebut, tetapi setelah pulang kita menjatuhkan kehormatan manusia.

Kita memuji kelembutan Nabi, tetapi tetap kasar kepada keluarga.

Kita menceritakan kedermawanannya, tetapi pekerja yang melayani acara belum dibayar haknya.

Kita menyediakan makanan berlimpah, tetapi membuang sisanya sementara orang miskin tinggal tidak jauh dari tempat acara.

Itulah perayaan yang belum menyelesaikan perjalanan syukurnya.

Namun kegagalan seperti itu bukan alasan untuk meninggalkan Maulid.

Itu adalah alasan untuk menyempurnakannya.

Maulid harus bergerak dari panggung menuju perangai.

Dari suara menuju sikap.

Dari pujian menuju peneladanan.

Dari kegembiraan sesaat menuju kesetiaan sepanjang kehidupan.

Kitab-kitab Maulid banyak berisi puisi dan pujian. Sebagian orang merasa terganggu:

“Mengapa Nabi dipuji begitu tinggi?”

Pertanyaan itu terasa aneh.

Kita menulis puisi untuk ibu, kekasih, tanah air, bahkan klub sepak bola. Manusia memiliki bahasa khusus ketika cinta tidak cukup ditampung oleh kalimat biasa.

Mengapa ketika cinta itu tertuju kepada Rasulullah SAW, bahasa mendadak harus dibekukan?

Kita tidak akan pernah mampu memuji beliau setinggi Allah memujinya.

Ketika manusia menyebut beliau lembut, Allah telah menyebutnya ra’uf dan rahim.

Ketika manusia menyebutnya mulia, Allah telah menyatakan:

«“Sungguh, engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”

(QS al-Qalam [68]: 4)»

Ketika manusia mengatakan bahwa beliau sangat mencintai umatnya, Allah telah menyatakan bahwa penderitaan umat terasa berat baginya dan bahwa beliau sangat menginginkan keselamatan mereka.

Pujian menjadi salah apabila melanggar tauhid dan memberikan sifat ketuhanan kepada beliau.

Namun menjaga tauhid tidak berarti mengerdilkan Nabi.

Tauhid yang benar justru mengakui kemuliaan yang Allah sendiri berikan kepada hamba pilihan-Nya.

Merendahkan Rasulullah SAW tidak pernah menjadi syarat untuk mengagungkan Allah.

Allah sendirilah yang memilih, mengutus, menyucikan, dan meninggikan kedudukannya.

Dalam sebagian majelis Maulid, jamaah berdiri ketika syair memasuki bagian mahallul qiyam, yaitu ketika kelahiran Nabi dikisahkan dan salawat dilantunkan.

Berdiri merupakan bahasa penghormatan yang dikenal manusia.

Kita berdiri ketika guru, orang tua, atau tokoh yang dihormati memasuki ruangan. Tidak seorang pun mengira bahwa orang yang dihormati itu adalah Tuhan.

Mahallul qiyam bukan rukun iman dan bukan kewajiban.

Orang yang tidak berdiri tidak boleh dihukum atau dituduh tidak mencintai Nabi.

Namun orang yang berdiri karena cinta juga tidak pantas dihina atau dituduh merusak tauhid.

Jangan menjadikan bahasa cinta sebagai medan saling mengkafirkan.

Ironisnya, sebagian orang sangat mudah berdiri untuk pejabat, tetapi merasa tauhidnya terancam ketika berdiri dalam syair kelahiran Rasulullah SAW.

Mungkin yang perlu diperiksa bukan dalil berdiri.

Mungkin yang perlu diperiksa adalah urutan penghormatan di dalam hati.

Maulid juga merupakan perlawanan terhadap amnesia.

Dunia modern bekerja dengan kecepatan tinggi untuk merebut perhatian manusia. Setiap hari kita disodori tokoh baru untuk dikagumi, barang baru untuk diinginkan, dan kegaduhan baru untuk diperdebatkan.

Linimasa tidak pernah berhenti.

Jika umat tidak dengan sengaja menyediakan waktu untuk mengingat Nabinya, ingatan itu dapat tenggelam di antara iklan, hiburan, pertengkaran politik, dan berita yang berganti setiap jam.

Karena itu kita berkumpul.

Bukan karena Rasulullah SAW membutuhkan keramaian kita.

Hati kitalah yang membutuhkan beliau.

Kita membaca kisah kelahirannya bukan agar masa lalu berubah menjadi nostalgia. Kita membacanya agar masa kini mempunyai arah.

Anak-anak perlu mendengar bahwa manusia terbesar bukanlah manusia yang paling kaya, paling terkenal, atau paling banyak pengikutnya.

Manusia terbesar adalah manusia yang paling sempurna pengabdiannya kepada Allah dan paling luas kasihnya kepada makhluk.

Anak-anak perlu melihat orang tuanya bergembira ketika nama Muhammad disebut.

Mereka perlu tumbuh di dalam rumah yang mengenal salawat.

Dari sanalah nilai diwariskan: bukan hanya melalui definisi, tetapi melalui suasana.

Seorang anak mungkin lupa isi ceramah yang didengarnya. Namun ia dapat mengingat sepanjang hidup bahwa wajah ibunya berseri-seri ketika nama Rasulullah SAW disebut.

Itulah pendidikan cinta.

Jangan takut bergembira kepada Rasulullah SAW.

Kegembiraan itu tidak mengambil apa pun dari Allah. Ia justru lahir karena Allah yang mengutusnya.

Dan jangan biarkan perdebatan membuat cinta menjadi dingin.

Ilmu harus membersihkan cinta, bukan membunuhnya.

Dalil harus memberi arah kepada kegembiraan, bukan menjadikan hati kehilangan kemampuan untuk bergembira.

Maulid pada akhirnya bukan hanya pertanyaan tentang tanggal.

Ia adalah pertanyaan tentang tempat Rasulullah SAW di dalam diri kita.

Sebab kufur yang paling halus tidak selalu hadir sebagai kebencian kepada Nabi.

Kadang-kadang ia hadir ketika nikmat terbesar disebutkan, tetapi hati menolak memberikan ruang sedikit pun untuk merasa gembira.

Rasulullah SAW tidak membutuhkan Maulid kita.

Kitalah yang membutuhkan Maulid agar tidak melupakan Rasulullah SAW.

Jika namanya masih mampu membuat hati kita berdiri—meskipun tubuh tetap duduk—di sanalah Maulid yang sesungguhnya sedang berlangsung.

HAA Syukur Memaknai Maulid Nabi

(Ditulis ulang oleh Hasyim Arsal Alhabsi, Dehills Institute)

—

Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1997bsyKP1/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us