Bagian 6: APAKAH ENGKAU MENJADIKAN SEKUTU BAGI ALLAH?
Percakapan itu tidak berlangsung dalam perdebatan resmi. Tidak ada mimbar, tidak ada kerumunan yang menunggu siapa menang dan siapa kalah.
Abu Hanifah sedang makan bersama Imam Ja‘far ash-Shadiq.
Setelah selesai, Imam mengangkat tangannya dan mengucapkan:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Ya Allah, semua ini berasal dari-Mu dan dari Rasul-Mu.”
Mendengar kalimat itu, Abu Hanifah terkejut. Ia segera bertanya:
“Wahai Abu Abdillah, apakah engkau telah menjadikan sekutu bagi Allah?”
Tuduhannya sangat berat.
Imam Ja‘far tidak sedang menyebut berhala. Beliau tidak menyembah Rasulullah. Beliau hanya mengatakan bahwa nikmat tersebut berasal dari Allah dan Rasul-Nya. Namun bagi Abu Hanifah, menyandingkan Rasul dengan Allah dalam kalimat itu dianggap telah memasuki wilayah kemusyrikan.
Imam Ja‘far menjawab dengan Al-Qur’an:
“Celakalah engkau! Sesungguhnya Allah berfirman dalam kitab-Nya:
‘Mereka tidak mencela kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah memberikan kecukupan kepada mereka dari karunia-Nya.’
—QS. at-Taubah: 74”
Kemudian Imam melanjutkan dengan ayat lain:
“Dan Allah juga berfirman:
‘Sekiranya mereka merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, lalu berkata: Cukuplah Allah bagi kami; Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami dari karunia-Nya, sesungguhnya hanya kepada Allah kami berharap.’
—QS. at-Taubah: 59”
Abu Hanifah kemudian berkata:
“Demi Allah, seakan-akan aku belum pernah membaca kedua ayat itu.”
Tauhid yang melupakan ayat
Abu Hanifah bermaksud menjaga tauhid. Namun semangat menjaga tauhid tidak cukup bila tidak disertai ketelitian membaca wahyu.
Sebab seseorang dapat berteriak tentang kemurnian tauhid, tetapi tanpa sadar menolak susunan kalimat yang justru dipergunakan Allah di dalam Al-Qur’an.
Imam Ja‘far berkata:
“Ini berasal dari-Mu dan dari Rasul-Mu.”
Abu Hanifah langsung mendengar kata “sekutu”.
Padahal Al-Qur’an sendiri mengatakan:
“Apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka.”
Al-Qur’an juga menyebut:
“Allah dan Rasul-Nya telah memberikan kecukupan kepada mereka.”
Jika setiap penyebutan Allah dan Rasul dalam satu perbuatan otomatis berarti kemusyrikan, berarti persoalannya bukan lagi pada perkataan Imam Ja‘far. Persoalannya akan berpindah kepada redaksi Al-Qur’an.
Tentu tidak seorang Muslim pun berani menuduh Al-Qur’an mengajarkan syirik.
Karena itu, yang harus diperbaiki bukan ayatnya, melainkan cara kita memahami hubungan antara Allah dan Rasul-Nya.
Bersama tidak berarti setara
Kesalahan besar terjadi ketika seseorang menganggap bahwa dua nama yang disebut bersama pasti mempunyai kedudukan yang sama.
Allah dan Rasul dapat disebut dalam satu kalimat, tetapi tidak pernah berarti keduanya sejajar dalam hakikat ketuhanan.
Allah adalah sumber segala karunia secara mandiri. Rasulullah adalah penyampai, perantara, pembagi, dan jalan sampainya karunia itu dengan izin Allah.
Allah memberi kehidupan. Seorang ibu menjadi jalan bagi kelahiran anaknya. Apakah menyebut jasa seorang ibu berarti menjadikannya sekutu Allah?
Allah memberi ilmu. Seorang guru mengajarkan ilmu kepada muridnya. Apakah berterima kasih kepada guru berarti menyembahnya?
Allah memberi rezeki. Seseorang menjadi jalan sampainya rezeki kepada orang lain. Apakah mengakui perannya berarti menganggapnya Tuhan?
Tentu tidak.
Mengakui sebab tidak berarti menuhankan sebab. Justru Allah sendiri menciptakan dunia dengan rangkaian sebab dan perantara.
Yang menjadi syirik adalah meyakini bahwa suatu makhluk mempunyai kekuasaan mandiri, terpisah dari kehendak Allah, dan setara dengan-Nya. Namun mengakui bahwa Allah memberikan karunia melalui Rasul-Nya adalah bagian dari pengakuan terhadap ketetapan Allah sendiri.
Rasul bukan sekutu Allah.
Rasul adalah hamba yang dipilih Allah menjadi jalan sampainya risalah, rahmat, ilmu, hukum, dan keberkahan-Nya kepada manusia.
Perhatikan akhir ayatnya
Ayat yang dibacakan Imam Ja‘far sangat indah dalam menjaga keseimbangan tauhid:
“Allah dan Rasul-Nya akan memberikan kepada kami dari karunia-Nya, dan hanya kepada Allah kami berharap.”
Dalam urusan pemberian, Allah menyebut Rasul-Nya karena Rasul merupakan jalan sampainya karunia itu.
Namun ketika berbicara tentang pengharapan tertinggi dan penghambaan, ayat itu menegaskan:
“Hanya kepada Allah kami berharap.”
Inilah tauhid yang utuh.
Tauhid tidak menghapus Rasulullah dari tempat yang diberikan Allah kepadanya. Tauhid juga tidak mengangkat Rasulullah menjadi Tuhan. Ia menempatkan Allah sebagai sumber mutlak dan Rasul sebagai hamba serta perantara yang bekerja atas izin-Nya.
Menghapus seluruh peran Rasul dengan alasan menjaga tauhid bukanlah kehati-hatian. Itu justru dapat berubah menjadi penolakan terhadap susunan yang telah ditetapkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an dibaca, tetapi tidak terdengar
Perkataan Abu Hanifah terasa sangat jujur:
“Demi Allah, seakan-akan aku belum pernah membaca kedua ayat itu.”
Boleh jadi ia memang pernah membacanya. Mungkin berkali-kali. Namun membaca tidak selalu berarti memahami.
Ada ayat yang melewati lisan, tetapi tidak pernah memasuki bangunan pikiran. Ada ayat yang dihafal, tetapi maknanya dikalahkan oleh doktrin yang lebih dahulu ditanamkan.
Ketika sebuah keyakinan telah menguasai pikiran, manusia dapat membaca Al-Qur’an hanya untuk mencari pembenaran. Ia tidak lagi membiarkan Al-Qur’an memperbaiki keyakinannya.
Ayat yang sesuai dengan kerangkanya akan ditonjolkan. Ayat yang tidak sesuai akan dilewati seolah-olah tidak pernah ada.
Karena itu Imam Ja‘far tidak membawa filsafat yang rumit. Beliau hanya mengembalikan Abu Hanifah kepada dua ayat yang sudah berada dalam kitab yang dibacanya.
Kadang-kadang manusia tidak membutuhkan ayat baru.
Ia hanya perlu membaca kembali ayat lama dengan hati yang tidak terkunci.
Tuduhan syirik yang terlalu murah
Percakapan ini terasa sangat dekat dengan keadaan umat hari ini.
Betapa mudahnya sebagian orang mengucapkan kata “syirik”.
Seseorang bertawassul melalui Rasulullah, disebut musyrik. Memohon doa melalui hamba yang dicintai Allah, dituduh menyekutukan-Nya. Mengharapkan keberkahan dari sesuatu yang berhubungan dengan Nabi, dianggap menyembah makhluk.
Kata “syirik” akhirnya tidak lagi digunakan untuk menjaga tauhid, tetapi untuk menghentikan percakapan.
Tidak ada pemeriksaan terhadap niat, keyakinan, ataupun maksud sebuah ungkapan. Cukup mendengar nama Allah disebut bersama Rasul, vonis segera dijatuhkan.
Padahal Al-Qur’an sendiri menyebut Allah dan Rasul-Nya dalam berbagai urusan:
“Barang siapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah.”
—QS. an-Nisā’: 80
Ketaatan kepada Rasul bukan ibadah kepada dua Tuhan. Ketaatan kepada Rasul adalah ketaatan kepada Allah karena Allah sendiri yang memerintahkannya.
Demikian pula menerima pemberian Rasul, mencari petunjuk melalui Rasul, dan mengakui bahwa karunia Allah sampai melalui Rasul bukanlah kemusyrikan.
Itulah tauhid yang diajarkan Al-Qur’an.
Imam tidak membela dirinya
Menariknya, Imam Ja‘far tidak berkata:
“Jangan salah memahami ucapanku.”
Beliau juga tidak sibuk menjelaskan bahwa dirinya seorang ahli tauhid.
Imam tidak membela kehormatan pribadinya. Beliau langsung membuka Al-Qur’an.
Seolah-olah beliau mengatakan:
Jangan ukur perkataanku dengan prasangkamu. Ukurlah dengan kitab Allah.
Di hadapan ayat, tuduhan itu runtuh dengan sendirinya.
Imam Ja‘far tidak mengajarkan tauhid dengan menghilangkan kedudukan Rasulullah. Beliau mengajarkan tauhid dengan menempatkan Rasulullah tepat sebagaimana Allah menempatkannya.
Tidak lebih tinggi, tetapi juga tidak lebih rendah.
Tidak dijadikan Tuhan, tetapi juga tidak disingkirkan hanya karena ketakutan yang tidak beralasan terhadap kata “syirik”.
Abu Hanifah menuduh Imam telah menyandingkan Rasul dengan Allah.
Imam Ja‘far menunjukkan bahwa Allah sendiri menyebut Rasul-Nya dalam ayat tersebut.
Maka persoalannya bukan apakah Imam Ja‘far telah menjadikan sekutu bagi Allah.
Pertanyaan yang sebenarnya adalah:
Mengapa seseorang merasa lebih tahu cara menjaga tauhid daripada Al-Qur’an sendiri?

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
⸻
Catatan sumber:
Kisah ini terdapat dalam Kanz al-Fawā’id karya Abu al-Fath al-Karajaki, jilid 1, halaman 196, kemudian dimuat kembali dalam Wasā’il al-Syī‘ah, jilid 24, halaman 351, hadis nomor 30752.
Lihat Kanz al-Fawā’id, jilid 1, hlm. 196 dan Wasā’il al-Syī‘ah, jilid 24, hlm. 351.
Al-Karajaki membuka kisah tersebut dengan ungkapan dzakarū—“mereka menuturkan”—tanpa menyertakan rangkaian sanad yang lengkap.
Karena itu, dialog ini dapat disebut sebagai riwayat yang tercatat dalam khazanah Ahlul Bait, tetapi tidak boleh langsung dinyatakan sahih secara sanad.
Adapun argumentasi Al-Qur’annya berdiri dengan jelas dalam QS. at-Taubah: 59 dan 74: penyebutan peran Rasul sebagai jalan sampainya karunia tidak menjadikannya sekutu Allah.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Zcw3Hkn51/

