10 October 2026

NIKMAT TERBESAR YANG SERING TIDAK DISYUKURI

Oleh Ustadz Hadi ak-Hadi

Di sebuah grup pertemanan lama, setiap ulang tahun selalu mempunyai gema.

Satu orang mengucapkan selamat, yang lain segera menyusul. Tidak lama kemudian layar dipenuhi doa, gambar kue, tanda hati, dan kenangan masa lalu. Tidak ada yang salah.
Persahabatan memang membutuhkan ingatan. Kita ingin orang yang pernah berjalan bersama mengetahui bahwa hari kelahirannya tidak dilupakan.

Suatu hari saya mencoba mengingatkan bahwa kita sedang memasuki bulan kelahiran Rasulullah SAW.

Responsnya nyaris tidak ada.

Nama seorang kawan mampu menggerakkan seluruh grup. Namun kelahiran manusia yang melalui dirinya kita mengenal Allah, Al-Qur’an, salat, halal dan haram, justru lewat seperti sebuah tanggal biasa.

Saya tidak sedang menghitung ucapan selamat. Cinta tentu tidak dapat ditakar dari jumlah pesan. Namun peristiwa kecil itu membuka sebuah pertanyaan yang jauh lebih besar:

Mengapa nikmat kecil mudah menggerakkan hati, sedangkan nikmat terbesar terkadang tidak menimbulkan getaran apa pun?

Di hadapan nikmat, manusia sesungguhnya hanya mempunyai dua sikap: syukur atau kufur.

Syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah mengenali pemberian, menyadari siapa Pemberinya, lalu mempergunakan pemberian itu sesuai tujuan-Nya.

Adapun kufur, pada akar maknanya, adalah menutup. Nikmatnya ada, tetapi nilainya tertutup. Pemberiannya dinikmati, tetapi Sang Pemberi dilupakan.

Kufur yang dimaksud di sini bukan selalu keputusan teologis bahwa seseorang telah keluar dari Islam.
Ada kufur yang bekerja secara halus di dalam kehidupan sehari-hari: manusia menikmati nikmat Allah, tetapi hidup seakan-akan semuanya lahir dari kemampuan dirinya sendiri.

Ia menghirup udara Allah, berjalan di atas bumi Allah, memakan rezeki Allah, menggunakan akal pemberian Allah—tetapi tidak pernah merasa sedang menerima apa-apa.

Nikmat itu tidak hilang. Kesadarannyalah yang tertutup.

Barangkali itulah sebabnya seseorang dapat memegang berlian dan memperlakukannya seperti pecahan kaca. Bukan karena berlian itu kehilangan harga, tetapi karena orang yang memegangnya tidak mengetahui nilainya.

Sebaliknya, manusia dapat memperebutkan benda murah karena mengiranya sangat berharga.

Syukur selalu didahului oleh ma’rifah. Kita tidak mungkin berterima kasih secara benar atas sesuatu yang tidak kita kenali sebagai nikmat.

Al-Qur’an menghubungkan pengetahuan dengan syukur secara sangat indah:

«“Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, lalu Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur.”

(QS al-Nahl [16]: 78)»

Kita dilahirkan tanpa mengetahui apa-apa. Bahkan nama ibu sendiri tidak kita kenal. Kemudian Allah memberikan pendengaran, penglihatan, dan af’idah—hati yang sadar dan mampu menangkap makna.

Menariknya, ayat itu tidak ditutup dengan kalimat, “agar kamu menjadi pintar.”

Allah menutupnya dengan, “agar kamu bersyukur.”

Artinya, pengetahuan belum mencapai tujuan moralnya hanya karena kepala telah dipenuhi informasi. Pengetahuan baru menyelesaikan perjalanannya ketika ia membuat manusia mengenali nikmat dan merendah di hadapan Pemilik nikmat.

Ilmu yang tidak melahirkan syukur mungkin telah memenuhi kepala, tetapi belum menerangi hati.

Karena itu, kebodohan bukan sekadar ketiadaan data. Kebodohan yang lebih berbahaya adalah kegagalan menempatkan sesuatu sesuai nilainya.

Kita bersorak ketika saldo bertambah, tetapi tetap dingin ketika iman dipelihara.

Kita panik ketika kehilangan telepon genggam, tetapi tidak merasa kehilangan ketika satu hari berlalu tanpa mengingat Rasulullah SAW.

Kita marah ketika pemberian manusia terasa terlalu kecil, tetapi jarang bertanya apakah rasa syukur kita kepada Allah cukup besar.

Al-Qur’an menyebut bahwa nikmat Allah ada yang lahir dan ada yang batin. Nikmat lahir mudah dilihat: tubuh yang sehat, makanan, rumah, keluarga, pekerjaan, dan kemampuan bergerak.

Nikmat batin lebih halus: ketenteraman, rasa cukup, kemampuan mencintai, kejernihan akal, cahaya iman, dan petunjuk yang menuntun manusia kembali kepada Allah.

Kita tidak akan sanggup menghitung seluruhnya.

Setiap kali mulai menghitung, kita akan menemukan bahwa kemampuan menghitung itu sendiri merupakan nikmat.
Ketika mengucapkan alhamdulillah, kita kembali menyadari bahwa kemampuan mengenal Allah dan menggerakkan lidah untuk memuji-Nya juga merupakan pemberian yang menuntut syukur berikutnya.

Imam Ali Zainal Abidin as menangkap paradoks itu dengan sangat indah dalam Doa ke-37 al-Sahifah al-Sajjadiyyah.

Beliau mengajarkan bahwa tidak seorang pun mencapai satu tingkat syukur kepada Allah kecuali ia kembali memperoleh kebaikan Allah yang mewajibkannya bersyukur lagi.

Kita bersyukur dengan lidah yang Allah berikan.

Kita mengenali nikmat dengan akal yang Allah ciptakan.

Kita mencintai-Nya dengan hati yang Dia hidupkan.

Bahkan kemampuan bersyukur adalah nikmat baru yang memerlukan syukur berikutnya.

Karena itu, syukur bukan laporan bahwa utang kita kepada Allah telah lunas. Syukur adalah kesadaran bahwa kita tidak akan pernah sanggup membayar seluruh kemurahan-Nya.

Kesadaran itu tidak membuat manusia putus asa. Ia justru meruntuhkan kesombongan.

Lalu, dari seluruh nikmat Allah, manakah nikmat yang paling besar?

Tentu bukan nikmat yang hanya menemani kita beberapa tahun. Nikmat terbesar haruslah sesuatu yang kita perlukan di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Ia bukan hanya membuat kehidupan lebih nyaman, tetapi memberi kehidupan arah.

Nikmat itu adalah petunjuk.

Dan petunjuk Allah sampai kepada manusia melalui Rasulullah SAW.

Melalui beliau kita mengenal Al-Qur’an. Melalui beliau kita mengetahui bagaimana berdiri di hadapan Allah, bagaimana menyucikan diri, memperlakukan orang tua, menyayangi anak yatim, melindungi orang miskin, menghormati tetangga, menegakkan keadilan, bahkan memperlakukan musuh tanpa kehilangan kemanusiaan.

Tanpa cahaya risalahnya, manusia mungkin mempunyai kecerdasan untuk menaklukkan alam, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk menaklukkan kesombongan dirinya sendiri.

Allah berfirman:

«“Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 103)»

Nikmat yang merajut hati itu hadir melalui risalah Rasulullah SAW.

Manusia yang sebelumnya saling menumpahkan darah dijadikan saudara.
Berabad-abad kemudian, manusia yang lahir di negeri, bahasa, warna kulit, dan suku yang berbeda menyebut nama Tuhan yang sama, menghadap kiblat yang sama, membaca Al-Qur’an yang sama, dan bersalawat kepada Nabi yang sama.

Jika umat Islam kembali saling mencaci, saling merendahkan, dan merasa agama hanya sah ketika orang lain disingkirkan, berarti ada sesuatu dari nikmat risalah itu yang belum benar-benar masuk ke dalam diri.

Rasulullah SAW dihadirkan sebagai pemersatu. Tidak pantas namanya dipakai untuk merawat permusuhan.

Al-Qur’an bahkan menempatkan syukur pada penutup ayat yang berbicara tentang kemungkinan wafat atau terbunuhnya Nabi:

«“Muhammad hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika ia wafat atau terbunuh kamu akan berbalik ke belakang? Barang siapa berbalik ke belakang, ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

(QS Ali ‘Imran [3]: 144)»

Mengapa ayat tentang wafat atau terbunuhnya Nabi ditutup dengan syukur?

Karena keberadaan Rasulullah SAW adalah nikmat yang tidak boleh diingkari hanya karena tubuh sucinya tidak lagi terlihat di tengah umat.

Bersyukur setelah kepergiannya berarti tetap berpegang kepada risalahnya, menjaga kehormatannya, mencintai keluarganya, mengikuti cahaya yang dibawanya, dan tidak berbalik menuju nilai-nilai jahiliah.

Di sinilah Maulid memperoleh maknanya.

Maulid bukan usaha menambah kemuliaan Rasulullah SAW. Langit tidak menunggu pujian kita untuk mengenali kedudukannya.

Kitalah yang membutuhkan Maulid.

Kita berkumpul karena mudah lupa. Kita membaca sirah karena dunia terus merebut perhatian. Kita melantunkan pujian karena cinta membutuhkan bahasa. Kita bersalawat karena hati perlu berkali-kali diketuk agar kembali terbangun.

Seorang manusia yang menerima hadiah besar biasanya menunjukkan reaksi. Ia tersenyum, menangis, memeluk pemberinya, atau sekurang-kurangnya mengucapkan terima kasih.

Jika hadiah kecil membuat kita melonjak kegirangan, sedangkan kelahiran Rasulullah SAW tidak menghadirkan rasa apa pun, jangan tergesa-gesa menuduh Maulid kekurangan dalil.

Mungkin alat penilai di dalam diri kitalah yang perlu diperiksa.

Allah berjanji:

«“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu.”

(QS Ibrahim [14]: 7)»

Tambahan atas syukur kepada Allah karena hadirnya Rasulullah SAW tidak harus berbentuk harta.

Allah dapat menambahkan ma’rifah.

Dahulu kita hanya mengetahui namanya, kemudian mengenal akhlaknya.

Dahulu kita sekadar membaca salawat, kemudian merasakan kehangatan cinta.

Dahulu kita mengaku sebagai umatnya, kemudian mulai malu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan risalahnya.

Dahulu kita mencintai Rasulullah SAW secara abstrak, kemudian belajar mencintai dan mengikuti Ahlul Bait yang beliau amanatkan kepada umatnya.

Itulah tambahan yang sesungguhnya.

Saldo dapat bertambah tanpa iman. Jabatan dapat meningkat tanpa ketenteraman. Kekayaan dapat melimpah tanpa membuat manusia mengenal jalan pulang.

Namun kemampuan mengenali Kekasih Allah adalah rezeki yang tidak dapat dibeli.

Maka ketika Rabiulawal datang, pertanyaannya bukan hanya, “Apakah kita merayakan Maulid?”

Pertanyaan yang lebih dalam adalah:

“Sudahkah kita mengenali nikmat yang sedang kita rayakan?”

Sebab syukur tidak dimulai dari pesta. Syukur dimulai ketika hati akhirnya mengetahui siapa yang telah Allah hadirkan untuk menyelamatkannya.

Dan kufur yang paling halus bukan selalu penolakan dengan lisan. Kadang-kadang ia hadir ketika nikmat terbesar berada di hadapan kita, tetapi hati tidak lagi mampu melihatnya.

Nikmat itu tetap bercahaya.

Kitalah yang mungkin sedang menutup mata.

HAA Hakikat Syukur dan Kufur

Diolah dan ditulis ulang oleh:

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Aodp8mMet/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us